Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gua Kematian 8


__ADS_3

Cukup lama mereka menunggu disana dan hujan juga tidak kunjung berhenti, waktu kini menunjukkan jam lima sore, nampak disana sudah ada Pak Danu dan Pak Tatang kembali yang duduk melingkari meja bundar yang ada disana.


“Sepertinya kita memang harus kesana malam hari.” Ucap Pak Danu.


“Pak Danu apakah ada pergerakan dari orang - orang itu?.” Tanya Azman.


“Tidak ada Pak, mereka masih berada di satu rumah dan tidak ada yang keluar dari tadi, orang - orang saya tetap mengawasi mereka, meski di rumah itu ada dua pintu yaitu pintu depan dan belakang, keduanya sudah kami awasi.” Jawab Pak Danu.


“Pak Tatang, kemungkinan malam ini kita tidak bisa masuk ke Gua Kematian, namun saya akan tetap membereskan makhluk - makhluk gaib yang ada disana malam ini, anda semua tidak perlu khawatir dengan kami berdua karena memang ini urusan kami, yang perlu kita persiapkan adalah bagaimana agar tidak ada warga yang protes saat kami berdua kesana, karena jika rame - rame maka perhatian kami akan teralihkan dan ini tidak baik juga untuk kami.” Ucap Azman.


“Kami sudah memikirkannya, dan kami sudah membuat tenda lima puluh meter dari jurang kematian, nanti kita akan bersama - sama kesana dan anda bisa langsung ke jurang kematian, meskipun jaraknya dekat saya yakin kami tidak akan mengganggu anda.” Ucap Pak Danu.


“Sembilan puluh sembilan persen warga mendukung anda, dan anda jangan khawatir dengan adanya pihak kepolisian disini maka mereka tidak akan berani bertindak gegabah juga, jadi kita bisa menjalankan rencana kita.” Ucap Pak Tatang.


“Tindakan yang saya takutkan adalah mereka menyebarkan racun yang bisa membahayakan penduduk dan juga anggota kepolisian, karena racun yang mereka gunakan melalui udara, hujan ini waktu yang tepat untuk kita bertindak sebenarnya.” Ucap Azizah mengutarakan pendapatnya.


“Kami sudah mempersiapkan Jas hujan jika memang dibutuhkan, jika memang hujan ini membuat mereka tidak bisa menggunakan racun maka apa yang di katakan Ibu Azizah itu benar, ini waktu yang tepat namun saya tidak bisa meminta anda berdua hujan - hujanan bukan.” Ucap Pak Danu.

__ADS_1


“Tidak masalah, begini saja kita majukan saja kita ke tenda itu sekarang, dengan kondisi hujan deras seperti ini maka mereka akan lengah dan kami berdua bisa menyelesaikan masalah makhluk gaib di jurang kematian sebelum magrib, nanti kita akan kembali ke sini saat adzan magrib sehingga tidak akan ada warga yang curiga, kita tidak perlu membawa pasukan kesana, cukup kita berempat saja bagaimana?.” Ucap Azman.


“Aku setuju denganmu suamiku, semakin cepat selesai masalah jurang kematian maka semakin baik dan hanya tinggal masalah duniawi saja yang perlu kita selesaikan, yaitu masalah Gua Kematian.” Ucap Azizah.


“Baik, saya juga setuju, saya juga sudah bosan menunggu seperti ini, bagaimana Pak Tatang apakah anda setuju atau anda ada ide lain.” Ucap Pak Danu.


“Saya ikut keputusan bersama saja, jika Pak Azman memang mau kesana sekarang maka marilah kita kesana.” Ucap Pak Tatang sambil berdiri.


“Tunggu sebentar, biar saya ambilkan dulu jas hujan kami, jadi penduduk desa ini akan mengira jika hanya anggota kepolisian saja yang kesana.” Ucap Pak Danu sambil berdiri dan kemudian melangkah keluar dari balai desa, Pak Danu tidak lama keluarnya dan dia segera kembali dengan membawa empat jas hujan lalu membagikan untuk ketiganya.


Azman, Azizah dan yang lainnya langsung memakai jas hujan milik pihak kepolisian itu dan memang kini tidak akan ada yang mengetahui jika itu adalah Azman dan Azizah karena hanya tinggal wajah mereka saja yang terlihat namun tetap tertutup penutup kepala dari jas hujan itu.


“Istriku, berhati - hatinya, jalanan desa ini sangat licin, aku tidak ingin kau terjatuh.” Ucap Azman yang hanya terdengar oleh Azman karena memang dia berjalan berdampingan dengan Azizah sedangkan Pak Danu dan Pak Tatang berjalan di depan mereka.


“Suamiku yang harus berhati - hati itu  dirimu, kan aku tidak berjalan di atas tanah, lihatlah aku melayang beberapa senti dari tanah, sepatu ku saja tidak kotor seperti milikmu.” Ucap Azizah dan Azman langsung melihat ke arah sepatu Azizah dan benar apa yang dikatakan oleh Azizah jika Azizah saat ini tidak menapak ke tanah.


“Ya ampun istriku, kau ini ada - ada saja, semoga saja tidak ada yang melihatmu melakukan hal ini ya.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Tenang saja sayangku, kan aku masih melangkah sama seperti mu, tidak terbang melayang, jadi semua orang akan melihat aku menginjak tanah kok.” Ucap Azizah.


“Ingat jangan sampai melakukan hal yang dapat membuat heboh, kau harus belajar jadi manusia seutuhnya ya.” Ucap Azman mengingatkan.


“Iya suamiku aku tahu dengan hal itu, kau jangan khawatir ya, aku akan selalu mengingat pesanmu, dan aku juga akan selalu menjadi manusia untukmu.” Ucap Azizah.


“Sampaikan ke penunggu beringin itu untuk mengawasi ke empat orang itu dan juga komplotannya, segera hentikan jika mereka melakukan tindakan yang dapat membahayakan keselamatan para penduduk desa atau anggota kepolisian yang ada disini.” Ucap Azman.


“Iya sayangku, aku akan menyampaikannya dan dia akan mengikuti semua kehendakmu kok.” Ucap Azizah.


“Mengikuti kehendakku atau kehendak mu.” Ucap Azman.


“Dua - duanya, karena jika dia tidak mau mengikuti keinginan mu aku akan mengirimnya kembali ke dunia kami dan dia akan menjalani hukuman yang tidak akan dia pernah inginkan.” Ucap Azizah sambil tersenyum hangat ke Azman.


Mereka terus berjalan di bawah hujan yang sangat deras itu dan memang perjalanan yang tidak terlalu jauh itu terasa sedikit berat dengan kondisi seperti itu, karena mereka harus berhati - hati agar tidak tergelincir dengan kondisi jalan tanah yang sangat basah dan becek tersebut.


Mereka pun akhirnya sampai di lokasi tenda tersebut dan langsung memasukinya, disana juga ada lima orang anggota kepolisian yang sudah menunggu kedatangan mereka semua.

__ADS_1


“Pak Azman, ini radio komunikasi jalur kami, jika ada yang anda butuhkan maka gunakan saja ini, kebetulan radio komunikasi ini bisa digunakan dalam kondisi hujan.” Ucap Pak Danu sambil memberikan sebuah radio komunikasi ke Azman yang langsung di terima oleh Azman.


“Terima kasih Pak, baiklah saya dan istri saya akan ke jurang kematian terlebih dulu, mohon jangan ada seorangpun yang kesana ya, setidaknya sampai kami berdua kembali ke sini.” Ucap Azman sambil menyelipkan radio komunikasi tersebut di ikat pinggangnya.


__ADS_2