
Azman tidak hanya berdiri disana, dia pun melangkah mendekati batu besar tersebut namun belum sempat dia mendekat gempa bumi terjadi lagi dan getaran bumi kali ini lebih besar dari sebelumnya.
Azman langsung berlari dan dia menuju ke tebing yang lebih dekat dengannya untuk berlindung nampu saking licinnya tanah itu dia pun terjatuh dan karena kontur tanah yang setengah lereng itu, dia pun terguling beberapa meter hingga kepalanya terbentur sebuah batu dan mengakibatkan kepalanya berdarah, beruntung ada sebuah pohon sehingga Azman bisa berpegangan, dia terus memegang erat batang pohon itu menunggu gempa bumi itu berhenti tanpa menghiraukan darah yang mengalir dari kepalanya.
Gempa bumi kedua itu tidak berlangsung lama dan saat gempa bumi itu berhenti Azman pun berusaha bangkit kembali lalu duduk bersandar di pohon itu, Azman memegang kepalanya dan merasakan jika kepalanya itu cukup terasa nyeri, dia pun mengeluarkan kotak p3k nya lalu berusaha mengobati lukanya tersebut, beruntung untuk dia yang memang menguasai ilmu medis sehingga bisa mengobati lukanya sendiri.
“Gempa Bumi kedua ini lebih besar, semoga tidak banyak korban jiwa dari bencana alam ini.” Ucap Azman berbicara sendiri dan berusaha mengatur nafasnya serta berusaha menstabilkan badannya.
Gempa bumi susulan tidak lama terasa lagi dan Azman pun tetap pada posisinya, dia berusaha untuk diam disana menunggu situasi alam benar - benar aman untungnya, malam itu benar - benar terasa berat dan menguras energinya.
“Sudah Jam dua pagi ternyata, sebaiknya aku melihat mata air itu dan apapun yang terjadi aku sebaiknya kembali ke desa.” Ucap Azman berbicara sendiri sambil melihat jam tangannya.
Azman pun kemudian berdiri lalu melangkah menuju sumber mata air, kondisi tanah yang sudah mulai kering itu sedikit menolongnya namun dengan kondisi badannya yang sudah sangat lelah dia memerlukan waktu hampir lima belas menit untuk sampai di lokasi mata air tersebut.
Azman terpana dengan apa yang dia lihat, karena bukan lagi sebuah kolam kecil yang ada disana melainkan sebuah kolam besar dan dia melihat jika kini kolam besar itu terus terisi air yang keluar cukup deras dari balik batu besar itu.
“Ternyata gempa bumi ini bahkan sampai merubah alam disini, kolam yang kecil kini semakin besar dan semoga para penduduk desa kedepannya bisa mendapatkan sumber air yang cukup untuk mereka.” Ucap Azman yang sudah tidak lagi ingin mencari tahu soal batu besar tersebut.
__ADS_1
Azman pun kemudian berjalan kembali dan dia berusaha untuk kembali ke desa karena dia cukup yakin jika gempa bumi itu cukup membawa kerusakan di desa.
“Semoga Azizah tidak terluka dan semoga penduduk desa tidak terluka juga.” Ucap Azman berbicara sendiri untuk menguatkan dirinya.
Perjalanan kembali ke desa itu sama susahnya dengan perjalanan datangnya, bahkan dua kali lipat kini kesulitan yang Azman hadapi, karena ternyata ada beberapa tanah yang bergeser dan bahkan jalan di tengah perkebunan warga desa itu juga ada yang longsor.
Tepat jam lima pagi Azman pun sampai di masjid tempat dia memarkir mobilnya dan dia tidak membuang waktu karena waktu shalat Shubuh sudah hampir habis untuknya, dia langsung mengambil pakaian bersih dari dalam mobilnya sekaligus menyimpan tas ransel yang sebelumnya dia gunakan.
Tidak ada orang lain di masjid itu bahkan masjid itu pun masih dalam kondisi terkunci, sehingga Azman pun hanya bisa melaksanakan shalat di teras masjid yang kini sudah tidak semulus kemarin, dinding masjid itu ada beberapa bagian yang retak demikian juga dengan lantainya.
Azman tidak membuang waktu dia pun langsung melangkah ke rumah Pak Sudrajat namun baru hendak menyeberang jalan dia melihat jika rumah itu kini sudah sepenuhnya rata dengan tanah dan terlihat jika jalan aspal itu kini sudah tidak semulus sebelumnya, banyak sekali retakan di aspal tersebut, bahkan beberapa rumah yang ada di dekat masjid juga terlihat mengalami kerusakan yang cukup parah.
Azman benar - benar tidak mau membuang waktu dan dia pun langsung berjalan ke arah rumah penduduk yang kemarin dia datangi, namun sejauh dia berjalan tidak ada seorang warga pun yang berhasil ditemui oleh Azman, desa itu kini sudah kosong dan tidak nampak seorangpun disana.
Sesampainya di lokasi rumah - rumah penduduk semalam, apa yang di temukan oleh Azman hanyalah bangunan yang hancur, gempa bumi itu benar - benar membawa kehancuran untuk desa tersebut.
“Dimana kamu istriku, dan dimana semua penduduk desa ini, kenapa tidak ada seorang pun disini.” Ucap Azman sambil terus mencari di lokasi itu.
__ADS_1
Azman yang mulai panik kini duduk di sebuah kursi plastik yang berhasil ditemukan, dia menarik nafas dalam - dalam dan menyalakan sebatang rokoknya untuk mencoba berpikir lebih jernih lagi.
“Bodohnya diriku, bukankah aku bisa bertelepati dengan istriku.” Ucap Azman yang kini sedikit tersenyum.
“Istriku, dimana dirimu dan bagaimana kondisi mu.” Ucap Azman bertelepati dengan Azizah.
“Aku bersama dengan semua warga desa ada di balai desa, namun sesampainya kami semua disini ternyata jembatannya rubuh, aku mengetahuinya saat aku hendak mengambil tenda di mobil kita, aku tidak mungkin terbang kesana karena akan membuat para penduduk desa ini curiga dengan ku, disini banyak yang terluka, kami benar - benar memerlukan bantuan medis disini.” Ucap Azizah bertelepati dengan Azman.
“Arah mana balai desanya, aku tidak mengetahuinya, biar aku kesana saja.” Ucap Azman sambil berdiri dan langsung berjalan kembali ke arah mobilnya.
“Lurus saja, paling lima ratus meter dari masjid akan ada sungai besar dan dari sungai itu lokasi kami tidak jauh, disini banyak sekali warga yang terluka suamiku, aku tidak bisa banyak membantu disini.” Ucap Azizah.
“Aku akan kesana, kau tunggu disana saja, bantulah warga sebisa mu namun aku minta jangan sampai ada penduduk yang mengetahui jika kau bukan dari kaum manusia.” Ucap Azman mengingatkan.
“Iya suamiku, aku akan menunggu mu disini.” Ucap Azizah.
Azman terus melangkah dan dia pun langsung kembali ke mobilnya, dia pun menghidupkan mobilnya dan menjalankannya, karena dia tahu mobil itu akan banyak membantunya dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
“Ternyata benar apa yang dikatakan Azizah, jembatan itu roboh dan tidak bisa digunakan sama sekali.” Ucap Azman sambil menghentikan mobilnya dan dia pun berhenti sepuluh meter dari sebuah jembatan yang sudah terputus tersebut.