Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Kopi lokal


__ADS_3

Azman terus mengendarai motornya dan dia tidak sendiri melainkan bersama dengan Daim, mereka kini kembali mengarah ke arah jalan pantai selatan.


“Azman ikuti saja jalan ini dan nanti kita akan tembus di pinggir Pantai, kau belok kiri ikuti jalan akan ada penginapan yang nyaman di pinggir pantai, namun jika kau ingin kemping maka lewati saja hotel itu, aku sudah menemukan lokasi yang bagus untuk kau kemping kok.” Ucap Daim.


“Daim, menurutmu malam ini sebaiknya aku tidur di hotel apa kemping.” Ucap Azman.


“Jika menurutku kau sebaiknya kemping saja, jadi benar benar tidak akan ada gangguan, disana juga dekat dengan masjid kok aku sudah ke sana tadi.” Ucap Daim


“Ya sudah jika memang seperti itu, kita kemping saja, kebetulan aku juga masih kenyang jadi malam ini bisa tidur dengan nyenyak.” Ucap Azman.


Azman terus mengendarai motornya itu dan dia pun tidak terburu - buru sama sekali melainkan hanya dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam saja karena memang dia ingin menikmati pemandangan malam itu.


“Azman itu hotelnya dan tempat kempingnya nanti ada jalan sebelah kanan persis di samping masjid, mirip dengan yang terakhir kita kemping namun disana lebih nyaman untuk mu karena hanya ada satu pedagang saja.” Ucap Daim.


Azman pun mengikuti arahan Daim karena apapun itu, dia tahu jika Daim akan memiliki rencana yang baik untuknya, Azman pun melihat sebuah masjid yang sangat besar dan dia pun langsung berbelok ke jalan di samping masjid itu yang memang membawanya langsung ke arah pantai, dia pun memarkirkan motornya beberapa meter dari bibir pantai lalu memasang tendanya dan semua perlengkapan kempingnya.


“Daim, kau benar di pantai ini berbeda, anginnya tidak terlalu kencang dan nyaman untuk berkemah, sebentar ya aku ingin ke warung itu dan membeli kopi terlebih dulu.” Ucap Azman setelah selesai merapikan tendanya.


“Pergilah, aku akan disini saja.” Ucap Daim yang duduk di pasir menghadap ke lautan lepas.


Azman pun langsung berjalan hanya dengan membawa tas kecilnya saja, dia berjalan perlahan menuju satu satunya warung yang terletak persis di belakang masjid besar itu.

__ADS_1


“Malam Bapak, maaf apakah ada kopi hitam tanpa gula disini.” Ucap Azman ke seorang pria berusia empat puluh tahunan  yang memang satu satunya orang di warung itu.


“Ada Pak, namun kopinya kopi lokal Pak, bukan kopi dari pabrikan.” Ucap Pria tersebut.


“Baik Pak, tolong dibuatkan ya, saya jadi makin penasaran dengan kopi buatan Bapak ini.” Ucap Azman sambil duduk di bangku panjang yang ada di depan warung itu.


Pria pedagang di warung itu pun langsung masuk lalu membuatkan Azman secangkir kopi dan tidak membutuhkan waktu lama untuk pria tersebut menyuguhkan segelas kopi di hadapan  Azman.


“Silahkan Pak, jika kurang terasa sampaikan saja saya akan menambahkan kopinya, karena saya membuatnya sesuai dengan porsi saya sendiri.” Ucap Pria pedagang warung tersebut.


“Terima kasih ya Pak, maaf apa memang pantai ini sangat sepi seperti ini ya Pak.” Ucap Azman.


“Benar Pak, hanya yang sudah tahu saja yang berkemah disini bahkan di hari libur pun pantai disini sepi Pak.” Ucap Pria pedagang warung tersebut.


“Kebetulan saya ini marbot masjid Pak dan saya berjualan hanya untuk mengisi waktu senggang saja, saya sengaja tidak berjualan di jalan utama semata mata karena memang saya tidak ingin terlalu di sibukkan dengan duniawi Pak.” Ucap Pria pedagang warung tersebut.


“Saya suka dengan  pemikiran Bapak, duniawi dikejar tidak akan ada habisnya namun kita juga tetap harus bekerja sesuai kemampuan kita, insya Allah rezeki tidak akan tertukar ya pak, oh iya Kopinya sungguh enak, maaf bisakah saya membeli bubuk kopinya untuk saya seduh di waktu yang akan datang.” Ucap Azman yang memang sudah hampir menghabiskan kopinya itu.


“Sangat boleh Pak, maaf bapak mau beli berapa banyak ya Pak.” Ucap Pria pedagang warung yang nampak sangat bahagia.


“Dua kilo saja Pak, tidak perlu terlalu banyak, saya pecinta kopi tanpa gula dan kopi ini saya sukai.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Sebentar ya Pak biar saya siapkan dulu dan maaf sebelumnya warung saya ini jam sembilan malam ini akan tutup Pak, karena saya ingin untuk bisa shalat malam, dan Bapak jangan khawatir karena toilet yang ada di sebelah tidak akan saya kunci kok, masjid juga sama tidak terkunci ya jadi bisa bapak gunakan.” Pria pedagang warung sambil berdiri.


“Terima kasih ya Pak.” Ucap Azman.


Pria pedagang warung itu pun langsung masuk ke dalam warungnya lalu menyiapkan pesanan dari Azman dan langsung kembali menemui Azman dengan membawa sebuah kantong plastik yang berisi dua kilogram bubuk kopi pesanan Azman.


“Jadi semuanya berapa Pak.” Ucap Azman sambil menerima kantong plastik tersebut.


“Lima puluh ribu saja Pak, kan ini saya buat sendiri jadi lebih murah dari pasarannya.” Ucap Pria pedagang warung.


“”Terima kasih ya Pak, maaf kembalinya untuk Bapak saja, permisi ya Pak.” Ucap Azman yang memberikan selembar uang seratus ribuan dan langsung melangkah meninggalkan warung tersebut dengan membawa kantong plastik yang berisi kopi.


“Terima kasih ya Pak.” Ucap Pria pedagang warung tersebut sambil melihat punggung Azman.


“Sama sama Pak.” Ucap Azman sambil terus melangkah kembali ke tendanya.


Suasana malam itu cukup terang dengan bulan setengah lingkaran menyinari pantai itu dan deburan ombak pun tidak terlalu besar sehingga suaranya sangat enak di dengar saat ombak itu pecah membentur batu batu karang yang ada di pinggir pantai.


“Azman kau sudah kembali dan bagaimana apakah kau suka dengan kopi di warung itu.” Ucap Daim yang masih duduk di posisinya semula.


“Benar aku menyukainya, kopinya sangat fresh dan nikmat, kau benar - benar membawa ku ke tempat yang tepat, terima kasih ya.” Ucap Azman sambil menyimpan kantong plastik tersebut ke dalam box pannier motornya lalu duduk di samping Daim.

__ADS_1


“Azman, jika menurut ku pilihanmu untuk berpisah dengan Tim Sar itu sudah tepat namun sebaiknya kau tidak lepas dari mereka, tetap bantulah mereka jika memang lokasinya berdekatan dengan mu nantinya.” Ucap Daim.


“Iya aku akan selalu membantu mereka sebisaku namun jika kita terus bergabung akan merusak cara kerja mereka juga bukan, aku tidak ingin merusak kinerja mereka, jadi aku akan menghindari mereka dulu saja, tapi aku yakin Pak Jaja pasti akan menghubungiku jika memang kehadiran kita sangat di perlukan.” Ucap Azman yang langsung menyalakan sebatang rokoknya dan menghisapnya perlahan sambil menikmati deburan ombak di pantai itu.


__ADS_2