Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Kabupaten Bandung 11


__ADS_3

“Apa yang Pak Azman sampaikan itu adalah kenyataan, kita bebas berpendapat namun kita harus membersihkan hati kita juga ya, jangan sampai semua perbuatan baik kita sia - sia.” Ucap Pak Jaja dan keempatnya pun terlihat mengangguk tanda mereka mengerti.


“Aku tahu kalian dari tadi ingin berfoto bersama ku kan, ayolah kita berfoto bersama disini saja ya jika di lokasi penampungan mayat itu aku tidak kuat dengan baunya.” Ucap Azman sambil berdiri lalu duduk di tengah - tengah empat anggota Tim Sar itu demikian juga dengan Pak Jaja yang ikut duduk di sebelah Azman.


Salah seorang langsung berdiri dan meletakkan kamera digital yang dia bawa lalu menyeting timernya, mereka pun bersenang - senang di sana dan mereka pun berfoto dengan berbagai pose, terlihat raut wajah keempat orang ini berubah lebih fresh dan tidak lagi terlihat wajah capai mereka seorang pun.


“Kita lanjutkan perjalan kita ya, pak Ridho dan semua tokoh penduduk sudah datang dan menunggu kita soalnya, kita sudah hampir dua jam pergi, jadi sebaiknya kita segera kembali, jangan sampai mereka jadi khawatir dengan kita ya.” Ucap Pak Jaja.


Mereka langsung berjalan kembali dan ternyata kini tanah yang merupakan lokasi longsor itu sudah sedikit lebih kering sehingga perjalanan kembali mereka pun sudah jauh lebih mudah karena tidak selicin saat mereka tadi melintasinya.


Tidak ada halangan apapun yang mereka dapatkan di perjalanan itu kini semuanya sudah kembali dan berada di tenda terbuka yang dijadikan tempat istirahat oleh Pak Jaja dan Azman, disana juga sudah duduk beberapa orang yang menunggu Azman dan Pak Jaja.


“Maaf membuat semuanya menunggu lama.” Ucap Azman sambil duduk di salah satu kursi yang kosong dan kini kursi kursi itu sudah di atur melingkar, Pak Jaja pun kemudian duduk di sebelah Azman.

__ADS_1


Satu persatu mulai memperkenalkan diri mereka dan ternyata semuanya merupakan tokoh masyarakat dari desa desa yang ada di sekitar gunung itu.


“Bapak - Bapak semua terima kasih atas kedatangannya, jadi begini, semasa hidup mereka semua memang sudah berdosa namun sudah kewajiban kita sebagai yang masih hidup untuk memakamkan mereka dengan layak, dan Bapak - Bapak semua jangan khawatir karena saya berani menjamin tidak akan ada makhluk apapun yang muncul di desa Bapak - Bapak di masa yang akan datang.” Ucap Azman membuka pembicaraan itu setelah mengenal semuanya.


“Pak Azman, jika memang Bapak bisa menjamin hal itu maka pemakaman desa kami silahkan di pergunakan namun kami tidak bisa menampung banyak jenazah karena lokasinya sangat terbatas, akan tetapi jika bapak mau membebaskan tanah sekitarnya maka kami tidak keberatan, dan kebetulan kami pemiliknya, kami tidak akan menjualnya namun akan mewakafkannya saja tapi mohon maaf sebelumnya kami tidak memiliki biaya untuk mengurus surat wakafnya.” Ucap Salah seorang pria sepuh yang merupakan pemimpin dari semuanya.


“Bapak jangan khawatir, meskipun Bapak - Bapak mewakafkan saya akan tetap akan memberikan hadiah sebesar lima juta permeter ya, silahkan semua suratnya di berikan ke Pak Ridho saja, biarkan dia yang mengurus perubahan surat kepemilikan ini menjadi tanah wakaf untuk pemakaman, kelak pemakaman ini kan bisa digunakan seluruh penduduk juga.” Ucap Azman.


“Pak Azman, kami keberatan jika bapak memberikan hadiah sebesar itu namun kami akan menerima jika hadiahnya hanya lima ratus ribu per meter saja, ini sudah kesepakatan kami sebelumnya, uang itu juga akan kami gunakan untuk biaya pengobatan penduduk yang saat ini banyak lansia yang memerlukan bantuan pengobatan, desa kami kan jauh dari rumah sakit dan kami berencana juga untuk membeli sebuah mobil bekas yang layak pakai untuk kami jadikan ambulan sekaligus mobil jenazah.” Ucap Pria sepuh itu lagi.


“Pak Azman, jika benar anda akan memberikan mobil ambulan dan mobil jenazah maka kami sangat berbahagia namun kenapa dua mobil Pak, kami saat ini memiliki sebuah masjid dan empat mushola pak, semuanya kami bangun secara swasembada kami saja jadi kondisinya jauh dari masjid - masjid di tempat lain.” Ucap Pria sepuh itu lagi.


“Begini Pak, Uang lima ratus ribu permeter tetap akan saya berikan dan selain itu saya akan memberikan masing - masing tempat lima puluh juta rupiah untuk shodaqoh saya, untuk mobil ambulan itu kepentingannya ya orang sakit Pak dan khusus untuk itu saja, dan mobil jenazah jangan digunakan untuk yang masih hidup ya, sudah Bapak - Bapak tidak perlu khawatir dengan hal ini, selesai ini saya akan ke desa Bapak bapak, jadi ada berapa desa semuanya yang berkaitan jadi saya tahu harus mengirim berapa banyak mobil ambulan dan mobil jenazahnya.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Pak Azman  kami semua ada enam desa namun cukup satu mobil ambulan dan satu mobil jenazah saja, toh ini juga akan sangat jarang kami gunakan.” Ucap Pria sepuh itu lagi.


‘Baiklah jika demikian dan kira - kira ada berapa banyak yang memerlukan pengobatan.” Ucap Azman.


Semuanya kira - kira seratus orang Pak dan semuanya lansia.” Ucap Pria sepuh itu.


“JIka demikian maka saya akan mengirimkan ambulan rumah sakit milik saya untuk menjemput mereka nanti, kita selesaikan urusan desa longsor ini dulu baru saya akan kesana ya, jangan khawatir saya akan membantu sampai maksimal kok, sekarang saya ingin tahu ada berapa luas tanah yang akan diwakafkan untuk menjadi lokasi pemakaman umum ini.” Ucap Azman.


“Semuanya ada satu hektar pak.” Ucap Pria sepuh.


“Baik dan bolehkan saya meminta nomor rekening Bapak saja, karena kan akan lebih mudah untuk saya mentransfernya saja dengan nominal yang mencapai lima miliar rupiah ini, namun jangan beritahu saya uang itu untuk apa ya, itu semua adalah hadiah dan saya tidak akan peduli uang itu digunakan untuk apa.” Ucap Azman sambil mengeluarkan ponselnya.


“Pak Azman, maaf namun tolong berikan kami waktu sebentar saja, ada yang ingin kami bahas terlebih dulu, ini sepertinya saudara saya ini ada yang kurang maksud dengan ucapan Bapak.” ucap pria sepuh lainnya yang dari tadi diam kini ikut berbicara.

__ADS_1


“Baik, kami akan keluar dulu dan silahkan Bapak - Bapak berbincang disini saja ya silahkan kabari kami jika sudah selesai dengan musyawarah nya.” Ucap Azman sambil berdiri dan melangkah keluar demikian juga dengan Pak Jaja dan Pak Ridho.


__ADS_2