
“Jika memang demikian maka mari kita berangkat sekarang pak, karena ada beberapa bangunan rumah yang saya takutkan menjadi korban dari hujan badai topan tadi.” Ucap Pak Sudrajat sambil berdiri.
“Mari Pak.” Ucap Azman dan mereka berdua pun kemudian berpamitan dengan Azizah dan Bu Neneng lalu meninggalkan rumah itu.
Azman dan Pak Sudrajat nampak berjalan melewati jalanan kecil di samping rumah Pak Sudrajat karena lokasi yang dituju oleh Pak Sudrajat adalah rumah - rumah penduduk yang berada di bagian belakang desa, yang memang tidak terlalu jauh untuk lokasinya dari rumah Pak Sudrajat.
Jalanan tanah berumput itu masih dalam kondisi yang basah namun tidak becek sama sekali dan ini membuat Azman kagum dengan sistem pengairan yang ada di kiri dan kanan jalan tanah tersebut, karena dengan got kecil yang ada di samping kiri dan kanan jalan itu mampu membuat jalan hanya basah saja.
“Saya kagum dengan sistem pengairan ini Pak, bisa membuat jalan tanah ini tidak becek dan hanya basah saja, tidak ada genangan air sama sekali.” Ucap Azman.
“Iya Pak, karena got kecil ini juga menjadi sumber untuk pengairan kebun jadi kami maksimalkan keberadaannya, kami disini hanya berusaha memaksimalkan alam dengan tidak terlalu banyak merusaknya, alhamdulilah semua warga disini mau menjaga kelestarian alam Pak.” Ucap Pak Sudrajat.
“Alhamdulilah ya Pak, semoga alam tetap ramah kepada kita semua.” Ucap Azman dan kini mereka nampak mulai memasuki perkampungan yang cukup padat dan ada banyak rumah tradisional disana yang masih menggunakan kayu dan juga bilik bambu sebagai dindingnya.
“Kita sudah sampai Pak, inilah desa kami yang sesungguhnya, masih sangat tradisional Pak.” Ucap Pak Sudrajat.
“Saya benar - benar menyukai bangunan seperti ini Pak.” Ucap Azman sambil memperhatikan sekitarnya.
“Pak Kades, ada dua rumah warga yang terkena pohon tumbang namun alhamdulilah tidak ada korban jiwa.” Ucap salah seorang penduduk yang memang menemui Pak Sudrajat dan Azman.
__ADS_1
“Sebelah mana, ayo antarkan kami kesana.” Ucap Pak Sudrajat.
“Mari Pak.” Ucap warga tersebut dan langsung berjalan di ikuti oleh Pak Sudrajat beserta Azman.
Tidak jauh mereka berjalan dan hanya kurang lebih seratus meter saja, kini mereka sampai di bagian paling belakang desa, disana nampak ada banyak penduduk yang sedang bekerja sama mengeluarkan barang - barang dari dua rumah yang memang terkena pohon yang tumbang.
Azman langsung membantu warga dan dengan sigapnya dia bersinergi dengan warga, membantu mengeluarkan semua barang milik pemilik rumah itu sedangkan Pak Sudrajat nampak menemui para pemilik rumah itu yang sudah di amankan di rumah warga lainnya.
Dengan banyaknya warga yang bahu membahu saling bekerja sama itu tidak memerlukan waktu lama untuk mereka bisa mengeluarkan semua barang - barang tersebut dan semua barang itu di tata dengan rapi di halaman warga lainnya, Azman pun kemudian berjalan menemui Pak Sudrajat kembali.
“Bagaimana Pak kondisinya?.” Tanya Azman.
“Alhamdulilah hanya luka ringan saja Pak, dan sementara mereka akan tinggal disini saja sampai rumah mereka bisa kami bangun ulang.” Jawab Pak Sudrajat.
“Pak Azman anda jangan khawatir dengan kedua rumah ini, ada dana desa yang saya kelola untuk hal - hal seperti ini dan semua laki - laki di desa kami ini adalah ahli bangunan juga, jadi saya bisa membagi dua untuk pembangunan kedua rumah itu dan juga untuk membereskan jalan akses ke mata air.” Ucap Pak Sudrajat.
“Jika demikian baiklah, saya tidak akan memaksa, dan kira - kira apa yang bisa saya lakukan untuk membantu pembangunan kedua rumah ini.” Ucap Azman yang memang ingin membantu penduduk yang menjadi korban pohon tumbang tersebut.
“Pak Azman, atas nama penduduk desa saya sangat bahagia atas kemurahan hati Bapak, namun saat ini yang lebih penting untuk kami adalah sumber mata air itu Pak, kami akan sangat berterima kasih jika anda bisa membantu kami dalam hal itu.” Ucap salah seolah tokoh masyarakat yang ada disana.
__ADS_1
“Begini saja, saya akan memberikan dua ratus lima puluh juta rupiah untuk desa ini, dan semoga bisa digunakan untuk kepentingan penduduk desa, ini memang tidak banyak namun saya yakin akan bisa berguna untuk penduduk desa disini.” Ucap Azman.
“Terima kasih untuk kebaikan anda Pak, semoga anda selalu mendapatkan kemudahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Ucap Pak Sudrajat yang tidak lagi ingin menolak pemberian Azman.
“Aamiin Ya Rabbal Alamin, nanti saya transferkan ke Bapak ya uangnya, ini sudah mau magrib dan sebaiknya kita shalat bersama Pak di masjid.” Ucap Azman sambil tersenyum hangat ke semua orang yang ada disana.
“Pak Azman, di dekat sini ada surau pertama kali, sebaiknya kita shalat di surau saja.” Ucap Pak Sudrajat.
“Boleh Pak, dimana pun tidak masalah selama kita bisa shalat berjamaah.” Ucap Azman.
“Pak Azman, di mana motor anda, saya tidak melihatnya di rumah Pak Kades.” Ucap salah seorang pemuda yang kebetulan ada di dekat Azman.
“Saya tidak membawanya, karena saya sedang bepergian dengan istri saya, dan juga dengan kondisi cuaca yang berubah - rubah ini maka kami memilih untuk membawa mobil saja.” Ucap Azman.
“Motor Bapak sangat keren, saya dan teman - teman melihatnya dari televisi dan kami sangat menyukainya, pastinya motor itu sangat mahal ya Pak.” Ucap pemuda lainnya.
Azman hanya tersenyum dan tidak memberikan jawaban mengenai hal itu karena dia tidak ingin timbul rasa yang akan menjatuhkan para pemuda desa itu.
“Pak Kades, jika kita bisa punya mesin potong kayu akan lebih baik, akan lebih cepat kami untuk membereskan dua rumah ini, apa tidak sebaiknya Pak Kades membelinya.” ucap salah seorang pemuda.
__ADS_1
“Besok kita akan membelinya, dan jangan khawatir aku akan membeli dua mesin untuk kalian gunakan nantinya, memang sudah waktunya kita menggunakan mesin untuk kemudahan kita semua, tapi siapa yang bisa menggunakannya?.” Ucap Pak Sudrajat dan hal ini membuat semua orang yang ada disana saling berpandang - pandangan karena memang mereka belum pernah menggunakan mesin modern selama ini selain motor dan juga telepon seluler.
“Mesin - mesin seperti itu mudah dipelajari, dan akan sangat membantu dalam pekerjaan, saya yakin semuanya bisa mempelajarinya, oleh karena itu nanti biar saya yang membelikannya untuk penduduk desa ini saja, dan saya akan menyiapkan satu atau dua orang untuk mengajari kalian mengenai penggunaannya jadi akan lebih cepat untuk memahami semua alat pertukangan itu.” Ucap Azman.