
“Daim kau ini….., jika memang ada bencana kenapa tidak bilang dari semalam.” Ucap Azman.
“Percuma juga aku bilang, semalam kan mereka sudah meninggal dunia, dan kau juga memerlukan waktu untuk beristirahat bukan, sudahlah jangan banyak pemikiran, nanti kita kemah saja di puncak gunung itu, tapi sebelumnya aku akan menunjukkan dimana lokasi orang - orang yang tersesat itu.” Ucap Daim.
Azman terus mengendarai motornya itu dengan kecepatan rendah karena masih ada satu dua kendaraan bersirine yang melintas, dan beberapa ambulan serta mobil jenazah juga terlihat menyalipnya.
Azman pun tiba di kaki gunung gelap dan dia melihat jika disana banyak sekali mobil mobil milik Tim Sar beserta dengan mobil milik pihak Kepolisian dan dari TNI yang terparkir dengan rapi di sebuah tanah lapang.
Perjalanan Azman pun terhenti dikarenakan dia diberhentikan oleh beberapa orang anggota Tim Sar dan juga pihak kepolisian yang melarang siapapun untuk masuk ke area parkir utama gunung gelap.
“Siang Pak, mohon maaf untuk gunung gelap saat ini sedang tertutup untuk umum jadi silahkan untuk kembali lagi nanti.” Ucap anggota Tim Sar yang memberhentikan Azman.
Azman pun mematikan dulu motornya lalu membuka helmnya itu, yang sontak membuat kaget beberapa orang anggota Tim Sar yang ada disana karena mereka mengenali Azman.
“Maaf saya tidak tahu jika gunung gelap ini di tutup, jika boleh saya tahu kapan di bukanya ya.” Ucap Azman.
“Maafkan kami Pak Azman, kami tidak tahu jika ini adalah Bapak, kami kira anda pelancong lagi saja seperti tadi karena tadi ada yang menggunakan motor seperti milik bapak ini.” Ucap salah seorang anggota Tim Sar yang mengenali Azman.
“Saya juga yang salah karena tidak membuka helm saya, apakah Pak Jaja ada di atas?” Ucap Azman.
“Ada Pak, Komandan Jaja ada di tenda komando sedang berkoordinasi untuk proses pencarian para korban dan menarik informasi dari rekan pendaki yang berhasil kami selamatkan siang tadi.” Ucap anggota Tim Sar lainnya.
__ADS_1
“Ada berapa orang yang berhasil diselamatkan?.” Tanya Azman.
“Ada tiga orang Pak, dan kondisi mereka cukup kuat untuk dimintai informasi, silahkan jika Bapak hendak ke atas, Komandan Jaja dan rekan - rekan yang lain pasti sangat gembira dengan kedatangan Pak Azman.” Ucap anggota Tim Sar itu lagi.
“Baiklah, saya akan ke atas dulu, semoga ada yang bisa saya lakukan untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan para pendaki yang hilang ini.” Ucap Azman sambil menggunakan helmnya lagi dan dia pun menghidupkan motornya lalu menjalankan motornya itu.
“Daim oh Daim, ujung - ujungnya kita dengan Tim Sar lagi ternyata.” Ucap Azman.
“Ya anggap saja bonus dari ku, namun kali ini kau tidak akan pulang duluan karena kita akan berkemah.” Ucap Daim.
“Iya, lalu apa yang harus aku lakukan untuk menemukan para pendaki yang hilang itu.” Ucap Azman.
“Nanti aku yang akan menunjukan jalannya, namun kita harus gerak cepat ya, karena aku ingin semuanya segera pergi dari sini sebelum maghrib tiba.” Ucap Daim.
“Iya karena ini untuk kebaikan mereka semua, hutan ini tidak aman untuk mereka karena aku akan membersihkan hutan ini.” Ucap Daim.
“Baiklah jika demikian aku akan menyampaikannya dan meminta semuanya untuk meninggalkan kawasan ini sebelum maghrib.” Ucap Azman.
Tidak lama kemudian Azman pun sampai di lokasi parkir kedua dan di sana sudah banyak sekali tenda tenda berdiri, Azman juga melihat banyak sekali mobil ambulan dan juga mobil jenazah disana.
Azman tidak memarkirkan motornya disana melainkan terus melaju pelan dan berhenti di samping tenda komando, hal ini sontak membuat semua orang yang ada di tenda komando keluar dan menemui Azman.
__ADS_1
“Alhamdulillah, anda tiba disini juga.” Ucap Pak Jaja sesaat setelah Azman turun dari motornya..
“Kebetulan saya berencana berkemah di puncak gunung ini Pak, tapi ternyata sedang ada musibah disini.” Ucap Azman sambil membuka helmnya dan turun dari atas motornya itu.
“Pak Azman mari kita berbincang di dalam tenda saja, kebetulan saya dan yang lain baru saja hendak mendengarkan cerita dari pendaki yang selamat.” Ucap Pak Jaja.
Azman pun hanya menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam tenda komando itu, dia pun duduk di salah satu kursi melingkari sebuah meja besar yang ada di sana.
:Silahkan dimulai ceritanya, agar Pak Azman bisa ikut mendengarnya siapa tahu Pak Azman bisa menolong kita semua.” Ucap Pak Jaja ke pendaki yang selamat.
“Jadi begini Pak, kami berjumlah seratus orang, dan malam itu kami tiba ke sini, kami berencana untuk berkemah di puncak gunung gelap ini, namun saat kami memasuki kawasan hutan ternyata timbul keanehan, kami mendengar suara perempuan yang menangis tersendu - sendu sambil meminta pertolongan, sehingga kami pun langsung mencarinya, kami berpencar untuk menemukan wanita itu, namun yang ada sampai saat ini mereka tidak ditemukan.’ Ucap salah seorang dari tiga pendaki itu.
“Lalu kalian bertiga kemana, bagaimana sampai kalian bisa keluar dan selamat.” Ucap Pak Jaja.
“Kami saat itu paling depan Pak, dan karena kami membawa tenda jadi kami bertiga berpikir untuk terus berjalan ke arah puncak dengan maksud mendirikan tenda, dan kami bertiga pun sudah berhasil mendirikan tenda akan tetapi mereka semua tidak kunjung datang, kami semalaman menunggu akan tetapi tidak ada seorang pun yang datang ke puncak gunung, sehingga kami pun dengan terpaksa menghubungi Pihak kepolisian dan meminta bantuan.” Ucap pendaki itu lagi.
“Sudah berapa hari mereka hilang, dan kalian kenapa terlihat sangat menyedihkan seperti ini.” Ucap Azman.
“Sudah dua hari Pak, kami seperti ini karena saat kami turun kami tersesat, jadi jalan naik dan turun ternyata berubah, dan persediaan makanan kami juga sudah habis Pak, tapi alhamdulilah kami selamat.” Ucap pendaki itu lagi.
“Jadi saat kalian turun kalian salah jalan?.” Tanya Pak Jaja.
__ADS_1
“Bukan seperti itu Pak, kami sangat yakin jika kami melewati jalan yang benar namun ternyata kami malah berputar dan kembali ke puncak gunung, hingga semalam kami memberanikan diri untuk turun kembali, dan kami bertemu seorang kakek berpakaian serba hitam yang menunjukan jalan, kakek itu memang membawa kami keluar tapi tidak melalui jalan yang besar melainkan jalan setapak yang penuh belukar, dan saat kami sampai keluar dari dalam hutan kakek berpakaian hitam itu menghilang dari pandangan kami, kami bertiga berusaha mencarinya namun ternyata tidak ketemu dan jalan setapak yang kami lewati itu pun hilang, mungkin Bapak - Bapak disini tidak percaya dengan ucapan saya namun inilah kenyataan yang kami alami.” Ucap salah seorang pendaki lainnya.