
“Benar Pak, dengan anda menempatkan mobil patroli sebelum tikungan itu bisa mencegah orang yang akan melintas jadi lebih hati - hati nantinya, namun jangan hanya berdua saja orangnya, kasihan mereka jika hanya berdua, takutnya mereka akan iseng.” Ucap Azman.
“Iya Pak, nanti biar masing - masing dua mobil patroli saja yang ada disana, saya sudah meminta tambahan pasukan untuk kesini jadi kita bisa lebih aman dalam menyelesaikan misteri puluhan tahun ini.” Ucap Pak Danu bersamaan dengan masuknya seorang anak buahnya ke balai desa dan memberikan sebungkus rokok serta koreknya ke Pak Danu lalu kembali keluar dari ruangan itu, Pak Danu pun menyalakan sebatang rokoknya dan menghisapnya perlahan.
Mereka berempat terus berbincang sambil menikmati pisang dan singkong rebus itu dan tidak terasa adzan ashar pun berkumandang, semuanya pun kemudian melaksanakan shalat ashar bersama - sama lalu kembali ke balai desa itu karena hujan bukannya reda melainkan semakin deras, halilintar juga terlihat beberapa kali ditambah dengan angin yang cukup kencang melanda desa itu namun belum ada informasi adanya pohon tumbang disana.
“Cuaca ini benar - benar meminta kita bersabar.” Ucap Azman setelah duduk kembali di balai desa bersama Azizah, sedangkan Pak Tatang pamit untuk menyiapkan makan untuk mereka semua sedangkan Pak Danu pamit untuk mengurus anak buahnya.
Sementara itu di luar pihak kepolisian juga sudah membuat banyak tenda karena kebetulan disana masih banyak tanah kosong yang lapang sehingga pihak kepolisian itu bisa mendirikan tenda dengan leluasa.
“Itu benar, dan anehnya hujan ini alami, hujan ini bukan hujan yang di datangkan melainkan murni hujan yang diturunkan oleh Yang Maha Kuasa untuk kita.” Ucap Azizah.
“Sayangku, bagaimana dengan makhluk - makhluk terkutuk itu, apakah ada pergerakan dari mereka.” Ucap Azman.
“Suamiku kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka, karena mereka semua tidak akan menjadi masalah untuk mu, mereka tidak akan kemana mana. Tadi aku sudah mengunci mereka agar tetap berada di jurang itu, bahkan mereka tidak akan bisa ke naik ke atas ke jalan besar itu.” Ucap Azizah.
“Kapan kau melakukannya.” Ucap Azman.
“Tadi siang, setelah kita makan, sudah jangan kaget seperti itu, kau kan tahu siapa aku dan ada banyak hal yang bisa aku lakukan meskipun aku ada di depanmu.” Ucap Azizah.
__ADS_1
“Iya kau memiliki banyak hal yang tidak masuk di akal sehatku, tapi ya sudahlah, yang harus kita pikirkan adalah bagaimana membuat orang - orang itu bisa kita berikan hukuman yang setimpal.” Ucap Azman.
“Apakah kau mau aku minta semua makhluk terkutuk itu menyerang orang - orang itu, baru setelah itu kita habisi mereka.” Ucap Azizah.
“Itu tidak perlu, kita harus melakukannya dengan cara manusia agar bisa dijadikan alat bukti untuk pihak kepolisian menuntut mereka, aku lebih ingin mereka masuk penjara dan menjadi contoh untuk yang lainnya agar kedepannya tidak ada penduduk desa ini yang mempunyai hati yang busuk seperti mereka.” Ucap Azman.
“Racunnya.” Ucap Azizah.
“Jika kita bisa menemukan racunnya dan menangkap mereka saat membawa racun itu maka bisa saja itu di jadikan alasan pihak kepolisian untuk menahan mereka, sementara itu, aku minta tolong tenggelamkan perahu yang tadi kita lihat, ini untuk memancing amarah mereka.” Ucap Azman.
“Ide yang baik, oke aku akan menenggelamkannya untuk mu suamiku.” Ucap Azizah sambil kemudian berdiri dan menghilang dari pandangan Azman.
“Kau ini main menghilang saja, ingat jangan muncul mendadak di hadapan manusia lain.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Azizah namun tidak lama kemudian Azizah sudah nampak duduk lagi di sampingnya.
“Apakah sudah kau tenggelamkan perahunya.” Ucap Azman.
“Sudah beres suamiku sayang, perahu itu sudah tenggelam bersama semua yang ada di dalamnya, dan mereka tidak akan bisa juga mengambilnya, karena aku menggeser perahu itu sedikit lebih ke tengah laut sebelum aku tenggelamkan.” Ucap Azizah.
“Terima kasih istriku, kita tinggal menunggu saja mereka mengetahuinya dan marah, semoga saja kemarahan mereka itu memancing mereka menggunakan racun itu.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Suamiku, akan susah mereka untuk membakar dupa beracun itu, karena kan situasinya hujan, kecuali mereka mereka menggunakan alat lain, tapi sementara semuanya masih aman, mereka semua sedang berkumpul di sebuah rumah di desa ini, dan sama seperti kita mereka juga sedang menunggu hujan, aku belum melihat racunnya di tubuh mereka, sepertinya mereka menyembunyikan racun tersebut di salah satu bagian desa ini atau bisa jadi di dalam hutan.” Ucap Azizah.
“Iya, semoga saja hujan ini berhenti dan kita bisa menjalankan rencana kita.” Ucap Azman.
“Iya sayangku, semoga saja ya, oh iya informasi dari kaumku yang ada di pohon beringin itu jika ada beberapa orang berhati busuk yang saat ini masih diam di dalam mobil dan lokasinya kurang lebih satu kilometer dari sini, mereka seakan menunggu sesuatu, dia juga menyampaikan jika orang - orang itu berkomplot dengan empat orang yang ada di desa ini.” Ucap Azizah.
“Ya semoga saja ada tindakan bodoh yang membuat mereka bisa ditangkap oleh pihak kepolisian nantinya.” Ucap Azman.
“Suamiku, apakah kita akan menunggu disini saja, aku sedikit jenuh jika harus disini saja.” Ucap Azizah.
“Sayangku, kita tunggu sampai habis shalat isya saja ya, jika sampai habis shalat isya masih hujan juga maka kita berdua saja yang ke jurang kematian dan menghabisi mereka, baru nanti kita berikan elemen kejutan untuk para pelaku itu.” Ucap Azman.
“Iya sayangku, namun menurutku lebih baik aku saja sekarang yang menghabisi mereka, jadi kau tinggal mengurus Gua kematian dan manusia berhati busuk itu saja.”Ucap Azizah.
“Sayangku, kita tunggu saja dulu ya, hujan ini di turunkan salah satunya untuk membuat kita bersabar jadi belajarlah bersabar ya.” Ucap Azman.
“Iya sayangku, untung ada kamera ini jadi aku bisa ada sedikit hiburan.” Ucap Azizah sambil berdiri dan mengambil kamera dslr yang sebelumnya dia simpan di atas meja.
“Jangan hujan - hujanan, kamera itu tidak anti air loh.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Tidak sayangku, aku hanya akan mengambil photo dari jendela itu saja kok, tidak akan keluar juga, bukankah aku juga manusia yang bisa kebasahan jika kena air hujan.” Ucap Azizah dengan senyum mesranya yang langsung melangkah menuju jendela yang menghadap ke arah gunung.
Azizah yang berdiri di dekat jendela itu kemudian mengambil beberapa gambar gunung menggunakan kameranya sedangkan Azman hanya duduk sambil menghisap rokok dan melihat ke arah Azizah.