
“Sebentar coba aku tanya dimana Pak Jaja, jika memang dia sudah masuk kedalam Gua Kematian maka seharusnya kita bisa bertemu dengannya.” Ucap Azman sambil mengambil ponselnya dan langsung mencoba menghubungi Pak Jaja melalui panggilan telepon.
“Pak Azman, ada yang bisa saya bantu untuk anda?.” Ucap Pak Jaja memulai percakapan telepon itu.
“Maaf mengganggu anda, jika boleh saya tahu apakah anda sudah berada di dalam Gua kematian.” Ucap Azman.
“Benar Pak, baru lima ratus meteran dan kami sedang beristirahat terlebih dulu, karena akses masuknya sangat susah ternyata, selain curam dan licin, banyak sekali rumput liar yang menutupi lorong Gua ini.” Jawab Pak Jaja.
“Pak Jaja, nanti anda ikuti lorong utama saja ya, dan jika ada lorong bercabang yang lebih kecil maka jangan anda ambil ya.” Ucap Azman mengingatkan Pak Jaja karena dia tidak ingin Pak Jaja menjadi tersesat
“Di lokasi kami beristirahat ini ada satu lorong kecil yang anda maksud Pak, dan disini kami bisa mendengar ombak, kami yakin jika Gua ini menuju ke laut.” Ucap Pak Jaja.
“Oke, tunggu disana ya Pak, saya akan menyusul anda dan menemui anda.” Ucap Azman sambil mematikan panggilan telepon itu karena dia tahu jika Pak Jaja akan melarangnya.
“Istriku apakah kau bisa melihat di ujung lorong itu apakah benar ada banyak manusia di sana.” Ucap Azman sambil menunjuk ke lorong sebelah kanan.
“Benar, di sana ada banyak orang dan mereka juga berjiwa baik, maaf aku lupa menyampaikannya kepadamu.” Ucap Azizah.
“Tidak masalah sayangku, lalu apakah di lorong lainnya ada manusia juga?” Tanya Azman.
“Tidak sayangku, namun jauh di dalam lorong yang tengah ada sahabatmu itu.” Ucap Azizah sambil menujuk ke lorong yang tengah.
__ADS_1
“Sahabatku?” Tanya Azman.
“Iya itu loh Pak Danu dan anak buahnya.” Ucap Azizah sambil tertawa ringan.
“Kita lanjutkan perjalanan kita ya, dan kita akan ke lorong sebelah kanan saja menemui Pak Jaja.” Ucap Azman sambil kembali berdiri demikian juga dengan Azizah.
Mereka berdua pun langsung berjalan menuju ke lorong sebelah kanan dan tidak ada hal yang merintangi mereka karena memang lorong itu juga sangat terawat jalannya maupun dinding Gua nya.
Sepuluh menit berlalu dan kini Azman bisa melihat rombongan Tim Sar yang sedang duduk di batu batu yang ada di dalam gua itu.
“Senang bisa bertemu kalian disini.” Ucap Azman begitu keluar dari lorong yang dimasukinya itu dan langsung berjalan menuju ke Pak Jaja yang nampak kaget dengan kedatangan Azman bersama dengan Azizah.
“Kalian berdua bisa keluar dari lorong itu?.” Ucap Pak Jaja yang masih kaget.
“Itu Pak, di atas kita.” Ucap Pak Jaja sambil menunjuk ke atas tepatnya ke langit langit Gua.
Azman dan Azizah melihat ke atas dan melihat ada banyak sarang burung walet yang tergantung di langit langit Gua yang berjarak kurang lebih delapan meter dari mereka.
“Jadi ini lokasi sarang burung waletnya, dan itu menuju ke laut sekaligus akses dari burung waletnya sendiri, sedangkan labirin itu jadi merupakan sarang dari kelelawar dan batuan alam itu di tambang dari sungai bawah tanah.” Ucap Azman sambil berjalan dan mengambil sebuah kerikil lalu memberikan ke Pak Jaja, kerikil itu bukan batu kerikil biasa melainkan merupakan batuan alam yang sudah menjadi kristal dan berwarna kehijauan.
“Ini batuan yang cukup berharga Pak.” Ucap Pak Jaja sambil memeriksa kerikil yang diberikan oleh Azman itu.
__ADS_1
“Benar Pak, ada tiga hal yang bisa di panen disini ternyata, sarang burung walet, batuan alam serta kotoran kelelawar, pantas saja Gua ini begitu di jaga, kini semuanya sudah jelas terjawab, dan saya rasa cukup ke arah labirin itu saja yang di tutup Pak, sisanya bisa di kelola oleh warga.” Ucap Azman yang membuat sepuluh orang penduduk yang ikut rombongan Pak Jaja tersenyum bahagia.
“Pak Azman, selama ini kami hanya memanen sarang burung walet saja tidak ada yang lainnya, untuk batuan alam kami tidak berani memanennya karena kami takut akan mengakibatkan bencana kedepannya.” Ucap Salah seorang penduduk memberanikan diri berbicara.
“Benar Pak, apalagi kotoran kelelawar kami malah tidak mengetahui hal itu bisa dijadikan hasil tambang juga.” Ucap penduduk lainnya.
“Kotoran kelelawar bisa di olah, baik dijadikan untuk pupuk pertanian, namun lokasinya yang berbahaya untuk kalian jadi aku tidak akan membiarkan siapapun kesana, dan soal batuan alam apa yang kalian sampaikan juga sangat benar itu akan merusak alam, jadi sarang burung walet itulah yang paling tepat untuk kalian nantinya, baiklah Pak Jaja mari kita lihat ujung Gua ini terlebih dulu, dan untuk nanti kita keluarnya lewat jalan yang saya masuki saja ya.” Ucap Azman.
“Kalian disini saja dulu.” Ucap Pak Jaja ke rombongannya dan dia kemudian melangkah bersama dengan Azman dan Azizah menuju ujung lorong gua itu yang nampak sangat terang akibat sinar matahari yang masuk melalui ujung lorong itu.
Perjalanan mereka tidak terlalu mudah karena memang kondisi lorong itu yang memiliki banyak batuan besar namun mereka bertiga dengan hati - hati melangkah hingga akhirnya sampai di ujung lorong.
Nampak lautan luas membentang di depan mereka, menyambut mereka sekaligus melepaskan rasa lelah dan capai mereka.
“Sudah jelas semuanya, ini adalah mulut Gua yang ada di pinggir pantai, baiklah mari kita kembali saja Pak, dan sebaiknya rombongan anda kembali bersama saya saja, akses jalannya lebih enak dan tidak membahayakan, sekalian ada satu misteri terakhir yang ingin saya pecahkan, semoga sepuluh orang penduduk desa yang ikut bersama anda itu bisa membantu menyelesaikan misteri terakhir.” Ucap Azman.
“Baik Pak, lagi pula akses jalan itu sangat terjal, jika memang ada pintu keluar lain yang lebih nyaman maka saya akan memilihnya.” Ucap Pak Jaja dan mereka bertiga masih melihat ke arah laut.
“Pak Jaja, apa pendapat anda dengan Gua ini.” Ucap Azman sambil terus melihat ke arah laut yang membuat perasaannya semakin tenang.
“Gua ini sebenarnya Gua biasa namun ada lorong - lorong yang berbahaya, saya rasa menutup lorong yang berbahaya lebih baik dari pada menutup lorong yang lainnya, oh iya apakah anda sudah menemukan lorong yang menuju ke sungai bawah tanahnya.” Ucap Pak Jaja.
__ADS_1
“Sudah Pak, semalam saya dan pak Danu sudah sampai sana, namun untuk kali ini kita tidak perlu kesana ya, karena kini semua sudah semakin jelas untuk saya, nanti saya akan lihatkan jalan aksesnya ke Bapak dan yang lainnya.” Ucap Azman.