Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Persiapan menikah 2


__ADS_3

“Pak Azman, datanya sudah masuk, dan maaf bisakah saya mengambil photo Bapak dan Ibu untuk berkas - berkasnya sekalian saja, anda jangan khawatir nanti orang saya akan mengeditnya dan akan seperti hasil dari photo studio kok.” Ucap Pak Jaja setelah menerima pesan singkat dari Azman.


“Iya Pak, biar sekalian saja ya, terima kasih atas bantuan bapak ini, ini sungguh berarti untuk saya.” Ucap Azman sambil berdiri.


Pak Jaja kemudian mengambil beberapa photo Azman dan Azizah, mereka berdua pun tidak lama kemudian langsung meninggalkan villa tersebut dan kembali ke villa mereka sedangkan Pak Jaja sibuk mengurus semua keperluan untuk pernikahan Azman besok malam.


“Azman aku mau istirahat dulu ya, oh ya kata ayah ku jika besok dia akan datang bersama dengan paman Daim dan kemungkinan paman Daim akan datang juga bersama dengan bibi.” Ucap Azizah sesaat mereka sampai di villa yang mereka sewa.


“Iya, kau beristirahatlah, aku juga sudah lelah dan perlu tidur, sampai jumpa nanti pas shalat subuh ya.” Ucap Azman sambil melangkah memasuki kamarnya dan tidak lupa menutup pintunya namun tidak menguncinya, Azizah pun sama langsung masuk ke kamarnya dan beristirahat.


Mereka berdua tidur dengan nyenyak dan Azman pun terbangun sesaat sebelum waktu shalat subuh, dia pun melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan Azizah lalu keduanya pun memilih untuk menikmati pagi dengan duduk bersama di teras villa sambil memandangi pemandangan alam yang sangat asri dengan pagi hari itu.


“Azman, kita menikah disini atau di villa teman mu itu.” Ucap Azizah sambil melihat Azman yang asyik menikmati rokoknya.


“Sebaiknya disini saja, villa ini kan lebih besar dan sebaiknya nanti aku menyewa villa di kiri dan kanan ini juga untuk orang tua kita.” Ucap Azman sambil mengambil ponselnya dan langsung menghubungi kantor pemasaran villa itu.


Azman langsung mengabari bagian pemasaran villa jika dia ingin menyewa villa di kiri dan kanan itu dan sekaligus memesan makanan untuk sarapan mereka.


“Sudah beres, villa di kiri dan kanan sudah aku sewa, dan kebetulan memang kosong.” Ucap Azman sambil menyimpan ponselnya dan meminum sedikit kopinya.

__ADS_1


“Azman, apakah pernikahan manusia memang susah ya, jika di kami tidak serumit ini loh, selama ayah dari pihak perempuan ada maka tidak perlu proses berbelit.” Ucap Azizah.


“Pernikahan kita tidak rumit kok, malah sangat mudah, ya memang bukan kita yang mengurusnya namun aku yakin jika semuanya akan beres.” Ucap Azman.


“Iya, aku bangga dengan mu bisa memiliki sahabat yang baik dan mau kau repotkan, oh ya, apa yang akan kau berikan untuknya nanti, apakah kau akan memberikan hadiah untuknya yang telah membantu kita.” Ucap Azizah.


“Itu sudah pasti tentunya, aku akan memberikan hadiah untuknya, dan kau jangan khawatir dengan hal itu ya, Pak Jaja itu memang berjiwa baik dan buatnya uang bukan segalanya kok, aku nanti akan melihat jika memang ada yang bisa tepat sebagai hadiah untuknya jika tidak maka lain kali saja kita berikan hadiahnya ya.” Ucap Azman.


“Lalu kapan kau akan membelikan ponsel untukku, kata ibu aku disuruh memiliki ponsel seperti milik mu juga loh.” Ucap Azizah.


“Iya nanti sehabis sarapan kita akan membelinya, kan sepagi ini tokonya belum buka juga.” Ucap Azman.


“Azman apakah jauh ya lokasi orang tua mu, aku sudah tidak sabar ingin ketemu ibu mu loh, meskipun semalam sudah mengobrol di telepon namun aku ingin bisa ngobrol langsung dengan ibu mu.” Ucap Azizah.


“Apakah kau juga memiliki mobil?” Tanya Azizah.


“Aku punya, apakah kau mau kita naik mobil, jika ya maka aku akan meminta anak buahku untuk mengantarkan mobilku kesini, dan biar motor itu di bawa pulang saja.” Ucap Azman.


“Aku memang ingin menaikinya, namun aku akan ikut pilihanmu saja, naik motor atau mobil buatku sama saja selama bisa bersamamu, aku semalam sudah berbincang dengan paman Daim dan aku sudah sampaikan jika aku tidak ingin dia kembali jadi pengawal mu.” Ucap Azizah.

__ADS_1


“Iya, lagipula kan kau akan ada terus untukku jadi aku tidak memerlukan pengawal namun kita tidak bisa memaksanya bukan, karenakan tugasnya memang untuk menjaga ku.” Ucap Azman.


“Kau benar, tugas paman Daim memang menjagamu namun jika dia ada aku yang tidak bisa bebas dengan mu.” Ucap Azizah.


“Nanti saja kita bahasnya ya, aku sangat yakin jika Daim akan mengerti kok dan tidak akan terus menerus bersama dengan kita kemana - mana, dia pasti memberikan waktu untuk kita berduaan.” Ucap Azman.


“Azman, aku tidak bisa berbohong dan jika ibu menanyakan soal jati diriku maka mau tidak mau aku akan menyampaikannya, dan aku tidak yakin ibu akan bisa menerimanya dengan mudah.” Ucap Azizah.


“Itu benar, namun jika tidak di tanya maka jangan bercerita ya, ibu dan ayahku tidak berpikiran kuno kok, dan mereka akan bisa menerima mu, meskipun ini aneh namun ini nyata bukan, ya selama kau tidak terbang atau menghilang di depan kedua orang tua ku dan orang - orang lainnya maka mereka tidak akan mengetahui jika kau bukan manusia.” Ucap Azman mencoba menenangkan Azizah.


“Iya, aku tidak akan bercerita jika tidak ditanya, ayah dan ibu ku juga menyampaikan seperti itu, kata mereka jika perbedaan kita hanyalah kemampuan kita saja, kami memiliki beberapa kemampuan jika dibandingkan dengan kalian manusia.” Ucap Azizah sambil melihat jika ada orang yang datang ke arah villa mereka dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan.


“Selamat pagi bapak dan ibu, maaf mengganggu ini saya membawakan sarapan anda berdua.” Ucap pelayan rumah makan yang ada di kawasan villa itu sambil menyajikan sarapan untuk Azman dan Azizah.


“Terima kasih, dan bisakah anda memanggilkan manajer atau pemilik rumah makan karena nanti malam disini akan ada acara dan aku ingin memesan makanan dalam jumlah banyak dan juga spesial tentunya.” Ucap Azman.


“Baik Pak, kebetulan pemilik rumah makan memang baru sampai, sebentar saya panggilkan dahulu.” Ucap Pelayan rumah makan yang langsung membawa nampan kosong itu dan meninggalkan Azman dan Azizah.


“Ayo kita sarapan dulu, sudah urusan lain kita selesaikan nanti setelah makan saja ya, tidak baik menunda jika makanan sudah disajikan.” Ucap Azizah yang sedang menuangkan air minum untuk Azman.

__ADS_1


“Makasih ya, belum jadi istri namun kau sudah pengertian layaknya seorang istri.” Ucap Azman.


Mereka berdua pun kemudian menikmati hidangan itu dan mereka tidak ada lagi yang berbicara namun asyik dengan sarapan mereka yang memang lezat untuk lidah mereka.


__ADS_2