
“Pak Azman, saya masih tidak habis pikir dengan Gua ini, karena sejak kami masuk kami bahkan tidak menemukan hal yang berbahaya, selain akses jalan di dalam Gua ini saja, tidak ada yang mengancam nyawa di Gua ini.” Ucap Pak Jaja.
“Hal yang membahayakan sudah lewat sebenarnya Pak, ya ini untuk sementara karena bahaya datang dari manusia rakus dan tamak yang ingin menguasai semua hasil bumi yang ada di Gua ini.” Ucap Azman.
“Jika demikian maka sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan kita saja ya Pak, anda tadi bilang masih ada satu misteri lagi bukan.” Ucap Pak Jaja.
“Pak Jaja, sebentar dimana Pak Umar?.” Tanya Azman.
“Pak Umar sedang bersama dengan Pak Tatang, beliau sedang membahas mengenai potensi pengolahan hasil bumi Gua ini, agar tidak ada hal buruk yang menimpa masyarakat yang masuk ke dalam Gua ini pada masa yang akan datang.” Ucap Pak Jaja menjelaskan.
“Baguslah jika demikian, mari kita kembali, dan kita akan melalui jalan yang tadi saya lalui saja ya.” Ucap Azman yang langsung melangkah beriringan dengan Azizah dan di ikuti oleh Pak Jaja.
Kini semuanya mengikuti Azman, dan bahkan para penduduk desa yang ikut dengan mereka nampak baru pertama kali melalui jalan yang di pilih oleh azman itu, hingga mereka sampai di belakang villa tua tersebut.
“Inilah misteri yang ingin saya tanyakan kepada para penduduk desa, apakah Bapak - bapak mengetahui perihal bangunan tua ini?.” Tanya Azman sambil melihat ke arah para penduduk desa yang ikut bersama dengan mereka.
Para penduduk desa itu saling berpandang - pandangan, dan mereka nampak sedikit kebingungan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Azman.
“Pak Azman, bangunan ini tidak bertuan, dan tidak ada pemiliknya, area ini bahkan merupakan area yang terlarang untuk kami, konon ada kutukan jika ada yang berani memasuki bangunan ini, sehingga kami warga desa memilih untuk tidak mendatangi area ini.” Ucap salah seorang penduduk desa memberanikan diri menjawab Azman.
__ADS_1
“Jadi seperti itu, apakah sudah ada yang pernah terkena kutukan itu, dan seperti apa kutukannya?.” Tanya Azman kembali.
“Semua itu hanya mulut ke mulut saja, namun tidak ada dari kami yang berani kesini pada akhirnya, cerita ini sudah berhembus sejak kami kecil hingga menjadi hal yang kami warga desa percayai.” Ucap penduduk desa lainnya menjelaskan kepada Azman.
“Mitos oh mitos, ya sudahlah sebaiknya Bapak - Bapak semua kembali ke desa saja, dan saya akan disini saja.” Ucap Azman yang berniat untuk memasuki bangunan tua tersebut karena dia yakin jika mitos itu di hembuskan hanya untuk menutupi akses masuk ke Gua kematian.
“Kalian semua kembalilah ke Desa, saya akan menemani Pak Azman disini, dan sampaikan ke yang lain agar menunggu kami di Desa saja.” Ucap Pak Jaja mengambil keputusan juga karena dia tahu jika Azman berencana memasuki bangunan tua itu.
Rombongan Tim Sar dan penduduk desa itu pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju ke desa sedangkan Azman, Azizah dan Pak Jaja nampak masih berdiri belakang bangunan Tua itu tepat di depan mulut Gua.
“Pak Jaja, bisa anda hubungi Pak Umar agar mengajak Pak Danu serta Pak Tatang kesini, karena dalam pemikiran saya mitos itu di hembuskan untuk menutupi adanya akses masuk ke dalam Gua yang lebih mudah saja, seperti yang anda ketahui jika akses utama Gua itu sebenarnya ada disini.” Ucap Azman.
“Saya setuju dengan Pendapat Pak Azman, sebentar biar saya hubungi dulu.” Ucap Pak Jaja sambil mengambil telepon selulernya dan langsung menghubungi Pak Umar.
Azman dan Azizah pun melangkah ke pohon rindang itu, sedangkan Pak Jaja masih tetap berdiri disana sambil menghubungi Pak Umar.
“Suamiku, sebenarnya misterinya sudah terpecahkan, lalu apa yang kau rencanakan?.” tanya Azizah sambil duduk bersandar di pohon rindang yang merupakan pohon beringin.
“Aku hanya ingin agar masyarakat bisa mendapatkan hasil dari Gua Kematian ini, dan dalang utamanya tertangkap oleh pihak kepolisian, aku yakin jika masih ada banyak orang yang terlibat dalam kematian banyak orang disini.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Itu benar, dan sebenarnya di dalam bangunan tua itu ada banyak tengkorak loh, sepertinya jenazah - jenazah orang yang dijadikan tumbal lebih banyak disimpan di bangunan tua ini, namun kau jangan khawatir tidak ada makhluk Gaib disini.” Ucap Azizah.
“Aku sudah menebaknya, karena meskipun bangunan tua ini nampak tidak terawat namun kaca - kaca serta pintunya masih utuh, dan pintu belakangnya juga nampak bersih.” Ucap Azman.
“Pak Azman, mereka akan segera kesini, dan jika boleh saya ketahui itu motor siapa yang ada di dalam mulut Gua?.” Ucap Pak Jaja yang duduk di depan Azman.
“Saya curiga itu adalah motor dari orang yang semalam menyerang pihak kepolisian di labirin Pak.” Jawab Azman yang kembali menyalakan sebatang rokoknya.
“Pak Azman, dalam analisa saya, Gua ini memiliki potensi kekayaan yang sangat bagus sehingga membuat orang - orang yang rakus menghalalkan segala cara untuk menguasainya.” Ucap Pak Jaja.
“Bapak benar Pak, semalam jika kami tidak bisa keluar dari labirin kuno itu maka mungkin saat ini anda sedang mencari saya, dan saya yakin jika labirin kuno itu memang di siapkan sebagai bentuk pengalihan jika ada masyarakat yang memasuki Gua kematian, saya ada keyakinan untuk hal itu.” Ucap Azman.
“Itu benar, alhamdulilah anda sudah bisa menyelesaikan misterinya sehingga aku tidak sibuk mencari mu, lagian kalian berdua ini ada - ada saja, bukannya liburan berbulan madu malah masih saja sibuk membantu masyarakat saja.” Ucap Pak Jaja sambil tertawa ringan.
“Bulan madu itu kan banyak pengertiannya Pak, saya sudah cukup bahagia bisa menemani suami saya berjalan - jalan seperti ini.” Ucap Azizah.
“Apa rencana kalian setelah ini, dan kalian tahu saat aku mendengar berita tentang mu membutuhkan bantuanku, aku langsung meluncur kesini, entah kenapa anda sudah seperti anak saya sendiri.” Ucap Pak Jaja.
“Terima kasih ya Pak, saya berencana ke daerah Jawa Tengah Pak, karena sesusai niatan awal kan saya ingin menjelajah Indonesia ini.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Baiklah, saya tidak akan melarang kemana kau akan bepergian, sedikit informasi saja, saya akan ada di daerah jawa tengah juga untuk satu minggu ke depan, kebetulan saya dan Pak Umar memang berencana untuk kesana juga.” Ucap Pak Jaja.
“Benarkah? Apakah anda berdua sedang akan berlibur?.” Tanya Azizah.