
“Apakah kau bisa mengambil salah satunya seperti kau mengambil buah - buahan di hutan itu.” Ucap Azman.
“Ini dia, sudah aku ambilkan.” Ucap Azizah sambil memberikan sebuah batu yang lebih mirip batu kerikil namun nampak berwarna hitam.
“Kau kapan mengambilnya?.” Ucap Azman dan karena mereka berjarak tiga meteran dengan Bapak Kepala Desa mereka juga bisa mengobrol dengan bebas.
“Barusan saat kita mulai berjalan pulang, kan dirimu berjalan di depanku.” Ucap Azizah dengan senyuman hangatnya.
“Apakah kau mengetahui apa jenis batuan alam ini?.” Tanya Azman ke Azizah.
“Tidak suamiku, aku tidak mengetahuinya, karena kan yang aku tahu hanya perhiasan saja.” Jawab Azizah sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah jika kau tidak mengetahuinya, biar nanti aku mencari tahunya saja, aku ada keyakinan jika batuan ini didapatkan dari dalam Gua itu.” Ucap Azman.
“Itu mungkin saja, namun aku lihat jika Gua itu sendiri memiliki banyak lorong yang menembus keluar, dan bukan hanya yang tadi kita lihat saja, bahkan yang di sebut sumur tua itu juga merupakan salah satu lorong ventilasi Gua.” Ucap Azizah.
“Jadi apakah ada makhluk terkutuk atau yang lainnya di dalam Gua itu?.” Tanya Azman.
“Tidak ada suamiku, Gua itu bersih, tidak ada makhluk terkutuk di dalamnya, dan ini juga cukup membingungkanku, kenapa mereka bertahan di luar tidak di dalam Gua saja, seakan - akan mereka menjalin kontrak dengan makhluk lain jadi hanya berjaga di mulut Gua yang ada di jurang kematian.” Jawab Azizah.
“Itu mungkin saja, tapi yang jelas ada harta di dalam Gua itu, mereka berupaya menyembunyikannya dan kita yang akan membongkarnya, Istriku berhati - hati juga ya, tidak menutup kemungkinan mereka akan mencelakakan kita nantinya.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Suamiku, harusnya aku yang mengatakan itu kepadamu, kau tenang saja, manusia tidak akan sanggup melukaiku demikian juga dengan makhluk terkutuk, Istrimu ini adalah wanita terkuat selama ratusan tahun di dunia kami, bahkan paman Daim pun mengakui kekuatan ku.” Ucap Azizah.
“Tidak baik berkata seperti itu dan aku tidak ingin mendengarnya lagi, kita tidak boleh memuji diri kita sendiri dan kita juga tidak boleh menganggap remeh situasi.” Ucap Azman menasehati istrinya.
“Iya sayangku, maafkan aku, maklum di duniaku hal seperti itu adalah hal yang biasa, namun aku akan mengingat pesanmu.” Ucap Azizah.
“Iya sayangku, lalu bagaimana situasi di depan, apakah aman untuk kita kembali ke desa.” Ucap Azman.
“Sejauh penglihatanku semuanya aman, mereka fokus menunggu kita di jalanan yang tadi kita lewati, sebentar lagi kita akan sampai di jalan utamanya dan pihak kepolisian juga sudah dekat, mereka akan melewati kita sebentar lagi.” Ucap Azizah dan terlihat jika kini Bapak Kepala Desa itu berjalan menaiki tangga yang sepenuhnya terbuat dari susunan batu alam.
Azman hanya mengangguk saja dan benar apa yang dikatakan oleh Azizah, tidak begitu lama mereka bertiga pun sampai di jalan utama dan saat mereka sampai di jalan utama itu beberapa mobil rombongan pihak kepolisian melintas di depan mereka.
“Pak Azman, mereka sudah datang dan sepertinya mereka akan sampai desa lebih awal.” Ucap Bapak Kepala Desa sambil melihat ke arah rombongan mobil pihak kepolisian yang sudah sedikit menjauhi mereka.
“Pak Azman sungguh penuh perhitungan dan saya menyukainya.” Ucap Bapak Kepala Desa sambil kembali melangkah dan kini Azman berjalan di sampingnya sedangkan Azizah mengikuti mereka di belakang.
“Saya memang tidak takut dengan makhluk gaib Pak, namun saya masih takut dengan manusia yang berhati busuk, karena manusia jauh lebih berbahaya.” Ucap Azman.
“Saya setuju dengan anda, apa yang anda ucapkan memang kenyataan, menurut anda apa yang harus saya lakukan setibanya di desa.” Ucap Bapak Kepala Desa.
“Hanya satu minta warga desa yang tidak ikut dengan petualangan kita agar tetap diam di desa saja, jadi mereka lebih terlindungi dan nanti saya akan minta pemimpin dari Pihak Kepolisian itu untuk menyiagakan anak buahnya di desa, ini untuk keselamatan bersama.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Saya setuju dengan Anda, dan saya yakin pihak kepolisian tidak akan menolak ide anda ini.” Ucap Bapak Kepala Desa.
“Istri ku kirimkan kepada ku photo orang - orang itu, aku yakin kau memilikinya, karena nanti aku akan memberikannya ke pihak kepolisian, dan aku juga akan meminta mereka agar mengawasi terus orang - orang itu, aku takut jika mereka ketahuan perbuatan jahatnya maka mereka akan melarikan diri atau paling bodoh menyerang kita semua nantinya.” Ucap Azman dalam hatinya berbicara dengan Azizah.
“Iya, sebentar, aku akan mengirimkannya kepadamu.” Ucap Azizah dalam hatinya juga.
Mereka bertiga terus berbincang dan melangkah, mereka juga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai kembali di desa dan langsung menemui pemimpin pihak kepolisian yang memang sudah menunggu kedatangan mereka.
Pihak kepolisian juga nampak berkumpul di balai desa dengan mobil - mobil mereka terparkir di pinggir jalan serta di parkiran rumah makan berdampingan dengan mobil Jeep Azman.
“Selamat siang pak Danu, mohon maaf membuat anda menunggu lama, saya dan Pak Azman baru berkeliling desa ini.” Ucap Bapak Kepala Desa sambil berjabat tangan dengan Pemimpin dari Pihak Kepolisian.
“Pak Tatang, tidak masalah, kami juga belum lama kok, dan Pak Azman senang bisa berjumpa dengan anda.” Ucap Pemimpin dari Pihak Kepolisian yang bernama Danu itu sambil berjabat tangan dengan Bapak Kepala Desa yang ternyata bernama Tatang.
“Senang berjumpa dengan anda Pak Danu, terima kasih sudah berkenan hadir dan membantu kami disini.” Ucap Azman sambil berjabat tangan dengan Pak Danu yang berpangkat komisaris polisi itu.
“Kami sudah lama ingin menyelesaikan perkara di jurang kematian Pak, dan dengan kehadiran anda disini kami yakin perkara ini bisa selesai.” Ucap Pak Danu.
“Sudah - sudah ayo kita duduk dulu, masa berbincang sambil berdiri, dan saya akan tinggal sebentar ya, biar disini ada kopinya, kebetulan saya juga akan mengecek warga saya terlebih dahulu.” Ucap Pak Tatang.
“Iya Pak, silahkan dan terima kasih.” Ucap Azman sambil duduk di kursi yang ada didekatnya demikian juga dengan Azizah yang langsung duduk di sebelah Azman.
__ADS_1
Pak Tatang kemudian meninggalkan mereka dan kini Azman, Azizah dan Pak Danu duduk satu meja di balai warga itu.
“Pak Azman, apa rencana anda, karena saya tidak mempunya kemampuan jika harus melawan makhluk gaib di jurang kematian itu, dan kenapa anda ingin membuka kembali Gua kematian yang sudah kami tutup sejak lama.” Ucap Pak Danu.