
“Pak Azman, apakah tidak sebaiknya ibu Azizah menunggu disini saja.” Ucap Pak Danu.
“Tidak Pak, istri saya bisa membantu saya nantinya, baiklah kami permisi terlebih dulu, sepertinya hujan ini juga tidak akan kunjung berhenti, dan saya mohon anda meningkatkan pengawasan kepada mereka, oh iya, satu hal lagi tolong waspadai kendaraan yang datang ya, saya khawatir akan ada orang luar yang mereka panggil untuk membuat kekacauan disini.” Ucap Azman.
“Baik Pak, anda berdua berhati - hatilah.” Ucap Pak Danu.
“Benar Bapak dan Ibu berhati - hatilah, doa kami bersama kalian berdua.” Ucap Pak Tatang.
“Terima kasih.” Ucap Azman yang langsung berjalan keluar dari dalam tenda itu bersama dengan Azizah.
Keduanya berjalan di bawah hujan yang sangat deras itu dengan masih menggunakan jas hujan milik pihak kepolisian yang dipinjamkan oleh Pak Danu.
“Istriku, hilangkan sepenuhnya auramu, biarkan mereka semua datang menyerang kita, jadi kita bisa segera menyelesaikan masalah ini.” Ucap Azman mengingatkan Azizah.
“Iya sayangku.” Ucap Azizah dengan senyuman khasnya.
Angin bertiup sangat kencang dan terlihat pepohonan banyak sekali yang bergoyang tertiup angin kencang itu, daun dan ranting juga banyak yang beterbangan sehingga sedikit menyulitkan untuk Azman berjalan.
Langit kini berubah menjadi semakin gelap dan semakin dekat mereka ke jurang kematian kabut hitam makin terlihat jelas oleh Azman serta Azizah.
“Suamiku, sepertinya mereka menunggu kita, aku akan membuat pembatas dan aku akan pastikan mereka tidak bisa keluar dari kabut hitam itu, kau masuklah kedalam terlebih dulu.” Ucap Azizah.
“Baik aku akan kesana dan aku harap kau berhati - hati ya, aku tidak ingin ada yang terjadi padamu.” Ucap Azman.
__ADS_1
Azman kemudian terus melangkah dan dia tidak lama kemudian memasuki kawasan jurang kematian yang tertutup oleh kabut hitam, pandangannya sedikit terganggu namun dia masih bisa melihat dan sejauh pandangannya dia tidak adanya makhluk gaib disana.
Azman terus melangkah dan semakin dalam memasuki area jurang kematian sampai akhirnya dia mencium bau bangkai yang sangat busuk sehingga membuatnya berhenti berjalan dan mulai melihat sekitarnya.
Hujan terus turun dengan derasnya bahkan kini tanah yang di injak Azman sudah semakin becek, namun ini tidak mengendurkan semangatnya.
“Bau ini sangat menyengat, dan hanya ada satu kemungkinan, didepan sana adalah pusat dari mereka, aku harus bisa menahan bau busuk ini, entah kenapa aku bisa melupakan masker wajahku, aku tidak mungkin kembali ke mobilku untuk mengambil masker.” Ucap Azman yang kini bersandar di sebuah pohon besar yang tidak dia ketahui jenisnya karena memang disana sudah cukup gelap di tambah bau busuk itu sudah sangat mengganggu konsentrasinya.
“Istriku, bisakah kau ambilkan maskerku di mobil, ada di dalam tas hitam ku.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Azizah.
“Iya sayangku, sebentar lagi aku selesai, kau bertahanlah dulu, mereka ada dua puluh meter di depanmu, bersembunyi di atas pohon, dan bau busuk itu bau mereka jadi jangan kemana - mana dulu ya.” Ucap Azizah yang hanya terdengar oleh Azman.
“Jangan lama - lama ya sayangku dan jika bisa tolong ambilkan sekalian senter kepala ku, disini sudah sangat gelap aku nyaris tidak bisa melihat apapun.” Ucap Azman kembali berbicara dalam hatinya untuk berkomunikasi dengan Azizah.
“Setidaknya aku bisa mengurangi bau busuk ini dengan rokokku.” Ucap Azman dalam hatinya sambil mengedarkan pandangannya dan dia masih belum bisa melihat apapun di sana sekalian pepohonan.
“Suamiku, kau ini baru tidak terkena air hujan sebentar saja sudah menyalakan rokok lagi saja, ini masker mu.” Ucap Azizah yang tiba - tiba muncul di depan Azman dan langsung menyerahkan sebuah masker gas serta sebuah senter kepala.
“Terima kasih sayangku.” Ucap Azman sambil membuang rokoknya lalu menerima kedua barang itu.
Azman pun kemudian menggunakan masker gasnya dan juga senter kepala tersebut.
“Akhirnya aku bisa bernafas lega, oh iya sayangku, apakah kabut hitam ini tidak bisa kau hilangkan.” Ucap Azman
__ADS_1
“Aku tadi sedang mencari sumbernya, namun kau memanggilku, ya sudah aku pergi dulu ya, itu mereka ada disana, dan jangan ragu untuk menghabisi mereka, karena mereka tidak akan mau menurutimu jika siksaan mu kurang kuat, oh ya satu hal lagi sayangku bisa menggunakan akar itu untuk menyiksa mereka.” Ucap Azizah sambil menunjuk ke arah akar rambat.
“Ide mu bisa juga nih, ya sudah pergilah namun ingat berhati - hati ya, aku takut ada unsur kejutan yang sudah mereka siapkan.” Ucap Azman.
“Iya suamiku, sebentar ya aku tinggal dulu.” Ucap Azizah yang langsung berjalan meninggalkan Azman.
Azman kemudian memeriksa akar rambat itu dan menemukan ada akar yang sudah terputus dengan panjang kurang lebih dua meter.
“Alam pun berpihak kepadaku.” Ucap Azman sambil mengambil akar tersebut lalu mengayunkannya laksana sebuah cambuk.
Azman yang kini sudah tidak terganggu dengan bau busuk itu lalu berjalan menuju pohon besar yang di tunjukan oleh Azizah yang juga merupakan sumber dari bau busuk itu, sementara itu hujan pun kini semakin deras namun tidak lagi di temani dengan angin kencang.
“Akhirnya aku menemukan kalian, dan dari pada kalian terus di atas pohon, sini turunlah dan bertarunglah dengan ku.” Ucap Azman yang melihat ada lima genderuwo yang berdiri di atas dahan pohon di depannya.
Genderuwo itu seakan merasakan ancaman itu dan mereka langsung melayang dengan cepat ke arah Azman dengan tangan yang mengarah untuk mencekik Azman.
Azman mundur beberapa langkah untuk lebih mengantisipasi serangan itu dan tangan kanannya yang kini memegang akar rambat tersebut nampak lebih siaga.
Dengan cekatan Azman menggerakkan tangan dan tubuhnya untuk menyerang dua genderuwo pertama yang mendekatinya, dengan telah akar itu melingkari leher genderuwo pertama, Azman pun menarik akar rambat itu sehingga genderuwo pertama itu pun tertarik lalu terjatuh ke tanah diapun lalu mengayunkannya kembali untuk menyerang genderuwo kedua dan alhamdulilah berhasil mengenai genderuwo kedua bersamaan dengan datangnya genderuwo ketiga yang hampir mengenainya.
Azman pun melompat kebelakang namun keberuntungan tidak berpihak kepadanya karena tanah yang sangat licin dan becek sehingga dia pun tergelincir dan terjatuh tapi dengan begini dia berhasil menghindari serangan dari tiga genderuwo itu.
Azman menarik kuat akar rambatnya untuk melepaskan akar rambat dari leher genderuwo kedua sambil berguling ke arah kanan menjauhi ketiga genderuwo tersebut sedangkan dua genderuwo yang berhasil di serangnya kini nampak mulai pudar lalu menghilang dari pandangan Azman.
__ADS_1