
“Istriku, aku masih perjalanan ke situ, karena jembatannya putus maka aku mengambil jalan lain sesuai yang ditunjukkan oleh gps navigasi ku.” Ucap Azman bertelepati dengan Azizah.
“Iya suamiku, berhati - hatilah, kau jangan khawatir dengan keadaan ku karena aku baik - baik saja, penduduk yang terluka juga sudah diobati.” Ucap Azizah.
“Baguslah jika demikian, aku sudah meminta Pak Jaja agar mengirimkan tim sar datang dan semoga saja mereka bisa segera datang kesitu untuk membantu penduduk desa.” Ucap Azman.
“Iya semoga bisa segera datang dan suamiku, karena disini kami perlu banyak bahan makanan serta tenda darurat agar penduduk bisa beristirahat.” Ucap Azizah.
“Iya, nanti akan di bawakan juga oleh Pak Jaja dan yang lainnya, kabari ke aku jika ada yang terjadi disana ya.” Ucap Azman.
“Baik Suamiku.” Ucap Azizah.
Azman sudah dua jam mengendarai mobilnya itu dan dia pun sudah melintasi hutan belantara yang cukup menantang untuknya karena jalan yang dia lintasi itu sangat tidak mulus, bahkan beberapa kali dia terpaksa membuka jalan baru karena beberapa kali jalannya terputus akibat tanah yang longsor.
Tidak ada jembatan yang di lintasi oleh Azman, melainkan jalan yang ditunjukkan oleh Gps navigasinya itu adalah menyeberangi sungai tersebut di titik terendah airnya, tidak ada halangan dalam menyeberangi sungai itu karena hal itu sudah merupakan hal biasa untuk Azman.
Namun ternyata perjalanan setelah melintasi sungai itu juga tidak mulus dan kembali Azman harus melintasi jalan tanah berbatu namun bukan di tengah hutan lagi melainkan di tengah perkebunan teh.
Ya jalan yang di lintasi Azman adalah jalan yang biasa digunakan oleh truk truk perkebunan teh dan jalan itu juga tidak langsung menuju ke balai desa itu melainkan berputar - putar dan masuk ke desa lainnya.
__ADS_1
Sudah dua desa Azman lewati dan Azman melihat jika kedua desa itu sangat minim kerusakannya sehingga dia tidak berhenti disana, dia terus menjalankan mobilnya itu dan tepat Adzan dzuhur berkumandang dia pun sampai di depan sebuah masjid sehingga Azman pun memilih untuk berhenti.
Azman hanya berhenti di masjid tersebut untuk melaksanakan Ibadah shalat dzuhur berjamaah dan Azman pun sempat menanyakan arah ke penduduk yang sama - sama ikut shalat berjamaah disana, dan ternyata arah yang diberitahukan oleh penduduk adalah sama dengan arah yang ditunjukkan oleh Gps navigasi miliknya.
Hanya tinggal tiga kilo meter lagi yang harus di lalui oleh Azman dan Azman kini sudah masuk ke jalanan aspal kembali sehingga dia bisa sedikit memacu mobilnya.
“Ternyata Pak Jaja dan tim nya datang lebih cepat dari ku.” Ucap Azman yang melihat ada puluhan mobil Tim Sar yang terparkir di pinggir jalan sehingga Azman pun memilih untuk memarkirkan mobilnya sedikit agak jauh agar mobilitas dari Tim Sar tidak terganggu.
Azman yang selesai memarkirkan mobilnya itu pun kemudian turun dan berjalan ke arah bangunan besar yang merupakan balai desa.
“Suamiku kau datang juga akhirnya, ini kenapa kepalamu bisa terluka seperti ini.” Ucap Azizah yang datang berlari dan langsung memeluk Azman.
“Tidak, aku tidak terluka sama sekali saat gempa kedua dan ketiga yang lebih besar itu aku dan semua penduduk sudah di luar rumah jadi kami selamat namun seperti yang kau ketahui rumah - rumah penduduk tidak selamat sama sekali, dan beruntung kami karena kami sudah sampai di balai desa ini saat musibah jembatan desa itu rubuh kami sudah berhasil menyebranginya.” Ucap Azizah.
“Pak Azman, ternyata anda sudah sampai.” Ucap Pak Jaja yang tanpa disadari Azman sudah ada di sebelahnya.
“Senang bisa berjumpa dengan anda Pak, bagaimana situasinya Pak.” Ucap Azman sambil berjabat tangan dengan Pak Jaja dan melepasnya kembail.
“Kabar desa ini tidak baik Pak, saya membutuhkan ahli geologi untuk mengetahui kondisi desa, kenapa sampai mengalami kerusakan yang paling parah di bandingkan dengan desa yang lain.” Ucap Pak Jaja.
__ADS_1
“Apakah Bapak sudah menghubungi ahli geologinya.” Ucap Azman.
“Saya sudah menghubunginya dan sudah dalam perjalanan, kemungkinan dua tiga jam lagi sampai disini, dan mengenai jembatan itu untuk pembangunan ulangnya akan memakan banyak waktu Pak, kecuali kita bisa membangun jembatan darurat terlebih dahulu agar penduduk desa bisa kembali ke tanah mereka, jadi ternyata batas desa ini hanya lima ratus meter ke arah sana dan sebagian besar ada di seberang sungai Pak.” Ucap Pak Jaja.
“Itu benar Pak, dan apakah ada cara agar bisa membangun jembatan dengan cepat dan juga bisa di lalui oleh kendaraan, jika saya tidak salah ada jenis jembatan darurat yang menggunakan jenis kawat baja.” Ucap Azman.
“Itu benar Pak, dan saya sudah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk soal jembatan namun mereka belum bisa kesini karena ada banyak jembatan di jalur utama yang roboh dan rusak parah yang harus segera mereka bangun, namun ada satu pihak swasta yang berkenan membantu tapi semua biaya bahan baku harus kita siapkan Pak.” Ucap Pak Jaja.
“Azizah, aku dan Pak Jaja akan ke jembatan sebentar, kau tunggulah dahulu atau beristirahatlah di dalam mobil.” Ucap Azman.
“Suamiku aku akan disini membantu Bu Neneng dan Pak Sudrajat saja ya, dan kalian pergilah.” Ucap Azizah.
Azman hanya tersenyum dan kemudian berjalan bersama dengan Pak Jaja menuju ke Jembatan yang roboh, mereka tidak memerlukan waktu lama karena memang jaraknya yang dekat dan keduanya kini berdiri di ujung jembatan itu.
“Berapapun biayanya saya akan menanggungnya Pak, karena akses jalan ini sungguh berharga untuk banyak orang, namun akan lebih baik jika di bangun jembatan darurat terlebih dahulu sambil menunggu jembatan utama di buat.” Ucap Azman.
“Baiklah jika demikian saya akan memanggilnya dan biarlah mereka yang mengerjakannya, saya percaya dengan kawan saya yang satu ini, karena selama ini proyek yang mereka kerjakan selalu bagus dan sesuai dengan spesifikasi.” Ucap Pak Jaja.
“Baguslah jika demikian, lalu apakah ada kebutuhan dari penduduk desa yang belum tersedia atau kurang.” Ucap Azman yang sengaja mengajak Pak Jaja ke lokasi itu agar tidak ada yang mendengarnya saat membicarakan mengenai keuangan.
__ADS_1
“Kami tidak menyangka jika ada banyak korban disini sehingga tenda kami kurang pak, akan tetapi saya sudah meminta penambahan tenda, untuk dapur umum sudah aman karena tambahan bahan makanan sudah di perjalanan juga, perkiraan saya malam akan tiba, namun untuk pembangunan rumah penduduk yang rubuh, saya tidak yakin bisa membantu banyak Pak.” Ucap Pak Jaja sambil kemudian menyalakan sebatang rokoknya.