Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gunung Lawu 5


__ADS_3

“Ini kalian minumlah dulu air teh ini,  agar tubuh kalian bisa lebih hangat” Ucap Pak Soedirjo yang kembali datang dengan membawa satu poci teh dengan tiga buah gelas yang terbentuk dari tanah liat dan dia letakkan di atas meja.


“Terima kasih Pak” Ucap Azman dan Daim pun kembali duduk di kursinya.


Pak Soedirjo pun kemudian menuangkan air teh dari poci ke tiga gelas tersebut dan memberikannya untuk Azman dan Daim serta dirinya sendiri.


Azman dan Daim pun meneguk sedikit air teh tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Pak Soedirjo.


“Pak Soedirjo, rekening pembangunan masjid ini ternyata rekening atas nama anda ya, dan saya sudah mentransfer semua biaya yang dibutuhkan, saya juga sudah melebihkan seratus juta rupiah untuk anda gunakan di tanah suci nantinya” Ucap Azman sambil memberikan kembali proposal pembangunan masjid.


“Bapak, ini ada uang masuk ke rekening Bapak, dan jumlahnya sangat banyak sekali” Ucap seorang anak perempuan usia tujuh belas tahunan yang tiba - tiba berlari dari dalam rumah dengan membawa telepon seluler di tangan kanannya dan memperlihatkan layar telepon seluler itu ke Pak Soerdirjo.


“Nduk, kenapa kau harus seperti ini, sudah kau masuk saja dan biarkan telepon seluler Bapak disini saja” Ucap Pak Soedirjo sambil mengambil telepon seluler tersebut dari anak perempuannya.


“Nggih Pak” Ucap anak perempuan tersebut yang langsung berjalan kembali masuk rumah.


Pak Soerdirjo pun kemudian mulai melihat dengan teliti layar telepon selulernya yang menunjukkan adanya transaksi uang masuk dan dia cukup kaget dengan angka yang tertera serta pengirimnya itu.


“Mas Azman ini sungguh baik sekali, dan saya mewakili semua pengurus masjid mengucapkan terima kasih, semoga kebaikan anda ini dibalas berkali - kali lipat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala” Ucap Pak Soedirjo sambil meletakkan telepon selulernya di atas meja.


“Aamiin Ya Rabbal Alamin, Pak, kami pamit dulu ya, kami ingin beristirahat” Ucap Azman sambil berdiri demikian juga dengan Daim.


“Kalian beristirahatlah, dan nanti piring - piring kotornya tolong taruh di teras ya, biar Bapak bisa bereskan” Ucap Pak Soedirjo.

__ADS_1


“Baik Pak” Ucap Azman dan dia bersama Daim langsung mengambil payungnya lalu berjalan ke arah Paviliun yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumah Pak Soedirjo.


Paviliun yang di sewa Azman dan Daim itu merupakan bangunan rumah kayu yang terbuat dari kayu jadi dan ukurannya juga tidak bisa di bilang kecil, nampak jika bagunan itu merupakan bangunan dengan arsitektur bangunan jawa kuno.


Azman dan Daim pun langsung masuk ke dalam paviliun tersebut, dan keduanya langsung memeriksa bagian dalam paviliun lalu setelah merasa tidak ada yang membahayakan kedua nya pun berkumpul di ruang tamu karena memang di sana Pak Soedirjo meletakkan makan malam untuk mereka berdua.


Azman dan Daim pun langsung menyantap semua hidangan itu dan mereka tidak memperdulikan meskipun semua hidangan itu sudah dingin, semua makanan itu berpindah ke dalam perut mereka.


Azman pun kemudian meletakkan semua piring kotor ke teras sesuai permintaan dari Pak Soedirjo lalu kembali masuk dan mengunci pintu paviliun.


“Daim, apa rencana mu?” Tanya Azman yang kembali duduk di depan Daim, mereka duduk di atas kursi Jati yang merupakan kursi ruang tamu.


“Kau beristirahat saja dulu, aku akan mengunjungi rumah di seberang itu, aku bisa merasakan adanya makhluk terkutuk yang cukup kuat disana, namun aku sama sekali tidak bisa merasakan ada kaum ku disana” Ucap Daim sambil melihat Azman yang menyalakan sebatang rokok.


“Aku akan usahakan” Ucap Daim yang langsung menghilang dari pandangan Azman.


“Aku masih tidak habis pikir, satu bulan yang lalu aku berkunjung ke Mbah Mirno dan aku merasakan jika dia itu benar - benar manusia, tapi ternyata bukan, sungguh kemampuan yang sangat hebat” Ucap Azman berbicara sendiri sambil mengambil telepon selulernya.


Azman pun kemudian mulai mencari tahu tentang Candi Cetho dan meskipun dia sebelumnya sudah menggali data namun dia merasa dia perlu lebih mengetahuinya lagi.


Sementara itu Daim muncul di dalam rumah Mbah Mirno dan dia masih dengan wujud manusianya dengan menggunakan aura manusia juga.


“Banyak sekali makhluk terkutuk di dalam rumah ini” Ucap Daim dalam hatinya sambil memeriksa bagian dalam rumah itu.

__ADS_1


Satu persatu dia periksa dengan menghiraukan ada banyak sekali makhluk terkutuk yang mengawasinya.


Daim yang tidak menemukan apapun di ruang tamu kemudian dia berjalan ke arah kamar dan dia bisa merasakan jika ada bayangan hitam di belakangnya namun karena dia tahu tidak akan ada yang bisa menyakitinya di rumah itu maka dia  pun tidak menghiraukannya.


“Auuuuuuuuuukkkkkkkkkkk Auuuuuuuuuukkkkkkkkkkk Auuuuuuuuuukkkkkkkkkkk” Lolongan - lolongan anjing dan serigala tiba - tiba terdengar di derasnya hujan dan Azman juga bisa mendengarnya.


Daim yang berwujud dan beraura manusia kini mulai membuka sebuah pintu kamar dan tiba - tiba dia melihat penampakan makhluk yang menyerupai manusia namun dengan wajah yang penuh luka dan makhluk itu melayang di atas tempat tidur yang ada di kamar itu.


Angin dingin bisa dirasakan oleh Daim dan Daim juga mulai merasakan adanya peningkatan kekuatan di dalam rumah itu, peningkatan kekuatan gaib akibat makhluk - makhluk terkutuk di rumah Mbah Mirno itu mulai menampakkan diri.


Kini Daim bisa melihat jika ada sepuluh makhluk yang sama dengan yang dia lihat pertama kali di kamar itu dan semua makhluk itu melihat ke arahnya.


“Nah begini kan lebih baik,  jadi aku tidak perlu susah payah mencari kalian” Ucap Daim sambil dengan cepat mengangkat tangannya dan dia langsung mencekik satu makhluk yang berdiri di belakangnya.


Dengan satu serangan itu Daim pun berhasil membinasakan makhluk tersebut dan ternyata di luar kamar itu kini penuh sekali dengan makhluk yang sama.


Seberkas cahaya putih nampak keluar dari telapak kaki Daim dan langsung menyebar ke semua bagian rumah dan dengan cepat melapisi rumah itu.


“Sekarang kita berolahraga makhluk bajingan, dengan segel pelindung ku maka tidak akan ada satupun dari kalian yang bisa melarikan diri” Ucap Daim yang langsung bergerak dengan cepat ke arah makhluk yang ada di dekatnya dan dia pun langsung meninju wajah makhluk yang menyeramkan itu.


Satu persatu makhluk terkutuk di dalam rumah Mbah Mirno dibinasakan oleh Daim, sedangkan saat ini Azman masih duduk bersantai sambil mencari informasi dari internet mengenai Candi Cetho dan juga Gunung Lawu.


“Candi Cetho ini ternyata candi para era para raja di masa lalu, dan ada sebelas teras namun hanya beberapa teras saja yang dibuka untuk umum, sepertinya aku besok harus datang pada sore hari agar bisa ke teras teratas sana pada malam hari” Ucap Azman berbicara sendiri sambil terus membaca semua hal ulasan mengenai Candi Cetho.

__ADS_1


__ADS_2