
“Kita ini baru makan, namun jika kau masih lapar maka selesai shalat kita akan kesana ya.” Ucap Azman.
“Makasih suami ku.” Ucap Azizah yang nampak sangat bahagia dan hal ini sejujurnya sedikit membuat Azman bingung karena sebelumnya Azizah jarang sekali tertarik dengan makanan.
Azman dan Azizah pun kemudian masuk kedalam masjid tersebut dan tidak menunggu lama Adzan Dzuhur pun terdengar, keduanya melaksanakan ibadah shalat berjamaah bersama dengan jamaah lainnya.
Sesuai dengan janji Azman, selesai keduanya melaksanakan Shalat Azman pun langsung mengajak Azizah ke rumah makan padang yang ada di sebelah masjid tersebut namun Azizah tidak meminta makan di tempat melainkan dia minta di bungkus dan Azizah memesan dua bungkus nasi padang.
Keduanya pun kemudian langsung pulang ke Villa yang mereka sewa dan menikmati makan siang kedua mereka di villa tersebut.
“Istriku, kenapa kau membungkus makanannya dan tidak makan disana.” Ucap Azman setelah mereka selesai makan siang yang kedua tersebut..
“Sayangku, aku tidak nyaman makan disana, aku nyamannya makan disini, oh iya suamiku, soal gunung itu biar aku saja yang membereskannya ya.” Ucap Azizah.
“Sayangku, ada apa sebenarnya?.” Tanya Azman.
“Tidak ada apa - apa suami ku, aku hanya penasaran saja dengan apa yang ada disana, dan tenang saja itu perkara mudah untukku.” Ucap Azizah.
“Ya sudah jika itu yang kau inginkan aku tidak keberatan, akan tetapi aku yakin ada yang kau sembunyikan.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Begini suamiku, dua orang tadi itu bercerita hal yang tidak masuk di akal, tadi aku malas saja mencela mereka, namun nanti aku akan memberikan mereka pelajaran, begini suamiku, mana ada orang yang kerasukan bisa loncat tebing atau melakukan hal yang tidak masuk di akal dan tiba - tiba sadar setelah keluar dari hutan lalu bisa bercerita apa yang mereka alami secara detail, ini sungguh konyol dan aku tidak suka dengan orang tua yang suka berbohong.” Ucap Azizah.
“Aku juga merasa cerita keduanya memang tidak masuk di akal, jadi bagaimana menurutmu.” Ucap Azman.
“Menurutku sebaiknya biar aku saya yang ke gunung itu, jika kau mengizinkan aku pergi maka tidak lama juga aku sudah kembali ke sini lagi, aku hanya ingin mencari tahu siapa yang begitu berani mengawasiku seperti tadi, sekaligus mencari kebenaran yang sesungguhnya.” Ucap Azizah.
“Aku mengizinkanmu, namun aku tidak ingin ada hal buruk yang terjadi padamu, selain itu aku tidak ingin ada manusia yang melihatmu ya sayangku.” Ucap Azman yang mengetahui jika ada alasan lain kenapa Azizah ingin membereskannya sendiri dan dia tahu juga bahwa Azizah tidak akan melakukan hal ini jika yang ada di gunung itu bisa di bereskan oleh dirinya.
“Baik suamiku, aku tinggal dulu ya.” Ucap Azizah yang langsung menghilangkan keberadaannya dan berteleportasi ke atas gunung itu.
Azman menarik nafas dalam - dalam melihat istrinya yang tiba - tiba menghilang dari pandangannya itu dan dia jadi ingat dengan Daim yang sering seperti ini.
“Aku yakin ada hal yang membahayakan diriku disana dan apa yang ada disana adalah hal yang tidak bisa aku tangani, semoga istriku bisa menanganinya dan tidak melakukan hal ceroboh untuk kedua orang tua itu.” Ucap Azman sambil melangkah dan Azman menuju ke lantai dua villa.
Sementara itu Azizah masih melayang di atas gunung tersebut dengan masih menghilangkan kehadirannya sehingga tidak ada seorang pun yang mampu untuk melihatnya.
“Jadi hanya siluman monyet saja toh, dan kalian berdua adalah anteknya, kalian berdua yang katanya melarang orang luar datang kesana ternyata malah yang menyediakan fasilitas untuk kesana.” Ucap Azizah berbicara sendiri dalam hatinya yang melihat jika kedua orang tua itu ternyata tengah berada di sisi lain gunung dan memasang penunjuk arah untuk bisa mendaki gunung tersebut.
Azizah juga melihat jika ada sosok siluman yang berwujud monyet dan memang monyet itu ukurannya lebih besar dan tinggi dari manusia pada umumnya bersembunyi di sebuah gua yang ada di puncak gunung tersebut.
__ADS_1
Azizah juga mengetahui jika dia menghabisi siluman monyet tersebut maka kedua orang tua itu juga akan terkena imbasnya karena dia sejak di rumah makan tadi dia sudah mencium aura siluman monyet di tubuh kedua orang tua itu yang berarti keduanya sudah melakukan kontrak darah dengan siluman monyet atau mungkin lebih dikenal dengan pesugihan monyet.
Azizah tidak membuang waktunya dan dia langsung berteleportasi ke dalam gua itu, jauhnya kekuatan antara Azizah dengan siluman itu yang membuat Azizah cukup memukulnya satu kali saja untuk membunuh siluman monyet tersebut dan Azizah pun tidak memperdulikan kedua manusia yang sudah berkomplot dengan siluman tersebut, Azizah memilih untuk langsung kembali ke villa menemui Azman dan muncul di belakang Azman yang sedang duduk di teras depan lantai dua.
“Suamiku, apakah kau mau aku buatkan kopi.” Ucap Azizah yang membuat Azman kaget karena dia tidak menyangka jika Azizah sudah kembali padahal dia baru saja duduk.
“Istriku, kau sudah selesai?.” Tanya Azman.
“Suamiku, aku tadi bertanya apakah kau mau aku buatkan kopi, tapi kenapa kau malah balik bertanya kepadaku.” Jawab Azizah.
“Iya sayangku, secangkir kopi buatanmu akan sangat berarti untukku.” Ucap Azman sambil tersenyum hangat ke Azizah dan ada rasa tenang di hatinya melihat Azizah sudah kembali.
“Sebentar ya suamiku, biar aku buatkan dulu kopi untuk mu.” Ucap Azizah sambil melangkah masuk dan langsung menuju dapur di lantai satu.
“Entah apa yang kau perbuat di gunung itu dan ku harap semuanya berakhir baik.” Ucap Azman berbicara sendiri dalam hatinya sambil menyalakan sebatang rokoknya.
Azman melihat jika kabut hitam tipis di gunung itu sudah hilang sepenuhnya dan nampak jika gunung itu sangat indah di pandang olehnya.
Azman mengambil telepon selulernya dan dia tidak menghubungi siapa pun melainkan dia mulai mencari tahu melalui telepon selulernya itu tentang daerah tersebut, karena dia yakin dengan era teknologi seperti sekarang apapun pasti ada disana.
__ADS_1
“Ada mitos Pesugihan monyet? Lima orang pendaki ditemukan meninggal dua tahun lalu?” Ucap Azman yang membaca berita melalui telepon selulernya itu dan dia cukup kaget dengan apa yang dia baca tersebut dan semakin dia membaca artikel terkait daerah itu dia semakin kaget karena ada banyak misteri mengenai gunung tersebut, namun hal mistis itu tidak pernah terbukti dan bahkan di berita itu dinyatakan jika kepala desa menolak disebut jika gunung itu merupakan area pesugihan.
Azman terus membaca berita - berita melalui telepon selulernya sampai Azizah yang datang kembali dengan membawa secangkir kopi hitam tanpa gula untuknya.