Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Kabar Desa Terkutuk


__ADS_3

“Apakah semua biaya itu swasembada masyarakat sini pak atau ada bantuan dari pihak luar.” ucap Azman.


“Tidak Pak, tidak ada bantuan dari manapun juga, semuanya dihasilkan oleh kami saja, kami setiap hari menyisihkan uang kami meskipun hanya sedikit karena kami disini hanya petani namun kami yakin suatu hari nanti kami bisa membangun dinding masjid ini.” ucap pria sepuh itu.


“Jadi rencana warga untuk pembangunan masjid ini adalah membangun dinding masjid ini pak” ucap Azman.


“Benar pak, saat ini kami sudah memiliki dana hampir tiga juta rupiah dan insyaallah dana ini akan terus bertambah, karena untuk dinding saja kami memerlukan kurang lebih seratus juta pak.” ucap pria sepuh itu.


“Pak, siapa yang membangunnya, apakah orang luar atau warga sendiri yang membangunnya.” ucap Azman.


“Kami tidak menggunakan jasa siapapun pak, namun kami menggunakan tenaga kami saja, kebetulan di desa ini kami terbiasa bekerja sama, bahkan jika ada penduduk yang membangun rumah saja kami bekerja sama membangunnya.” ucap Pria sepuh.


“Bagus sekali itu pak, tunggu sebentar ya pak, asem nich mulut saya ingin merokok, apakah boleh saya merokok di teras masjid ini?” ucap Azman.


“Boleh Pak silahkan saja, kami tidak seketat itu kok pak lagian bangunan ini kan milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan milik kami, kami hanya mengurusnya saja.” ucap Pria sepuh itu.


Azman hanya tersenyum dan kemudian berdiri lalu melangkah ke motornya dan mengambil rokoknya dan juga uang senilai seratus lima puluh juta rupiah lalu kembali ke teras masjid itu.


“Pak ini ada seratus lima puluh juta titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala mohon di terima ya, semoga pembangunan masjid ini lancar sampai selesai nanti.” ucap Azman sambil memberikan uang itu lalu kemudian menyalakan sebatang rokoknya.

__ADS_1


“Pak Azman terima kasih anda sungguh baik dan dermawan, saya terima ya uangnya.” ucap pria sepuh itu sambil menerima uang tersebut dan menyimpannya di saku celananya.


“Iya Pak sama sama ya” ucap Azman sambil kembali duduk bersandar di dinding masjid.


“Pak Azman setelah dari sini mau kemana?” ucap Pria sepuh itu.


“Saya hanya pergi kemana motor saya membawa saya pak, karena saya tidak menentukan kemana saya akan pergi, saya percaya dengan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti kedatangan saya ke masjid ini dan bertemu bapak, ini semua tidak ada dalam rencana apapun.” ucap Azman.


“Pak Azman, maaf jika bapak tidak terburu buru berkenankah bapak ikut dengan saya ke satu desa yang selama puluhan tahun ini dilanda permasalahan makhluk gaib.” ucap pria sepuh.


“Pak, bisa bapak ceritakan lebih detail dulu mengenai masalah ini” ucap azman.


“Pak Azman, puluhan tahun lalu ada sebuah desa di kaki gunung itu yang tiba tiba penduduknya sering melihat makhluk gaib, makhluk gaib itu membentuk sosok Perempuan, seperti perempuan pada umumnya namun sosok itu bukan manusia karena dia melayang dan bisa menghilang dari pandangan, dan semua bayi yang baru dilahirkan pada malam jumat kliwon akan hilang pak, jadi sampai saat ini para penduduk masih di landa ketakutan akan hal ini di tambah mereka tidak bisa keluar dari desa itu, kami juga tidak berani masuk ke desa itu, ada beberapa orang yang bahkan menyebut desa itu sebagai desa terkutuk, konon dulu katanya ada seorang wanita yang hamil dan mati terbunuh oleh penjajah, tapi kebenaran cerita ini tidak ada yang mengetahuinya.” ucap pria sepuh.


“Iya pak jika mereka keluar dari desa maka keluarga mereka yang ada di desa akan sakit pak, ini sampai sekarang masih terjadi, demikian juga jika ada pihak luar yang mendatangi desa itu akan jadi sakit begitu memasuki area desa itu. Leluhur kami akhirnya membuat pagar yang menutup desa itu.” ucap pria sepuh.


“Misteri yang aneh ya, saya baru mendengar cerita seperti ini, lalu bagaimana dengan pemerintah daerah pak, apakah mereka tidak mengambil tindakan apapun.” ucap Azman.


“Mereka tidak terdaftar di pemerintahan pak, karena sejak dulu mereka tidak pernah keluar dari desa, dan seperti yang tadi saya sampaikan jika orang luar tidak ada yang berani masuk ke desa itu sama sekali, semuanya takut pak.” ucap pria sepuh itu menjelaskan.

__ADS_1


“Lalu bagaimana bapak bisa tahu disana masih ada orangnya” ucap Azman.


“Kami masih sering bertemu dengan mereka Pak, namun tidak sedekat kita saat ini karena selalu terhalang pagar yang sebelumnya kami buat.” ucap pria sepuh.


“Apakah saya bisa membawa motor saya kesana?” tanya Azman.


“Bisa Pak, namun bapak harus berhati hati, karena jalannya masih tanah dan batu, ada hutan kecil yang harus bapak lewati untuk sampai ke desa itu, karena leluhur kami selain membuat pagar mereka juga menanam banyak pepohonan untuk menutup desa itu, pepohonan itu juga dilarang oleh para leluhur untuk di tebang, kecuali jika sudah rubuh baru kami diperbolehkan untuk menggunakannya.” ucap pria sepuh.


“Selama ini baru satu desa yang saya dengar seperti ini, sungguh kasihan sekali mereka, apa nama desa itu pak” ucap Azman.


“Kami menyebutnya desa terkutuk saja pak, karena desa tersebut memang tidak memiliki nama sama sekali.” ucap pria sepuh.


“Pak, jika mereka terisolasi seperti itu dari mana mereka makannya” ucap Azman.


“Untuk makan mereka semua berkebun pak dan hasil kebun mereka mereka nikmati bersama, karena entah kenapa semua hasil kebun mereka jika di bawa keluar akan jadi busuk pak, sedangkan untuk pakaian kami yang memberikannya, karena ini juga wasiat para leluhur, dulu konon para leluhur melihat mereka semua tidak berpakaian pak, sehingga secara turun temurun kami memberikan pakaian untuk mereka dengan melemparnya ke area desa mereka dan mereka akan mengambilnya.” ucap pria sepuh.


“Syukurlah jika demikian, jadi saya tidak harus melihat aurat wanita, lalu ada berapa orang di desa itu pak, dan apakah mereka akan menerima kehadiran saya nanti, jika seandainya saya kesana.” ucap Azman.


“Mereka akan menerima kehadiran bapak pak, dan disana ada hanya sedikit orang saya pak, hanya kurang lebih lima ratus orang saja, bahkan bisa kurang jauh pak.” ucap pria sepuh.

__ADS_1


“Sebentar ya pak, saya ingin menanyakan ke sahabat saya yang di Tim Sar apakah mereka bisa ikut evakuasi penduduk desa itu atau tidak.” ucap Azman sambil mengeluarkan ponselnya dan langsung menghidupkannya karena saat tadi dia hendak shalat dzuhur dia mematikannya.


Azman langsung mencari nomor telepon pak Jaja dan kemudian menghubungi pak Jaja melalui panggilan telepon agar cepat mendapatkan jawaban dari pak Jaja.


__ADS_2