
“Pak Azman, Sepertinya kita sudah sampai mereka sudah berhenti mari kita lihat, apa yang membuat mereka berhenti.” Ucap Pak Anton dan memang rombongan paling depan sudah berhenti dan berkumpul di sebuah tanah kosong.
“Kita kesana bersama - sama saja.” Ucap Azman.
“Mari Pak.” Ucap Pak Anton dan mereka berdua langsung menemui regu pertama itu.
“Ada apa? Apa kalian sudah menemukannya.” Ucap Pak Anton ke salah seorang anak buahnya.
“Siap Komandan, tersangka mengatakan jika tempat pertama dia mengubur organ itu adalah di bawah arca.” Ucap petugas kepolisian tersebut sambil menunjuk ke sebuah Arca batu berbentuk setengah badan manusia namun tidak memiliki kepala dan tangan, hanya ada badannya saja.
“Oke, kalian mundurlah dan biarkan tim dua dan tiga serta empat yang menghancurkannya, amankan tersangka dan pastikan dia tidak sampai melarikan diri.” Ucap Pak Anton
“Siap Komandan.” Ucap Petugas kepolisian tersebut dan tidak lama regu pertama itu langsung berjalan sedikit menjauh dari Pak Anton dan Azman.
“Silahkan anda atur anak buah anda dulu, saya akan melihat Arca batu setengah badan ini sebentar, mungkin ada yang dapat saya pelajari dari Arca ini.” Ucap Azman.
“Baik Pak Azman silahkan dan mohon bantuannya saat kami menghancurkan Arca batu setengah badan ini, saya takut ada gangguan dari makhluk gaib.” Ucap Pak Anton dan Azman hanya mengangguk lalu berjalan mendekati Arca baru setengah badan yang tingginya mencapai satu meter tersebut.
“Azman aku tahu kau sudah sampai, di bawah patung mantra itu ada lubang dan di dalam lubang itu juga di simpan semua organ itu, lihat di belakang patung mantra dan akan ada batu berwarna hitam. Itulah yang harus pertama kau hancurkan namun berhati hatilah, karena ada banyak kekuatan supranatural di batu itu yang bisa menyerangmu balik.” Ucap Daim yang kini hanya terdengar oleh Azman, dan Azman pun langsung melingkari Arca batu setengah badan itu.
“Daim aku menemukan sebuah mutiara hitam dan seiring waktu dia tertutup debu yang tebal.” Ucap Azman dalam hatinya dan dia pun kini tengah membersihkan mutiara yang menempel di punggung Arca tersebut dengan tangannya.
__ADS_1
“Hancurkan, maka semua segel yang menutup puncak gunung ini akan tidak berfungsi.” Ucap Daim yang kembali hanya terdengar oleh Azman.
“Baik aku akan melakukannya, dan jangan khawatir dengan ku semoga saja aku bisa melakukannya dengan sempurna.” Ucap Azman dalam hatinya kembali untuk dapat berkomunikasi dengan Daim.
Azman pun kemudian melangkah kembali menemui Pak Anton yang sudah berdiri lima meter darinya di hadapan puluhan petugas kepolisian yang berbaris rapi.
“Pak Anton, mohon maaf apakah ada yang membawa palu atau kapak.” Ucap Azman.
“Ada Pak, salah seorang dari kalian yang membawa kapak bawa kesini.” Ucap Pak Anton dan salah seorang petugas kepolisian yang di belakang Pak Anton langsung memberikan kapaknya untuk Azman.
“Ikut saya sebentar.” Ucap Azman sambil kembali melangkah ke belakang Arca batu setengah badan itu.
“Pak Anton nanti di Arca Arca yang lain silahkan anda cari mutiara hitam seperti ini, dan hancurkan mutiaranya terlebih dulu baru anda hancurkan Arcanya.” Ucap Azman sambil memperlihatkan mutiara hitam tersebut.
“Oke sekarang tolong jaga jarak ya semuanya, karena mutiara yang ini memiliki kekuatan supranatural yang sangat tinggi dan bisa membahayakan, namun anda jangan khawatir karena mutiara yang lain tidak berbahaya seperti yang ini ya.” Ucap Azman kembali.
“Siap Pak, saya permisi dulu untuk memundurkan pasukan saya.” Ucap Pak Anton dan Azman hanya menganggukan kepalanya saja lalu mengambil ancang ancang untuk mengayunkan kapak itu tapi tidak langsung menghancurkan mutiara hitam itu.
Azman beberapa kali mengayunkan kapak itu namun dia tidak langsung menghancurkan mutiaranya melainkan hanya mengambil ancang ancang agar bisa menghancurkan mutiara itu dalam sekali tebas.
Azman yang sudah yakin bisa menghancurkan dalam sekali tebas langsung mengayunkan kapak yang di pegangnya itu dengan sangat kencang dan duaaaaaaaaaarrrrrrr suara ledakan terdengar kencang sesaat kapak itu menghancurkan mutiara hitam yang ada di punggung Arca batu setengah badan tersebut seberkas cahaya hitam terlihat melesat ke Azman dan mengenai dadanya.
__ADS_1
Azman sendiri sampai terlempar beberapa meter dan tergeletak di tanah sedangkan Arca batu itu sendiri masih berdiri kokoh namun tidak dengan mutiara hitam yang sudah hancur dan musnah tidak bersisa.
Pak Anton dan beberapa petugas kepolisian langsung berlari ke arah Azman namun mereka langsung mundur kembali karena mereka kini melihat ada sesosok makhluk yang sangat besar di dekat Azman.
Makhluk itu terlihat memiliki tinggi dua meter lebih dengan badan yang besar dan kulit yang penuh tanduk tanduk kecil di punggungnya, seluruh badan makhluk itu terlihat hitam legam namun semuanya dapat melihatnya dengan jelas dengan pancaran sinar bulan yang menerangi hutan itu.
Azman membuka matanya dan dia melihat makhluk yang ada di depannya itu, dia tidak mau gegabah sama sekali dan dengan kuat tangan kanannya masih memegang kapak itu.
“Jadi kau buto ireng ternyata, kaulah yang dibelakang semua ini.” Ucap Azman sambil berusaha untuk bangun namun dadanya terasa sangat sakit seperti habis ada orang yang menendangnya.
“Uhuuuk” Azman yang berdiri memuntahkan darah segar dan nyaris mengenai kaki makhluk tersebut.
“Heeeeeemmmmmmmmmmm ajal mu akan tiba di tanganku manusia terpilih.” Ucap Makhluk tersebut yang terdengar oleh semuanya yang ada disana dengan suara yang sangat berat dan menyeramkan.
Aaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk Aaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk Aaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk
Lololongan anjing dan seringala kini terdengar oleh semuanya dan Pak Anton langsung dengan sigap membawa anak buahnya beberapa puluh meter dari lokasi Azman untuk berkumpul dan membentuk pertahanan agar tidak ada seorang pun anak buahnya yang melarikan diri.
“Kita tetap disini dan tidak melakukan apapun, aku yakin Pak Azman bisa menghadapinya karena hanya dia saja yang bisa membunuh makhluk itu, jangan menembak makhluk itu karena akan percuma juga.” Ucap Pak Anton memperingatkan anak buahnya.
“Azman, kelemahannya adalah lehernya, jadi sebisa mungkin kau serang atau putuskan lehernya, aku akan datang beberapa menit lagi untuk membantu mu, semoga kau berhasil.” Ucap Daim yang terdengar hanya oleh Azman seorang.
__ADS_1
“Mudah untukmu berbicara, dia sudah memukul dadaku dan terasa sangat menyakitkan, segera kesini dan lupakan dulu genderuwo itu.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim sambil melangkah mundur beberapa meter kebelakang menjaga jarak dengan buto ireng itu.
“Sembarangan kau berbicara, semua genderuwo itu sudah musnah dan aku menghadapi makhluk yang sama sepertimu namun ada tujuh disini, sepertinya mereka penunggu Goa dan patung mantra lainnya.” Ucap Daim yang kembali lagi hanya Azman yang dapat mendengarnya.