Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Yogyakarta 9


__ADS_3

“Saya senang mendengarnya, dan Azman semoga kedatanganmu nanti kesana diterima oleh semuanya, namun jika boleh saya berpesan jangan ada yang kau musnahkan disana, biarlah alam tetap seperti ini dan biarlah semua berjalan sesuai takdir yang terjadi, semua yang terjadi ke manusia itu karena sudah memang tergariskan, seperti Jaja yang dulu tersasar di gerbang dimensi dan baru bisa kembali setelah saya menjemputnya.” Ucap Mbah Mirno dan Pak Jaja nampak sangat memperhatikan ucapan Mbah Mirno ini.


“Mbah, mohon maaf sebelumnya, namun siapapun yang memang mengancam nyawa manusia maka saya akan menghancurkannya, nyawa manusia lebih berharga dari pada makhluk  lainnya, mungkin jalan pemikiran kita berbeda namun saya percaya jika takdir itu juga takdir, bukan hanya manusia yang memiliki takdir namun juga semua makhluk ciptaan Nya.” Ucap Azman memberikan pendapatnya dan dia tidak memperdulikan pendapat dari Mbah Mirno yang menurut Azman sudah terlalu dekat dengan makhluk gaib.


“Saya tidak bisa melarang atau menghalangi mu, karena memang itu sudah menjadi takdirmu. Namun jika boleh Mbah menyarankan, tolong bebaskan mereka yang terperangkap disana, ada banyak yang ingin bebas dan ada banyak juga yang ingin menuju dunia mereka.” Ucap Mbah Mirno.


“Mbah jika memang disini tidak ada siapapun maka biar saya masukkan dulu ya apa yang saya bawa untuk mbah dan keluarga Mbah.” Ucap Pak Jaja mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Sudah biar mereka saja yang memindahkannya, Mbah sangat berterimakasih atas kebaikan kalian berdua.” Ucap Mbah Mirno yang tiba - tiba mengangkat tangan kembali tangan  kanannya dan secara spontan suhu di ruangan itu kembali menjadi sangat dingin.


Semua barang yang di bawa oleh Azman dan Pak Jaja tiba - tiba melayang di depan mereka dan berpindah dari teras menuju bagian dalam rumah Mbah Mirno, setidaknya ini apa yang di lihat oleh Pak Jaja berbeda dengan apa yang di lihat oleh Azman karena yang di lihat oleh Azman adalah jika semua Roh leluhur itulah yang membawa barang - barang itu masuk.


Pak Jaja nampak sangat kaget dengan kejadian itu, karena melihat semua barang itu melayang di depannya dan tertumpuk dengan rapi di dalam rumah kayu milik Mbah Mirno hingga semua barang itu berpindah, suhu udara di dalam rumah pun kembali normal.


“Mbah, maaf saya melihat jika mereka itu nampaknya bukan manusia biasa namun sepertinya yang mengikuti anda adalah para abdi dalam.” Ucap Azman yang memang melihat jika roh - roh itu berpakaian layaknya orang keraton dan lagi - lagi Pak Jaja memandang ke arahnya.

__ADS_1


“Azman, kau sangat jeli, dan memang benar jika mereka adalah para penjaga istana yang pada masanya, dan bahkan pada era itu Mbah belum lahir, mereka sudah lama ikut dengan kakek Mbah, dan secara turun  menurun menjaga keluarga Mbah.” Ucap Mbah Mirno.


“Jadi seperti itu, sekarang saya bisa memahaminya, dan keluarga Mbah adalah salah satu yang menjaga Gunung Lawu, ada berapa orang Mbah yang menjaga Gunung Lawu?.” Ucap Azman.


“Bisakah kau menebaknya?”. Tanya Mbah Mirno.


“Jika dalam penglihatan saya ada lebih dari seratus orang yang menjaga gunung ini, semuanya tersebar di kaki gunung.” Jawab Azman.


“Itu benar, dan lebih tepatnya ada dua ratus orang yang menjaga gunung Lawu secara turun temurun, kami semua hanya menjalankan pesan dari para leluhur kami saja, dan kami juga bisa pastikan jika para leluhur tidak pernah mencelakakan siapapun yang datang ke gunung Lawu selama niatan mereka baik.” Ucap Mbah Mirno.


“Mbah waktu saya dan kawan - kawan saya tersesat di Gunung Lawu, waktu itu apa yang sebenarnya terjadi ya Mbah.” Ucap Pak Jaja yang memang merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mencari tahu kebenarannya.


“Saya mengetahuinya Mbah, kelima kawan saya sudah meninggal dunia, namun alhamdulilah  empat kawan saya lainnya masih sehat, dan memang kami yang selamat berniat untuk mendaki gunung dan menikmati keindahan ciptaan Yang Maha Esa, namun kelima kawan saya itu sempat bilang jika ada harta karun di gunung Lawu dan mereka berharap dapat menemukannya.” Ucap Pak Jaja yang nampak berat untuk menceritakan masalah ini.


“Itulah manusia, tidak pernah bisa lepas dari harta, dan kadang harta menutup hati mereka.” Ucap Mbah Mirno.

__ADS_1


“Apakah benar ada harta karun di Gunung Lawu?.” Tanya Azman yang memang penasaran.


“Mbah tidak tahu akan hal ini dan mbah juga tidak pernah melihatnya, mungkin ada namun entahlah, nanti jika Azman datang kesana maka akan mengetahui jawabannya, yang jelas untuk Jaja jangan ikut dengan Azman.” Ucap Mbah Mirno.


“Mbah, kenapa saya tidak boleh ikut dengan Pak Azman ke Cetho?.” Tanya Pak Jaja yang masih belum paham kenapa dia tidak bisa ikut kesana.


“Untuk ke Candi Cetho Jaja bisa ikut namun tidak bisa ikut sampai ke tingkat atas, karena disana ada yang ingin bertemu dengan Azman, kapan pun Azman hendak kesana maka aku sendiri yang akan mengantar, ini semua untuk kebaikan Azman dan kebaikan mu Jaja.” Jawab Mbah Mirno.


“Jika memang demikian maka secepatnya saya akan meluangkan waktu untuk ke Candi Cetho tersebut dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih Mbah Mirno sudah mengantarkan saya.” Ucap Azman.


“Pak Jaja, sudah anda tidak perlu khawatir, saya akan baik - baik saja, hanya saja memang saya sendiri merasakan ada panggilan untuk saya ke puncak gunung lawu, akan tetapi tidak sekarang tentunya, nanti kita akan jadwalkan waktu yang tepat untuk berkunjung ke sana, konon kesana dilarang di malam hari bukan.” Ucap Azman dan apa yang dia sampaikan ini adalah kenyataan, karena dia merasakan adanya ikatan batin dengan gunung lawu tersebut.


“Jaja, apa yang sedang kamu pikirkan, sepertinya ada yang ingin kau tanyakan.” Ucap Mbah Mirno sambil menatap Pak Jaja.


“Tidak Mbah, saya hanya kebayang kejadian waktu itu, jika saja saya tidak di jemput oleh Mbah entah apa yang terjadi, dan juga saya penasaran dengan candi cetho mbah, sudah lama saya tidak berkunjung kesana.” Ucap Pak Jaja.

__ADS_1


“Apa yang sudah terjadi itulah takdir, dan apa yang akan terjadi juga takdir, jangan terlalu memikirkan semua yang terjadi dan akan lebih bijaksana jika mempersiapkan kebaikan untuk takdir di masa depan, siapa tahu kebaikan yang kau lakukan selama ini bisa menjadi penolongmu di masa yang akan datang.” Ucap Mbah Mirno bersamaan dengan masuknya seorang nenek dan dua orang perempuan berusia tiga puluh tahunan.


****like dan komentar akan sangat berarti, silahkan pijit juga minta update di bawah ya biar saya semangat menulis updatenya. terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel saya ini.*****


__ADS_2