Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Misteri Sumber Mata Air 6


__ADS_3

“Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Azman, anda benar - benar penolong untuk kami semua.” Ucap Salah seorang pemuda dan suaranya lebih lantang dari yang lainnya sehingga terdengar oleh banyak orang.


“Pak Azman, sudah biar saya gunakan dari uang yang anda sumbangkan saja.” Ucap Pak Sudrajat.


“Tidak apa - apa Pak, setidaknya dengan mesin - mesin pertukangan itu bisa membantu penduduk untuk lebih berkembang ke depannya, siapa tahu desa ini yang memiliki banyak pepohonan bisa menjadi desa pengrajin kayu juga, dan itu akan dapat membantu penghasilan dari para penduduk desa ini kedepannya.” Ucap Azman sambil mengambil ponselnya dan melihat masih lima belas menit untuk masuk ke waktu shalat Magrib.


Azman pun kemudian mengambil ponselnya dan kali ini dia menghubungi Pak Deni yang merupakan kenalan barunya itu, karena dia percaya jika Pak Deni mempunyai kenalan yang bisa membantunya mendapatkan alat - alat pertukangan modern di daerah itu.


“Pak Azman ada yang bisa saya bantu untuk anda.” Ucap Pak Deni membuka percakapan telepon itu.


“Pak Deni, mohon maaf tapi saya sedang memerlukan bantuan anda, saya membutuhkan banyak alat pertukangan modern ya minimal masing - masing dua dari setiap alatnya, serta saya memerlukan orang untuk mengajarkan penggunaan alat itu.” Ucap Azman.


“Alat pertukangan modern paling dekat bisa saya dapatkan di kota Tasikmalaya Pak, kebetulan ada sahabat saya yang memang memiliki usaha di bidang itu, dan untuk siapa alat - alat itu Pak.” Ucap Pak Deni.


“Saya saat ini ada di salah satu desa di Kabupaten Pangandaran Pak, dan saya ingin penduduk sini bisa menggunakan alat - alat tersebut, jika boleh saya minta tolong anda hubungi sahabat anda itu dan nanti tolong informasikan kepada saya perincian biayanya Pak, saya akan kirimkan lokasinya setelah ini.” Ucap Azman.


“Baik Pak jika demikian akan saya hubungi sahabat saya tersebut, namun untuk kapan Pak?.” Ucap Pak Deni.


“Secepat mungkin saja Pak, disini ada rumah yang terkena pohon tumbang jadi mesin pemotong kayu akan sangat berguna untuk masyarakat saat ini.” Ucap Azman.


“Baik Pak, dan saya hendak informasikan jika besok kami akan memulai proyek pembangunan pantai Pak, akan tetapi mohon maaf ternyata biayanya kurang Pak, jadi kami kemungkinan akan membangun semampu kami dahulu.” Ucap Pak Deni.

__ADS_1


“Jika demikian bisa anda kirimkan ke saya proposalnya, agar saya mengetahui berapa kekurangannya.” Ucap Azman.


“Siap Pak, kebetulan sedang kami buat untuk designnya, nanti malam saya akan kirimkan ke Bapak.” Ucap Pak Deni.


“Baik Pak, sekalian saya tunggu perincian untuk mesin perkayuannya ya Pak.” Ucap Azman.


“Baik segera saya informasikan ke Bapak.”  Ucap Pak Deni.


“Terima kasih atas Bantuan Bapak.” Ucap Azman.


“Terima kasih juga Pak.” Ucap Pak Deni dan panggilan telepon itu langsung di hentikan oleh Azman.


“Insyaallah besok akan datang barangnya, semoga saja sahabat saya bisa mendapatkan semua kebutuhan alat pertukangan modern yang kita butuhkan, dan Pak Sudrajat biar saya sekalian transferkan uangnya sumbangan saya Pak, berapa  ya nomor rekening Bapak.” Ucap Azman.


“Pak Sudrajat sudah saya kirimkan ya uangnya, meskipun nilainya tidak seberapa namun semoga bisa sedikit membantu masyarakat disini nantinya.” Ucap Azman sambil memperlihatkan bukti transfernya.


“Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak.” Ucap Pak Sudrajat dan nampak kegembiraan di bawah para penduduk desa yang ada disana.


“Dan ini khusus saya berikan untuk dua keluarga yang rumahnya rubuh ya, anggap saja ini untuk membeli alat rumah tangga yang rusak.” Ucap Azman sambil mengeluarkan sepuluh juta rupiah dari dalam tas kecilnya lalu memberikan ke Pak Sudrajat, dia sengaja memberikannya ke Pak Sudrajat karena untuk menghargai Pak Sudrajat sebagai kepala desa disitu.


“Terima kasih lagi ya Pak, uang ini akan di bagi rata saja untuk mereka ya, sebentar biar saya berikan terlebih dulu ke mereka.” Ucap Pak Sudrajat dan Pak Sudrajat pun memberikan masing - masing lima juta rupiah untuk penduduk desanya yang rumahnya rubuh itu.

__ADS_1


“Aku sengaja memberikan sedikit untuk kalian, karena aku ingin kalian semua menjadi penduduk yang mapan nantinya, semoga dengan adanya alat alat pertukangan nanti kalian semua bisa menjadi ahli perkayuan yang mampu mengolah kayu - kayu yang ada di daerah kalian ini.” Ucap Azman dalam hatinya.


Adzan maghrib terdengar berkumandang dan mereka pun kemudian melangkah ke surau kayu yang terletak tidak jauh dari lokasi mereka itu untuk melaksanakan ibadah shalat maghrib berjamaah.


Surau itu tidak terlalu besar hanya berukuran 7 x 10 meter persegi namun kini penuh dengan para penduduk yang ikut shalat berjamaah, bahkan kali ini Azman sebagai Imam shalat maghrib tersebut atas permintaan dari para sesepuh desa.


Azman pun kemudian mengajak semuanya untuk berdzikir bersama dan mereka di surau itu sampai mereka selesai melaksanakan ibadah shalat Isya lalu Azman dan Pak Sudrajat pun memilih untuk kembali ke rumah Pak Sudrajat untuk menikmati makan malam yang sudah di siapkan oleh Bu Neneng dan juga Azizah.


“Suamiku, apakah kau akan ke mata air itu malam ini.” Ucap Azizah setelah mereka selesai makan malam bersama dan duduk berduaan di teras rumah Pak Sudrajat.


“Benar sayang ku, biar aku sendiri saja yang kesana, sesungguhnya aku sangat penasaran dengan apa yang ada disana.” Ucap Azman.


“Jika demikian maka berhati - hatilah, dan jaga keselamatanmu, kabari aku jika ada hal yang terjadi ya.” Ucap Azizah.


“Iya itu pasti, aku tidak akan mengajakmu kesana kali ini karena aku yakin aku masih bisa menyelesaikannya sendiri untuk masalah yang ada disana.” Ucap Azman.


“Iya aku percaya dengan mu suami ku, namun ingat segera panggil aku jika ternyata ada yang tidak bisa kau hadapi ya.” Ucap Azizah.


“Istriku, kau seharian ini hanya di rumah ini saja, apakah kau tidak bosan?.” Tanya Azman.


“Tidak, aku belajar banyak hal dari Bu Neneng, lebih tepatnya belajar masak, jadi nantinya akan lebih banyak menu masakan yang bisa aku buatkan untuk mu.” Jawab Azizah.

__ADS_1


“Alhamdulillah jika demikian, aku hanya takut kau bosan saja disini, oh iya sayang ku bagaimana menurutmu dengan sumber mata air itu.” Ucap Azman.


“Ada dua roh disana, dan mereka hanya ingin berbicara denganmu saja, namun jika mereka membahayakan mu maka sebaiknya dimusnahkan saja, suamiku jangan ragu untuk memusnahkan roh atau makhluk - makhluk yang menyerangmu ya, mereka itu banyak akal dan jika sekali sudah mulai membahayakan maka akan terus membahayakan kedepannya, aku yakin kau sudah paham dengan hal ini juga.” Ucap Azizah sekaligus mengingatkan Azman.


__ADS_2