
“Azman, aku bisa paham dengan apa yang kau inginkan, ya memang mereka sejak kau bergabung mendapatkan banyak kemudahan dari kita berdua namun kedepannya kehadiran kita akan sangat diperlukan, aku mendeteksi akan adanya bencana yang cukup banyak korbannya di perjalanan mu ini.” Ucao Daim.
“Daim bisakah kau memberitahuku lebih terperinci, bukankah dengan kau memberitahuku lebih awal maka jumlah korban akan jauh berkurang.” Ucap Azman sambil menengok ke Daim.
“Tidak bisa itu, jika aku memberitahumu maka akan melangkahi keputusan Yang Maha Kuasa, sudah jangan pernah meminta untuk mengetahui lebih awal ya, ni juga kesalahanku, seharusnya aku tidak mengatakan hal ini kepada mu, jadi lupakan saja ya.” Ucap Daim.
“Memang ya kawan satu ini paling suka sekali memberikan tebak - tebakan dengan ku.” Ucap Azman.
“Karena arah mu ke arah timur maka nanti akan banyak yang akan kau kerjakan, sudah tidak perlu untuk banyak berpikir, sehabis rokokmu itu maka kau tidurlah, kita akan melanjutkan perjalanan selesai shalat shubuh saja.” Ucap Daim.
“Kenapa terburu - buru tidak bisakah aku disini dua hari, pantai ini sungguh enak untuk berkemah.” Ucap Azman.
“Kau ini apa kau mau besok kulit mu gosong, pantai ini sepi karena memang siangnya sangat panas, sudah kau jangan menawar lagi, ini bukan jual beli untuk kau tawar.” Ucap Daim.
“Iya - iya, bagaimana kau saja, aku juga sudah mulai mengantuk saat ini.” Ucap Azman.
“Kau ini memang aneh, rata - rata manusia yang aku kenal itu jika sehabis minum kopi tidak mengantuk, namun kau bisa tidur dengan pulas dan benar benar pulas malahan.” Ucap Daim.
“Aku dari kecilkan terbiasa minum kopi, jadi buat aku kopi ini sudah mirip minum teh.” Ucap Azman sambil berdiri.
“Kau mau kemana.” Ucap Daim.
“Mau tidur, aku sudah mengantuk ini, sudah tidak kuat.” Ucap Azman yang langsung melangkah masuk kedalam tendanya.
Azman benar - benar langsung tidur di dalam tendanya sedangkan Daim memilih untuk naik ke motor Azman lalu tiduran di atas motor Azman itu.
__ADS_1
Tidak ada yang terjadi malam itu dan mereka pun tertidur dengan sangat pulas, keduanya terbangun tepat jam empat pagi itupun karena masjid sudah mulai pengajian, sebuah ciri masjid masjid di Jawa Barat sebelum Adzan subuh.
Azman pun langsung membereskan tendanya dan semuanya dia masukkan kembali ke box pannier motornya itu, dengan tidak menyisakan apapun lagi.
“Azman sebaiknya motornya kau pindahkan ke parkiran masjid saja, jadi kita bisa langsung melanjutkan perjalanan selesai shalat shubuh.” Ucap Daim setelah Azman selesai beberes.
“Wah kau ini sungguh tidak sabaran aku jadi yakin jika ada pekerjaan untukku.” Ucap Azman sambil naik ke motornya dan Daim pun langsung ikut naik juga.
Azman langsung menghidupkan motornya dan menuju ke parkiran masjid lalu bersama dengan Daim dia pun mengambil wudhu lalu masuk ke dalam masjid karena memang shalat berjamaah sudah akan di mulai.
Azman dan Daim pun mengikuti dzikir bersama lalu keduanya kembali ke motor dan Azman langsung melanjutkan perjalanannya karena ternyata warga di sana tidak mengenalinya, tidak seperti di tempat tempat lain dimana ada saja yang minta photo bersama dengan Azman.
“Azman kau ikuti saja jalan ini ya, kita akan jalan jalan, ke arah kota Garut dulu, jika kau dengan kecepatan ini maka kita akan sampai jam empat sore.” Ucap Daim.
“Ya suka - suka kau saja lah mau kemana, aku akan ikuti kemauanmu itu.” Ucap Azman yang terus mengendalikan laju motornya hanya di empat puluh kilometer per jam saja.
“Azman di depan kita akan ada warung dan kau bisa sarapan di sana.” ucap Daim.
“”Kau ini memang sahabatku yang terbaik, aku suka dengan ini, tahu saja jika aku sudah ingin makan.” Ucap Azman.
Dan benar saja seratus meter kemudian terlihat jika ada sebuah warung nasi tradisional yang memang sudah buka namun tidak ada satu pun yang terlihat membelinya, Azman memarkirkan motor nya itu persis di depan warung tersebut karena memang masih ada area untuk dia memarkirkan motornya.
Azman pun langsung masuk dan dia melihat jika semua lauk yang ada di warung itu baru matang dan masih panas sehingga Azman langsung memesannya, dia menikmati sarapannya itu bahkan sudah seperti orang yang lama tidak makan karena dia sampai nambah dua kali.
“Pak maaf bisa buatkan saya kopi hitam tanpa gula, ini abis makan malah saya terasa lemas dan ngantuk ternyata.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Iya Pak sebentar saya buatkan, beneran tanpa gula ini Pak kopinya.” Ucap Pria sepuh yang merupakan pedagang di warung tersebut.
“Iya Pak Benar, saya tidak suka gula Pak.” Ucap Azman.
“Baik sebentar ya.” Ucap Pria sepuh itu lagi.
“Azman kau ini lapar apa kelaparan, nafsu makan mu ini benar benar jauh bertambah ya.” Ucap Daim.
“Masakannya enak dan semuanya baru selesai di masak jadi aku benar benar suka dengan ini.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim dan dia pun sambil menyalakan sebatang rokoknya.
“Baguslah karena dari sini perjalananmu akan sedikit lebih ekstra.” Ucap Daim.
“Sebenarnya kemana tujuan kita ini, kita sudah sejauh ini bukan, lalu kenapa kau tidak mau berterus terang kepadaku.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim.
“Kita kan ke Gunung Gelap, karena di sana sudah terlalu banyak orang yang celaka, lokasinya masih cukup sangat jauh dari sini.” Ucap Daim.
Azman tidak menjawabnya namun dia pun langsung mengambil ponselnya dan melihat lokasi tujuannya melalui peta yang ada di ponselnya itu.
“Ini masih sangat jauh, dan sebelumnya kita akan melewati gunung Cikuray.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi kembali dengan Daim.
“Kau ini bagaimana, kan sudah aku bilang masih sangat jauh lokasinya.” Ucap Daim.
“Iya tapi ini juga sangat jauh melenceng dari rute ku.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim karena dia tidak ingin di sebut gila oleh pria sepuh pedagang warung itu akibat berbicara sendiri.
“Ini Pak, kopinya, dan ini piring piring kotornya saya ambil ya Pak.” Ucap Pria sepuh tersebut yang meletakkan secangkir kopi di atas meja lalu mengambil semua piring kotor bekas Azman.
__ADS_1
“Terima kasih ya Pak, dan maaf kira kira jika saya naik motor ke Gunung Gelap berapa lama ya Pak.” Ucap Azman.
“Palingan sore baru sampai, tapi saran Bapak jangan ke gunung gelap untuk saat ini ya Pak, silahkan ke Gunung Cikuray saja, saya permisi dulu ya untuk menyimpan piring piring kotor ini.” Ucap Pria sepuh tersebut yang langsung melangkah menuju bagian dalam warung nasinya dengan membawa semua piring kotor itu.