Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Penunggu Pantai 8


__ADS_3

“Pak Edi, sudah anda tidak perlu memikirkan hal itu, jika saya sudah niat untuk membantu anda maka saya sudah memikirkan semuanya, dan apakah ada penduduk lain yang menjadi korban dari hujan badai itu selain anda.” Ucap Azman.


“Setahu saya tidak ada Pak, kerusakan dari warung - warung penduduk sebagian besar sudah beres karena hanya atap saja yang rata - rata beterbangan kemarinan itu.” Ucap Pak Edi.


Azman hanya mengangguk dan kemudian mengambil ponselnya dia pun langsung menghubungi Pak Deni yang ternyata ketua dari pengurus pantai disana.


“Selamat malam Pak Azman, ada yang bisa saya bantu.” Ucap Pak Deni membuka obrolan telepon itu.


“Pak Deni, pantai ini sudah tidak akan ada lagi hal mistis yang terjadi sehingga jika bisa saya meminta untuk di tambah petugas keamanan pada malam harinya, selain itu apakah mungkin jika di tambah untuk gajinya, satu juta sebulan untuk tenaga keamana itu sangat kecil sekali Pak.” Ucap Azman.


“Alhamdulilah jika pantai kami sudah tidak memiliki hal mistis yang terjadi Pak, jadi begini Pak Azman, mengenai kenaikan Gaji sebenarnya itu semua tergantung dari jumlah pengunjung pantai dan penginapan yang ada di daerah kami Pak, akan tetapi nanti saya akan mengusahakannya.” Ucap Pak Deni.


“Baik Pak Terima kasih juga ya, oh iya satu hal lagi, saya lihat jika di pantai ini semua warungnya masih sangat tradisional dan kurang tertata dengan baik, jika boleh saya tahu kapan anda kembali karena saya ingin menyumbang untuk pembangunan area pantai ini terutama menyumbang bangunan untuk para pedagang agar mereka lebih tertata dan tentunya itu akan menambah nilai dari pantai ini.” Ucap Azman


“Saya besok pagi sudah sampai Pak, dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada anda.” Ucap Pak Deni.


“Sampai jumpa besok pagi jika demikian Pak.” Ucap Azman yang langsung mematikan panggilan telepon tersebut dan menyimpan kembali telepon selulernya itu.


“Pak Azman, apakah saya tidak salah dengar jika anda ingin membangun pantai ini.” Ucap Pak Edi yang memang mendengar percakapan telepon Azman itu karena mereka duduk sebelahan.

__ADS_1


“Benar Pak, agar pantai ini lebih tertata dan modern tentunya, sehingga para pengunjung pantai ini nantinya akan lebih nyaman saat mereka berwisata di pantai ini, dan dengan itu juga akan menambah jumlah pengunjung dan pemasukan dari masyarakat disini, bahkan jika menurut saya para nelayan juga bisa mendapatkan pemasukan dengan menyewakan perahunya ke pengunjung yang ingin memancing atau sekedar berwisata ke tengah lautan nantinya, tentunya itu memerlukan manajemen yang lebih baik dari pengurus pantai ini.” Ucap Azman.


“Entah bagaimana saya harus berterimakasih kepada anda pak, kedatangan anda ke sini benar - benar membawa kebaikan untuk kami semua.” Ucap Pak Edi.


“Sudah jangan terlalu di pikirkan, jadi kapan kita bisa berjumpa dengan pemilik perahu yang akan di jual itu, apa bisa sekarang?.” Ucap Azman.


“Sekarang juga bisa Pak, kita bisa ke rumahnya jika anda tidak keberatan, kebetulan rumahnya sendiri tidak terlalu jauh dari sini Pak dan anda bisa sekalian mampir di rumah saya, kebetulan juga yang jual itu tetangga sebelah rumah saya Pak.” Ucap Pak Edi yang nampak sangat bersemangat.


“Baiklah, mari kita kesana ya Pak.” Ucap Azman sambil berdiri.


Azman dan Pak Edi pun kemudian melangkah dan meninggalkan lokasi tersebut, mereka berjalan di pantai menuju ke pemukiman nelayan yang ada di sebelah timur pantai tersebut, dan letaknya hanya kurang lebih lima ratus meter dari lokasi mereka tadi duduk.


“Pak Azman ini pemukiman kami para nelayan dan itu dermaga yang kami gunakan.” Ucap Pak Edi sambil menunjuk dermaga tradisional yang terbuat sepenuhnya dari bambu.


“Disini hanya ada seratus orang nelayan Pak, sisanya memilih untuk menjadi pedagang, karena memang menjadi nelayan itu kan tidak semuanya mampu dan mau Pak, oh iya itu perahu yang mau di jual Pak.” Ucap Pak Edi sambil menunjuk sebuah perahu nelayan yang berukuran cukup besar.


“Perahu yang cukup besar dan bisa untuk dua puluh orang sepertinya ya Pak.” Ucap Azman.


“Benar Pak, namun jika kami melaut kami paling berdua saja Pak, karena meskipun nampak besar sesungguhnya sudah cukup penuh dengan keperluan kami sendiri Pak.” Ucap Pak Edi.

__ADS_1


“Itu sudah pasti Pak, karena disini kan semuanya masih cukup tradisional, jika di luar negeri nelayan sudah serba modern Pak, dimana perahu - perahu mereka itu mempunya alat untuk mengeluarkan jaring dan menarik jaringnya hingga mengeluarkan ikan dari kapal juga sudah pakai alat Pak.” Ucap Azman yang teringat beberapa pelabuhan di luar negeri.


Pak Edi tidak menjawabnya dan nampak seperti sedang membayangkan apa yang Azman ucapkan barusan, mereka berdua pun kemudian berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar dan rumah rumah nelayan disana itu berderet secara rapi di pinggiran sebuah sungai besar, disana juga nampak beberapa perahu kecil yang di tambatkan di pinggir sungai itu.


“Pak Azman ini rumahnya dan sebelah itu rumah saya.” Ucap Pak Edi.


“Rumah - rumah disini semuanya memiliki ukuran dan bentuk yang sama ya Pak.” Ucap Azman.


“Benar Pak, itu untuk menghilangkan perbedaan diantara kami sehingga dengan begini semua menjadi satu rasa, dan sebenarnya kami semua masih keluarga juga Pak.” Ucap Pak Edi sambil berjalan mendekati pintu rumah itu.


“Tok tok tok tok tok, Assalamualaikum.” Pak Edi mengetuk pintu rumah itu dan mengucapkan salam.


“Walaikumsalam, Mang Edi ayo masuk.” Ucap seorang pria seusia Pak Edi yang membuka pintu dan mempersilahkan Pak Edi serta Azman untuk masuk.


“Mari Pak Azman.” Ucap Pak Edi dan mereka berdua pun kemudian memasuki rumah itu dan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu rumah tersebut karena memang di sana tidak ada sofa melainkan hanya kursi kayu yang sudah cukup tua usianya.


“Mang Aja ini Pak Azman.” Ucap Pak Edi memperkenalkan Azman. 


“Saya Azman Pak.” Ucap Azman sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Pak Aja yang merupakan pemilik rumah itu.

__ADS_1


“Wah ini Pak Azman yang sering masuk di televisi ya, alhamdulilah saya bisa bertemu dengan Bapak disini, apakah ada yang bisa saya bantu untuk Pak Azman.” Ucap Pak Aja sambil berjabat tangan dengan Azman dan nampak sangat menghargai Azman meskipun Azman jauh lebih muda dari nya.


“Pak Aja, saya kesini karena mendengar jika anda hendak menjual perahu anda, jika boleh saya ketahui kenapa anda ingin menjual perahu anda itu?.” Ucap Azman mengutarakan maksud kedatanganya.


__ADS_2