Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Yogyakarta 7


__ADS_3

“Waktu itu di saya mendaki gunung lawu bersama beberapa orang, lebih tepatnya ada sembilan orang yang menemani saya, kami juga dulu makan disini dan membungkus makanan dari rumah makan ini, singkat cerita lima orang kawan kami kelelahan dan terjatuh, kami pun berusaha menyelamatkan mereka, akan tetapi saat kami menemukan mereka di saat itu juga saya berada di dimensi yang berbeda, kami merasa masih di dalam hutan yang sama namun kami tidak bisa menemukan jalan yang sebelumnya kami lalui, bahkan seolah disana tidak pernah ada jalan yang pernah dilintasi manusia, tiga hari kami disana dan ternyata itu sudah dua puluh satu hari di dunia nyata, dan orang tua asuh saya itu lah orang pertama yang kami lihat, bisa di bilang dialah penolong kami saat itu.” Ucap Pak Jaja yang kembali menarik Nafas dalam - dalam.


“Pak Azman, dan itulah juga kenapa saya setuju untuk menjadi bagian dari TIM SAR karena saya mengetahui apa yang dirasakan saat kita dalam bencana, tiga hari kami tersesat di Gunung Lawu dan selama tiga hari itu juga kami merasakan apa yang namanya kesendirian serta keputusasaan, kami bahkan sudah hampir menyerah, jika bukan karena kami berlima melihat kawan kami yang terluka mungkin kami sudah pasrah dengan keadaan, dan alasan saya ingin kesana bersama anda karena saya yakin jika orang tua asuh saya itu memiliki kemampuan yang sama dengan anda dimana bisa melihat makhluk gaib dan lain sebagainya.” Ucap Pak Jaja.


“Jadi itu cerita yang anda simpan selama ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat menyayangi anda Pak, itulah kenapa anda masih selamat saat itu, dan saya juga tidak sabar untuk berkunjung ke penolong anda itu.” Ucap Azman.


“Gunung Lawu ini memang menyimpan banyak cerita misteri dan harapan saya hanya satu Pak, semoga saja tidak ada korban satu pun di Gunung Lawu ini, akan tetapi itu hanya harapan saya, karena meskipun sudah banyak penanda di rute pendakian, masih saja ada yang tersesat dan masih saja ada yang terluka di Gunung ini.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, semua itukan rahasia Ilahi, kita manusia tidak bisa mengetahui kapan kita akan terluka, kapan kita akan bahagia dan kapan kita bisa menangis, jadi jika pendapat saya semua itu sudah takdir Pak, dan mungkin takdir kita adalah menjadi penolong untuk sebagian dari mereka, sebentar saya terima panggilan telepon ini dulu ya Pak.” Ucap Azman yang terputus karena telepon selulernya berbunyi dan itu panggilan dari Azizah.


“Silahkan Pak.” Ucap Pak Jaja.


“Istriku, ada apa?.” Tanya Azman memulai percakapan telepon itu.


“Suamiku, berhati - hatilah, di lokasimu itu ada banyak sekali gunung yang memiliki penguasa, dan sebagian memang dari kaum ku namun sebagian lagi bukan, apakah kau ingin aku menyusulmu.” Ucap Azizah.


“Sayangku kau tidak perlu khawatir, oh iya bagaimana belanjanya apakah sudah selesai?.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Aku sudah di rumah dan sedang mengawasi mu, maaf aku melakukan ini karena aku khawatir dengan mu.” Ucap Azizah.


“Sudah kau jangan khawatir dengan ku ya, jika ada apapun yang terjadi aku akan mengabarimu, aku dan Pak Jaja hanya berencana bertemu dengan seseorang saja, dan kami bahkan belum sampai, besar kemungkinan kami berdua baru pulang di malam hari.” Ucap Azman yang berusaha menenangkan Azizah, Azman sendiri bisa memahami kekhawatiran dari Azizah.


“Baik sayangku, aku percaya kepadamu, ya sudah aku akan menunggu di rumah ya, jangan sungkan untuk mengabariku.” Ucap Azizah.


“Baik sayang.” Ucap Azman yang langsung memutuskan panggilan telepon tersebut bersamaan dengan datangnya pelayan rumah makan yang membawa pesanan mereka dan langsung menghidangkannya di atas meja.


Azman dan Pak Jaja pun langsung mencicipi makanan itu, dan semua yang di pesan oleh Azman pun berpindah ke dalam perut Azman, sedangkan Pak Jaja hanya menambah satu porsi lagi untuk nasi gudeg lengkapnya.


Keduanya kini sangat merasa kekenyangan, hingga hanya duduk bersandar di sana sambil menghisap rokok mereka masing - masing.


“Masih Pak, rute berangkat dan pulang masih satu jalur kok, apakah anda ingin kita makan disini lagi.” Jawab Pak Jaja.


“Saya ingin membungkus makanan disini untuk orang rumah, dan saya yakin orang rumah saya pasti menyukai makanan dari rumah makan ini, sungguh rasanya sangat khas dan enak Pak, dan jika bisa kita beristirahat sebentar ya Pak sebelum melanjutkan perjalanan.” Ucap Azman.


“Saya juga kekenyangan Pak, dan belum kuat untuk menyetir, bagaimana jika setengah jam lagi saja lanjutkan perjalanan kitanya.” Ucap Pak Jaja.

__ADS_1


“Itu ide yang bagus, saya setuju Pak, nanti pulangnya biar saya saja yang menyetir ya, ya biar saya juga tahu jalanan disini.” Ucap Azman.


“Oh iya, saya lupa, apakah anda masih lama di Yogyakarta ini?.” Tanya Pak Jaja.


“Sepertinya demikian Pak, saya berencana melanjutkan perjalanan di bulan februari paling cepat, apakah ada sesuatu?.” Ucap Azman.


“Tidak, hanya saja saya berencana mengajak istri saya untuk tinggal sementara di rumah anda, jika anda setuju maka saya akan menghubungi istri saya agar menyusul.” Ucap Pak Jaja.


“Tentu saja saya setuju Pak, dan Ibu pasti akan senang bertemu dengan istri saya, ya mereka bisa belanja jadinya.” Ucap Azman memperlihatkan rasa gembiranya.


Pak Jaja hanya tersenyum dan mengangguk lalu mengambil telepon selulernya, Pak Jaja pun kemudian menghubungi istrinya dan menyampaikan apa yang menjadi rencananya sedangkan Azman hanya duduk bersandar sambil menikmati hisapan demi hisapan rokoknya itu.


“Istri saya akan berangkat satu jam lagi dengan pesawat yang penerbangannya dua jam lagi, dan nanti akan ada anak buah saya yang akan menjemput di bandara lalu mengantar ke rumah anda.” Ucap Pak Jaja.


“Sebentar saya hubungi istri saya terlebih dahulu Pak, jadi bisa menyiapkan kamar untuk kalian berdua.” Ucap Azman sambil mengambil ponselnya dan langsung mengirimkan pesan singkat ke Azizah mengenai rencana kedatangan dari Istri Pak Jaja.


“Pak Jaja, istri saya sangat gembira dengan hal ini, dan dia menyampaikan sudah tidak sabar untuk  bertemu dengan Ibu.” Ucap Azman sambil menyimpan kembali telepon selulernya itu ke saku celananya.

__ADS_1


Setengah Jam berlalu dan setelah Azman membereskan tagihan rumah makan itu mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka dan tidak lupa sebelum berangkat Azman dan Pak Jaja membeli banyak sembako untuk orang tua asuh Pak Jaja itu, lebih tepatnya Azman yang membelikannya, dan kini bagian belakang mobil Pak Jaja itu penuh dengan aneka macam barang yang menjadi kebutuhan pokok.


__ADS_2