
Pak Jaja terus mengemudikan mobilnya dan setelah sampai di jalan raya Pak Jaja pun menambah kecepatan mobilnya itu, bahkan lampu rotator dan sirinenya pun sudah di gunakan, semata - mata agar mereka bisa segera sampai dan Azman bisa segera mendapatkan pengobatan.
Waktu berlalu dengan cepat dan kini mereka pun sudah sampai dirumah Azman, nampak jika di sana sudah ada tim medis yang menunggu dan Azman pun langsung mendapatkan perawatan intensif.
Satu bulan berlalu, Azman nampak sedang duduk di teras rumahnya bersama dengan Pak Jaja dan juga Pak Umar yang memang mereka sudah ikut tinggal di rumah Azman, demikian juga dengan Daim dan juga kedua orang tua Azizah juga kini sudah berkumpul di rumah Azman.
“Azman, aku dan Pak Umar akan meninggalkan kalian disini untuk sementara waktu, karena ada pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan” Ucap Pak Jaja.
“Iya Pak, dan maaf saya tidak bisa menemani anda berdua” Ucap Azman.
“Kau tidak perlu ikut, dan Bapak ingin berpesan jika kau ke Gunung Lawu maka berhati - hatilah, ajaklah Daim bersama mu jadi kau ada teman” Ucap Pak Jaja.
“Saya memang akan mengajak Daim Pak, dan anda berdua juga berhati - hatilah, karena cuaca belakangan ini juga sangat buruk, untuk Ibu biar saja disini Pak” Ucap Azman.
“Tentu saja, lagi pula ibu sangat betah disini, baiklah, kami pergi dulu ya” Ucap Pak Jaja sambil berdiri demikian juga dengan Pak Umar.
Mereka berdua pun langsung berjalan ke arah mobil mereka dan memasukinya, Azman sendiri tetap duduk di kursi teras sambil melihat kepergian Pak Jaja dan Pak Umar.
Daim yang baru keluar dari dalam rumah pun langsung ikut duduk di kursi teras tepatnya di samping Azman.
“Azman, apakah jadi hari ini kita akan ke gunung lawu itu?” Tanya Daim.
“Tentu saja jadi, aku sudah berpamitan dengan Azizah dan hanya menunggu mu saja” Jawab Azman.
“Baiklah, jika demikian ayo kita berangkat” Ucap Daim sambil berdiri demikian juga Azman.
Azman pun kemudian melangkah ke mobilnya diikuti oleh Daim, dan langsung memasuki mobilnya itu.
Azman yang kali ini jadi pengemudi karena Daim menolak untuk mengemudikan mobil milik Azman, dan Azman pun setelah menghidupkan mobilnya dia langsung menjalankan mobilnya.
__ADS_1
“Azman, kenapa kau nampak sangat ingin ke Gunung Lawu itu?” Tanya Daim.
“Hanya penasaran saja, dan aku juga hanya ingin berwisata, dua minggu terbaring di tempat tidur dan sudah sebulan aku tidak keluar rumah, itu membosankan untukku” Jawab Azman.
“Kau ini makanya lain kali gunakan otakmu jangan sembrono, dan apakah kau sudah tahu apa kesalahanmu waktu di desa tengah lembah itu?” Ucap Daim.
Azman tidak langsung menjawabnya, melainkan dia menyalakan sebatang rokoknya dan menghisapnya perlahan.
“Kesalahanku adalah terlalu percaya diri dengan diriku, dan itu nyaris merenggut nyawaku” Ucap Azman sambil melihat ke arah Daim.
“Ya itu benar, kau tidak boleh lagi meremehkan situasi, kau tahu biar bagaimanapun juga kau tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi lima menit kedepan, jangankan lima menit satu menit saja kau tidak akan mengetahuinya” Ucap Daim.
“Iya aku paham, dan Daim ada satu yang mengganjal dalam pikiranku” Ucap Azman.
“Apa itu?” Tanya Daim.
“Apa kau lupa kau sudah mengirim lokasi mu ke Azizah, dan aku menggunakan lokasi itu sebagai patokan untuk menemukanmu” Jawab Daim.
“Jadi begitu” Ucap Azman sambil terus mengemudikan mobilnya mengikuti peta Gps yang sudah dia pasang mengarah ke arah desa Cetho.
“Tempat yang menjadi tujuanmu itu tidak seperti yang kau lihat, ada banyak hal disana, semalam aku sudah kesana dan disana kau harus hati - hati ya, jika bisa kau tidak boleh jauh dari ku” Ucap Daim.
“Daim, kau ini kalau berbicara suka seenaknya, apa kau lupa dulu kau yang meninggalkan aku dan berakhir aku nyaris kehilangan nyawa ku” Ucap Azman.
“Kau masih saja mengingatnya, sudah kau lupakan saja masalah itu” Ucap Daim sambil melihat ke arah luar mobil.
“Mudah untukmu berbicara, oh iya sepertinya akan turun hujan lebat pagi ini” Ucap Azman sambil melihat jika cuaca mulai berubah.
Azman terus mengemudikan mobilnya dengan pelan dan sangat hati - hati dan tidak lama kemudian hujan yang lebat pun mulai mengguyur dengan derasnya.
__ADS_1
Azman hanya berhenti untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid yang dia temui di perjalanan dan kembali melanjutkan perjalanannya yang di iringi oleh derasnya air hujan.
“Azman, dengan cuaca seperti ini sepertinya kau tidak akan bisa mendaki Gunung Lawu itu” Ucap Daim.
“Aku rasa kau benar, namun kita sudah hampir sampai di desa Cetho dan jika memang kita tidak bisa mendaki maka sebaiknya kita mencari penginapan saja” Ucap Azman yang tidak ingin merubah rencananya.
“Kau bukannya ada kenalan dekat sini, kenapa tidak mampir kesana saja” Ucap Daim.
“Aku ragu membawamu ke rumah Mbah Mirno, karena ada banyak makhluk terkutuk di sana yang menjadi pengikutnya, aku tidak ingin ada keributan lebih tepatnya” Ucap Azman.
“Bukankah itu lebih baik, jadi kita bisa mengetahui kebenaran dari kenalanmu itu, ku curiga kartu yang waktu itu berkaitan dengan dia” Ucap Daim.
“Aku juga sempat berpikiran sama dengan mu, tapi aku tidak ingin ada keributan disana” Ucap Azman.
“Begini saja, aku akan menghilangkan auraku jadi dia maupun para makhluk terkutuk itu akan mengira jika aku manusia fana sepertimu” Ucap Daim sambil melihat ke arah Azman.
“Jika begitu, oke aku akan kesana, tapi aku minta jika bisa jangan membunuh satu makhluk terkutuk pun selama disana” Ucap Azman mengingatkan Daim.
“Oke aku sepakat, namun jika mereka membahayakan nyawamu maka kesepakatan ini batal” Ucap Daim.
Azman pun hanya mengangguk saja dan dia kemudian merubah tujuannya yang tadinya mengarah ke area parkir candi cetho kini dia arahkan ke arah rumah Mbah Mirno.
Mobil jeep itu hanya melaju dengan kecepatan tiga puluh kilometer per jam saja karena memang jarak pandang yang sangat terbatas akibat derasnya air hujan.
“Azman, sudah mau maghrib, jadi sebaiknya kita mencari masjid terlebih dulu, nanti kita temui teman mu itu setelah shalat saja” Ucap Daim dan Azman pun melihat ke arah Jam yang ada di mobilnya itu.
“Kau benar, sudah mau maghrib saja, akibat hujan ini perjalanan kita jadi sangat lambat” Ucap Azman yang menyetujui ide dari Daim.
Azman pun kemudian lebih memelankan mobilnya agar dia tidak melewatkan masjid, dia yang tidak bisa melihat jauh kedepan itu pun akhirnya berhasil menemukan satu masjid dan ternyata lokasinya tidak jauh dari rumah mbah Mirno.
__ADS_1