Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Yogyakarta 14


__ADS_3

“Sebentar lagi kita akan masuk kedalam ya.” Ucap Pak Jaja.


“Iya Pak.” Ucap Azman sambil mengambil telepon selulernya dari saku celananya dan dia merubah dari notifikasi nada dering menjadi getar, agar tidak mengganggu jika sampai berbunyi saat dalam pertemuan nanti.


Keduanya pun kemudian turun dari dalam mobil dan melangkah menuju lobby gedung, Pak Jaja dan Azman pun di sambut oleh penerima tamu dan mereka berdua diminta untuk mengisi buku tamu yang sudah di siapkan, selain itu mereka juga menerima akses masuk ke ruang acara.


Keduanya juga diantar oleh salah seorang panitia yang ada di lobby hingga masuk ke tempat acara dan duduk di kursi yang sudah disiapkan.


“Sepertinya saya tidak akan betah lama Pak, disini non smoking area.” Ucap Azman sambil melihat sekelilingnya.


“Iya dan sepertinya semuanya juga sama, untung acara ini hanya satu Jam saja, selesai acara utama akan ada acara bersantai di area taman dan kita bisa bersantai sejenak disana sambil merokok, aku juga akan mengenalkanmu dengan semua yang ada.” Ucap Pak Jaja.


“Baiklah Pak, saya ikut saja.” Ucap Azman.


Tepat jam delapan pagi acara pertemuan penanggulangan bencana itu pun di mulai dan selama Acara Azman hanya diam saja, sambil berpura - pura mengikuti acara tersebut, lain hal nya dengan Pak Jaja yang menyampaikan banyak hal terkait penanggulangan bencana, dan Pak Jaja juga meminta agar semua kepala daerah lebih bersiap diri dikarenakan cuaca ekstrim saat ini yang tidak bisa diprediksi entah sampai kapan terjadi.


Pak Jaja sempat menyinggung juga mengenai bencana yang belakangan ini terjadi dan beberapa kekecewaan Pak Jaja saat susah berkoordinasi dengan pejabat di lokasi bencana, dia menyampaikan jika semua unsur kepentingan agar di hilangkan dan lebih mengutamakan penanggulangan bencana terutama nyawa korban bencana.


Satu jam itu terasa sangat lama untuk Azman, karena di sisi lain dia tidak biasa dengan pertemuan formal seperti ini, hingga akhirnya pertemuan itu selesai dan mereka semua dipersilahkan untuk menuju taman belakang untuk bersantai dan menikmati hidangan yang sudah di siapkan disana.


Pak Jaja pun kemudian mengajak Azman ke taman belakang, karena dia ingin memperkenalkan Azman dengan semua pejabat pemerintahan itu.


Taman belakang gedung itu ternyata merupakan taman bunga yang sudah di sulap dengan banyak meja dan kursi juga tenda - tenda agar para undangan tidak merasa panas, ada banyak juga mesin pendingin udara yang terpasang disana, selain itu ada juga meja panjang yang di atasnya nampak ada banyak makanan dan minuman.

__ADS_1


Tidak hanya itu di atas meja yang akan di gunakan oleh mereka juga nampak satu parcel buah dan juga beberapa botol air mineral sudah tersaji.


“Azman kita duduk sebelah sana saja, lebih nyaman kita duduk di bawah pohon dari pada di dalam tenda.” Ucap Pak Jaja sambil menunjuk meja yang ada di bawah pohon trembesi tua yang sangat rindang.


“Baik Pak, disana lebih nyaman untuk kita merokok juga.” Ucap Azman dan keduanya pun kemudian melangkah menuju meja yang mereka inginkan.


Azman dan Pak Jaja pun kemudian menduduki kursi yang kosong dan di sana memang sudah ada banyak orang yang juga memilih lokasi yang sama dengan tujuan yang juga sama yaitu ingin menyalakan dan menghisap rokok.


Nampak terlihat beberapa orang petugas katering yang hilir mudik menawarkan aneka makan dan minuman karena banyak tamu - tamu itu yang langsung duduk di kursi yang ada tidak menyentuh makanan dan minuman yang ada di meja panjang.


“Pagi Bapak apakah bisa kami ambilkan sesuatu untuk Bapak - Bapak.” Ucap Seorang pelayan katering yang mendatangi meja Azman.


“Terima Kasih Mba, jika bisa bawakan kami dua gelas kopi hitam tanpa gula saja sudah cukup untuk kami.” Ucap Azman mendahului Pak Jaja yang nampaknya juga akan berbicara.


“Baik Pak, sebentar saya akan ambilkan untuk anda berdua.” Ucap Pelayan katering yang langsung meninggalkan meja Azman dan Pak Jaja itu.


“Pak Jaja, bisa saya duduk disini bersama anda.” Ucap seorang laki - laki seusia Pak Jaja yang berpakaian pejabat keraton.


“Tentu saja boleh, kan masih ada tiga kursi kosong, silahkan Pak.” Ucap Pak Jaja.


“Saya tidak betah ada di ruangan Ac dan disini lebih enak bisa merokok.” Ucap pria sepuh itu itu.


“Benar Pak.” Ucap Pak Jaja dan Azman terlihat menyalakan sebatang rokoknya.

__ADS_1


“Oh Iya, Pak Azman, saya sudah lama ingin berjumpa dengan anda, karena ada beberapa hal yang ingin saya bincangkan dengan Anda, ini terkait dengan adanya mitos dan misteri di beberapa bangunan tua yang ada di Yogyakarta ini.” Ucap Pria tersebut.


“Jika memang ada kehadiran makhluk gaib yang membahayakan manusia maka saya tidak keberatan mengatasinya Pak, namun jika mereka tidak mengganggu manusia maka saya juga tidak bisa ikut campur, apalagi hanya mitos yang tidak pernah diakui kenyataannya.” Ucap Azman.


“Begini Pak Azman, kami orang jawa percaya dengan hal - hal seperti itu dan saya juga bisa mengetahui apa maksud anda, kebetulan ada satu lokasi yang saya ingin mengajak anda untuk anda lihat, ini juga berkaitan dengan sejarah masa lalu.” Ucap Pria tersebut.


“Tentu saja Pak, namun jika hari ini sepertinya saya tidak bisa ikut dengan anda, kami berdua sudah ada janji dengan orang lain saat ini.” Ucap Azman.


“Pak Azman, tentu tidak hari ini, karena saya ini kan hanya abdi istana dan semua hal harus saya laporkan terlebih dahulu, jika Pak Azman sudah senggang mungkin nanti bisa menghubungi saya di nomor yang ada di kartu ini.” Ucap Pria tersebut.


“Jika begitu baiklah, nanti saya akan menghubungi …..” Ucap Azman yang terhenti karena membaca nama di kartu nama tersebut dan Azman melihat pria sepuh itu lebih detail.


“Benar, saya orang dalam istana dan saya tunggu Pak Azman menghubungi nomor yang ada di kartu itu, baik tugas saya disini sudah selesai, saya permisi terlebih dahulu.” Ucap Pria sepuh tersebut yang langsung berdiri dan meninggalkan meja itu.


“Azman ada apa, kenapa kau nampak kaget?.” Ucap Pak Jaja.


“Ini Pak lihatlah.” Ucap Azman yang memberikan kartu nama yang diberikan oleh orang tua itu.


Pak Jaja menerimanya dan melihat jika kartu nama berwarna putih dengan tulisan emas itu jelas menunjukkan nama orang yang barusan duduk di depan mereka.


“Ini diluar dugaan, kau mendapatkan undangan dari keraton.” Ucap Pak Jaja.


“Tapi apakah ini nyata, dan apakah ini kartu nama yang asli.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Jika di lihat dari gambar di kartu nama kemungkinan ini asli, tapi apa benar Beliau yang mengundang mu itu tidak kita ketahui, nanti saja dihubungi jika kau sudah senggang, sehingga bisa langsung datang kesana.” Ucap Pak Jaja.


__ADS_2