Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Sepuluh Ribu Relawan


__ADS_3

“Pak Jaja, bisakah kami bertemu dengan Pak Azman, jujur kami datang ke sini karena kami ingin bertemu dengan pak Azman, kami ingin mengucapkan rasa terima kasih kami kepada Pak Azman yang sudah banyak membantu orang.” Ucap salah seorang relawan wanita yang masih berusia dua puluh tahunan.


“Seperti yang saya sampaikan tadi, saat ini Pak Azman sedang beristirahat dan nanti sebelum Magrib saya yakin Pak Azman akan bangun dan bisa berjumpa dengan kalian semua, oh ya sebelum saya lupa karena kita semua berjumlah banyak maka kita akan melakukan shalat maghrib dan isya di sini ya, apakah ada pertanyaan lainnya.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, saya perwakilan dari rekan rekan pecinta alam ingin bertanya, apakah yang tadi bapak bilang itu benar pak jika kami mendapatkan makan dan rokoknya.” Ucap seorang pemuda yang berdiri.


“Benar, namun karena jumlah kalian yang sangat banyak ini maka kalian juga boleh memasak sendiri namun tidak ada yang merusak hutan ya, kalian jika belum membawa persediaan makanan siap saji maka sedikit bersabar ya, karena untuk kebutuhan makanan siap saji sedang dalam perjalanan demikian juga dengan rokoknya, namun jika ada yang sudah lapar maka selesai ini bisa ke dapur umum, apakah ada pertanyaan lainnya.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja maaf kami tidak membawa Tenda, apakah ada tenda yang dapat kami gunakan?.” Tanya relawan lainnya.


“Saya juga masih menunggu kedatangan tenda tenda untuk kalian gunakan dan sepertinya akan datang bersamaan dengan stok makanan siap jadi serta yang sedang membeli rokok, apakah ada pertanyaan lainnya.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, benarkah arwah arwah gentayangan yang ada di hutan ini tidak akan mengganggu kami.” Ucap Relawan lainnya.


“Seperti yang tadi saya sampaikan sebelumnya, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari Pak Azman seperti itu dan kalian tidak perlu khawatir selama kalian tidak mengotori hutan ini dan menjaga sikap maka kalian akan aman, apakah ada lainnya.” Ucap Pak Jaja dengan santai karena memang dia sudah terbiasa dengan para relawan dadakan seperti ini.


“Baiklah jika memang tidak ada lagi yang bertanya, sesi ini kita akhiri, Pak Umar, Pak Danu dan Pak Dani, Bu Dina silahkan berdiri, untuk yang laki laki giliran pertama akan ikut dengan Pak Umar, Untuk Giliran Kedua akan ikut dengan Pak Danu dan Giliran ketiga akan ikut dengan Pak Dani, silahkan dengan jumlah yang sama atau selisih sedikit ya,  sedangkan untuk para wanita silahkan ikut dengan Bu Dina.” Ucap Pak Jaja memberikan arahannya kembali dan Pak Umar serta yang lainnya langsung berdiri lalu memisahkan diri agar bisa mengetahui mana mana relawan yang mengikuti mereka.

__ADS_1


Tidak ada keributan apapun selama pembagian tugas dan kelompok itu karena memang semua anggota Tim Sar itu sudah terbiasa dengan hal ini serta mereka terbiasa dengan relawan relawan yang baru bergabung.


Mereka kemudian mulai berlatih membentuk pagar betisnya dan di buah tiga lapis sesuai dengan kelompok kelompok mereka sedangkan para wanita kini membantu di mobil dapur umum untuk menyiapkan makan malam untuk semuanya, para penduduk desa juga tidak mau kalah, mereka membantu sebisa mereka.


Waktu terus berlalu dan kini sudah jam lima sore Azman pun terbangun dari tidurnya dan langsung mencuci wajahnya dengan air mineral botol lalu duduk kembali di kursi yang ada di tendanya itu.


“Azman gimana tidur mu?.” Ucap Daim.


“Cukup baik dan aku juga sudah merasakan lebih baik lagi.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim karena banyak orang yang hilir mudik di luar tendanya.


“Azman, kini sudah ada ribuan orang yang membantu mu, ternyata banyak orang yang sayang kepada mu ini.” Ucap Daim.


“Satu Hal lagi yang aku perlu sampaikan, tadi aku mendengar jika Pak Jaja mempunyai sistem pengeras suara yang bagus dan ini bisa buat nanti malam di gunakan saat dzikir terutama mulai jam sembilan malam, karena  dari apa yang aku tanyakan kepada pemimpin arwah disini, jam sembilan malam banyak makhluk di desa terkutuk yang mulai aktif.” Ucap Daim.


“Sore Pak Azman, maaf mengganggu waktu istirahatnya.” Ucap Pak Jaja sambil memasuki tenda yang digunakan oleh Azman dan duduk di kursi yang ada di depan Azman.


“Sungguh kebetulan Pak, saya malah berencana mencari Bapak, untuk menanyakan rokok saya.” Ucap Azman sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


“Iya Pak Ini saya bawakan dua slop rokok untuk bapak, tadi saya kesini bapak lagi tidur jadi saya bawa lagi dan motor Pak Azman ada di sebelah tenda ya, tadi saya memindahkannya, untungnya tidak di kunci stang.” Ucap Pak Jaja sambil meletakkan kantong plastik besar yang dibawa olehnya.


Azman langsung menerima kantong plastik besar itu dan membukanya lalu mengeluarkan semua yang ada di dalamnya yang ternyata berisi dua slop rokok dan juga lima korek api, Azman pun langsung membuka satu bungkus rokok itu lalu menyalakan dan menghisapnya dengan santai.


“Jika perokok kehabisan rokok itu tidak nyaman Pak, oh iya apa yang hendak bapak bicarakan.” Ucap Azman.


“Begini Pak, ternyata ada hampir sepuluh ribu orang yang ikut dalam aksi penyelamatan kali ini, di satu sisi ini hal baik, namun di sisi lain stok makanan dan rokok sudah sangat menipis Pak.” Ucap Pak Jaja.


“Bagaimana dengan Stok air mineral apakah masih cukup.” Ucap Azman.


“Cukup Pak, masih ada dua ratus dus lagi, sementara cukup namun jika semuanya mengambilnya ya habis juga pak.” Ucap Pak Jaja sambil tertawa ringan.


“Kira kira berapa Pak yang dibutuhkan, saya tidak ingin mereka yang ikut membantu kita sampai makan saja harus terbatasi.” Ucap Azman.


“Biayanya sangat besar Pak, saya tidak enak hati menyampaikannya.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, anda seperti baru mengenal saya saja, lagi pula siapa yang akan menanggung biaya makan mereka jika bukan saya, saya yakin anggaran bapak juga tidak ada bukan untuk aksi penyelamatan kali ini, jika perhitungan saya seratus ribu per orang di kali sepuluh ribu orang jadi satu miliar rupiah bukan.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Tidak sampai segitu Pak, hitungan saya hanya setengahnya, karena kan mungkin tidak sampai makan siang hanya snack malam dan sarapan saja.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, meskipun saya sudah kembali, contohnya jam sembilan pagi namun akan lebih baik jika semuanya meninggalkan lokasi ini dengan perut terisi. “ Ucap Azman.


__ADS_2