Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gua Kematian 18


__ADS_3

“Pak Azman, apa tidak sebaiknya tim kedua saja datang menyusul dan mengambil lorong sebelah kiri.” Pak Danu memberikan usulannya.


“Ide anda boleh juga, oh ya kita sudah berjalan kurang lebih dua puluh meter namun belum memasuki Gua Kematian juga, menurut saya sebaiknya kita menunggu disana saja, oh ya apakah ada yang membawa lampu sorot.” Ucap Azman yang merasa penerangan senter kepala mereka kurang membantu untuk menerangi area lorong bawah tanah itu.


“Kabel listrik di atas masih cukup panjang, dan panjangnya juga ada kurang lebih seratus meter, kita bisa menggunakannya Pak.” Ucap Pak Danu.


“Jika demikian maka gunakan saja Pak, kita beristirahat saja dulu sambil menunggu kedatangan tim kedua dan tim penerangan.” Ucap Azman.


Azman dan yang lainnya pun kemudian beristirahat di sana, karena memang ruangan itu cukup besar untuk mereka semua, sementara itu Pak Danu sudah memanggil tim kedua serta satu tim lagi untuk membawa lampu - lampu sorot agar lorong itu bisa lebih terang lagi.


“Maaf apakah ada yang membawa senter yang lebih terang, saya ingin mempelajari dinding - dinding ini sambil menunggu yang lainnya.” Ucap Azman.


“Senter kita sama semua Pak.” Ucap Pak Danu karena memang kenyataannya seperti itu, mereka hanya membawa dua senter yang satu senter kepala dan satu senter tangan saja.


“Ya sudah kita hanya bisa menunggu yang lainnya saja jika demikian.” Ucap Azman yang langsung mengambil bungkus rokok dan koreknya lalu menyalakan sebatang rokoknya.


“Suamiku, aku tidak bisa mendeteksi mu, dimana dirimu saat ini.” Terdengar suara Azizah dan hanya terdengar oleh Azman saja.


“Aku ada di lorong bawah tanah dan lorong ini ternyata lebih besar dari yang aku kira, lorong ini juga ternyata lorong tua yang diperbaharui.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Azizah.


“Suamiku, saat ini aku sudah di mobil dan aku tidak bisa membantumu sama sekali, ada kekuatan besar yang menghalangi pandangan ku kesana, dan kemungkinan akan berbahaya untukku jika aku ke sana, kau harus berhati - hati disana ya, ingat jangan meremehkan situasi.” Ucap Azizah.

__ADS_1


“Iya sayangku.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Azizah.


“Pak Azman, sebelah sana itu apa, tadi kami melihat ada bayangan seolah bayangan manusia.” Ucap salah seorang petugas kepolisian sambil menunjuk ke arah pojok ruangan dan senter mereka tidak bisa menembus kegelapan disana.


“Sisi sebelah sana tidak bisa di tembus oleh senter kita, dan ini sangat aneh, kita tidak bisa kesana sekarang, sebaiknya kita menunggu tim penerangan saja.” Ucap Azman.


 “Apa hanya saya saja yang merasa jika ruangan ini sedikit berubah lebih sempit.” Ucap Pak Danu.


Semuanya saling berpandangan dan melihat sekelilingnya namun mereka tidak merasakan apa yang Pak Danu rasakan sehingga hanya menggelengkan kepala mereka.


Mereka tetap ada disana menunggu kedatangan dari anggota kepolisian yang menyusul mereka sambil tetap menikmati rokok dan bahkan ada anggota kepolisian yang membawa termos kopi sehingga mereka bisa menikmati kopi disana, sudah cukup lama mereka berada disana, kurang lebih sudah ada tiga puluh menit mereka disana dan terdengar langkah kaki serta cahaya dari atas sehingga mereka semua mengetahui jika rekan - rekan mereka sudah mendekat.


“Pak Azman, sepertinya anggota saya sudah hampir sampai disini.” Ucap Pak Danu.


“Rencana saya juga demikian Pak, dan disini entah kenapa anda sadari atau tidak sinyal telepon seluler kita tidak ada.” Ucap Pak Danu.


“Saya belum melihat telepon seluler saya Pak, coba saya lihat apa saya juga tidak mendapatkan sinyal.” Ucap Azman sambil mengeluarkan telepon selulernya dan ternyata benar jika dia juga tidak memiliki sinyal di telepon selulernya itu sehingga dia pun menyimpan kembali telepon selulernya itu..


“Jadi satu - satunya alat komunikasi kita adalah radio komunikasi, kita harus menjaganya sebaik mungkin.” Ucap Azman kembali.


“Iya Pak, untungnya ada yang masih bisa kita gunakan.” Ucap Pak Danu menyetujui ucapan Azman berbarengan terlihatnya anggota kepolisian yang menyusul mereka.

__ADS_1


Ada dua puluh orang yang kini baru sampai dan mereka juga semua sudah dengan persiapan untuk melanjutkan perjalanan mereka menjelajahi isi dari Gua Kematian itu.


“Mulai sekarang kita akan membagi menjadi dua tim, tim pertama kami dan tim kedua adalah kalian, masing - masing tim akan berisi lima belas orang, dan untuk tim penerangan kalian akan berjalan di depan agar dapat memasang lampu untuk kami semua, jangan ada yang melepas tali yang terikat dan selalu berkomunikasi antar tim melalui radio komunikasi.” Ucap Pak Danu mengarahkan anggotanya dan sebelumnya tim penerangan sudah memasang beberapa lampu tembak di lorong yang mereka lintasi juga di ruangan itu sehingga kini lebih terang.


“Mohon izin komandan, kami hanya bisa membuat penerangan untuk dua ratus meter lagi saja, karena kami tidak memiliki kabel listrik yang cukup, akan tetapi kami membawa beberapa lampu tembak yang menggunakan baterai sebagai cadangan nantinya selain itu juga kami membawa senter besar jarak jauh juga.” Ucap seorang petugas kepolisian yang merupakan tim penerangan.


“Bagus, jika demikian kita akan melanjutkan perjalanan, tetap hati - hati dan waspada, namun sebisa mungkin jangan ada yang menggunakan senjata kalian.” Ucap Pak Danu.


“Siap Komandan.” Ucap semuanya kompak kecuali Azman yang nampak sibuk memandang ke salah satu dinding yang selalu gelap sejak mereka datang.


“Pak Azman apakah ada sesuatu.” Ucap Pak Danu dan semuanya kini ikut melihat ke arah pandangan Azman.


“Coba berikan senter besar itu.” Ucap Azman sambil menyodorkan tangan kanannya ke petugas kepolisian yang merupakan tim penerangan.


“Ini Pak.” Ucap Anggota kepolisian itu sambil memberikan sebuah senter besar ke Azman dan Azman pun langsung menerimanya.


“Terima kasih.” Ucap Azman yang langsung menyalakan senter besar dan menyorotkannya ke sisi ruangan yang selalu gelap itu.


Ruangan itu secara spontan langsung menjadi lebih terang namun tidak dengan dinding yang di sorot karena seolah - olah tidak terkena dengan cahaya senter besar itu sama sekali, dinding itu tetap gelap.


“Ini sangat aneh, cahaya dari senter ini seharusnya bisa menembus sampai lima ratus meter dan menerangi apapun namun dinding itu sama sekali tidak berpengaruh dan tetap gelap.” Ucap Pak Danu dan nampak jika mereka yang ada disana nampak kebingungan dengan hal ini.

__ADS_1


“Tolong tetap terangi dinding itu.” Ucap Azman sambil menyerahkan senter tersebut ke salah seorang petugas kepolisian yang ada di sebelahnya dan petugas kepolisian itu langsung menerima senter tersebut dan tetap mengarahkannya ke dinding yang selalu gelap gulita tersebut.


__ADS_2