
Azman pun sama dia pun bersama dengan Azizah juga mulai berpamitan ke semua orang yang ada disana dan nampak kesedihan dari penduduk desa yang nampak tidak rela di tinggal oleh Azman dan Azizah.
Para penduduk desa itu mengetahui jika sudah banyak sekali bantuan dari Azman yang mereka terima baik secara materi maupun lainnya dan sosok Azman ini benar - benar meninggalkan bekas di hati mereka.
Isak tangis warga mengiringi kepergian Azman dan Azizah tersebut, Azman berangkat lebih dahulu dari rombongan Pak Jaja dan dia sengaja meninggalkan lokasi desa tersebut karena dia selain dia merasa jika tugasnya sudah selesai dia juga ingin bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan keliling Indonesianya.
Mobil Azman berjalan pelan meninggalkan desa tersebut dan Azman sengaja tidak mengatur Gps Navigasinya, dia hanya mengikuti jalanan aspal tersebut tanpa menentukan kemana dia akan pergi.
“Suamiku kita akan kemana dan kenapa kau memilih tidak berlama - lama di desa itu?.” Tanya Azizah.
“Istriku, aku tidak mau ikut campur terlalu banyak, dan aku percaya dengan Pak Deni dan Pak Umar yang akan bisa menyelesaikan semuanya, lagi pula sudah beberapa hari dirimu kurang istirahat karena menunggui ku yang sakit, aku berencana mencari tempat untuk menginap yang nyaman untuk kita berdua saja kok, baru dari sana kita akan tentukan lagi tujuan kita ya.” Ucap Azman sambil terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan hanya dua puluh lima kilometer per jam.
“Sayangku, apa yang kau tutupi dari ku, sudah sebaiknya kau bicarakan saja dengan ku apa yang membuatmu tidak ingin berlama - lama disana.” Ucap Azizah.
“Sayangku, aku menghindari para wartawan datang juga sebenarnya, karena jika mereka sampai datang yang ada maka kita akan mengalami hal susah ke depannya, aku sudah pernah merasakan di kelilingi ratusan orang yang hanya ingin berphoto bersama saja, dan juga jadi susah untuk bersantai.” Ucap Azman.
“Kau ini ada - ada saja, tapi ya memang benar sih, dengan kita tidak berlama - lama disana kita juga lebih membuat masyarakat untuk bebas, karena jika ada kita ku lihat mereka seakan - akan sedikit terbebani deh.” Ucap Azizah dan memang keadaannya seperti itu di sana.
__ADS_1
“Iya sayang, lagi pula aku percaya mereka bisa menyelesaikannya, kau tahu Pak Umar dan Pak Jaja itu dua orang yang sangat aku percayai, mereka bahkan rela berkorban untuk orang lain dan hal ini sungguh susah di cari dari orang lain.” Ucap Azman.
“Bagaimana dengan Pak Deni yang baru kita kenal itu?.” tanya Azizah.
“Pak Deni dalam penilaian ku, dia itu orang baik dan jujur, dia juga bisa kita percayai, aku yakin suatu hari nanti dia akan memberi banyak manfaat untuk banyak orang.” Ucap Azman.
“Ya aku percaya dengan hal itu, aku melihat jika mereka itu orang - orang yang jujur dan baik juga.” Ucap Azizah.
“Iya sayangku, dan aku sudah cek jika saat ini situasi alam sedang tidak baik, ada banyak bencana alam yang terjadi di seluruh bagian bumi ini, aku rasa sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu dari petualangan kita, aku tidak ingin kita terjebak dalam suatu bencana alam lagi kedepannya.” Ucap Azman.
“Iya istriku, aku paham hal itu dan aku juga yakin dengan hal itu, baiklah kita akan melanjutkan perjalanan kita.” Ucap Azman.
Mobil Jip itu terus melaju dengan kecepatan yang hanya dua puluh lima kilometer per jam saja dan mereka pun kini melewati jalan pedesaan yang sangat sepi, hanya satu dua kendaraan lainnya yang mereka jumpai sepanjang perjalanan.
Azman sendiri tidak mengetahui kemana mobilnya melaju, karena dia hanya ingin mengikuti jalan saja dan menyerahkan sepenuhnya kepada yang maha kuasa untuk dimana dia berhenti nantinya.
Mereka pun berhenti beberapa kali di masjid yang mereka temui di perjalanan pada saat mereka hendak melaksanakan ibadah shalat wajib karena keberuntungan selalu ada di pihak Azman dan Azizah dimana di waktu melaksanakan shalat mereka selalu menemukan masjid sehingga mereka bisa shalat berjamaah, selain itu mereka juga menyempatkan diri untuk berhenti di rumah makan kecil untuk mengisi perut mereka itu.
__ADS_1
Waktu menunjukkan jam sembilan malam namun belum ada satupun penginapan yang Azman temukan, dan saat ini mereka malah ada di jalan yang kiri dan kanannya merupakan hutan, Azman sendiri belum mengetahui mereka ada dimana, karena memang Azman dan Azizah tidak sama sekali melihat Gps navigasi yang ada di dalam mobil itu, dikarenakan Azman dari sejak berangkat memilih untuk mematikannya.
“Suamiku, saat ini kita melintasi hutan seperti ini dan apakah kita akan bermalam disini?.” tanya Azizah.
“Aku masih kuat mengemudikan mobil ini namun jika dirimu sudah ingin beristirahat maka aku akan memarkirkan mobil ini dan mendirikan tenda untuk mu.” Ucap Azman.
“Tidak suamiku, aku akan ikut pilihanmu, jika dirimu masih ingin mengemudi maka jalanlah dan berhentilah jika memang kau ingin berhenti.” Ucap Azizah memberikan semangat untuk Azman karena dia yakin ada alasan kenapa Azman belum berhenti dan belum menyalakan Gps Navigasinya.
Azman hanya tersenyum dengan jawaban Azizah dan dia pun kemudian menyalakan Gps navigasi yang ada di mobilnya itu, sehingga kini dia mengetahui jika dia sudah sampai di daerah jawa tengah tepatnya sudah masuk ke kabupaten cilacap.
Azman pun kemudian menghentikan mobilnya, dan dia mulai mencari penginapan untuk mereka bermalam dan dia menemukan ada beberapa penginapan serta villa yang di sewakan dengan jarak paling dekat tiga kilometer dari lokasi mereka itu.
Azman pun kemudian mencoba menghubungi villa tersebut dan dia berhasil menyewa satu villa untuknya.
“Istriku, aku sudah berhasil menyewa satu villa untuk kita bermalam, dan jika tempatnya cocok untuk bersantai maka kita akan tinggal disana sementara namun jika tidak nyaman maka besok siang kita akan melanjutkan perjalanan kita ya.” Ucap Azman sambil mengatur Gps navigasinya untuk menuju villa tersebut.
“Iya sayangku, dimana pun asal aku bisa bersama mu aku sudah nyaman kok.” Ucap Azizah sambil tersenyum hangat ke Azman.
__ADS_1