Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Lereng Selatan end


__ADS_3

“Pak Azman apakah anda yakin jika mereka ada disana?.” Tanya salah seorang petugas perhutani.


“Saya yakin mereka ada disana, dan apakah ada yang sudah melakukan pencarian kesana?.” Ucap Azman dan nampak jika mereka semua menggelengkan kepalanya.


“Belum Pak, kami fokus dengan jalan yang biasa di lalui dan seputaran lokasi mereka hilang, kami tidak menyangka jika mereka sudah berjalan sejauh itu.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja, jika memang ada aktivitas tektonik di gunung ini maka sebaiknya penjemputan mereka disegerakan saja, mumpung langit sedang bersahabat dengan kita, tadi saya perjalanan kesini saja beberapa kali bertemu dengan hujan yang sangat lebat loh.” Ucap Azman yang kembali duduk di kursinya.


Pak Jaja hanya mengangguk dan Pak Jaja langsung mengatur tim yang akan menjemput kedua pendaki tersebut, dan dia juga mengatur rute untuk penjemputan itu.


Tidak ada yang membuang waktu untuk itu dan mereka pun kemudian nampak bekerja sama agar proses penjemputan kedua pendaki bisa dilakukan sesegera mungkin.


“Pak Azman, terima kasih, dengan informasi dari anda ini maka menemukan kedua pendaki itu bisa lebih cepat.” Ucap Pak Jaja yang telah selesai melakukan pengaturannya.


“Sama - sama Pak, tadinya saya ingin menuju puncak mahameru untuk berkemah di sana namun dengan kondisi saat ini sepertinya tidak cocok, nanti saya akan langsung ke Yogyakarta saja dan berlibur di sana Pak.” Ucap Azman.


“Sayang sekali ya, padahal anda sudah sampai sini namun tidak bisa berkemah disini, dan saya yakin anda dan istri akan sangat betah berlibur di Yogyakarta.” Ucap Pak Jaja.


“Pak Jaja apakah benar gunung semeru ini akan meletus?.” Tanya Azman.

__ADS_1


“Para ahli hanya bisa menebaknya berdasarkan dari hasil penelitian mereka, namun tidak ada seorang pun yang tahu kapan gunung ini akan meletus, saya sudah menyampaikan ke anak buah saya untuk tetap siaga disini sampai aktivitas tektoniknya mereda, bisa besok atau lusa atau bisa juga seminggu atau sebulan, atau bahkan tidak jadi meletus karena kan itu rahasia ilahi yang tidak bisa kita ketahui, hari ini saja sudah ada gempa kecil Pak disini namun baru satu kali.” Ucap Pak Jaja menjelaskan.


Azman nampak menarik nafas dalam - dalam, karena dia tahu tidak akan ada yang bisa mengetahui dengan tepat kapan letusan gunung berapi terjadi, dan dia hanya bisa berdoa tidak ada korban jiwa dari letusan gunung itu.


“Pak Azman, sebaiknya anda beristirahat saja dahulu, kemungkinan tim akan sampai di lokasi itu dalam dua jam pendakian.” Ucap salah seorang perwira dari Kepolisian yang melihat jika Azman nampak kelelahan.


“Itu benar Pak, anda silahkan beristirahat, biar kami saja yang menunggu kabar dari tim yang berangkat kesana.” Ucap Perwira dari TNI yang juga khawatir dengan kesehatan Azman.


“Saya hanya lelah karena telah mengemudi seharian, segelas kopi hitam tanpa gula akan menyegarkan saya, dan nanti setelah saya mendapatkan kabar kedua orang itu ketemu saya akan langsung meninggalkan lokasi ini mumpung pihak media belum mengetahui kehadiran saya disini ya.” Ucap Azman dan nampak salah seorang anggota Tim Sar yang ada di dalam tenda komando itu langsung membuatkan Azman segelas kopi hitam lalu memberikannya ke Azman.


Azman dan Pak Jaja terus berada di dalam tenda komando dan mereka juga ikut mendengar setiap perkembangan yang dilaporkan melalui radio oleh tim yang menjemput kedua pendaki itu.


Azman pun sesuai dengan apa yang diucapkannya setelah dia berpamitan dengan semuanya dia pun memilih untuk langsung meninggalkan lokasi itu, dan Azizah pun tidak menanyakan alazan Azman kenapa Azman memilih untuk meninggalkan lokasi tersebut.


“Istriku terima kasih, berkat informasi yang kau berikan kedua pendaki yang hilang berhasil ditemukan.” Ucap Azman sambil mengemudikan mobilnya menelusuri jalanan yang akan membawanya menuju Yogyakarta.


“Suamiku, aku akan membantumu selagi aku bisa melakukannya, namun aku masih bingung kenapa kau nampak terburu - buru ingin meninggalkan lokasi itu.” Ucap Azizah.


“Sayangku, aku mendengar jika gunung itu akan meletus jadi aku tidak nyaman berlama - lama disana, ditambah lagi aku tidak mau kehadiranku di ketahui pihak media.” Ucap Azman.

__ADS_1


“Aku memang merasakan jika gunung itu akan meletus namun sepertinya masih lama, lalu bukankah kau sangat ingin berkemah disana, kenapa tidak jadi?.” Ucap Azizah.


“Masih banyak waktu untuk itu istriku, dan dengan cuaca seperti ini sebaiknya kita hindari dulu pegunungan, aku akan membawa mu berlibur di Yogyakarta, dan seharusnya pagi hari kita sudah sampai sana.” Ucap Azman yang memang karena jalanan yang sangat kosong dia lebih memacu laju mobilnya itu.


“Aku rasa dengan dirimu yang berkumis dan berjenggot seperti sekarang akan jarang orang yang mengenalmu deh, dan bukankah sudah lama juga pihak media tidak menyorot mu.” Ucap Azizah sambil memegang pipi suaminya yang sedang menyetir tersebut dan memang jika saat ini Azman sudah berkumis dan juga berjenggot, hal ini juga di sengaja oleh Azman yang tidak mau memotong jenggot kumisnya.


Azman terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan cepat dan dia hanya berhenti untuk melaksanakan Ibadah shalat shubuh saja lalu kembali memacu mobilnya itu.


“Suamiku apakah masih jauh?.” Ucap Azizah yang memang sama - sama belum beristirahat dan Azizah memilih untuk terus menemani Azman.


“Seharusnya sebentar lagi kita sudah sampai, apakah dirimu bosan.” Ucap Azman.


“Aku bukan bosan namun aku khawatir dengan mu yang mengemudi secara terus menerus, sebaiknya kita beristirahat terlebih dulu, coba kau pelankan laju mobil ini siapa tau ada penjual makanan.” Ucap Azizah sambil kembali mengelus perutnya.


“Jadi kau lapar toh, oke aku akan mencari penjual makanan ya, seharusnya di pagi hari seperti ini banyak penjual makanan kok.” Ucap Azman sambil memelankan laju mobilnya dan sebenarnya dia juga sudah merasa lapar karena terakhir mereka makan itu semalam.


Mobil itu terus melaju dengan kecepatan hanya tiga puluh kilometer per jam dan tidak lama kemudian berhenti setelah Azman menemukan pedagang yang menjual sarapan khas daerah sana, mereka pun menikmati sarapan ala kadarnya itu dan meskipun mereka makan di pinggir jalan dengan pedagang yang hanya menggunakan gerobak namun buat mereka berdua makanan itu terasa sangat nikmat, bahkan keduanya pun sampai menambah.


“Aku suka makanan disini, ngomong - ngomong kita sudah sampai mana ya.” Ucap Azizah yang terdengar oleh ibu penjual makanan itu.

__ADS_1


__ADS_2