Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Makan karedok


__ADS_3

"Pak Azman apakah bapak akan langsung melanjutkan perjalanan Bapak" ucap salah seorang pria sepuh.


"Benar Pak, maaf apakah saya sebelumnya bisa bertemu dengan ketua Dewan Kemakmuran Masjid ini terlebih dahulu sebelum saya melanjutkan perjalanan saya" ucap Azman.


"Pak Azman maaf, saya ketua Dewan Kemakmuran Masjid, apakah ada yang bisa saya bantu untuk Bapak" ucap pria sepuh yang rumahnya di sebelah masjid dan yang pertama mendapatkan bantuan dari Azman.


"Ini Pak, saya menitipkan ini untuk pembangunan masjid dan perawatannya, tadi saya lihat tempat wudhu nya sudah memerlukan renovasi, banyak kran dan keramik yang sudah rusak" ucap Azman sambil memberikan lima puluh juta rupiah ke pria sepuh yang merupakan Ketua dewan kemakmuran masjid itu.


"Alhamdulillah, bapak bukan hanya menolong kami namun bapak juga sudah menolong umat muslim yang beribadah di masjid ini, saya akan menjaga benar wasiat Pak Azman ini" ucap pria sepuh yang merupakan Ketua dewan kemakmuran masjid itu.


"Baik Bapak Bapak dan saudara ku semua saya permisi" ucap Azman sambil menggunakan helm nya dan menaiki motornya.


Semuanya langsung berucap salam ke Azman sekaligus mengucapkan ucapan terima kasih mereka, dan Azman pun langsung meninggalkan parkiran masjid itu.


"Bapak bapak dan para pemuda semua, ini titipan Pak Azman senilai Lima puluh juta rupiah, dan seperti bapak bapak dan para pemuda semua mendengarnya, Pak Azman ingin kita memperbaiki Tempat Wudhu jadi, kita tidak perlu menundanya, ayo semuanya kita bekerja sama" ucap pria sepuh yang merupakan Ketua dewan kemakmuran masjid itu.


Sementara itu Azman terus melaju ke arah pantai selatan kembali, dan jika perhitungan waktunya tepat maka dia akan sampai dia sebelumnya berkemah beberapa menit sebelum Adzan Dzuhur berkumandang.


"Aku lupa aku sama sekali belum sarapan" ucap Azman berbicara sendiri sambil terus mengendalikan laju motornya di lima puluh kilometer per jam.


Azman terus melaju sambil mencari tempat yang cocok untuk mengisi perutnya.


Jalanan itu cukup padat namun masih enak untuk Azman melaju meskipun beberapa kali dia harus berhenti karena mobil angkutan umum yang berhenti semaunya tanpa menggunakan lampu sen sebelumnya.

__ADS_1


"Masih sangat asri daerah sini ternyata" ucap Azman sambil menikmati pemandangan sawah di kiri dan kanannya.


Udara juga sangat sejuk dan angin juga berhembus pelan menambah kesejukan untuk Azman yang kini hanya melaju di dua puluh kilometer per jam karena ada truk besar di depannya, dan Azman sengaja menjaga jarak lima puluh meter dari truk besar itu agar tidak terkena asap knalpot truk.


"Warung nasi sederhana di depan sepertinya boleh juga buat isi perut" ucap Azman yang melihat lima puluh metee di depannya ada sebuah warung nasi khas pedesaan sambil memelankan laju motornya dan parkir di depan warung nasi itu.


Azman tetap parkir dengan menghadap ke arah jalab lalu membuka helm dan jaketnya lalu menyimpannya di atas motornya.


Azman pun kemudian memasuki warung nasi itu dan langsung memilih meja dekat pintu dan menduduki salah satu kursi yang menghadap ke arah jalan dan bagian dalam warung nasi itu.


"Maaf di warung ini silahkan ambil sendiri apa yang mau dimakannya" ucap seorang perempuan berusia empat puluh tahunan.


"Bu maaf, apakah ibu bisa buatin saya karedok saja, saya sudah lama tidak makan karedok" ucap Azman sambil tersenyum ramah ke ibu warung itu.


"Maaf apakah bapak pak Azman yang sering masuk televisi itu ya" ucap Ibu warung itu yang kini melihat jelas wajah Azman.


"Iya maaf Pak Azman, baru saja melihat di media sosial sosok bapak, eh bapak tiba tiba muncul di warung saya, sebentar saya buatkan dulu ya Pak, mau pedas apa sangat pedas pak" ucap Ibu warung itu dengan wajah yang terlihat sangat gembira.


"Ibu, jangan pakai cabe ya, saya baru keluar dari rumah sakit jadi perut saya belum bisa dengan pedas" ucap Azman sambil mengeluarkan kotak rokoknya dan juga koreknya.


"Baik, sebentar ya Pak, saya siapkan dulu untuk bapak, lalu minumnya apa Pak" ucap ibu warung.


"Saya cukup es teh tawar saja bu" ucap Azman.

__ADS_1


"Baik, sebentar ya saya siapkan dulu" ucap Ibu warung sambil kemudian meninggalkan Azman.


"Kenapa aku jadi selebriti dadakan seperti ini" ucap Azman dalam hatinya sambil melihat motornya.


"Motor ini ternyata, jika aku mengganti motor sepertinya para penduduk tidak mudah mengenaliku" ucap Azman dalam hatinya sambil menyalakan sebatang rokoknya dan menghisapnya dengan santai.


"Warung ini kenapa sampai di guna gunai ya? Meskipun tidak di tutup tapi di buat pengunjung tidak mau kembali lagi" ucap Azman dalam hatinya karena dia merasakan adanya aura makhluk gaib yang sangat tipis di warung nasi ini.


"Sepertinya hal hal seperti ini di daerah pedalaman ini adalah hal gampang di dapatkan dan di lakukan" ucap Azman kembali berbicara dalam hatinya.


"Dapat kau" ucap Azman dalam hatinya sambil melihat sebuah batu akik kecil berwarna hitam yang di selipkan di sela sela bilik bambu warung itu.


Azman kemudian berdiri dan mengambil batu akik berwarna hitam itu lalu membawanya dan membakarnya di atas asbak sambil berdzikir untuk membakar sosok makhluk gaib yang ada di dalamnya 


Azman juga tahu jika bukan hanya makhluk gaib di dalamnya yang akan binasa melainkan pengirim nya juga akan mengalami mala petaka baik terbakar orangnya atau terbakar tempat usaha atau bisa jadi rumahnya juga.


"Beres, dan aku tidak peduli jika sampai pelakunya mendapatkan luka bakar sekalipun" ucap Azman dalam hatinya sambil menghentikan membakar batu akik hitam itu dan membiarkannya di dalam asbak sampai benar benar dingin.


Dua batang rokok sudah habis di hisap oleh Azman dan terlihat jika ibu warung itu sudah datang kembali dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua piring dan satu gelas.


"Pak Azman ini saya bawakan pesanannya, maaf sedikit lama" ucap ibu warung sambil meletakan apa yang dibawanya yaitu sepiring nasi putih yang masih panas dengan taburan bawang goreng, sepiring karedok dengan taburan bawang goreng juga dan juga segelas es teh tawar di atas meja itu.


"Terima kasih ya Bu" ucap Azman sambil mengambil kerupuk bulat dari kotak kaleng kerupuk yang memang di siapkan di atas meja meja disana.

__ADS_1


"Silahkan Pak, jika ada yang kurang sampaikan saja ya" ucap ibu warung sambil kemudian melangkah meninggalkan Azman.


"Iya Bu" ucap Azman sambil kemudian mulai menikmati karedok yang nampak sangat lezat itu di temani dengan nasi panas dan kerupuk.


__ADS_2