Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Kopinya di rebus bukan di seduh


__ADS_3

“ Itu dia Pak, namun ini anggaran terbesar untuk penyelamatan satu desa, dan jujur saya tidak enak hati jika meminta satu miliar rupiah ke Bapak.” Ucap Pak Jaja.


Azman hanya tersenyum dan memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Pak Jaja, sehingga dia kemudian mengambil ponselnya lalu mengirimkan uang senilai satu milyar tiga ratus juta rupiah ke rekening Pak Jaja yang sudah diketahui sebelumnya lalu menyalakan kembali sebatang rokoknya dan tidak mengirimkan bukti transfernya tersebut karena dia tahu sebentar lagi juga Pak Jaja akan menerima notifikasi tentang masuknya uang jumlah besar itu.


Dan benar dugaan Azman Pak Jaja kini melihat ponselnya dan melihat notifikasi masuknya yang dalam jumlah besar ke rekeningnya.


“Pak Azman ini besar sekali jumlahnya.” Ucap Pak Jaja.


“Iya untuk satu slop rokok lagi dan juga segelas kopi hitam tanpa gula pak jika ada.” Ucap Azman mencandai Pak Jaja sambil kembali menghisap rokoknya itu.


“Iya Pak nanti saya suruh lagi anak anak untuk membelinya dan soal kopi sudah saya mintakan jadi sebentar lagi juga datang, tapi ini uangnya terlalu banyak Pak, meskipun mungkin untuk bapak sedikit namun untuk saya ini terlalu besar, bagaimana jika yang satu milyar saya kembalikan dulu ke Bapak.


“Pak Jaja, simpan saja dulu, jika habis terpakai ya sudah tidak apa apa, jika memang masih sisa ya nanti saja kembalikannya jika sudah selesai ya, mumpung masih ada waktu sebaiknya Bapak segera meminta anak buah bapak untuk membeli kebutuhan yang diperlukan.” Ucap Azman yang kini lebih serius.


“Baik Pak, saya akan meminta Pak Umar saja yang membelinya, karena tadi Pak Umar yang memegang list yang harus kita beli.” Ucap Pak Jaja.


“Iya Pak, atur saja dengan baik ya.” Ucap Azman.


“Pak Umar saya tunggu sekarang di Tenda Pak Azman, dan sekalian mumpung Pak Umar lagi di dapur, tolong tanyakan kopinya kenapa lama?, sudah kami tunggu disini.” Ucap Pak Jaja melalui radio Komunikasi.


“Siap Ndan.” ucap Pak Umar.


“Pak Umar jika besok mendengar suara senjata jangan kaget ya.” Ucap Azman setelah Pak Jaja menyimpan kembali radio komunikasinya.


“Maksudnya Pak?.” Ucap Pak Jaja yang terlihat bingung.

__ADS_1


“Jadi begini, saya membawa senjata api saja, dan bapak tenang saja ini bukan ilegal kok, karena saya memang memiliki izin untuk membawa dan menggunakannya, jadi ini untuk bapak ketahui saja ya, jika bagi saya semua makhluk makhluk itu tidak berbeda dengan manusia pada umumnya yang dapat terluka atau meninggal dunia dengan serangan, jadi saya mungkin besok akan menggunakan senjata api saya meskipun jumlah peluru saya terbatas namun saya yakin jika untuk darurat saja cukup, dan jika ada saya ingin meminjam dua buah parang yang panjang pak sama dua buah pisau sangkur.” Ucap Azman.


“Pak Azman menggunakan peluru kaliber berapa?.” Tanya Pak Jaja.


“Kaliber sembilan mili pak.” Ucap Azman.


“Gunakan ini saja untuk tambahan.” Ucap Pak Jaja sambil memberikan dua buah magazen senjatanya yang berisi peluru lengkap.


“Maaf Pak saya terpaksa menolaknya, kita tidak akan pernah tahu kapan bapak akan memerlukannya bukan, sudah tidak apa apa, saya hanya menggunakannya untuk kondisi darurat yang mengancam nyawa saja kok Pak, jadi bapak simpan saja lagi ya peluru peluru Bapak ini.” Ucap Azman.


“Baik Jika demikian Pak.’ Ucap Pak Jaja sambil menyimpan kembali kedua magazennya ke saku samping celananya.


“Tapi bapak jangan menembak makhluk supranatural ya Pak, karena percuma jika bapak yang menembangnya yang ada akan tembus dan tidak berpengaruh apapun.” Ucap Azman.


“Iya Pak tentu saja tidak.” Ucap Pak Jaja berbarengan dengan masuknya Pak Umar bersama seseorang relawan wanita yang masih berusia tiga puluh tahunan yang membawakan kopi untuk Azman dan juga Pak Jaja.


“Terima kasih ya.” Ucap Pak Jaja.


“Terima kasih ya Mba, sepertinya mba nya penikmat kopi juga.” Ucap Azman,


“Sama sama pak, benar Pak Azman saya memang suka minum kopi, Maaf Pak Azman boleh ngak saya foto bareng bersama Bapak.” Ucap Relawan wanita itu.


“Tentu saja, mau foto dimana disini apa di luar.” Ucap Azman.


“Bapak jika di samping motor bapak saja gimana?” Tanya relawan wanita itu.

__ADS_1


“Ayo, mau selfie atau mau di fotokan, jika di foto kan kita minta bantuan Pak Umar saja dulu.” Ucap Azman sambil berdiri. 


“Di Photokan saja Pak, biar lebih luas.” Ucap relawan wanita itu yang kini nampak sangat bahagia.


“Pak Umar saya minta tolong bentar ya.’ Ucap Azman.


“Mari saya foto kan.” Ucap Pak Umar sambil kembali berdiri.


Mereka bertiga kemudian keluar dan berphoto di samping motor Azman yang ada di samping tenda itu, relawan itu terlihat sangat bahagia bahkan sempat memeluk Azman saat sesi foto itu, Azman dan Pak Umar kembali ke tenda, sedangkan relawan wanita itu kembali ke dapur umum.


“Pak Umar, kita mendapatkan dana bantuan senilai satu koma tiga miliar dari Pak Azman, jadi apa yang sudah di buat listnya bisa di beli, namun sesuaikan saja dengan listnya ya Pak, kecuali ada hal yang urgent untuk di beli, sama tolong dua slop rokok lagi untuk Pak Azmannya, Pak.” Ucap Pak Jaja sambil memberikan kartu debitnya.


“Alhamdulillah, kita mendapatkan kemudahan lagi, terima kasih Pak Azman, baik komandan jika demikian saya langsung pamit saja, biar saya saja dan anak anak yang berbelanja jadi mereka tidak melihat isi saldo kartu ini.” Ucap Pak Umar yang nampak sangat bersemangat sambil menerima kartu debit itu dan memasukkannya ke saku kemeja lapangan yang di pakai.


“Iya Pergilah, mumpung masih keburu untuk berbelanja di kota.” Ucap Pak Jaja.


“Baik, Izin Ndan, dan Pak Azman, terima kasih atas bantuan anda ini.” Ucap Pak Umar.


“Sama sama Pak.” Ucap Azman dan Pak Umar pun kemudian meninggalkan tenda yang digunakan oleh Azman.


Azman kemudian meminum sedikit kopi itu perlahan, karena memang masih panas.


“Kopi ini kopi lokal namun dengan cara memasak yang benar, kopi ini terasa sungguh nikmat.” ucap Azman.


Pak Jaja yang mendengarnya langsung meminum sedikit kopinya itu.

__ADS_1


“Benar Pak, ini sungguh terasa berbeda, padahal ini kopi asli cianjur ini Pak.” Ucap Pak Jaja.


“Relawan wanita tadi benar benar ahli dalam hal merebus kopi Pak, dia bisa membuat takaran dan kematangan yang Pas, saya yakin jika dia membuat kafe kopi makan akan sangat ramai.” Ucap Azman sambil kembali menghisap rokoknya lagi.


__ADS_2