
“Terima kasih Pak, jika demikian saya permisi dulu ya.” Ucap Azman sambil mengambil Tas Ranselnya dan dia pun langsung melangkah meninggalkan lokasi itu.
Azman berjalan berdampingan dengan Daim dan Daim juga yang menunjukan jalan untuk Azman, karena memang Azman tidak mengetahui arah mana yang menuju puncak gunung itu.
“Azman, kenapa langkahmu pelan sekali, biasanya kau sangat gesit jika berjalan.” Ucap Daim sambil terus melangkah mengimbangi Azman yang memang berjalan santai.
“Daim, buat apa kita buru - buru, bukankah kawan mu juga sudah bebas dan sudah ada anaknya yang menemaninya.” Ucap Azman.
“Ini sudah sangat malam, semakin cepat kita sampai maka semakin baik bukan, agar kau juga bisa beristirahat nantinya.” Ucap Daim.
“Daim aku hanya ingin menikmati alam ini saja, lagi pula letaknya sudah tidak jauh bukan, lebih baik aku menghemat tenaga ku dari pada aku habiskan dengan berlari ke puncak gunung.” Ucap Azman.
Mereka berdua terus berjalan mengikuti jalanan setapak yang sepertinya bukan dari rute para pendaki, dan tidak membutuhkan waktu lama mereka pun sampai di puncak Gunung itu, disana Azman langsung terpukau dengan seorang wanita seumurannya yang berwajah sangat cantik, dengan menggunakan celana hitam dan kaos berwarna merah muda.
“Kau ini kenapa, ayo kita temui dia, dialah calon istri mu.” Ucap Daim sambil memukul pelan bahu Azman bersamaan dengan wanita muda itu melihat ke arah mereka berdua.
“Wajahnya sangat cantik dan rupawan, aku tidak menyangka bisa melihat bidadari di atas puncak gunung ini” Ucap Azman yang berbicara spontan setelah melihat wajah wanita muda itu.
“Tadi katanya tidak mau bertemu dan menyangkal selalu, sekarang kau bahkan tidak menggubrisku, saking terpesonanya dengan anak sahabatku.”Ucap Daim sambil melangkah mendekati wanita muda itu.
“Paman Daim, dia kenapa, kok hanya bengong di sana saja, apa dia takut dengan ku.” Ucap Wanita muda itu.
“Dia terpesona dengan kecantikanmu Azizah, bagaimana ayahmu apakah kau sudah menemuinya?.” Ucap Daim.
__ADS_1
“Paman Daim aku belum menemuinya, dia masih ada di dunia kecilnya saja, dan aku juga tidak bisa masuk kesana, mungkin Paman bisa masuk dan menemuinya.” Ucap Wanita muda yang bernama Azizah tersebut.
“Azizah, kau disini saja dulu dan temani Azman, aku akan menemui ayahmu serta akan membawanya kesini.” Ucap Daim bersamaan dengan datangnya Azman kesana.
“Daim ini siapa dan dimana teman mu itu?.” Ucap Azman.
“Azman ini Azizah dan ini putri sahabatku, dia juga yang akan mengawalmu selama aku pulang ke alam ku.” Ucap Daim.
“Azman, senang bisa mengenalmu, perkenalkan aku Azizah, aku yang akan menjagamu dari makhluk makhluk terkutuk yang lebih kuat dari mu.” Ucap Azizah.
“Senang bisa mengenalmu Azizah, aku tidak menyangka jika dirimu ini ternyata sangat cantik seperti ini, sungguh aku terpesona dengan kecantikanmu, dimana ayah mu kenapa aku tidak melihatnya.” Ucap Azman.
“Azman dan Azizah kalian disini saja dulu karena aku akan menjemputnya dulu.” Ucap Daim sambil berjalan ke sebuah batu besar.
Azman dan Azizah tidak menjawabnya melainkan hanya melihat ke arah Daim yang terus melangkah ke arah batu besar itu dan Daim pun kemudian berdiri di depan batu besar itu.
Seberkas sinar berwarna putih dari posisi batu besar itu pertama kali kini terlihat oleh Azman dan Azizah disana juga kini terlihat adanya asap putih yang sangat pekat.
“Azman itu portal dimensi untuk menuju ke dunia kecil milik ayah ku, aku dari tadi mencarinya dan ternyata disana tempatnya.”Ucap Azizah.
“Azizah, aku tidak mencium aura Jin pada mu, berbeda dengan Daim yang sangat kuat auranya, bisa kau jelaskan mengenai dunia kecil itu.” Ucap Azman.
“Azman, dunia kecil milik ayahku itu adalah dunia yang hanya dimiliki oleh ayahku seorang, ya bisa di bilang ayah ku memiliki bumi sendiri yang kosong dan tanpa ada manusia atau pun kaum kami, oh iya kalian bisa menyebutnya alam yang berbeda.” Ucap Azizah.
__ADS_1
Azman tidak langsung menjawabnya dan dia hanya melihat ke arah Daim yang kini berjalan ke arah cahaya putih tersebut lalu menghilang dari pandangan.
“Apakah kalian semua memiliki dunia kecil itu?.” Tanya Azman.
“Tidak semuanya bisa mendapatkan dunia kecil hanya ayahku, Paman Daim dan dan juga kalau tidak salah orang - orang kerajaan Jin saja.” Ucap Azizah.
“Azizah, sepertinya Daim akan sedikit lama, bagaimana jika kita duduk disana saja, sambil menunggu Daim datang bersama dengan ayahmu.” Ucap Azman sambil menunjuk ke arah deretan batu batu yang atasnya landai dan cocok untuk di duduki.
“Azman, mari kita kesana, oh iya sebelumnya Paman Daim mengatakan jika kau akan berkemah disini, bukankah lebih baik jika kau mendirikan dulu tenda mu dan kita juga bisa beristirahat dalam tenda mu saja, angin malam ini kan tidak bagus juga untuk kesehatanmu, ditambah lagi kau baru berjalan jauh dan pasti capek bukan.” Ucap Azizah.
“Kita berkemah di sana saja sekalian, lokasinya juga sangat landai dan pas untuk mendirikan tenda.” Ucap Azman sambil melangkah menuju tempat yang diinginkan dan Azizah pun hanya mengikutinya.
“Iya dimanapun tempat yang kau inginkan aku akan mengikutimu kok, jadi jangan khawatir ya.” Ucap Azizah sambil berjalan di belakang Azman.
“Kemana pun kau akan mengikuti ku?.” Tanya Azman sambil terus berjalan karena jaraknya kurang lebih masih lima puluh meter lagi, dan Azman sengaja memilih tempat itu karena disana ada beberapa pepohonan yang cukup rindang.
“Azman aku akan ikut kemana pun kau pergi, namun jika kau ke kamar mandi tentunya aku tidak akan ikut, lagian pertanyaanmu itu aneh sekali bukan, kita kan tidak mungkin selalu bersama setiap saat, aku pasti akan berikan kamu waktu untuk mu sendiri.” Ucap Azizah.
“Oke jika demikian karena penjelasan dari Daim yang ku terima tidak seperti itu, dia bilang jika kau akan selalu ikut kemana pun aku pergi.” Ucap Azman.
“Paman Daim ini kalau bercanda suka keterlaluan, apalagi yang dia bicarakan dengan mu.” Ucap Azman.
“Sisanya dia jujur dan tidak melebihkan, aku yakin kau tidak ingin mendengarkannya.” Ucap Azman.
__ADS_1
“Apa itu, aku jadi penasaran akan hal ini.” Ucap Azizah.
“Daim bilang kau sangat cantik dan aku bisa jatuh cinta kepadamu, bahkan bisa - bisa aku menikahimu.” Ucap Azman sambil berhenti berjalan dan melihat Azizah yang kini mereka hanya berjarak setengah meter saja.