Petualangan Misteri Azman

Petualangan Misteri Azman
Gua Kematian 20


__ADS_3

Mereka terus berjalan memasuki lorong itu dan tidak melihat atau menemukan apapun yang aneh di sana sampai akhirnya mereka tiba di perut Gua kematian yang nampak sangat luas bahkan tinggi perut gua itu sampai dua puluh meter dengan lebar hampir tiga puluh meter.


“Sayang penerangan listrik kita tidak bisa sampai kesini.” Ucap Azman sambil menyalakan kembali senter kepalanya karena memang kabel listrik itu sudah habis di tengah perjalanan mereka.


“Benar Pak, jadi terbatas lagi penerangan kita.” Ucap Pak Danu sambil menjulurkan tangannya ke anak buahnya meminta senter besar.


“Jangan dulu menyalakan senter besar itu Pak, kita ke sebelah sana saja dulu Pak.” Ucap Azman sambil menunjuk sebuah batu besar yang sangat datar dan hanya setinggi satu meteran saja.


Azman dan yang lainnya pun kemudian berjalan ke arah batu besar itu lalu semuanya duduk disana.


“Pak Danu, coba cek anak buah anda sudah sampai mana.” Ucap Azman.


“Tim Dua Monitor, dimana posisi kalian dan bagaimana situasinya.” Ucap Pak Danu melalui radio komunikasi.


“Siap komandan, mohon ijin kami masih menelusuri lorong yang tadi kami masuki.” Terdengar suara dari radio komunikasi namun suaranya sangat pelan dan kurang jelas pertanda jika jarak cukup jauh dari lokasi itu.


“Pak Danu, minta mereka kesini saja, kita jadi satu tim lagi saja, biar besok saja kita kirim tim untuk menelusuri lorong itu.” Ucap Azman.


“Tim dua kalian kembali dan masuk ke lorong yang kanan yang tadi kami masuki, kami ada di keluaran lorong.” Ucap Pak Danu melalui radio komunikasi.


“Siap Monitor Komandan, kami mengarah kesana.” kembali terdengar suara di radio komunikasi itu dan Pak Danu langsung menyimpan kembali radio komunikasinya.


“Pak Azman, apakah ada sesuatu sehingga anda meminta tim kedua kesini?.” Tanya Pak Danu.


“Tidak Pak, namun sedikit aneh saja jika mereka belum sampai di perut Gua seperti kita, jadi lebih aman untuk mereka bergabung dengan kita saja.” Jawab Azman.

__ADS_1


“Itu benar juga Pak, kita saja sudah disini cukup lama dan mereka bahkan belum keluar dari lorong itu, apakah perlu saya mengirim orang untuk menyusul mereka.” Ucap Pak Danu.


“Begini saja, kita tunggu mereka disini, jika mereka cepat maka dalam waktu dua jam paling lama mereka sudah sampai sini, namun jika mereka lambat ya bisa dua jam lebih sedikit, jika mereka tidak sampai juga maka kita akan menyusul mereka.” Ucap Azman memberikan pendapatnya.


“Baik Pak, lalu kenapa anda melarang kami menggunakan senter besar di area ini.” Ucap Pak Danu.


“Pak Danu, perjalanan kita masih panjang, dan kita harus menghemat baterai yang kita miliki, jangan sampai di saat yang lebih penting penerangan kita mati semua.” Ucap Azman.


“Pak Azman, apakah anda mendengar suara air.” Ucap salah seorang anggota kepolisian.


“Ya saya mendengarnya juga, ini berarti ada saluran air bawah tanah di dekat sini, nanti kita akan mengeceknya jika tim dua sudah sampai, sekarang kalian tolong matikan semua senter kepala dan cukup satu senter kepala yang di nyalakan, jika bisa tolong periksa yang dekat - dekat sini apakah ada kayu yang bisa kita bakar agar jadi sumber penerangan kita.” Ucap Azman.


“Kami membawa parafin dan bisa menjadi sumber penerangan sementara kita disini.” Ucap Salah seorang anggota kepolisian sambil berdiri dan mengambil parafin dari dalam tasnya.


“Kau nyalakan saja tiga di sekeliling kita jadi semua senter bisa kita matikan, namun tetap cari di sekitar sini apakah ada kayu yang bisa di bakar.” Ucap Pak Danu.


Petugas kepolisian itu pun kemudian menyalakan api unggun dengan kayu yang mereka temukan lalu sebagian duduk di batu besar sedangkan sisanya memilih menjaga api unggun agar tetap menyala.


“Sudah tiga puluh menit dan mereka belum ada kabarnya, tolong di cek Pak, jika bisa setiap sepuluh atau lima belas menit di cek, saya tidak ingin mereka kenapa - napa.” Ucap Azman.


“Kau cek mereka setiap sepuluh menit melalui radio komunikasi di mulai dari sekarang.” Ucap Pak Danu ke anak buahnya yang sedang memang sedang memegang radio komunikasi.


“Siap Komandan.” Ucap petugas kepolisian itu yang langsung berdiri dan berjalan ke sebuah batu landai lalu mendudukinya.


“Tim dua monitor.” Ucap Petugas kepolisian itu melalui radio komunikasi.

__ADS_1


“Tim dua monitor.” Ucap Petugas kepolisian itu mengulangi ucapannya melalui radio komunikasi dan panggilan kedua ini membuat semua orang disana terdiam karena memang mereka juga mendengarkan radio komunikasi yang terselip di ikat pinggang mereka.


“Tim dua apakah monitor, tolong respon.” Ucap Petugas kepolisian itu berusaha memanggil kembali tim dua melalui radio komunikasi namun tetap tidak ada jawaban dari tim dua.


“Ada yang terjadi dengan mereka, sebaiknya kita kembali dan menyusul mereka saja.” Ucap Azman yang langsung berdiri.


“Semuanya dengarkan, misi kita berubah, misi kita saat ini adalah kembali ke ruangan tadi dan masuk ke lorong yang ada di sebelah kiri, kita akan menyusul tim dua, sekarang bersiaplah dan ingat kita akan kembali menggunakan kembali tali karmantel sebagai penyambung kita.” Ucap Pak Danu.


“Siap Komandan.” Ucap mereka semua kompak yang langsung berdiri dan berusaha mematikan api unggun tersebut lalu mengenakan perlengkapan mereka.


Azman pun mengambil tali karmantel dan mengaitkannya ke carabinernya, dia pun kemudian memberikan tali karmantel tersebut ke Pak Danu agar Pak Danu bisa mengaitkannya ke carabinernya.


Sepuluh menit berlalu dan kini Azman kembali memimpin pasukan itu, mereka pun berjalan kembali menuju lorong yang sebelumnya mereka lewati namun kini perjalanan itu bisa lebih cepat.


“Pak Azman, apakah mereka hilang atau tersesat.” Ucap Pak Danu.


“Saya tidak berani menebaknya Pak, coba anda tetap hubungi mereka, siapa tahu cuma karena sinyal saja yang terhalang.” Ucap Azman.


“Tetap hubungi mereka dan kalian semua tetap berdzikir terutama kau yang paling belakang.” Ucap Pak Danu sedikit berteriak agar semua anak buahnya bisa mendengar suaranya dan terdengar sangat bergema di lorong gua itu.


“Tim dua monitor, jika monitor segera respon.” terdengar suara petugas kepolisian dari radio komunikasi.


“Gua ini terlalu banyak menyimpan misteri, semoga mereka baik - baik saja.” Ucap Pak Danu.


“Aamiin Ya Rabbal Alamin.” Ucap Azman dan yang lainnya.

__ADS_1


Azman terus melangkah dan tidak sama sekali menoleh ke belakang, dia tetap fokus mengawasi arah depannya karena tidak ingin sampai ada apapun yang terjadi di luar pengawasannya sementara itu yang lainnya terus berdzikir sambil menjaga jarak dengan yang lainnya karena mereka hanya bisa terpisah dua meter saja satu dan yang lainnya..


__ADS_2