
“Pak Azman, memang benar saya hendak menjual perahu saya, karena perahu itu sebelumnya digunakan oleh anak saya namun anak saya kini sudah tidak menjadi nelayan dan lebih memilih untuk bekerja di kota sehingga perahu tersebut sudah tidak ada yang memakainya, sebulan yang lalu anak saya menghubungi saya dan mengatakan ingin membeli rumah di kota, jadi dia meminta agar perahunya di jual saja katanya.” Ucap Pak Aja.
“Jadi demikian, lalu berapa anda ingin menjual perahu itu Pak.” Ucap Azman.
“Niatan saya hanya delapan puluh juta saja Pak, karena sudah lengkap dengan mesin dan perlengkapan nelayannya Pak, Mang Edi tahu dengan jelas bagaimana kondisi perahu saya itu Pak.” Ucap Pak Aja.
“Lalu apakah anda masih memiliki perahu lain untuk anda gunakan?.” Tanya Azman.
“Kebetulan saya masih memiliki satu perahu lagi untuk saya sendiri melaut, dan Pak Azman apakah anda mau jadi nelayan sehingga hendak membeli perahu anak saya itu.” Ucap Pak Aja sambil tersenyum hangat ke Azman.
“Tidak Pak, saya hendak membeli perahu anak anda untuk saya hadiahkan ke Pak Edi yang perahunya hilang akibat badai kemarin Pak.” Ucap Azman.
“Anda sungguh berbudi jika demikian maka saya akan menjualnya dengan enam puluh lima juta rupiah saja, itu merupakan harga pembelian dari perahu itu dahulu dan saya rasa harga itu sudah tepat toh yang akan menggunakannya adalah paman saya sendiri.” Ucap Pak Aja.
“Baik Pak, jika boleh saya minta nomor rekening bapak saja biar saya transferkan uangnya.” Ucap Azman sambil mengeluarkan telepon selulernya.
Pak Aja kemudian berdiri dan tidak lama kemudian memberikan secarik kertas ke Azman yang merupakan nomor rekening dari pada anaknya. Azman pun langsung mentransferkan uangnya ke rekening tersebut namun bukan enam puluh lima juta sesuai permintaan Pak Aja melainkan senilai delapan puluh juta rupiah sesuai penawaran awal dari Pak Aja.
“Pak Aja saya sudah transferkan senilai delapan puluh juta rupiah ke rekening anak anda ini, sengaja saya transferkan senilai itu agar anak anda bisa memiliki rumah yang diinginkan dan Pak Edi kini anda bisa menjadi nelayan lagi sehingga bisa memberikan pendapatan lebih untuk keluarga anda.” Ucap Azman yang membuat Pak Edi dan Pak Aja menatapnya.
“Pak Azman, terima kasih, anda sungguh baik dan kebaikan anda ini tidak akan pernah saya lupakan.” Ucap Pak Edi yang nampak jika matanya mulai basah.
“Pak Azman saya juga mengucapkan terima kasih, semoga anda selalu dalam perlindungan yang maha kuasa.” Ucap Pak Aja.
__ADS_1
“Jika demikian semuanya sudah selesai ya, saya permisi dahulu ya Bapak - Bapak.” Ucap Azman sambil berdiri demikian juga dengan Pak Edi dan Pak Aja selaku tuan rumah.
Azman pun langsung meninggalkan rumah itu dan dia menolak saat Pak Edi hendak mengantarnya pulang karena memang dia ingin lebih santai dan menikmati perjalanan pulangnya yang melewati pantai itu.
“Setidaknya di pantai ini aku bisa lebih banyak waktu dengan istriku dan alhamdulilahnya istriku bisa berjumpa dengan gurunya, meski aku bingung itu guru apa?.” Ucap Azman dalam hatinya sambil terus melangkah menyusuri pantai.
“Daim apakah kau mendengarkanku.” Ucap Azman dalam hatinya berkomunikasi dengan Daim.
“Azman ada apa kau memanggilku.” Terdengar suara Daim dan hanya terdengar oleh Azman seorang.
“Daim, siapa Celtiq?.” Tanya Azman.
“Dia guru dari istrimu dan dia pula yang mengajarkan semua kemampuan yang di miliki oleh istrimu itu sehingga menjadikan istriku adalah Jin Wanita terkuat di dunia Jin, namun sudah beberapa tahun ini dia menghilang dan tidak kembali ke dunia Jin, ada besar kemungkinan jika dia berada di bumi ini.” Jawab Daim.
“Itu bagus, karena dengan begitu akan lebih mudah untuk Azizah menyesuaikan dirinya dan mungkin saja jika dia tidak akan kehilangan kekuatannya saat mengandung anak mu nantinya.” Ucap Daim.
“Ya semoga saja.” Ucap Azman dan dia terus melangkah menyusuri pantai.
Suasana pantai itu kini sudah sangat sepi dan tidak terlihat satu pun pengunjung di pantai itu, karena para penduduk yang sebelumnya masih membenarkan atap warung - warung yang rusak kini sudah tidak ada disana.
Azman pun langsung kembali ke villa yang disewanya dan sesampainya di sana dia memilih untuk melaksanakan shalat yang sempat dia lewatkan lalu dia pun memilih untuk beristirahat karena dia berencana untuk besok siang melanjutkan perjalanannya.
Waktu terus berjalan dan tepat jam empat pagi Azman pun terbangun, dia terbangun bukan karena alarm melainkan karena di bangunkan oleh Azizah yang sudah kembali.
__ADS_1
“Istriku ternyata kau sudah kembali, dimana guru mu?.” Ucap Azman sambil berusaha untuk duduk di tempat tidurnya itu.
“Suamiku, guru sedang kembali ke dunia kami, dan kini aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan dunia ini.” Ucap Azizah.
“Itu bagus, jika demikian sebaiknya kita bersiap untuk shalat shubuh saja, dan selesai shalat baru lah kau beristirahat ya, aku nanti masih ada pertemuan dengan Pak Deni soalnya.” Ucap Azman.
“Iya sayangku.” Ucap Azizah yang langsung melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan demikian juga dengan Azman.
Azman dan Azizah setelah mengambil wudhu langsung melaksanakan shalat sunnah sambil menunggu Adzan Shubuh dan tidak lama kemudian terdengar oleh mereka berdua Adzan Shubuh berkumandang.
Azman pun kembali menjadi imam dan Azizah sebagai makmumnya, namun setelah melaksanakan ibadah shalat shubuh itu mereka tidak melanjutkan dengan dzikir bersama karena Azman melihat jika istrinya itu nampak sangat lelah sehingga dia meminta istrinya untuk beristirahat.
Azman kemudian melangkah ke dapur dan dia pun membuat secangkir kopi untuknya lalu melangkah ke teras villa dan duduk di sana.
“Entah kenapa sejak aku berada di gua kematian aku merasa ada tempat yang harus aku kunjungi dan sampai sekarang aku masih merasakan hal sama, tapi dimana tempat itu aku sendiri tidak mengetahuinya.” Ucap Azman berbicara sendirian sambil memandangi lautan.
Pagi itu cuaca sangat cerah dan Azman dapat melihat indahnya lautan di pagi itu, burung - burung juga nampak mulai terbang dan berbunyi dengan riangnya.
Secangkir kopi itu pun habis dan entah sudah berapa batang rokok di hisap oleh Azman, kini sudah jam tujuh pagi dan nampak jika Pak Deni berjalan ke arahnya.
“Selamat Pagi Pak Azman.” Ucap Pak Deni menyapa Azman.
“Pagi juga Pak, silahkan duduk Pak.” Ucap Azman mempersilahkan Pak Deni untuk duduk di depannya.
__ADS_1
“Terima kasih Pak.” Ucap Pak Deni sambil duduk di kursi teras itu tepat di depan Azman.