
Azman sendiri masih berusaha untuk berjalan di tengah perkebunan warga itu dan dia juga merasakan jika kini banyak aura makhluk gaib, namun dia masih belum bisa melihat satupun makhluk gaib, bahkan dia kini hanya bisa melihat paling jauh lima meter saja ke arah yang ada di depannya itu.
“Azman jika kau lelah maka kembalilah.” Terdengar suara yang sangat berat namun Azman tidak dapat menemukan sumber suara tersebut, Azman pun menghiraukannya dan terus berusaha berjalan di tengah hujan badai tersebut.
Selangkah demi selangkah Azman lalui namun tiba - tiba tanah bergetar cukup kencang karena tanah itu sangat licin Azman pun mulai susah untuk berjalan sehingga dia memilih untuk berhenti melangkah dan hanya berjongkok sambil bertumpu pada salah satu lututnya persis seperti orang yang akan mulai berlari.
“Aku tidak boleh menyerah, hutan itu sudah sangat dekat seharusnya dan aku tidak boleh gagal, banyak orang yang menyimpan harapannya kepada ku.” Ucap Azman berbicara sendiri dalam hatinya sambil masih berusaha menstabilkan badannya karena guncangan itu semakin besar.
Gempa bumi itu bukan hanya terasa oleh Azman namun oleh Azizah dan semua penduduk desa bahkan sampai terasa sampai ke lokasi Pak Deni yang berjarak kurang lebih sepuluh kilometer dari lokasi Azman.
“Ini benar - benar tantangan, seandainya aku di perbolehkan ikut oleh suamiku, pasti aku tidak akan kebingungan seperti ini dengan nasib suamiku.” Ucap Azizah berbicara sendiri dan dia benar - benar tidak tahu apa yang terjadi dengan Azman.
“Azizah, ada gempa, ayo keluar rumah.” Terdengar suara Bu Neneng sambil mengetuk pintu kamar Azizah.
Azizah pun langsung bergegas membuka pintu karena memang pintu itu dia kunci dan dia pun kemudian bersama - sama dengan Bu Neneng berjalan ke arah teras rumah, disana juga nampak Pak Sudrajat yang sudah duduk di teras rumah itu.
__ADS_1
“Kita disini saja dahulu, sampai kita yakin tidak ada lagi gempa bumi.” Ucap Pak Sudrajat sambil meminta Azizah dan Bu Neneng duduk di dekatnya.
Gempa bumi itu tidak berlangsung lama hanya beberapa menit saja, namun dampak kerusakan dari gempa bumi tersebut ternyata cukup parah, bagian belakang rumah Pak Sudrajat yang merupakan dapur kini sudah rubuh, gempa itu sendiri tidak sekali namun di rasakan berkali - kali oleh mereka semua.
Dua Jam berlalu dan kini Pak Sudrajat sudah yakin jika tidak ada lagi gempa bumi susulan sehingga dia pun mulai berdiri.
“Bu, ayo kita bereskan rumah kita ini, dan Azizah kau beristirahatlah.” Ucap Pak Sudrajat.
“Saya akan membantu ibu, sudah Bapak tidak perlu khawatir saya dan suami saya sudah biasa kok Pak dengan hal seperti ini.” Ucap Azizah sambil melihat ke arah hutan namun pandangannya masih terhalang oleh kabut hitam.
“Ya sudah ayo kita bereskan rumah kita ini.” Ucap Bu Neneng, dan mereka bertiga pun langsung masuk kedalam rumah, mereka pun nampak cukup terkejut dengan apa yang terjadi, karena rumah mereka itu nampak sangat berantakan, semua barang yang tadinya ada di rak dan lemari kini ada di lantai akibat guncangan gempa berulang kali yang sangat kencang itu.
Selain di rumah Pak Sudrajat, rumah - rumah penduduk desa juga hampir semuanya mengalami kerusakan namun alhamdulillah tidak ada satu pun korban jiwa hanya kerusakan di bangunan rumah saja yang mereka alami.
Hujan masih turun namun sudah tidak sederas tadi dan juga sudah tidak ada lagi angin kencangnya, sehingga para penduduk desa pun memilih untuk membereskan barang - barang mereka.
__ADS_1
Musibah bencana itu pun bukan hanya terjadi di desa itu melainkan di desa desa lainnya sampai lebih dari sepuluh desa yang menjadi korban dari bencana gempa bumi tersebut.
Sementara itu Azman sudah sampai di dalam hutan dan dia kini sedang duduk di sebuah batang pohon yang tumbang, dia nampak sangat kelelahan dan untungnya disana sudah tidak lagi hujan sehingga Azman pun memilih untuk beristirahat sambil menghisap sebatang rokoknya.
“Hujan badai di tambah gempa bumi tadi pasti membawa kerusakan yang cukup parah untuk penduduk desa, semoga saja tidak ada korban jiwa, aku tidak tahu apakah ini termasuk ulah kalian atau memang alam.” Ucap Azman yang berbicara sendiri dan suaranya cukup kencang, nampak juga kemarahan dalam suaranya itu.
Azman kini mengetahui jika ada banyak roh leluhur di hutan itu, dan dia tidak merasakan atau melihat makhluk gaib lainnya.
Sementara itu Azizah masih terus membantu Pak Sudrajat dan Bu Neneng membereskan rumah mereka itu.
“Selesai ini Bapak kan keliling desa, Bapak takut ada banyak warga yang menjadi korban dari gempa bumi ini juga, dan Bapak akan menjadikan Balai desa untuk penampungan warga yang terdampak.” Ucap Pak Sudrajat sambil terus membereskan dapur rumahnya.
“Jika balai desa tidak cukup untuk jadi penampungan warga maka mereka suruh kesini saja, kita jadikan rumah kita ini sebagai penampungan warga yang kehilangan rumah mereka, jangan sampai mereka tidur di dalam rumah yang sudah rusak parah Pak.” Ucap Bu Neneng.
Pak Sudrajat dan Bu Neneng hanya memiliki satu orang anak perempuan namun anak perempuannya itu sudah menikah dan tinggal bersama dengan suaminya di Kota Bandung, sehingga mereka hanya tinggal berdua di rumah itu dan itu pula yang menjadikan mereka menyayangi Azizah.
__ADS_1
“Iya Bu, nanti Bapak lihat bagaimana situasi para penduduk desa, setidaknya Balai desa sendiri cukup untuk menampung seratus orang lebih, untung Bapak sudah merubah balai desa menjadi lebih luas namun jika kurang juga kan bisa menggunakan tenda jika memang sudah tidak cukup baru kita jadikan rumah kita ini menjadi lokasi penampungan, dan rencana Bapak sebenarnya kita jadikan rumah kita ini sebagai lokasi dapur umum saja Bu, meski dapur kita ini sudah hancur tapi peralatan masak masih utuh, ibu bisa memasak di teras saja untuk para penduduk desa, nanti juga akan banyak yang membantu Ibu.” Ucap Pak Sudrajat sambil mengangkat tabung Gas dari reruntuhan dapurnya sedangkan Bu Neneng dan Azizah hanya mengambil barang - barang yang ringan saja meskipun Azizah mampu untuk mengangkat barang berat namun dia tidak ingin memperlihatkan kepada siapapun selain suaminya untuk kekuatannya yang tidak masuk di akal tersebut.
“Iya Pak, ibu ikut baiknya Bapak saja. Untung semua bahan makanan masih banyak di kulkas dan untung juga kulkasnya tidak kita simpan di dapur ini.” Ucap Bu Neneng dan memang di rumah Pak Sudrajat itu dapur berbeda bangunan dengan bangunan utama rumah dan hanya menempel di bagian belakang rumah Pak Sudrajat.