
Mendung semakin tebal, menutupi langit dengan warna kelabu dan angin pun berhembus kencang. Membuat dedaunan bergelomang, pepohonan bergoyang, dan membawakan kabut putih kelabu yang menutupi jalanan dengan pekat.
Dingin menyelimuti, bersama senja yang semakin mendekat bersama gelap. Meski berada di dekat hutan, suara-suara binatang tidak terdengar. Hanya ada irama dedaunan yang tertiup angin dan kegaduhan di lembah yang mengisi tempat tersebut.
Pada hari yang semakin sore, Odo masih melanjutkan pelatihan terhadap Ferytan. Meski hari sudah gelap karena awan mendung dan pandangan menjadi sangat terbatas, Putra Tunggal Keluarga Luke sama sekali tidak berniat untuk menghentikan pelatihan. Meskipun dirinya tahu bahwa hujan badai akan datang sebentar lagi.
Berdiri di pinggir tebing dari jalan berbatu yang tidak terlalu lebar, pemuda rambut hitam tersebut melihat ke bawah jurang dengan panah yang telah siap dilepas dari busur. Sesekali memberikan bantuan ketika Ferytan sedang terdesak melawan para monster yang digunakan sebagai objek latihan.
Empat jam tanpa henti, itulah waktu yang telah dilalui oleh pria tua tersebut. Terus bertarung pada lembah di bawah jurang, mengayunkan pedang dan berhadapan dengan kematian secara terus menerus. Membantai lebih dari seratus ekor Goblin, belasan Ogre, dan beberapa ekor Gorteah yang sempat terpancing karena aura naga yang dipancarkan oleh Odo Luke.
Waktu yang telah dilalui dan jumlah tersebut memang sangat tidak wajar untuk dilakukan oleh seorang pria tua. Namun, berkat Potion yang sesekali Putra Tunggal Keluarga Luke berikan dan jeda dalam pelatihan setiap 30 ekor selesai dibantai, Ferytan dengan pasti bisa bertahan di ujung kemampuannya dan terus berkembang pada setiap tingkat kesulitan yang diberikan.
Dilihat dari atas tebing, lembah di bawah sana tampak penuh dengan mayat monster yang bergelimpangan. Darah dan daging berceceran, dipenuhi warna merah dan aroma amis para monster yang baru saja dibantai.
Layaknya seorang pejuang berdarah dingin yang sudah mati rasa, Ferytan pun terus mengayunkan pedang dan membantai para monster. Pada satu jam pertama, pria tua tersebut memang sempat termakan ketakutan dan tidak bisa mengendalikan ritme pelatihan dengan baik.
Menyerang tanpa mengendalikan pernapasan, membuatnya cepat lelah dan pada akhirnya terdesak sampai harus dibantu berkali-kali oleh Odo dengan panah. Bahkan pada beberapa momen yang dilalui selama latihan, Ferytan hampir kehilangan nyawa saat menghadapi beberapa Ogre sekaligus. Sampai-sampai latihan dihentikan karena pria tua tersebut mendapatkan serangan yang cukup fatal dari Ogre.
Namun setelah mendapatkan beberapa saran dari Putra Tunggal Keluarga Luke dan melanjutkan istirahat setelah dipulihkan dengan Potion, ritme serangan pria tua itu pun sedikit berubah. Saat waktu latihan melewati dua jam setelah dimulai, serangannya menjadi teratur dan napas tidak lagi terengah-engah.
Jumlah tidak lagi menjadi masalah untuknya. Cara bertarung yang digunakan Ferytan sendiri sudah bukan lagi satu melawan banyak monster sekaligus, namun satu lawan satu secara terus menerus. Dengan kata lain, pria tua itu akan fokus menghabisi satu monster terlebih dahulu dalam waktu yang sangat singkat, lalu langsung beralih ke monster selanjutnya dalam jeda waktu pendek.
Dengan pola bertarung seperti itu, Ferytan bisa dengan mudah melawan Goblin dalam jumlah 20 ekor sekaligus. Namun saat dihadapkan dengan beberapa Ogre lagi, hal tersebut kurang efektif karena lawan yang dihadapi secara fisik jauh lebih kuat darinya. Dengan kala lain, ia tidak bisa menang dalam waktu singkat meski mengubah persepsi satu lawan satu.
Sebab itulah, pada saat waktu latihan memasuki tiga jam, Odo kembali turun dan memberikan saran. Paham bahwa pria tua tersebut mulai merasakan pertarungan hidup dan mati dengan tubuhnya sendiri, Putra Tunggal Keluarga Luke memberikan saran untuk mulai menggunakan teknik yang sebelumnya pernah ditunjukkan di awal pelatihan.
Mengajari pria tua itu mengatur pernapasan dengan baik, lalu mengelola otot secara maksimal dan menjaga konsentrasi penuh selama pertarungan. Pada tingkat akhir, sebuah fase sebelum masuk ke dalam kondisi rileks ekstrem pun diajarkan.
Cara untuk membuat seluruh tubuh tenang, meski otak memahami ancaman membunuh yang jelas dan memberikan peringatan ke seluruh anggota tubuh. Memaksimalkan motorik tanpa harus terhambat oleh batasan-batasan yang telah tertanam pada sugesti diri sendiri, lalu memaksa diri sendiri melawan insting untuk melindungi tubuh.
Dalam menghadapi sesuatu yang menakutkan, otak secara otomatis akan memberikan dua reaksi utama. Melawan atau melarikan diri ⸻ Dalam dua pilihan tersebut, terkadang tubuh malah tidak bisa mengambil tindakan secara maksimal.
Saat seseorang sedang ketakutan, terkadang kaki seakan sangat berat dan mengakar ke tanah. Tidak bisa digerakkan sama sekali dan otot tersa kaku. Di sisi lain, ada juga reaksi dimana tubuh malah bisa digerakkan secara maksimal untuk kabur dari hal yang membuat seseorang ketakutan.
Secara psikologis, kondisi dimana tubuh tidak bisa digerakkan dan kaki seakan mengakar ke tanah itu terjadi karena otak memberikan perintah untuk melawan. Menghadapi sesuatu yang memberikan ancaman, lalu mengatasinya dengan potensi kekuatan yang dimiliki orang tersebut. Namun, tubuh tidak bisa menerima hal tersebut dengan baik karena rasa takut yang menguasai. Hal itu malah membuat otot menjadi kaku tanpa bisa memproses perintah dari otak dengan baik.
“Tetap tenang dan amati, lalu biasakan untuk berpikir cepat seakan-akan itu adalah bagian dari dirimu sendiri.”
Sesuatu yang Odo sampaikan kepada Ferytan memang sederhana. Namun, dalam praktik hal tersebut sangatlah sulit untuk diterapkan. Saat tahu bisa saja terbunuh karena ayunan gada kayu dari seekor Ogre, secara insting Ferytan akan merasa takut dan menghindar dalam rasa panik. Saat akan ditusuk tombak kayu oleh Goblin, rasa terancam dengan sendirinya menguasai dan membuat pria tua tersebut bergerak mengikuti refleks.
Karena itulah, latihan untuk mengendalikan insting dan refleks sangatlah sulit. Sebab secara otomatis tubuh akan bereaksi saat terancam bahaya, lalu mengambil tindakan untuk mencegah tubuh terluka.
Bagi seorang pengguna pedang yang mengandalkan refleks alami dalam pertarungan, itu memang adalah sebuah bakat yang sangat menguntungkan. Namun, pada saat yang sama hal tersebut adalah kekurangan.
Gerakan yang diambil oleh refleks terkadang sangat tidak efektif, sebab perintah sebagian besar berasal dari sumsum tulang belakang. Membuat otak yang sebenarnya memiliki opsi lebih baik tidak bisa memberikan perintah kepada tubuh.
Dalam latihan melawan instingnya sendiri, bahkan sampai empat jam berlalu Ferytan masih belum bisa melakukan hal tersebut dengan baik. Stagnan pada tingkat kesulitan melawan sekawanan Ogre mutasi Tahap Awal, tetap kewalahan dan sesekali terkena serangan meski tidak fatal seperti sebelumnya.
Perkembangan pria tua itu memang terbilang sangat cepat untuk usianya yang sudah tidak muda. Namun, tetap saja itu jauh lebih lambat dari perkiraan Odo terhadap waktu yang ditentukan di awal. Menghela napas dan menarik busur dari atas tebing, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung melancarkan dua anak panah sekaligus.
__ADS_1
Itu melesat dengan sangat akurat. Layaknya sebuah sihir, dua anak panah langsung menancap ke kening dua Ogre yang membuat Ferytan kewalahan. Menembus kulit dan tengkorak mereka yang keras, lalu tumbang dalam satu serangan tersebut.
“Kita istirahat lagi!” Odo melesat turun ke lembah, lalu langsung meloncat ke sebelah Ferytan. Sembari memasukan busuk dan panah ke dimensi, pemuda rambut hitam tersebut kembali berkata, “Kau dari tadi belum berkembang lagi loh. Jujur mengajarkan sesuatu yang hanya bisa dirasakan memang sulit, berbeda dengan teknik yang bisa ditiru dengan hanya melihat. Namun, bukan berarti kau tidak paham sensasi ayunan pedangnya, bukan?”
Sang pria tua membaringkan tubuh di atas tanah dengan napas terengah-engah kacau. Benar-benar kelelahan, sampai pada batasnya meski selama pelatihan telah beberapa kali meminum Potion yang diberikan oleh Odo.
Duduk selonjor dengan wajah sedikit pucat dan keringat bercucuran, pria tua itu menatap datar dan dengan nada kesal mengeluh, “Anda sangat tidak manusiawi, menyuruh orang tua seperti saya berlatih sampai seperti ini. Lagi pula, ini salah Anda sendiri karena menetapkan batas duel yang sangat dekat!”
“Masih ada waktu sampai besok lusa, kalau aku menambah porsi latihannya kita bisa tepat waktu.” Odo berjalan ke hadapan pria tua itu. Menatap rendah dan memasang mimik wajah sedikit meledek, pemuda rambut hitam tersebut menyindir, “Hanya ini tekad yang bisa kau tunjukan? Padahal sebelumnya sempat berkata sombong dan bilang ingin berubah …..”
“Saya tidak pernah bilang seperti itu! Jangan mengada-ada!” Ferytan memalingkan pandangan. Pria tua bermata hijau zamrud tersebut sedikit memberikan lirikan tajam, lalu dengan ketus menyampaikan, “Lagi pula, sebenarnya apa-apaan teknik yang Tuan Odo tunjukan tadi? Anda tidak mencampurnya dengan sihir, bukan? Atau malah sebuah Battle Art? Asal Tuan Odo tahu, saya tidak terlalu pandai dalam manipulasi Mana.”
“Itu bukan sihir atau Battle Art.” Odo menghela napas ringan. Duduk di sebelah pria tua tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke menatap ke arah mayat-mayat monster yang bergelimpangan dan kembali berkata, “Sebenarnya, teknik itu juga bukan sepenuhnya berasal dari Keluarga Luke.”
“Huh?” Ferytan memperlihatkan mimik wajah sedikit kesal dan heran. Ia menghela napas panjang dan mengatur pernapasan, lalu sembari mengerutkan kening berkata, “Setelah kita sejauh ini, Anda tidak ingin bilang kalau metode latihannya salah, bukan? Saya sudah hampir mati lima kali loh!”
“Enggak, enggak. Latihannya sudah benar, kok. Hanya saja ini lebih sulit dari latihan Tekik Pedang Keluarga Luke biasa.” Odo sedikit memasang senyum tipis, lalu sembari menunjuk lawan bicara di sebelah menyampaikan, “Aku sedikit memodifikasi teknik itu, lalu dihubungkan dengan metode rileks ekstrem yang aku kembangkan sendiri. Yah, jujur itu mirip dengan salah satu Teknik Pedang Utama di Keluarga Luke, namun lebih lemah.”
“Tunggu sebentar ….” Ferytan menatap cemas. Merasa pernah mendengar beberapa rumor tentang teknik Pedang Utama dari Keluarga Luke, pria tua tersebut dengan sedikit gemetar memastikan, “Kalau tidak salah, bukannya teknik itu sangat rahasia? Dari kabar yang pernah saya dengar saat masih remaja remaja, kalau tidak salah Tuan Dart pernah membelah dimensi hanya dengan tebasan pedang. Kalau tidak salah juga, itu beliau lakukan saat melawan Invokasi Iblis yang muncul di Kerajaan Ungea. Memotong iblis sekaligus kastel dalam satu tebasan ...”
“Ah, metode yang aku gunakan tidak sekuat tebasan Dunia Awal kok.” Odo sedikit mendongak. Mengingat-ingat kembali teknik yang pernah dilatih oleh Dart selama di Kediaman Luke, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Metode milikku hampir mirip untuk mencapai Teknik Reinkarnasi Karma.”
“A-Apa lagi itu? Namanya sangat hebat,” ujar Ferytan cemas. Samar-samar merasa tidak ingin mendengar rahasia teknik-teknik pedang dari Keluarga Luke.
“Cukup sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Namun ….” Odo menoleh ke arah lawan bicara, lalu dengan nada sedikit datar menyampaikan, “Itu adalah teknik seratus tebasan dalam waktu sepuluh detik.”
“Itu benar. Lalu, kelebihan teknik ini juga bisa digunakan secara beruntun dan dalam kondisi berlari.”
Mendengar perkataan tersebut, Ferytan menelan ludah dengan berat. Untuk sesaat pria tua tersebut membayangkan seorang monster dengan sepuluh tangan sedang berlari, lalu mengayunkan pedang pada setiap tangannya.
“A-Apa Tuan Odo juga bisa menggunakan teknik tersebut?” tanya Ferytan memastikan.
“Tentu saja ….” Odo tertawa kecil. Ikut berdiri dan meletakkan kedua tangan ke pinggang, pemuda rambut hitam tersebut dengan nada datar menjawab, “Aku tidak bisa menggunakannya.”
“Eh?”
“Kau tahu, Pak Ferytan. Usia ku bahkan belum genap satu dekade, masih anak-anak!” Odo sedikit memasang wajah muram. Sembari memalingkan pandangan dan berhenti meletakan tangan ke pinggang, Putra Tunggal Keluarga Luke berkata, “Baik ayah ataupun bunda, mereka belum mengizinkan ku belajar Teknik Pedang Utama. Bahkan, untuk teknik pedang biasa aku hanya berlatih secara otodidak dari melihat ayah latihan dan buku-buku tentang teknik pedang saja.”
“Apa Tuan Dart tidak pernah melatih Anda?”
“Melatih diriku?” Odo tersenyum kecut. Dengan niat menyindir orang yang tidak ada di tempat, pemuda rambut hitam itu berkata, “Orang itu sangat canggung, bahkan kepada aku yang merupakan putranya sendiri. Meski terkadang temperamental dan bertindak seenaknya, entah mengapa kalau dengan keluarga dia seperti itu. Karena itulah dia selalu menghindar saat aku meminta dilatih.”
“Menghindar?”
“Ya, menghindar. Tidak menolak atau bahkan memberitahu kapan aku bisa mendapat pelatihan darinya, namun ia benar-benar menghindar.”
Ferytan terdiam, tidak bisa berkomentar tentang Keluarga Marquess. Dulu saat dirinya masih kecil, Keluarga Baron Swirea juga memiliki pola asuh tersendiri terhadap calon pewaris keluarga. Tidak ingin mencampuri cara keluarga lain mengasuh anak, pria tua tersebut hanya bisa memalingkan pandangan.
“Ngomong-omong, Nyonya Penyihir Cahaya kalau bersama keluarga seperti apa? Saya memang tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, namun dari rumor ia sangat menawan.”
__ADS_1
Mendengar pria tua tersebut ingin tahu tentang ibunya, Odo seketika memasang mimik wajah datar dan berkata, “Apa-apaan itu? Pak tua, kau naksir dengan bunda? Kau ingin dipenggal Dart Luke, ya?”
“Kok arah pembicaraannya malah ke situ, ya?” Ferytan tersenyum kecut. Menghela napas dan sedikit menggaruk kepala, pria tua tersebut kembali berkata, “Saya hanya ingin mengalihkan pembicaraan saja. Rasanya … Anda kalau bicara tentang Tuan Dart tidak nyaman.”
“Kalau soal Ayahku tidak nyaman, kau pikir aku akan nyaman saat bicara soal bunda?”
Ferytan kembali terdiam, merasa telah menginjak ranjau lainnya dalam pembicaraan. Dengan gemetar, ia memalingkan pandangan dalam rasa sedikit bersalah. “Pa-Padahal diriku hanya ingin membuat pembicaraan yang ringan, kenapa malah berat seperti ini?” benaknya dengan canggung.
“Ka-Kalau Anda tidak ingin membicarakannya, itu tidak masalah. Kita bahas yang lain saja selama istirahat⸻”
“Bunda …. Mavis Luke sangatlah protektif terhadap anak, lalu posesif terhadap suaminya.”
Ferytan hanya terdiam mendengar penjelasan singkat tersebut. Meski begitu, ia mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang sang Penyihir Cahaya. Posesif berarti cepat cemburu, lalu protektif juga dapat diartikan terlalu mengekang sang anak. Kedua sifat tersebut memang tidak baik untuk menurut beberapa orang.
Namun, bagi Ferytan keduanya adalah sebuah bentuk cinta yang patut untuk dihargai. Dijaga dengan baik selama masih bisa diraih dengan tangan dan belum menghilang.
“Berarti Anda sangat dicintai oleh ibu Anda, ya.”
Perkataan yang keluar dari mulut pria tua tersebut sedikit membuat Odo terkejut. Untuk sesaat, ia sekilas merasa rindu dengan rumah dan memasang senyum sedih. “Sudahlah, kita cukupi istirahatnya. Mari lanjut,” ujar pemuda itu sembari menghadap ke tebing.
“Tunggu sebentar! Saya belum cukup istirahat loh!”
“Tenang saja, seharusnya pemulihan stamina juga bertambah saat kau mengonsumsi Potion milikku. Itu juga berfungsi seperti obat kuat dan penjaga kualitas stamina.”
Tanpa basa-basi lagi, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung berlari menaki lereng dan naik ke tebing. Dari atas sana, pemuda itu mengeluarkan kembali busur dan panah. Menarik napsa dalam-dalam, lalu bersiap untuk memancarkan aura naga.
Untuk Ferytan di berada bawah, pria tua tersebut hanya bisa memasang mimik wajah datar dan bergumam, “Hebat amat ramuan itu. Entah mengapa saya merasa bersalah karena meminumnya berkali-kali.”
“Aku mulai, ya?” Menggunakan Radd Sendangi, Odo mengirimkan suara ke kepala Ferytan.
“Eh?! Tunggu! Saya belum siap!!”
Meski mendengar suara pria tua itu dengan jelas, Odo tetap langsung memulai kembali latihan. Segera memancarkan aura naga ke penjuru lembah, Putra Tunggal Keluarga Luke memancing beberapa monster lainnya dalam jumlah yang tidak lebih dari 30 ekor.
Melanjutkan tingkat kesulitan yang belum diselesaikan oleh Ferytan, Odo memulainya lagi dari melawan 20 ekor Goblin sekaligus dan dilanjutkan secara bertahap sampai berapa ekor Ogre pada tingkat mutasi Tahap Awal.
Di tengah pelatihan tersebut, hujan deras pun turun dan dengan cepat menjadi badai angin. Secara alami meningkatkan kesulitan latihan Ferytan, terutama dengan tubuhnya yang sudah tua dan tidak terlalu kuat menahan dinginnya hujan.
Meski begitu, Odo Luke sama sekali tidak menghentikan latihan. Tetap memberikan arahan dari atas, lalu membantu Ferytan jika keadaan berubah menjadi sangat berbahaya bagi pria tua tersebut.
ↈↈↈ
Catatan Kecil :
Fakta 036: Penjelasan dimensi. Untuk makhluk dimensi satu, mereka tidak akan bisa membayangkan apa yang sebenarnya ada di dimensi dua. Untuk dimensi tingkat dua, mereka juga tidak bisa tahu apa yang sebenarnya ada di dimensi tingkat tiga.
Itu berlaku seterusnya. Namun, mereka bisa tahu sebagian hal yang ada di dimensi di atasnya.
C/ Jika sebuah objek dimensi tiga diletakan di permukaan dimensi tingkat dua (contohnya kertas), maka yang akan tampak di dimensi tingkat dua hanya permukaan objek tersebut. Dengan kata lain, hanya bagian yang menyentuh kertas atau sesuatu yang dihasilkan karena objek tersebut seperti bayangan dan massa.
__ADS_1