Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[96] Angelus I – Red Arrival (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


Hari semakin gelap, mentari sepenuhnya tenggelam di ujung cakrawala. Seiring dekapan malam, kabut perlahan menghilang dari Kota Pegunungan. Pada saat bersamaan lampu-lampu jalan pun menyala, menerangi berbagai sudut kota yang terletak di Pegunungan Perbatasan tersebut.


 


 


Sunyi dengan pasti menjadi penguasa malam, lalu-lalang yang ada diisi oleh orang-orang yang baru saja pulang dari tempat kerja mereka. Ada pula beberapa penjaga dan prajurit, namun mereka hanyalah segelintir.


 


 


Dari jendela pada setiap bangunan di pinggir jalan, tampak nyala lentera kemerahan. Cerobong asap mengepul pada beberapa bangunan, lalu di depan toko-toko masih dipasang lentera sebagai tanda bahwa masih buka.


 


 


Di bawah langit malam tanpa awan yang menghalau, Putra Tunggal Keluarga Luke melangkahkan kaki menaiki anak tangga di tengah kota. Di antara kesunyian, menginjak susunan batu berlumut yang lembap dan menghirup udara segar pegunungan.


 


 


Pemuda rambut hitam tersebut tersenyum tipis dengan alasan tak jelas. Dalam langkah kakinya, itu perlahan berubah menjadi tawa tanpa mengeluarkan suara.


 


 


Terhenti di tengah anak tangga. Seakan kehilangan kendali atas dirinya sendiri, ia terbahak-bahak tanpa sedikitpun mengeluarkan suara. Sampai membungkuk, memegang perut dan senyum lebar tidak bisa lepas dari wajah.


 


 


“Ini mulai menarik ….” Odo menghapus semua perasaan itu dengan celat, lalu kembali melangkah menuju balai kota. Sembari melebarkan senyum gelap, ia menepuk kening cukup keras. Dalam jalan yang sunyi, di bawah paparan sinar kristal pemuda itu bergumam, “Sebaiknya aku mempercepat hal itu dan segera mulai penaklukan Leviathan. Jika memang perang akan pecah dalam skala besar, tidak ada salahnya aku mendapatkan satu lagi Sihir Khusus dari bangsa Naga Agung.”


 


 


Tidak ada salahnya mengumpulkan segala sesuatu yang bisa digunakan sebagai alat dan senjata. Hal yang bisa diambil untuk menjadi pijakan, lalu dipakai untuk memperjelas tujuan yang telah dipilih.


 


 


Bagi sang pemuda, jalan yang harus dilalui sekarang hanyalah satu. Namun, senjata yang perlu disiapkan tidak cukup hanya satu. Berharap bukanlah menjadi pilihan, sebab apa yang harus dicapai bukanlah sesuatu yang bisa didapat hanya dengan berdoa.


 


 


Jika memang menundukkan, menipu, dan menghancurkan diperlukan dalam proses tersebut, Odo tidak akan ragu untuk melakukan. Mengingat kembali momen penuh keraguan di Dunia Sebelumnya, sekali lagi ia membulatkan tekad dalam keputusan yang telah diambil. Untuk penebusan kesalahan di masa lalu, melindungi keluarga, dan mempertahankan apa yang dirinya miliki sekarang.


 


 


“Persetan dengan masa lalu ….”


 


 


Tatapan Odo berubah tajam, pupil mata berubah menjadi seperti reptil dan menjadi merah. Setelah melewati anak tangga terakhir dan sampai di balai kota, pemuda rambut hitam tersebut segera menoleh ke arah Kantor Pusat Administrasi. Menatap seorang pria tua yang telah menunggunya.


 


 


Ferytan Loi, pria yang sekarang ini menjadi salah satu petinggi di ranah militer Rockfield. Berbeda dari penampilan urakan yang melekat pada pria tua tersebut beberapa hari lalu, sekarang ia terlihat rapi layaknya kalangan menengah ke atas. Mengenakan setelan jas merah kirmizi, celana bahan, dan sepatu kulit. Benar-benar mencerminkan statusnya sekarang ini.


 


 


Saat melihat Odo Luke, kedua mata Ferytan terbuka lebar dan segera menghampiri layaknya serigala tua yang patuh. Berdiri di hadapan sang pemuda, ia menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat dan segera berkata, “Selamat malam, Tuanku. Sesuai dengan perintah Anda kemarin, saya datang kemari untuk melaporkan semua hasil kegiatan hari ini.”


 


 


“Tidak perlu, kurang lebih aku tahu. Kau mendapatkan hasil memuaskan, bukan?”


 


 


Hanya sekali lihat, Odo paham bahwa pria tua itu berhasil melaksanakan semua perintah yang diberikan setelah duel selesai. Dalam rencana tersebut, apa yang Putra Tunggal Keluarga Luke perintahkan merupakan hal-hal terkait Keluarga Quidra.


 


 


Secara garis besar adalah untuk mendapat kepercayaan, baik dari Keluarga Quidra sendiri ataupun para pejabat di sekitar keluarga tersebut. Itulah tujuan utama dari tugas yang diberikan kepada Ferytan.


 


 


Untuk bisa hal itu, pria tua yang tidak terlalu suka dengan bangsawan tersebut harus mengikuti beberapa pesta kecil dan menghadiri pertemuan selama seharian ini. Demi membentuk koneksi dengan para pejabat lain, lalu meningkatkan kesan baik di ranah pemerintahan.


 


 


Selain tujuan utama tersebut, Odo juga meminta Ferytan pindah ke Mansion Keluarga Quidra untuk menunjukkan hubungannya dengan Racine dan Mitranda. Tentu saja, Lily’ami juga ikut tinggal di Mansion yang sebelumnya sempat disita oleh pemerintah kota itu.


 


 


“Kenapa Anda bisa tahu?” Ferytan kembali berdiri tegak. Ia balik bertanya dengan penuh rasa heran, merasa bahwa pemuda di hadapannya memang memiliki pemikiran yang sangat tajam.


 


 


“Ekspresi wajah, pernapasan, langkah kaki, dan respons. Semua itu terlihat jelas. Sebaiknya kau berlatih untuk menyembunyikan suasana hati ….”


 


 


Odo menghela napas dengan wajah sedikit cemas. Setelah berkedip satu kali, warna mata berubah biru dan pupil kembali normal. Sejenak terdiam, sang pemuda mengingat-ingat sifat serta kepribadian Ferytan yang cenderung lunak dalam hal semacam itu.


 


 


Sembari menatap lurus ke arah Ferytan, Odo merasa pria tua di hadapannya tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan pribadi mereka.


 


 


“Saya akan berusaha melatihnya ….” Pria tua dengan rambut pirang pudar tersebut menarik napas dalam-dalam. Merasa tidak nyaman jika tidak menyampaikan, ia segera meletakan tangan ke depan dada dan pada akhirnya tetap melapor, “Hampir semua rencana yang Tuan berikan kemarin berjalan lancar. Setelah duel, Anda berkata saya perlu masuk ke dunia politik juga dan merasakan langsung udara di antara para bangsawan picik. Jujur saja, ini cukup membuat saya muak saat melihat mereka tanpa malu mendekati saya dan berusaha membuat relasi.”


 


 


“Ya, kebanyakan bangsawan memang seperti itu ….” Odo sedikit memalingkan pandangan. Merasakan tatapan aneh dari beberapa penjaga yang ada di sekitar balai kota, ia berusaha untuk tidak memedulikan mereka dan kembali berkata, “Cobalah terbiasa. Hal seperti itu memang memakan waktu. Namun, kau pasti akan butuh semua itu untuk bisa menjaga Lily’ami dan melaksanakan kewajibanmu sekarang.”


 


 


“Baik, Tuanku ….” Ferytan sekali lagi menunduk dengan penuh rasa hormat. Mengangkat kepala dan menatap lurus, ia dengan tatapan serius kembali melapor, “Dalam beberapa perintah yang Tuan berikan, ada juga hal yang tidak berjalan lancar. Salah satunya …, itu adalah tentang rombongan Mylta yang datang tadi pagi. Karena mereka, hampir semua perhatian pejabat teralih dan saya cukup sulit untuk menaikkan kesan Keluarga Quidra bersama Nona Racine.”


 


 


“Kedatangan mereka masih termasuk rencanaku.” Odo memasukan kedua tangan ke dalam saku, lalu menghela napas ringan dan menyampaikan, “Kau tak perlu membuat koneksi dengan mereka. Namun jika di antara mereka ada yang ingin membuat relasi, cobalah dekati Argo Mylta?”


 


 


“Walikota Kota Pesisir itu?” tanya Ferytan memastikan.


 


 


“Sekarang ini yang menduduki posisi Walikota di Mylta adalah Nona Lisia, Tuan Agro hanya berperan sebagai pendamping,” jelas Odo. Kembali menghela napas dan mempertimbangkan beberapa hal, pemuda rambut hitam itu memberikan tatapan tajam dan menyampaikan, “Jangan buat koneksi dengan Lisia, biarkan beliau membuat koneksi dengan pejabat lain. Itu perlu bagi perempuan itu untuk membuat relasi yang sesuai dengan posisinya sekarang.”


 


 


“Baiklah, akan saya ingat baik-baik. Lalu ….” Ferytan sedikit memperlihatkan mimik wajah bingung dan penasaran. Merasa kurang yakin dengan situasi yang sedang dirinya perkirakan, pria tua itu pada akhirnya kembali bertanya, “Untuk Nona Racine dan Nyonya Mitranda, apa Anda punya pesan atau tugas untuk mereka?”


 


 


Odo sedikit menyipitkan mata, lalu dengan nada heran balik bertanya, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”


 


 


“Mereka gelisah ….” Ferytan sedikit memalingkan pandangan. Seakan dirinya telah mengenal lebih dekat dua perempuan dari Keluarga Quidra tersebut, pria tua itu dengan sedikit cemas menyampaikan, “Jujur saja, Nona Racine dan Nyonya Mitranda adalah orang yang baik. Itu kesan pertama saya setelah bersama mereka seharian ini. Namun, karena itulah kegelisahan mereka sangat wajar. Setelah mendapatkan kembali kediaman dan status, mereka sangat cemas karena sama sekali belum mendapatkan perintah atau permintaan dari Tuan Odo. Seakan ….”


 


 


Seakan-akan mereka tidak dibutuhkan lagi, lalu bisa disingkirkan kapan saja karena sekarang Keluarga Stein sudah mendominasi Rockfield. Itulah yang ingin disampaikan Ferytan dalam rasa cemas.


 


 


Meski tidak mendengar itu secara langsung dari mulutnya, Odo tahu hal tersebut dengan sangat baik. Saat seseorang mendapatkan pertolongan tanpa pamrih, terkadang rasa cemas akan tumbuh dan mempertanyakan kebaikan yang ada.


 


 


Sejenak terdiam dan memalingkan pandangan, Putra Tunggal Keluarga mengingat-ingat pembicaraan yang sebelumnya pernah dilakukan dengan Mitranda di Galeri Daun Merah. Terkait tentang mencari guru atau pengajar bunga malam untuk disewa, lalu dibawa ke Kota Mylta.


 

__ADS_1


 


Tidak ingin membuang waktu dengan hal tersebut, Odo bertepuk tangan satu kali dan berkata, “Tolong suruh mereka menyiapkan bunga malam, bilang saja kalau pembicaraan waktu itu masih berlaku dan aku ingin menyewa paling tidak empat orang. Batas waktu sekitar dua sampai tiga hari dari malam ini, pilih orang dengan sifat komunikatif yang baik.”


 


 


“Bunga malam ….?” Ferytan salah paham dengan permintaan tersebut. Sembari mengingat-ingat usia pemuda di hadapannya, pria tua itu memastikan, “Anda … suka dengan hal semacam itu? Apa tidak masalah? Bukankah Anda anak sang Penyihir Cahaya?


 


 


“Aku punya kenalan yang bekerja di ranah bisnis tersebut.” Odo sedikit memberikan tatapan datar karena kesalahpahaman tersebut. Menghela napas sekali, ia dengan nada sedikit ketus menjelaskan, “Asal kau tahu, Pak Tua. Standar ku terhadap wanita itu tinggi, jadi tidak mungkin aku bermain dengan bunga malam.”


 


 


“Be-Begitu, ya ….” Dari perkataan tersebut, Ferytan tahu bahwa Odo paham dengan dunia pelacuran seperti itu. Meski pemuda tersebut masih berumur sangat muda.


 


 


“Sudahlah, sampaikan itu kepada mereka.” Odo menunjuk lurus. Mulai tidak nyaman dengan tatapan beberapa penjaga di sekitar yang semakin bertambah, pemuda rambut hitam itu segera berkata, “Selain tugas itu, aku juga ingin meminta sesuatu.”


 


 


“Dengan senang hati, saya akan berusaha memenuhinya. Permintaan apakah itu, Tuanku?”


 


 


Cara bicara Ferytan membuat Odo sedikit memasang mimik wajah datar, merasa tidak nyaman sampai-sampai kedua alis mata turun. Menghela napas dan berusaha tidak mengusik hal tersebut, ia dengan suara lirih menyampaikan, “Dalam waktu dekat …, cobalah untuk membunuh orang.”


 


 


Ferytan seketika tersentak, kedua matanya terbuka lebar dan kembali mengingat trauma di masa lalu. Bagi dirinya yang memiliki ketakutan kuat ketika melihat darah manusia, membunuh orang bisa dikatakan hampir mustahil.


 


 


“Me-Memangnya siapa yang ingin Anda habisi?” tanya Ferytan gemetar.


 


 


“Orang dari kekaisaran yang mungkin akan menyusup dalam waktu dekat, atau biasa saja mereka menyerang secara frontal ke kota ini ….” Odo meletakkan tangan kanan ke dagu, sedikit memalingkan pandangan dan dengan mimik wajah suram menyampaikan, “Siapkan dirimu dalam dua sampai tiga hari ini. Kemungkinan terburuk, bisa saja ada pertumpahan darah pada jangka waktu tersebut.”


 


 


“Pertumpahan darah? Maksud Anda …, mereka benar-benar akan menyerang secepat itu? Orang-orang Kekaisaran tersebut?”


 


 


“Hmm …” Odo mengangguk. Menurunkan tangan dari dagu, pemuda rambut hitam tersebut menyeringai dan dengan jelas berkata, “Ini bukan berarti kau harus membunuh mereka jika benar-benar menyerang. Cukup tahan supaya tidak jatuh banyak korban jiwa, tunggu sampai aku datang. Namun kalau kau mau menghabisi semuanya, itu tidak masalah ….”


 


 


“Akan … saya usahakan. Kalau bisa, berarti saya sudah boleh berlatih lagi, bukan? Untuk persiapan ….”


 


 


“Ah ….” Odo ingat pernah melarang Ferytan berlatih untuk sementara. Merasa pria tua tersebut sangat mematuhinya, untuk sesaat pemuda itu melebarkan senyum dan berkata, “Tidak masalah. Namun, lebih baik kau fokus saja untuk melatih mental. Sekuat apapun dirimu, jika takut di tengah pertarungan itu percuma.”


 


 


“Apakah … Tuan punya saran? Semacam metode latihan khusus seperti sebelumnya?”


 


 


“Tidak ada.” Odo menjawab dengan cepat. Memasang mimik wajah datar dengan mata setengah terbuka, pemuda rambut hitam tersebut menambahkan, “Bukan berarti aku tidak punya saran, tetapi yang tidak di sini adalah waktu. Dengan meditasi, seharusnya trauma seperti itu bisa disembuhkan. Namun, itu akan lama dan mereka tidak akan menunggu kau sembuh dari trauma.”


 


 


“Baiklah …, saya akan berusaha memenuhi harapan Tuan Odo. Saya akan berusaha menguatkan mental. Meski tidak bisa membunuh orang, saya yakin bisa menebas tanpa gemetar.”


 


 


Pembicaraan ditutup dengan ekspresi Ferytan yang tampak sedikit cemas, terutama tentang apa yang disampaikan Odo terkait membunuh orang. Namun, bagi pria tua tersebut hal seperti itu bukanlah sesuatu yang tak terduga. Saat masuk ke dalam militer, menebas dan membunuh orang akan menjadi hal wajar. Sampai-sampai itu menjadi seperti sarapan.


 


 


.


.


.


.


Setelah pembicaraan selesai, Ferytan kembali ke Kediaman Keluarga Quidra yang terletak pada Distrik Perekonomian dan Pertambangan. Untuk menyampaikan pesan Odo, terkait permintaan dalam pertemuan sebelumnya di Galeri Daun Merah.


 


 


Pada saat yang sama, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut juga meninggalkan balai kota sebelum para penjaga semakin curiga. Pemuda rambut hitam itu berbalik, lalu segera melangkah menuju Kediaman Stein.


 


 


Namun saat dirinya baru mengambil beberapa langkah, dari arah Kantor Pusat Administrasi seseorang memanggil, “Tuan Odo? Kenapa … Anda bisa berada di Rockfield?


 


 


Dari suara yang masuk ke telinga, itu terdengar seperti seorang pria tua. Tanpa menoleh sedikitpun, Odo tahu bahwa pria yang memanggilnya tersebut adalah Argo Mylta.


 


 


Merasakan langkah kaki yang terdiri tidak hanya dari satu orang, ia juga tahu bahwa Kepala Keluarga Mylta tersebut sedang bersama para petinggi militer lain. Baik itu dari Kota Pegunungan ataupun Kota Pesisir.


 


 


Langkah Odo seketika terhenti dan sesaat terdiam. Dalam benak, pemuda rambut hitam tersebut tidak ingin membuat orang-orang Rockfield menyadari identitasnya. Namun, di sisi lain ia juga tidak bisa mengacuhkan Agro Mylta dan langsung kabur begitu saja.


 


 


Saat pikiran sedang mengolah informasi untuk mengambil keputusan yang tepat, sebuah langkah kaki terdengar mendekat semakin cepat. Sebelum kesimpulan didapat, pundak Odo dipegang dari belakang. Itu membuat semua informasi yang sedang diolah dalam kepala seketika runtuh, layaknya menara kartu yang tertiup angin.


 


 


“Kenapa Anda diam saja …, Tuan Odo?”


 


 


Pertanyaan tersebut bukan keluar dari seorang pria. Dari suara dan tangan yang menyentuh pundak, Odo tahu bahwa yang mendekatinya adalah Ruina Trytalin. Perempuan yang kemarin dicopot dari jabatan Wakil Kepala Prajurit, lalu sekarang ini menempati bagian penasihat militer.


 


 


Dari cara perempuan rambut pirang ikal tersebut memanggil, Putra Tunggal Keluarga Luke segera mengetahui beberapa hal darinya. Mengamati pakaian yang dikenakan, ekspresi, dan cara memandang.


 


 


Dari semua informasi yang didapat secara visual, sang pemuda mendapat sebuah kesimpulan. Namun, itu bukanlah hal yang menyenangkan dan lekas membuatnya memperlihatkan mimik wajah risih.


 


 


“Nona sudah tahu tentang saya dari Tuan Jonatan?” tanya Odo kesal. Berbalik menghadap Ruina dan memberikan tatapan datar, sang pemuda perlahan mengerutkan kening.


 


 


“Ke-Kenapa Anda menatap saya seperti itu?” Niat Ruina Trytalin untuk membuat relasi baik seketika runtuh, ia merasa semakin tidak mengerti dengan kepribadian Putra Tunggal Keluarga Luke. Menarik napas dalam-dalam, perempuan rambut ikal tersebut berusaha membangun pembicaraan dan bertanya, “Ngomong-omong, kenapa Tuan Odo di sini? Lalu, apa Anda sudah saling kenal dengan Tuan Agro?”


 


 


Mendengar Ruina dengan enteng mengumbar-umbar identitasnya di hadapan beberapa pejabat Rockfield lain, Odo Luke seketika menghela napas pasrah. Merasa identitas yang susah-susah disembunyikan telah terbongkar sepenuhnya di kalangan militer.


 


 


Melihat gelagat Runia yang sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menyembunyikan hal tersebut, Odo semakin kesal sampai-sampai menghela napas membunyikan lidah dengan jelas.


 


 


“Apa dia balas dendam karena dibuat sekarat saat duel?” gumam Odo. Sekilas menatap ke arah Agro dan beberapa pejabat militer lain, pemuda itu segera tahu bahwa mereka baru saja selesai dengan pembicaraan kerja sama perdagangan. Tidak ingin mengusik hal tersebut sekarang, ia kembali menatap ke arah Runia dan dengan singkat menjawab, “Hanya sedang angin. Untuk Tuan Agro, aku memang mengenalnya.”


 


 

__ADS_1


Tatapan dan cara bicara tersebut benar-benar memancarkan kesan tidak nyaman, membuat kedua alis Ruina sedikit berkedut dan mengambil satu langkah mundur. Memahami bahwa pemuda di hadapannya adalah Odo Luke, tentu saja rasa takut ada dalam benak karena tidak ingin menyinggungnya.


 


 


Sebelum perempuan itu membuka topik pembicaraan lainnya, Agro Mylta berjalan mendekat dan kembali bertanya, “Kenapa Tuan Odo bisa berada di sini? Apa … Anda punya keperluan khusus di Rockfield?”


 


 


“Tidak juga ….” Odo berusaha mengelak. Tidak ingin membalas itu, ia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Ngomong-omong, apa pembicaraan Tuan Argo berjalan lancar? Tuan Irtaz menerima tawaran kerja sama perdagangan itu, ‘kan?”


 


 


“Ya, beliau menerimanya. Meski ada beberapa hal yang lebih menguntungkan pihak mereka, saya rasa itu tidak masalah karena tawaran ini bertujuan untuk membuka hubungan kerja sama perdagangan. Untuk jual beli hasil tambang, kami sebenarnya hanya membuat jalan bagi Aliansi Samudera Majal. Tidak ada kewajiban untuk meminta keuntungan lebih dari tawar-menawar yang ada kali ini.”


 


 


Argo menjelaskan secara jelas hasil kerja sama yang telah terjalin, sampai-sampai membuat Ruina dan orang-orang Rockfield yang juga mendengarnya terlihat bingung. Saling menatap satu sama lain, lalu memperlihatkan wajah seakan ingin bertanya.


 


 


Tidak memedulikan mereka, Odo mencerna baik-baik informasi kerja sama yang telah terjalin. Memikirkan sifat Kepala Keluarga Irtaz, ia merasa hal yang diminta sebagai timbal balik juga cukup besar dampaknya untuk Mylta.


 


 


“Sebagai gantinya, mereka meminta apa dari Anda?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Mereka meminta kerja sama militer, terkait potensi perang yang akan terjadi dalam waktu dekat. Meski hanya jaga-jaga, kami diminta untuk menyiapkan paling tidak 200 prajurit yang bisa dikirim kapan saja.”


 


 


Mendengar hal semacam itu, mimik wajah senang secara refleks tampak pada wajah Odo. Benar-benar tidak menyangka hal semanis itu terjadi dengan sendirinya. Segera menutup mulut dan menyembunyikan senyum licik, Putra Tunggal Keluarga memilih beberapa kalimat dalam benak untuk disampaikan.


 


 


“Ini berjalan mulus ….” Odo menurunkan tangan dari mulut. Menatap dengan ekspresi wajah tenang, pemuda rambut hitam itu berkata, “Setelah kembali ke penginapan, Tuan Argo coba tanya kepada Nona Lisia. Bilang saja bahwa Anda masuk rencana saya. Nona pasti mau menceritakan rencana yang sudah saya sampaikan.”


 


 


Mendengar itu, Argo memasang wajah sedikit cemas dan bertanya, “Apa … Anda sudah menemui Putri saya?”


 


 


“Hmm, aku baru selesai bicara dengannya tadi.”


 


 


Jawaban tersebut membuat Agro menatap semakin cemas. Sebagai seorang Ayah, pria rambut merah gelap tersebut mengingatkan, “Anda sudah punya tunangan, tidak baik berduaan dengan perempuan lain seperti itu. Jika ada rumor buruk, itu akan sangat menyusahkan. Baik untuk Anda ataupun Putri saya. ”


 


 


“Ah ….” Odo merasa ditegur saat mendengar perkataan yang sangat masuk akal dari seorang sosok Ayah. Menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Lain kali saya akan memperhatikannya.”


 


 


Argo memberikan tatapan datar. Seakan sadar bahwa pembicaraan sedang dialihkan oleh pemuda itu, Kepala Keluarga Mylta kembali ke topik pembicaraan awal dan bertanya, “Jadi, apa Anda punya alasan khusus untuk datang kemari?”


 


 


Pria rambut merah gelap tersebut menatap datar, memperlihatkan mimik wajah curiga layaknya sudah menyadari tentang rahasia yang pemuda itu miliki dengan Lisia. Baik itu tentang beberapa kejanggalan selama ekspedisi, rencana tersembunyi yang sedang dijalankan, ataupun hubungan yang pemuda itu jalin dengan Putrinya.


 


 


Tatapan itu seakan menusuk lurus ke kulit Odo, membuat pemuda itu sedikit terentak dan memalingkan pandangan. Dalam diri Putra Tunggal Keluarga Luke, pria di hadapannya memiliki kesan yang sangat berbeda dengan Oma Stein. Meski sudah berniat melepas posisi Walikota, Argo benar-benar memberikan tekanan yang kuat hanya dengan menatap.


 


 


“Ha-Hanya ingin ganti suasana, mungkin ….”


 


 


Jawaban yang keluar dari mulut Odo adalah yang terburuk untuk situasi tersebut, membuat kecurigaan Argo semakin menguat dan membuat pria rambut merah tersebut menatap tajam. Memberikan tekanan kuat sampai-sampai dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.


 


 


Paham dengan gelagat Putra Tunggal Keluarga Luke yang bersikeras tidak ingin memberitahu, Argo menghela napas dan memberikan toleransi. Sebagai seorang veteran, ia tidak merasa nyaman saat menekan pemuda yang bisa dikatakan pernah menyelamatkan nyawanya.


 


 


“Baiklah, jika memang Tuan Odo tidak mau bicara. Lagi pula, saya juga sudah mendengar beberapa hal tentang apa yang Anda selama di Rockfield dari Tuan Jonatan.”


 


 


Odo seketika tersentak, menatap terkejut dan benar-benar merasa bahwa Kepala Prajurit yang disebut itu sedang melakukan balas dendam. Sedikit cemas jika itu sampai ke telinga para pedagang, Putra Tunggal Keluarga Luke mengerutkan kening dan tatapannya berubah tajam.


 


 


“Apa … hanya Anda yang tahu tentang hal itu? Tuan Jonatan hanya membicarakannya dengan Anda, bukan?” tanya Odo memastikan.


 


 


Mendapat pertanyaan dan melihat ekspresi pemuda itu, Argo Mylta segera menebak. Ia memasang mimik wajah heran, lalu dengan penasaran bertanya, “Selama berada di sini, apa Anda selalu menyembunyikan identitas seperti itu? Untuk apa? Bukanlah lebih mudah jika Tuan menggunakan nama Keluarga Luke dan membuat mereka mengikuti perkataan Anda?”


 


 


Odo merasa bahwa Argo sama saja dengan Jonatan, seenaknya mengumbar identitasnya di depan orang-orang. Pasrah dengan itu dan menerima potensi kabar keberadaannya sampai ke telinga para pedagang, Putra Tunggal Keluarga Luke menghela napas panjang untuk kesekian kali.


 


 


“Ini menyebalkan, aku merasa bodoh karena berusaha menyembunyikan itu.” Odo menggaruk bagian belakang kepala. Menatap serius dan balik mengintimidasi, pemuda rambut hitam itu dengan jelas menjawab, “Ini bukan urusan Tuan Agro. Kerjakan saja kepentingan Tuan di tempat ini, lalu kembali secepatnya ke Mylta. Tak ada yang menjamin di sana akan selalu aman selama momen seperti ini.”


 


 


Itu terdengar seperti peringatan di telinga Argo. Pria tersebut merasa kehadiran Odo sangat berkaitan dengan permasalahan yang ada, terutama dengan potensi perang yang disampaikan Kepala Prajurit Rockfield selama diskusi. Mempertimbangkan beberapa hal terkait alasan pemuda itu menyembunyikan identitas, pria rambut merah gelap tersebut dengan cepat membuat sebuah kesimpulan yang jelas.


 


 


“Apa … Anda mewaspadai mata-mata atau semacamnya?”


 


 


Odo tidak menjawab pertanyaan tersebut, hanya mengangkat telunjuk dan meletakkannya ke depan mulut. Memberikan tanda bahwa diam adalah sebuah pilihan yang tepat untuk sekarang.


 


 


Memahami hal tersebut, Agro berhenti memberikan pertanyaan. Setelah mengangguk sekali, pria rambut merah tersebut berkata, “Jika memang seperti itu, saya akan lebih waspada dan berhati-hati.”


 


 


“Terima kasih ….”


 


 


Pembicaraan tersebut selesai dengan sedikit abstrak di telinga mereka yang mendengarkan. Tanpa memedulikan Runia yang masih penasaran dengan apa yang kedua orang tersebut bicarakan, Odo segera meninggalkan mereka dan berjalan menuju Kediaman Stein. Membiarkan orang-orang Rockfield yang mendengar pembicaraan terdiam dalam kebingungan.


 


 


\====================


Catatan :


 


 


See You Next Time!


 


Catatan Kecil :


Fakta 054 (Jawaban): Sesuatu yang disebut Dasar Dunia adalah berada di tingkat yang lebih rendah dari Alam Kematian / Neraka / Dunia Iblis, dengan kata lain sebuah ruang dan waktu yang masih berkembang, belum memiliki hukum yang tetap dan sangat labil.


Ini juga merupakan salah satu tempat di seluruh semesta dalam seri ini yang memiliki faktor kemungkinan yang sangat kuat, sehingga bisa menciptakan berbagai dunia paralel yang singkat dan menciptakan para Korwa. Namun, faktor kemungkinan tersebut tidak bisa naik ke tingkat dimensi atau realm di atasnya.


Sebab tingkat informasi yang ada terlalu berbeda, dan faktor "kemungkinan" yang ada bisa menjadi "kepastian" jika keluar dari Dasar Dunia atau Dasar Dunia tersebut berubah menjadi realm yang memiliki hukum-hukum dunia yang pasti.


 

__ADS_1


 


__ADS_2