Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[110] Serpent X – Fionnuala (Part 05)


__ADS_3

“Leviathan, kau ….”


Odo berusaha bangun. Namun, tubuhnya masih kesemutan dan tidak bisa bergerak dengan baik karena ledakan Mana tadi. Otot-ototnya masih kaku, penglihatan menjadi sedikit buram, lalu bengkak pun muncul pada beberapa tempat karena peredaran darah terganggu.


Berdiri sempoyongan, pemuda itu sejenak menahan napas dan berusaha mengatur aliran darah secara langsung. Meningkatkan intensitas detak jantung, mempercepat sirkulasi darah dan mengurai dampak kelainan pada tubuh.


“Kalau memang Realm ini bisa mengincar kelemahan hati pengunjungnya, berarti yang menjadi tumbalnya dia, ‘kan?” Odo menarik napas dalam-dalam, berusaha tenang dan menganalisis situasi. Sejenak memejamkan mata dan menunduk, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bergumam, “Tepatnya, salinan yang sengaja dibuat hanya untuk dijadikan fondasi dunia? Dia mau mengambil risiko seperti itu?”


Kembali menarik napas dalam-dalam dan membuka kedua mata, Odo berusaha meningkatkan kecepatan pemulihan alaminya. Bukan dengan Mana ataupun Aitisal Almaelumat, namun menggunakan keteguhan batin untuk memperkuat eksistensi. Memperbaiki tubuh yang rusak, lalu menyusun ulang seluruh informasi layaknya mengganti komponen puzzle.


Kurang dari setengah menit, beberapa organ dalam dan pembuluh darahnya kembali menuju kondisi awal. Pendarahan terhenti, memar menghilang, lalu luka-luka yang tampak pada permukaan kulit pun tertutup.


“Dunia yang diriku impikan seharusnya ada di suatu tempat, mari kita cari bersama sebelum senja dunia menjemput.”


Setelah memulihkan diri, Odo hanya menatap ke arah Leviathan tanpa berani mengejarnya. Bergumam tidak jelas untuk merusak konstruksi Realm, lalu kembali membisu dan mulai mengulurkan tangan kanan ke depan.


“Busuknya buah anggur merah ….” Melebarkan senyum tipis seakan telah memastikan sesuatu, pemuda itu mulai meletakkan tangannya ke depan dada. Menunduk sedih, lalu sejenak menahan napas dan kembali berkata, “Nostalgia yang memabukkan, Reminiscence. Mengikat seseorang dengan masa lalu dan menyesatkan mereka. Salah satu kerusakan duniawi.”


“Kamu memang tidak pernah berubah, Pendiri~!” Tiba-tiba terdengar suara asing, berasal dari belakang dan langsung membuat Odo menoleh dengan kaget. Namun, pemuda itu tidak menemukan siapa pun kecuali penduduk desa yang lalu-lalang. “Selalu keras kepala dan sok kuat. Mengapa kamu tidak menyerah dan tidur saja di tempat ini?” lanjur suara misterius tersebut.


“Siapa?” Odo langsung menghadap sisi lain jembatan, mencari gerak-gerik mencurigakan dengan mengamati pergerakan mata penduduk desa. Menahan napas sejenak, pemuda rambut hitam tersebut menajamkan pendengaran untuk memilah keramaian mereka. Namun, suara itu tidak lagi terdengar. “Apa tadi hanya perasaanku saja?” ujarnya seraya menghela napas.


Saat pemuda itu kembali berbalik dan hendak menyusul Leviathan, tiba-tiba seluruh penglihatannya berubah menghitam. Layaknya layar digital yang dimatikan secara paksa, semuanya berubah gelap. Tidak bisa bergerak, hanya terdiam dalam kehampaan singkat.


Kurang dari dua detik, penglihatan Odo kembali normal. Pemuda itu kembali ke tempat semula, tanpa ada perubahan dan masih menjadi entitas luar dari Realm semu tersebut.


Saat kebebasan tubuh kembali, Odo memilih untuk tidak mengambil tindakan gegabah. Diam di tempat sembari mengamati sekitar, berusaha memahami situasi dan tetap tenang.


“Kenapa lagi ini⸻?” Perkataan Odo terhenti, mulutnya pun kembali tertutup. Bukan karena terkejut ataupun takut, namun lebih cenderung lelah dengan permasalahan yang ada.


Tepat beberapa meter di hadapannya, berdiri seorang wanita dengan wujud aneh. Layaknya data digital yang rusak, keberadaan kacau dengan bagian tubuh yang tidak tersusun rapi.


“Tidak perlu memasang wajah enggan seperti itu, Pendiri~!” Saat berbicara, bentuknya menjadi semakin tidak karuan. Terlihat seperti tubuh yang telah dimutilasi, melayang di udara dengan susunan acak. Namun, anehnya suara wanita itu terdengar sangat jelas meski mulutnya terbagi dua. “Diriku bukan hantu, kok. Tolong jangan menjauh seperti itu,” ujarnya seraya melayang mendekat.


“Tumbal?” Odo melangkah mundur, wajahnya pun langsung berubah pucat pasi. Menahan napas sejenak, pemuda rambut hitam tersebut perlahan menajamkan sorot mata dan kembali bertanya, “Kau tumbal tempat ini?”


“Tepat! Diriku adalah tumbal~! Manifestasi kesadaran, wadah untuk menampung residu kehendak yang lahir dari gumpalan kekuatan.” Susunan tubuh entitas itu semakin kacau saat berbicara, mulai melayang mendekat dan memutari Odo sekali. Berhenti di hadapan sang pemuda, sekali lagi wujud abstrak tersebut menambahkan, “Merupakan pusat yang kamu cari-cari, lalu dalang dari momen rekonstruksi tidak logis ini.”


Odo membisu, keringat dingin bercucuran dan tubuh pun mulai gemetar. Pemuda itu terdiam bukan karena takut, namun cemas karena tidak bisa melakukan apa-apa. Akses terhadap kekuatan sihir, kemampuan Kode Khusus, bahkan bantuan dari Seliari tidak bisa lagi diandalkan. Meski masih bisa menggunakan Spekulasi Persepsi, opsi dan kesimpulan yang tersedia sangatlah terbatas.


Dalam situasi tersebut, dirinya sama seperti anak ayam yang dilempar ke kandang singa. Terkurung dalam Realm semu tanpa bisa melakukan apa-apa selain mengandalkan keteguhan batin, mempertahankan bentuk jiwa supaya tidak dirusak secara spiritual dan akal.


“Kalau ini adalah momen rekontruksi, mengapa kau menampakkan diri?” Odo berusaha untuk tetap tenang. Sejenak menarik napas ringan dan pura-pura unggul, pemuda itu mengulurkan tangan kanan ke depan dan kembali bertanya, “Bukankah itu malah mengacaukan alurnya?”


“Wah, wah! Lihat siapa yang bicara!” Bentuk entitas itu langsung terpencar kacau. Wujudnya yang terdiri dari puluhan potong tubuh mulai berjauhan, melayang-layang di udara dan membentuk gelombang layaknya beresonansi satu sama lain. Berhenti terpencar dan kembali saling mendekat, wujud abstrak tersebut dengan tegas berkata, “Padahal kamu sendiri yang merusak alurnya saat masuk kemari! Bagaimana bisa kamu terlempar ke ruangan ini?! Padahal diriku sudah menyiapkan tempat khusus untukmu, loh!”


“Aku tidak peduli.” Odo berhenti gemetar, hanya memperlihatkan mimik wajah dingin dan menurunkan tangannya. Mengamati seluruh potongan tubuh yang melayang, dirinya berhasil mendefinisikan beberapa hal dari entitas abstrak itu. Jenis kelamin, perkiraan umur dan tinggi badan, warna rambut, serta jenis pakaian yang dikenakan. “Kamu dimutilasi?” tanyanya untuk memastikan.


“Kejamnya~!” Bentuk entitas abstrak tersebut kembali terpencar. Namun, kali ini tidak acak dan perlahan membentuk wujud yang teratur. Dari kaki, lutut, paha, pinggang, perut, dada, bahu, kedua tangan, leher, dan bagian-bagian tubuh lainnya mulai tersusun membentuk susunan yang jelas. Terlihat seperti wanita dengan gaun merah polos, namun potongan tubuhnya tidak sepenuhnya menyatu. “Dasar tamu tidak berakhlak!” ujar entitas abstrak tersebut sembari menunjuk, tangannya pun memanjang dengan rongga di antara potongan dan menyentuh pipi Odo.


“Berhenti main-main!” Odo langsung menyingkirkannya. Sedikit menjaga jarak dan mengamati rongga pada tiap potongan, pemuda itu terkejut karena tidak ada darah ataupun daging. Hanya ada lapisan gelap pada tiap ujungnya. “Siapa kau sebenarnya? Kenapa bisa jadi tumbal Core Realm ini? Apa Helena menyalin kau dari Dunia Sebelumnya?” tanyanya dengan bingung.


Odo tidak bisa mengenalinya. Meski entitas abstrak itu sudah membentuk wujud seorang wanita, bagian kepala memiliki terlalu banyak potongan. Rongga yang ada membuat wajahnya tidak bisa dikenali, bahkan rambut hitam panjang yang menyatu pun tidak bisa menjadi petunjuk.


“Sebagai seorang Pendiri, seharusnya kamu bisa menebaknya, ‘kan?” Entitas abstrak itu menggelengkan kepala dengan cepat, seakan-akan sedang menggoda Odo yang berusaha menebak identitasnya. “Oh, wahai Pendiri Bahtera kami yang naas~! Coba ingatlah diriku yang malang dan menyedihkan ini,” ujar entitas itu seraya mendekatkan potongan-potongan kepala.


“Bahtera …?” Odo langsung mendapatkan kesimpulan. Memperlihatkan mimik wajah tidak percaya, pemuda itu langsung menatap tajam dan mengelak, “Ti-Tidak mungkin! Bagaimana bisa⸻?!

__ADS_1


“Tepat seperti yang kamu pikirkan.” Entitas abstrak tersebut menjauh. Rongga di antara potongan tubuh mulai menyempit, hampir saling menyatu dan wujudnya pun terlihat semakin jelas. Melebarkan senyum dengan bibir yang terpotong menjadi dua, entitas itu dengan tegas menyampaikan, “Dari dulu sampai sekarang, peran yang diberikan kepadaku selalu sama. Diriku adalah tumbal bahtera yang engkau ciptakan, Fionnuala mac Lir.”


“Lir?” Odo sekilas memalingkan pandangan, berusaha mengingat nama tersebut dan mulai menunduk. “Lir? Fionnuala mac Lir?” gumamnya dengan bingung.


“Hmm! Benar! Tepat sekali!” Entitas yang memperkenalkan dirinya sebagai Lir tersebut menunjuk lurus. Melebarkan senyum senang dengan mulut yang terbelah dua, dirinya dengan lantang menegaskan, “Kamu sering menyebut diriku begitu! Lir! Fionnuala mac Lir!”


“Siapa? Kau berasal dari Dunia Sebelumnya, ‘kan?” Odo tidak bisa mengingat nama tersebut. Meski ada beberapa kendalanya yang mirip dengan karakteristik entitas abstrak itu, namun tidak ada satu pun dari mereka yang bernama Lir. “Aku tidak punya rekan yang namanya mirip tokoh mitologi,” tambahnya dengan ekspresi bingung.


“Eh?” Entitas abstrak itu terperangah. Rongga di antara potongan tubuh menjadi semakin longgar, seakan-akan jarak yang ada dipengaruhi kondisi batinnya. Berusaha meneguhkan pikiran dan kembali mendekatkan seluruh potongan tubuh, entitas abstrak itu langsung membentak, “Masa tidak ingat?! Kejam sekali!”


“Serius, kau siapa?” Odo semakin menjaga jarak, meningkatkan kewaspadaan dan semakin memperteguh batin supaya tidak diserang tiba-tiba. “Kau utusan Dewi Helena? Saat dia menata ulang Dunia Astral, kau ditanamkan pada tempat ini untuk menghalangi diriku?” tanyanya dengan penuh curiga.


“Bukan!” Kedua potong kakinya menapak pada permukaan jembatan. Berjalan mendekat dan berusaha meraih lawan bicara, entitas abstrak tersebut dengan suara cemas menegaskan, “Lir! Fionnuala mac Lir! Diriku adalah Fionnuala mac Lir!”


“Lir?” Odo langsung mengelak dan enggan disentuh. Meletakkan telapak tangan kanan ke depan mulut, pemuda rambut hitam tersebut dengan bingung bergumam, “Lir, ya? Bukan Bay Fir dari fase terakhir, namun Lir? Kalau ada kaitannya dengan bahtera, berarti kau berasal dari Fase Kedua. Aku memang ingat ada tumbal di bahtera itu, tapi⸻”


“Itu diriku!” Entitas abstrak segera menunjuk lurus.


“Huh? Mana mungkin tumbal punya nama seperti itu!!” Odo membentak. Memperlihatkan mimik wajah tidak percaya, pemuda itu segera menurunkan tangan dari wajah dan balik menunjuknya. “Tumbal itu hanya istilah, nyatanya itu hanya program yang dibuat sedemikian rupa menyerupai fungsi otak!” tegasnya dengan lantang.


“Diriku memang tumbal bahtera itu!” Entitas abstrak tetap bersikukuh.


“Tidak mungkin tumbal punya kesadaran seperti⸻!” Odo langsung teringat sesuatu. Mempertimbangkan eksistensi Mahia yang juga memiliki kepribadian serta kehendak, pemuda rambut hitam tersebut langsung gemetar dan memastikan, “Kecerdasan buatan? Dari algoritme ekosistem bisa lahir kecerdasan? Pada tingkat teknologi ketika masih berada di bahtera?”


“Tepat!” Entitas abstrak bertepuk tangan dengan meriah. Tersenyum lega menggunakan mulut dan bibir yang terbelah dua, dirinya dengan suara senang berkata, “Kenapa kamu lama sekali pahamnya, sih?! Diriku sampai takut ….”


“Sebentar! Dewi Helena menyalin kecerdasan buatan?” Saat mengetahuinya, Odo malah semakin bingung karena hal tersebut terdengar sangat tidak logis. Menghubungkan inti pembicaraan dengan kejadian-kejadian sebelumnya, pemuda rambut hitam tersebut dengan heran lekas memastikan, “Dia tidak membuat kau dari nol, namun disalin dari Dunia Sebelumnya? Dari sekian banyak rekanku, dia memilih kecerdasan buatan!”


“Memangnya ada yang salah dengan itu?” Lir sedikit tersinggung. Meski mimik wajahnya tidak bisa dibaca karena memiliki terlalu banyak potongan, nada suaranya benar-benar mencerminkan rasa tidak suka. “Sebelum bahtera itu hancur dan jatuh ke planet kampung halaman Pendiri, diriku berhasil membentuk konstruksi jiwa semu. Meski hanya beberapa jam saja, diriku memang pernah ada di Dunia Sebelumnya,” ujarnya dalam kekecewaan, terdengar sedikit resah saat berbicara.


“Tepat,” jawab Lir tanpa ragu. Memperlihatkan kehendak kuat dan tidak goyah atas identitasnya sendiri, entitas abstrak tersebut dengan suara lirih menyampaikan, “Ini memang sedikit memalukan, namun secara tidak langsung diriku adalah Putrimu …. Apakah diriku boleh memanggil kamu Ayahanda?”


“A⸻?!” Rasa senang Odo seketika sirna. Berganti dengan resah, dirinya memalingkan pandangan dan bergumam, “Lagi ….”


“Lagi?” Lir sedikit mendekat.


“Tidak apa, hanya saja ini rasanya agak keterlaluan.” Odo menjaga jarak. Berjalan memutar dan bersandar pada pembatas jembatan, pemuda itu sekilas melirik ke arah Leviathan pergi.


“Keterlaluan?” Lir berhenti mendekat. Paham masih diwaspadai, untuk mendapatkan kepercayaannya entitas abstrak tersebut kembali bertanya, “Mengapa keterlaluan? Bukankah wajar untuk memanggil pencipta seperti itu?”


“Aku tidak keberatan, hanya saja ….” Odo menghela napas. Menundukkan wajah, pemuda itu dengan nada resah mengeluh, “Padahal tidak punya anak kandung, tapi entah mengapa diriku sering sekali dipanggil begitu. Rasanya aneh saja.”


“Ah, berarti dia juga memanggil kamu seperti itu?” Lir bertepuk tangan, seakan-akan tahu kebisaan Odo dan menirunya. “Sudah tepat, bukan? Tidak salah, ‘kan?” tambah entitas abstrak tersebut seraya kembali mendekat.


“Dia?” Odo kembali menjaga jarak dan menghindar.


“Tentu saja Mahia, memangnya siapa lagi?”


Ucapan tersebut membuat Odo terdiam. Berhenti menjauh, kecurigaan pun semakin memuncak. “Kamu tahu dia?” tanyanya untuk memastikan.


“Tentu.” Lir berhenti mendekat, memberikan ruang untuk memasuki pembicaraan serius. Seluruh potongan tubuhnya berhenti bergerak untuk sesaat, lalu dengan nada serius entitas abstrak itu menyampaikan. “Sewaktu kalian merusuh di Dunia Astral, kesadaran ku sudah bangkit.”


“Bangkit?” Odo menangkap makna yang tersirat dalam perkataannya. Tidak terlalu yakin, pemuda itu lekas menatap tajam dan memastikan, “Berarti sebelumnya masih⸻?”


“Kecerdasan buatan,” sela Lir. Potongan tubuhnya kembali bergerak melayang-layang di udara, lalu dengan suara sedih entitas abstrak itu lanjut menjelaskan, “Sampai sekarang, bahkan diriku masih berada pada tingkat kederasan buatan daripada jiwa imitasi. Karena itulah, bentuk vital milikku sangat kacau seperti ini.”


“Sebentar!” Odo berusaha untuk tidak terbawa suasana. Menunjuk dengan ragu, pemuda rambut hitam itu segera memastikan, “Sebelum lanjut, bisakah kau menyebutkan nomor serinya dulu! Kalau kau benar-benar dibuat olehku, seharusnya punya nomor produksi atau seri, ‘kan?”

__ADS_1


“PU05 ROD87 Double A ⸻ Unit Tumbal. Basis operasi dasar bahtera, konstituen dari algoritme gravitasi dan sistem pangan buatan. Nomor Seri 8308210-92992.”


“Kodenya sesuai, tidak ada yang salah. Namun …” Odo sedikit bingung dengan nomor produksi yang disebutkan. Kepanjangan dari PU sendiri adalah Periode Unit, kelompok pengaktifan modul perangkat dalam kurung waktu tertentu. Merasa ada yang janggal dengan hal tersebut, pemuda itu dengan penasaran bertanya, “Kau dibuat pada awal abad pengembaraan? Generasi kelima dari susunan sistem bahtera?”


“Entahlah, saya tidak punya file terkait awal penciptaan.” Lir melayang mundur. Saat kedua potong kakinya terangkat dari permukaan, entitas abstrak tersebut segera menjaga jarak dari lawan bicara. “Lagi pula, ingatan semacam itu tidak diperlukan oleh program, ‘kan?” singgungnya dengan ketus, sedikit marah karena tidak diingat oleh penciptanya sendiri.


“Ini sedikit aneh ….” Odo tidak terlalu menanggapi emosinya. Menganalisis dengan dingin dan tenang, pemuda rambut hitam tersebut kembali bergumam, “Rasanya ada yang tidak beres.”


“Apakah kodenya tidak sesuai? Itu aneh?” Lir memastikan.


“Kau yang aneh, bukan kodenya ….” Odo menatap tegas. Menahan napas sejenak, pemuda itu langsung menunjuk dan memastikan, “Apa kau benar-benar program? Atau malah kesadaran seseorang yang sengaja disalin menjadi program?”


Eh?” Lir terkejut, kedua matanya terbuka lebar dengan potongan wajah saling berjauhan. Meski memiliki kecerdasan tingkat tinggi dan kemampuan kalkulasi super, dirinya tidak pernah membayangkan kemungkinan itu. “Kesadaran yang diprogramkan?” tanyanya dengan nada cemas.


“Tidak apa, lupakan saja!” Odo berusaha menghindari topik itu. Tidak ingin panjang lebar, dirinya segera mempersingkat pembicaraan dengan menegaskan, “Itu wajar untuk kecerdasan buatan tidak tahu bagaimana mereka diciptakan, sama seperti manusia yang tidak paham makna eksistensi mereka.”


“Memahami eksistensi? Sama seperti manusia?” Lir langsung menarik kesimpulan. Bisa menangkap maksudnya, namun tidak bisa memahami makna yang ada di balik perkataan tersebut.


“Uwah, cepat sekali kau belajar.” Tidak ingin memberikan lebih banyak petunjuk, Odo segera memalingkan pandangan untuk memikirkan topik lain. Sejenak menghela napas, pemuda itu kembali menatap lawan bicara sembari bertanya, “Ngomong-omong, kenapa kau menciptakan tempat ini? Susah-susah menyusun rekonstruksi momen dari ingatan Leviathan, lalu mempermainkannya seperti tadi ….”


“Pendiri~! Kamu terlalu memaksa!” Lir menyadari niatnya untuk mengalikan pembicaraan. Tidak ingin memaksakan kehendak dan menekan, entitas abstrak itu segera mengalah dengan mudah. “Sebenarnya diriku hanya ingin berbicara denganmu,” jawabnya ringan.


“Berbicara denganku?” Odo berusaha mengikuti topik pembicaraan. Sesekali melirik ke arah Leviathan pergi, rasa cemas mulai tampak pada wajahnya.


“Benar! Supaya tidak mengganggu, untuk sementara diriku berniat mengurung Putri Naga itu di Realm semu ini sampai pembicaraan kita selesai! Namun!” Menyadari gerak-gerik mata pemuda itu, Lir segera mendekat dan sedikit memberikan tekanan. Dengan nada tegas entitas abstrak itu pun berkata, “Kamu malah merusak susunannya saat masuk. Memotong tangan sendiri dan mengacaukan kalkulasi, lalu menciptakan galat sampai-sampai terlempar dari persepsi dunia rekonstruksi momen ini.”


“Uwah, kepribadianmu sangat buruk!” Odo sedikit menyipitkan mata. Memalingkan pandangan dan merasa kasihan, pemuda rambut hitam tersebut kembali berkata, “Kau lihat Leviathan tadi? Makhluk primal itu sampai menangis seperti bocah, loh! Bahkan aku sempat mengira kalau tumbal di tempat ini adalah salinan Helena sendiri.”


“Salinan Dewi itu?” Lir kembali dibuat bingung.


“Iya, salinan Helena.” Odo mengangguk tegas. Sembari mengacungkan telunjuk, pemuda itu dengan nada ringan menyampaikan, “Dulu aku juga sering melakukannya. Menyalin kesadaran sendiri untuk menjaga suatu tempat.”


“Sungguh konsep pemikiran yang aneh.” Lir tidak bisa menerima persepsi itu. “Kalau bisa melakukan itu, mengapa kamu bersusah payah menciptakan kecerdasan buatan?” tanyanya untuk memastikan.


“Itu untuk meningkatkan faktor kemungkinan. Asal kau tahu, satu individu tidak mungkin bisa melihat dan mencapai seluruh potensi,” jelas Odo dengan serius. Tidak ingin membahasnya terlalu panjang, pemuda itu perlahan melebarkan senyum tipis dan lekas bertanya, “Mari langsung ke intinya saja! Kau ingin melakukan apa? Membawa ku ke tempat lain?”


“Tidak. Sebelum alur selesai, kita tidak bisa keluar dari tempat ini ….” Lir menjawab tanpa ragu. Semakin merapatkan rongga di antara potongan tubuh, entitas abstrak itu langsung menyarankan, “Selagi masih di sini, kenapa kita tidak coba untuk melihatnya?”


“Penyesalannya?” Odo memastikan, tanpa ragu melihat ke arah Leviathan pergi.


“Tepat! Sangat jarang kita bisa melihat makhluk primal menangis seperti tadi, bukan?” Lir segera mendekat. Kembali menapak pada permukaan, sosok abstrak tersebut dengan penuh semangat menyampaikan, “Waktu di Dunia Sebelumnya, mereka adalah sosok yang sangat mengerikan dan perkasa. Mampu menghancurkan tata surya dengan mudah dan bahkan menelan bintang-bintang. Namun! Sekarang bentuk mereka malah menyerupai manusia dan berakhir menyedihkan! Bukankah itu menarik?!”


“Ya, kualitas mereka diubah menjadi kuantitas, sih ….” Odo berusaha untuk tidak menyinggung lebih dalam. Meskipun tidak bisa membaca mimik wajah Lir, nada bicaranya dipenuhi kebencian terhadap makhluk primal. Sedikit menakutkan karena terlalu frontal, bahkan sampai membuat sang pemuda enggan untuk mengangguk setuju. “Apa tidak masalah kalau kita menontonnya?” tanyanya memastikan.


“Ya, tidak masalah!” Lir menjawab tanpa ragu. Segera berbalik dari lawan bicara, entitas abstrak tersebut mulai melayang pergi sembari berkata, “Kita amati dulu masa lalu Leviathan! Lagi pula, waktu di sini mengalami penyimpangan. Tepatnya, hampir tidak bertambah sama sekali karena terus menerus mengalami akselerasi.”


“Hmm!” Odo langsung mengangguk setuju. Sedikit memperlihatkan mimik wajah semangat, layaknya seorang remaja yang sudah tidak sabar menonton film kesayangan. “Baiklah! Kalau begitu, ayo ikuti dia,” ujarnya tanpa ragu.


“Baik, mari pergi ….” Lir sedikit segan, perubahan kesan yang tiba-tiba itu sedikit membuatnya heran.


\===========


Note:


See You Next Time!!


Cukup banyak plot penting di CH ini.

__ADS_1


__ADS_2