
Sebagai seorang putri sulung, saya memahami hal tersebut dengan sangat baik. Di dalam Keluarga Stein, saya bukanlah anak yang dinanti-nantikan oleh sang Kepala Keluarga.
Orang bijak di masa lalu pernah berkata, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Seperti halnya seorang anak dalam keluarga, ia pasti akan tumbuh seperti kedua orang tuanya. Entah itu dalam hal sifat, fisik, ataupun paras, pasti sebuah persamaan akan selalu ada.
Memang itu terdengar sangat indah mengingat anak akan meniru kedua orang tua, lalu memiliki potensi untuk melebihi mereka. Namun, bagi saya peribahasa tersebut seakan memiliki konotasi buruk.
Jika hal tersebut disampaikan kepada anak yang lahir tanpa bakat, ungkapan berubah menjadi sangat menyakitkan untuk diterima mentah-mentah.
Paling tidak, itulah yang saya rasakan selama ini ….
Meski berusaha keras, saya semakin memahami bahwa raga serta pikiran ini memiliki kemampuan yang sangat rata-rata. Membuat seakan semua usaha yang ada terasa tidak berarti.
Lambat laun, fakta yang semakin saya pahami tersebut menggerogoti dari dalam.
Membuat pikiran menerima fakta bahwa saya bukanlah anak yang diharapkan.
Membuat jiwa membusuk dari dalam, lalu tubuh seakan menjerit dan ingin melarikan diri dari semuanya.
Karena itulah saya mengangkat pedang untuk pelarian. Mengayunkan tanpa tahu untuk apa hal tersebut, lalu terus merusak tangan yang seharusnya digunakan untuk hal-hal feminin.
Seakan-akan ingin mengecewakan kedua orang tua untuk mendapatkan perhatian mereka, saya hanya bisa memaksakan diri dengan hal yang sebenarnya tak penting. Sesuatu yang bahkan sebenarnya saya tidak terlalu suka.
“Itu wajar Nona bisa melakukan hal semacam itu, beliau Putri dari Tuan Oma.”
“Putri dari Keluarga Stein memang luar biasa! Sudah seharusnya beliau seperti itu!”
“Nona Ri’aima hebat! Anda rajin sekali belajar pedang! Anda mirip dengan Tuan Oma saat masih muda!”
Ketika kemampuan pedang diakui oleh orang-orang di barak dan secara resmi bekerja di tempat tersebut, semua pujian yang melambung kepada saya terdengar seperti sindiran halus.
Tidak menghargai jerih payah secara individu, mereka semua selalu menyetarakan hasil yang ada dengan fakta bahwa saya adalah Putri Sulung Kelurga Stein. Menganggap bahwa hasil keringat yang telah saya keluarkan tidaklah terlalu berarti, sebab hal tersebut setara dengan nama Keluarga Stein.
Ketika menginjak usia 19 tahun, pada saat itu saya baru menyadarinya. Meski berusaha sekuat tenaga, bersaing dengan Baldwin yang selalu diperhatikan oleh Ayahanda, itu semua akan berakhir percuma.
Saya hanyalah seorang perempuan dalam Keluarga Bangsawan Stein, tidak lebih dari itu dan tidak diharapkan untuk melebihi kodrat tersebut.
Bahkan Ibunda sejak dulu hanya diam dengan apa yang ingin saya lakukan, tidak mendukung ataupun memberikan larangan.
Kedua adik saya selalu memberikan tatapan mengasihani, seakan-akan mereka lebih tinggi meski kita adalah saudara.
Semakin memikirkan hal-hal negatif tentang keluarga, semua usaha yang saya lakukan selama bertahun-tahun terasa berakhir menjadi sebatas lelucon.
Layaknya badut yang menari-tari tidak jelas dan membuat lawakan dalam pentas, orang-orang yang melihatnya bertepuk tangan dan menikmati itu sebagai pertunjukan. Benar-benar konyol dan memuakkan.
Saat menyadarinya, saya sadar bahwa diri ini sama sekali tidak berkembang sejak dulu.
Masih menjadi anak-anak yang mengharapkan perhatian kedua orang tua, lalu melakukan hal bodoh yang bertentangan dengan keinginan mereka.
Meski seharusnya saya pikir dengan mengasah ilmu pedang membuat diri ini diakui oleh mereka, namun hal tersebut berakhir sebaliknya.
Ketika beranjak 20 tahun, saya perlahan berhenti berlatih dan lebih suka menyendiri di Mansion.
Sering tidur, lalu enggan belajar dan hanya membuang-buang waktu dengan percuma. Muak dengan segalanya, berharap sebuah perubahan terjadi. Namun, saya sendiri tidak pernah berusaha untuk berubah atau membuat sebuah perubahan.
Tanpa sadar, saya menjadi seorang pemalas yang hanya bisa menyalahkan keadaan.
Menggerutu, mengeluh, dan berkata pada sendiri bahwa hal tersebut tidak dimungkiri. Sebuah kepastian yang menggerogoti membuat saya menerima kodrat sebagai perempuan.
Mulai patuh dengan perintah Ayahanda, lalu mendalami kehidupan sebagai perempuan bangsawan pada umumnya. Melatih keterampilan kesenian, tata krama sebagai bangsawan, dan mulai belajar meriah diri.
Sejak berumur 21 tahun, saya mulai sering mengikuti undangan pesta dari keluarga bangsawan lain.
Mengingat usia yang sudah memasuki masa mekar bagi seorang gadis, Ayahanda menyuruh saya untuk lebih akrab dengan anak-anak keluarga bangsawan lain. Mempererat hubungan, lalu bersosialisasi dengan mereka layaknya seseorang dari kalangan atas.
Saat itulah saya mulai kenal dengan anak dari Keluarga Quidra, Iota.
Mungkin karena sering bepergian bersama dan mengikut pesta yang diadakan oleh para bangsawan lain di tempat lain, saya mulai memiliki perasaan terhadap Putra Sulung Keluarga Quidra tersebut.
Belum genap satu tahun sejak pertama kali bertemu, kami pun menjadi sepasang kekasih.
Menjadi lebih sering bertemu, lalu menyembunyikan hubungan dari orang tua masing-masing sampai kami siap untuk melangkah ke tahap yang lebih serius.
Tanpa sadar, saat itu saya benar-benar melupakan semua usaha yang dulu pernah ada. Berakhir menjadi seorang perempuan biasa yang jatuh kasmaran dengan seorang pria menawan.
Pedang saya buang jauh-jauh, melupakan kewajiban sebagai seorang anak bangsawan, dan hati selalu diisi rasa rindu.
Undangan pesta yang dulu tidak saya suka berubah menjadi satu-satunya hal yang diri ini tunggu. Sebab selama ada pasta, Iota juga akan datang dan saya bisa bertemu dengannya tanpa cemas terhadap pandangan orang lain.
Namun seakan takdir tak ingin perempuan ini menyerah dengan usaha yang pernah ada di masa lalu, pertemuan itu terjadi.
Mungkin hal tersebut terlalu berlebihan jika disebut pertemuan, sebab apa yang saya lakukan hanya melihat dan dipaksa untuk menyadari sesuatu saja.
Tidak ada kata yang keluar, bahkan mata kami pun tidak saling bertatapan.
Pesta ulang tahun ketujuh Putra Tunggal Keluarga Luke, tepat satu tahun sebelum anak laki-laki tersebut dikenal sebagai Pembunuh Naga dan namanya menjadi sangat terkenal di kalangan bangsawan.
Pada acara yang terkesan aneh tersebut, saya bertemu dengan anak berambut hitam dengan sorot mata tajam layaknya orang dewasa itu.
Untuk acara yang diadakan oleh Keluarga Marquess, pesta saat itu tidaklah terlalu mewah mengingat kondisi perekonomian yang ada setelah kegagalan Ekspedisi Dunia Astral Pertama.
Undangan yang dibagikan pun kebanyakan hanya terbatas untuk anak-anak bangsawan dari Wilayah Luke, lalu hanya segelintir bangsawan saja yang datang.
__ADS_1
Meski begitu, jamuan yang diberikan memang terkesan mewah untuk bangsawan kelas atas. Seakan-akan pembatasan undangan hanya dimaksudkan supaya kualitas pesta tidak berkurang dari standar yang ditetapkan.
Namun, bukan hal tersebut yang membuat acara itu memiliki kesan aneh.
Meski disebut pesta ulang tahun, anak yang seharusnya menjadi sorotan acara tersebut sama sekali tidak muncul di depan tamu undangan.
Bahkan sampai-sampai para Shieal di Kediaman Luke harus mencari ke penjuru Mansion, dengan panik ingin segera menemukan sang Tuan Muda untuk ditunjukkan kepada para tamu.
Di tengah kebingungan karena Putra Tunggal Keluarga Luke sama sekali tidak kunjung muncul di hadapan para tamu, saya yang berniat untuk mencari angin keluar dari aura.
Berjalan di teras Mansion bersama Iota, lalu bercanda kecil sembari menikmati bunga yang mekar dengan indah pada taman. Layaknya sepasang kekasih pada umumnya.
Namun, dengan tanpa diinginkan ⸻ Seakan-akan diri saya memang tertarik oleh jiwa yang dimilikinya, saat itu sorot mata dengan cepat berpindah ke arah sosok tersebut.
Berpindah dari Iota ke seorang anak laki-laki yang berbaring tengkurap tenang di atas hamparan bunga mekar. Membaca buku dengan tenang, hanya tenggelam dalam dunianya sendiri.
Saat melihatnya, saya langsung tahu bahwa dia adalah Odo Luke.
Mata biru cerah dan rambut hitam pekat menjadi ciri-ciri Keluarga Luke. Terlebih lagi, postur tubuh yang bongsor sesuai rumor juga memperkuat kesimpulan tersebut.
Pada saat semua pelayan di Mansion mencari dirinya, seakan tidak peduli anak laki-laki tersebut hanya fokus membaca buku yang lebih besar dari kepalanya. Menjadikan taman bunga sebagai kasur, lalu aroma wangi yang ada sebagai pengharum.
Ah, ternyata ada juga orang sepertinya ….
Dalam benak, saya merasa lega saat melihatnya. Berpikir bahwa memang ada anak bangsawan yang memiliki sikap lebih buruk dari saya, itu benar-benar melegakan.
Itu membuat saya merasa terselamatkan.
Namun seakan ingin membantah suara hati saya, anak laki-laki tersebut membuka telapak tangan dan mulai merapalkan mantra.
Menggunakan sihir dengan mudah, lalu kembali membuka halaman lain dari buku yang sedang dipelajari.
Itu membuat langkah saya terhenti, menatap tidak percaya bahwa anak kecil sepertinya bisa dengan mudah menggunakan sihir. Meski itu hanya mengeluarkan api dari tangan, namun hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari oleh anak-anak.
Berusaha untuk tenang, saya menekankan pada diri sendiri bahwa hal tersebut adalah wajar. Memasang senyum kecut, lalu kembali melangkahkan kaki bersama Iota.
Dia putra sang Penyihir Cahaya, sudah sewajarnya punya kemampuan sihir seperti itu! Ya! Itu wajar! Tidak ada yang aneh!
Tanpa rasa malu, saya berubah menjadi seperti pejabat yang dulu pernah menyindir halus dengan pujian-pujian.
Tidak memuji secara individu, lalu menganggap bahwa hasil tersebut adalah wajar mengingat siapa orang tuanya.
Namun seakan ingin menertawakan perasaan saya pada saat itu, kabar tentang Pembunuh Naga terdengar setahun setelah pesta tersebut.
Awalnya saya tidak percaya. Tidak mungkin anak kecil yang saya temu saat itu berubah menjadi sangat kuat sampai-sampai bisa membunuh sang Naga Hitam. Lalu, sekali lagi saya meyakinkan diri dengan alasan-alasan lain.
Mungkin Naga Hitam sudah melemah karena sebelumnya dilawan oleh sang Ahli Pedang!
Ha hah! Itu benar! Pasti ada yang salah dengan semua ini! Ini pasti konspirasi untuk meningkatkan nama Putra Tunggal Keluarga Luke itu!
Saya dengar Keluarga Rein juga ikut campur dengan urusan Keluarga Luke! Mereka pasti yang merencanakannya!
Dengan berbagai alasan, saya berusaha untuk meyakinkan diri saya sendiri. Untuk melindungi hati yang terasa semakin rapuh setiap harinya.
Lalu perlahan-lahan, saya paham bahwa rasa kasmaran telah hilang dari hati dan pikiran tenggelam kepada anak kecil yang pernah saya temui saat itu.
Hubungan saya dengan Iota menjadi semakin buruk, lalu pada klimaks kekasih saya tersebut bahkan mempertanyakan perasaan yang ada.
Berkata bahwa apakah perasaan dalam hati ini memang benar-benar cinta atau hanya rasa kagum semata.
Sebelum bisa memberikan jawaban atau memperbaiki hubungan, kejadian kemunculan Raja Iblis Kuno terjadi. Tepat pada musim dingin tahun, itu terjadi secara tiba-tiba.
Membunuh banyak prajurit Kota Rockfield, lalu juga merengut nyawa kekasih saya tersebut beserta Kepala Prajurit sebelumnya.
Seakan hati saya telah diambil oleh orang lain, saya tidak terlalu merasakan kesedihan saat kematian Iota.
Meski meneteskan mati dan berkabung, namun itu berlangsung sangat cemat dan hati tidak menjadi kosong setelah kematiannya.
Saat mendengar kabar bahwa yang Odo Luke juga berkontribusi dalam mengalahkan Raja Iblis Kuno, saya benar-benar merasa ditampar.
Anak yang dulu saya anggap remeh benar-benar telah menjelma menjadi orang penting, melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa diri ini capai.
Rasa frustrasi benar-benar mengisi benak saya. Membuat diri ini merasa semakin gila dan muak dengan segalanya.
Di saat itu, sekali lagi hal yang tidak terduga terjadi.
Saya dan Baldwin malah diajak oleh Ayahanda pergi ke Kediaman Keluarga Luke untuk menghadiri pesta pertunangan.
Tanpa bisa menolak, tubuh ini pun sekali lagi pergi ke Mansion tersebut. Sebuah tempat di mana kehidupan saya seakan dibelokkan, lalu menyimpang ke jalur yang salah.
Pada acara tersebutlah saya kembali melihatnya, sosok yang telah membuat kehidupan ini benar-benar berubah.
Untuk sesaat, saya sendiri tidak mengenali rupa Odo Luke saat itu.
Ia tiba-tiba muncul dari dalam genangan air yang datang entah dari mana, dengan tubuh seorang pemuda yang terlihat sangat menyimpang dari usia aslinya. Namun, bukan itu yang membuat saya dan semua orang di tempat itu terkejut.
Aura mengerikan, nafsu membunuh yang samar-samar merembas, dan gestur tubuh layaknya seorang veteran perang.
Untuk seorang anak yang bahkan belum berusia satu dekade, semua itu tampak sangat tidak wajar. Benar-benar sangat menyimpang.
Bahkan, untuk sesaat saya sempat merasa dia bukanlah seorang manusia.
Sejak saat itulah, Odo Luke berubah menjadi pandangan ideal bagi diri.
__ADS_1
Sebuah bentuk sempurna yang didambakan, lalu dikagumi oleh pemuda-pemudi yang juga mendatangi acara tersebut.
Setiap generasi muda yang melihat Odo Luke saat itu pasti akan merasakan hal tersebut, bahwa pemuda itu memang pantas untuk menyandang gelar Raja Felixia selanjutnya.
Bukan sekadar formalitas, namun karisma dan wibawa unik yang ada padanya memang sangat memikat bagi muda-mudi.
Paling tidak, selama acara pertunangan saya merasakan hal itu dengan sangat kuat. Percaya bahwa pemuda itu memang terlahir berbeda dan tumbuh untuk menjadi seorang pemimpin.
Meski tidak mengatakan hal tersebut di hadapan para orang tua, wajah pemuda-pemudi saat itu memang memperlihatkan ekspresi kagum. Percaya bahwa Odo Luke memang berbeda dengan mereka dan pantas untuk dijadikan panutan.
Memang ada juga yang memperlihatkan gelagat iri dan memancarkan niat permusuhan pada wajah, namun itu menjadi tanda bahwa memang Odo Luke memiliki drajat yang lebih tinggi.
Orang-orang seperti itu merasa terancam dalam beberapa hal, sehingga perasaan seperti itu tumbuh dalam diri mereka.
Bahkan untuk saya sendiri, sekilas perasaan seperti itu pernah tumbuh dengan jelas. Dengki, iri, dan ingin menjatuhkan. Namun, dengan cepat hal tersebut hilang dari benak dan saya memahami bahwa untuk bisa melakukan hal tersebut sangatlah mustahil.
Oleh karena itu, hanya rasa kagum sajalah yang tersisa.
Paham bahwa pemuda itu sangat berbeda dari semuanya, lalu menjadikan sosok tersebut sebagai gambaran ideal dan nilai ukur untuk setiap tindakan yang saya ambil.
Sekarang⸻
Bahkan sampai sekarang cara pandang tersebut sama sekali tidak berubah.
Meski saya telah bertemu dan berbicara langsung dengan pemuda itu, ia tetap menjadi sebuah gambaran ideal untuk saya.
Meski sedikit berbeda dari ekspektasi, saya bisa menerimanya dan mulai menganggap itu kelebihan lain yang dimiliki Odo Luke.
Berbeda dengan yang saya kira, ia tidak memandang rendah kasta yang ada di bawahnya. Memperlakukan semua orang dengan setara, lalu bertindak sedikit bebas dan tetap memperhatikan statusnya sendiri demi menjaga nama Keluarga Luke.
Memiliki sifat lembut, namun terkadang juga kasar. Cara pandang yang unik, filosofi yang berbeda, dan selalu mengambil langkah yang bahkan tidak pernah saya pikirkan.
Dengan cepat, Odo Luke bahkan bisa menemukan jalan untuk masalah yang sedang melanda Rockfield. Membantu Keluarga Stein tanpa pikir panjang, sebab ia menilai itu lebih menguntungkan untuknya sendiri.
Pemuda itu bisa mengambil langkah dengan tepat, lalu memiliki kemampuan untuk membujuk orang-orang yang dirinya butuhkan.
Meski terkadang dalam setiap kalimat menyimpan makna ganda dan kebohongan, bagi saya semua itu terasa sangat lembut.
Daripada kenyataan yang menyakitkan, saya lebih suka kebohongan dan harapan semu yang ia berikan.
Pada hari itu saya benar-benar bersyukur bisa bertemu dengannya di balai kota, mengajak pemuda itu datang ke Kediaman Stein dan menjalin kerja sama.
Hanya dalam beberapa hari, sekali lagi cara pandang perempuan ini berubah. Terbuka semakin luas dan sedikit memahami arti dari apa yang pemuda itu lihat.
Meski saya masih belum bisa memahami Odo Luke, namun tetap saja ia tampak sangat menawan. Ia bagaikan sebuah bulan purnama yang bersinar indah. Tidak bisa dijangkau meski terlihat dekat, apalagi dimiliki oleh perempuan ini.
Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, pada hari pertemuan itu saya juga menyadarinya. Alasan dulu mengapa hubungan dengan mendiang kekasih saya mulai regang, lalu tidak bisa bersedih lama-lama setelah kematiannya.
Sejak pertemuan di pesta ulang tahun tersebut, hati saya telah dicuri oleh anak kecil waktu itu. Tampak begitu menarik, penuh misteri, dan mengagumkan di mata saya.
Orang-orang berkelompok untuk menutupi kekurangan yang ada, membentuk koalisi untuk bisa mendapatkan kenyamanan. Namun, layaknya tidak memiliki kekurangan ataupun ingin meraih kenyamanan, insting seperti itu tidak terasa dari Odo Luke sejak saya pertama kali bertemu dengannya.
Sampai sekarang pun hal seperti itu tidak ada padanya. Meski pemuda itu mengumpulkan orang-orang untuk membantu rencana yang berlangsung, tidak sekalipun saya merasa bahwa ia bersungguh-sungguh meminta atau membutuhkan bantuan orang lain.
Pada saat meminta sesuatu, pemuda itu juga selalu menawarkan sesuatu pada saat bersamaan. Karena hal tersebutlah setiap lobi yang dilakukan pemuda itu selalu berhasil, bisa memikat lawan bicara dengan tawaran serta tekanan yang diberikan.
Saya mencintainya⸻
Mungkin itu terdengar konyol.
Mungkin juga beberapa orang akan menganggap saya lacur karena bisa berpindah hati dengan mudah.
Mungkin saja perasaan ini hanyalah sebatas kagum dan ketergantungan.
Mungkin saya ini hanya bersifat semu, layaknya bunga pada musim semi yang kelak akan layu.
Namun, tetap saja saya yakin bahwa perasaan yang ada dalam benak ini adalah cinta. Di antara kagum dan ingin mengandalkan pemuda itu, perasaan cinta dan ingin memiliki lebih besar.
Sebab itulah, meski Ayahanda telah sehat dan bisa mengurus masalah yang ada, saya tetap ikut campur dalam dunia politik meski paham tidak terlalu berguna untuk beliau.
Tuan Odo berada di luar jangkauan tangan ini, saya memahami hal tersebut dan bahkan Baldwin sempat memperingatkan.
Rasa sakit yang kelak akan hati ini rasakan pasti akan merusak saya. Menghancurkan perempuan lemah ini sampai tidak bisa berdiri lagi.
Namun daripada rasa takut untuk tersakiti, saya lebih ingin menggunakan momen yang ada sekarang untuk membantu Odo dan terus bisa melihatnya.
Bukan hanya ingin mengisi kekosongan hati seperti saat dengan Iota, apa yang saya harapan dari Tuan Odo sangat berbeda.
Sejak pertama kali melihat lelaki rambut hitam itu, sorot matanya telah mengisi kekosongan dalam hati saya. Memberikan sebuah arti, menyampaikan sesuatu yang tidak bisa saya paham saat itu.
Ini memang terdengar serakah jika saya berharap untuk memilikinya. Namun ….
Namun⸻
Jika hanya sekadar berharap, itu tidak masalah, bukan?
ↈↈↈ
Catatan Kecil :
Fakta 043: Lima dunia (dimensi/realm) utama. Dalam pembagiannya, mencangkup :
Alam Kematian / Neraka / Naraka
Dunia Astral
Dunia Nyata
Kayangan
Surga dan Arsh
__ADS_1