
.
.
.
.
Aroma bunga lavender mengisi ruangan tersebut, semerbak layaknya tiupan angin musim semi di tengah malam. Sinar purnama masuk melalui jendela, berubah warna saat melewati kaca patri yang dipasang pada beberapa sudut.
Biru, merah, dan kuning ⸻ Itu merupakan pengategorian warna dasar, disebut Hue dan dapat mewakili berbagai macam warna dari jenisnya. Memiliki frekuensi yang beragam dari terang sampai gelap, lalu pada akhirnya akan menjadi hitam saat semuanya bergabung.
Ruangan tersebut bergaya arsitektur Art Nouveau, menonjolkan keindahan yang bersumber dari alam dan kecantikan feminin. Sebuah aliran seni yang menggunakan garis sensual dan cahaya halus sebagai dasarnya.
Selain itu, gaya arsitektur tersebut juga menggunakan garis bergelombang dan geometris dalam penerapannya. Dibumbui dengan warna-warna dasar sebagai acuan keindahan, lalu pola tumbuhan dan dedaunan untuk mencerminkan keasrian alam.
Entah itu pahatan, kaca, perabotan, pintu, lantai, atau bahkan langit-langit, semua benda yang ada di dalam ruangan tersebut memiliki pola tumbuhan. Terdiri dari daun dedalu, akar-akar cemara, dan pola geometri unik yang membentuk sebuah gambar berkisah.
Ruangan itu sebagai besar terbuat dari keramik, memiliki warna-warna tua seperti cokelat dan krem. Beberapa perabotan terbuat dari kayu jati yang dipoles, tampak mengkilap saat terpapar sinar rembulan yang masuk melewati kaca patri.
Tempat tersebut memiliki langit-langit berbentuk kobah besar, diisi dengan lukisan geometri berwarna mencolok. Membentuk sebuah gambar abstrak, tampak seperti orang-orang yang sedang memperebutkan sebuah kotak hitam.
Tidak seperti kebanyakan negeri di Benua Michigan, sumber pencahayaan yang digunakan pada ruangan tersebut bukanlah kristal sihir. Tentu saja bukan juga lilin ataupun alat penerang berbahan bakar minyak.
Layaknya sebuah tempat dengan peradaban modern, lampu-lampu panel terpasang pada beberapa sudut ruangan. Dari dinding sampai langit-langit, semuanya tertara rapi sampai cukup untuk menyinari seisi ruangan.
Tempat tersebut tidak memiliki struktur sihir, bahkan udara hampir tidak memiliki aliran Ether ataupun Mana. Hanya ada beberapa kabel sebagai media penyalur listrik, tersembunyi di dalam dinding bangunan dan bersumber dari reaktor nuklir.
Meski kesan arsitektur tua melekat sangat kental, tempat tersebut juga memiliki alat-alat elektronik modern. Bukan hanya lampu panel, ada juga lempari es, jam digital, penyedot debu, pendingin ruangan, dan bahkan sebuah proyektor untuk menampilkan layar hologram.
Tempat tersebut adalah salah satu kastel milik Keluarga Kerajaan Moloia. Dikenal juga sebagai benteng Nihil oleh penduduk lokal, terletak pada Rits’roa yang merupakan salah satu wilayah Polis negeri tersebut.
Berdiri pada sebuah lembah yang dihimpit perbukitan, cukup jauh dari pemukiman dan dikelilingi hutan pepohonan oak. Dekat dengan sumber perairan seperti danau dan sungai, namun jauh dari laut karena topografi yang ada.
Kastel tersebut tidaklah terisolasi dari lingkungan masyarakat. Berfungsi layaknya sebuah benteng militer dan gerbang masuk wilayah Rits’roa, beberapa kilometer ke arah utara terdapat wilayah perkotaan. Belasan distrik berdiri sebagai pusat pemukiman, ada juga beberapa pabrik dan pusat penelitian yang tampak modern.
Meski cukup dengan wilayah umum, tetap saja tidak sembarang orang bisa menginjakkan kaki di Kastel Nihil. Bangunan tersebut bukanlah pusat pemerintahan Rits’roa, namun dalam administrasi tercatat secara hukum sebagai bangunan sakral. Dengan kata lain, tempat itu tidak boleh dibongkar, dipindahkan, dan kebal terhadap segala peraturan pemerintah lokal.
Karena itulah, hanya segelintir orang saja yang bisa bekerja di kastel tersebut. Bahkan pengadaan barang hanya dilakukan selama empat bulan sekali, sebab lalu-lalang logistik sangat dibatasi oleh pihak administrasi kastel. Proses itu pun dilakukan di luar lingkungan kastel, sebab pedagang dan orang asing tidak diperbolehkan masuk demi menjaga kerahasiaan.
Layaknya infrastruktur milik Keluarga Kerajaan pada umumnya, tempat tersebut mempekerjakan puluhan pelayan untuk merawat bangunan dan lingkungan di sekitar. Diatur oleh seorang Kepala Pelayan yang posisinya diwariskan secara turun-temurun, lalu berperan juga sebagai Pengurus Utama kastel tersebut.
Bangunan utama kastel dikelilingi menara pengawas yang menjulang sampai bukit, barak untuk tempat melatih para prajurit, dan kebun anggur di halaman belakang. Jalan utama terbuat dari bebatuan alam berwarna terang, lalu pada kedua sisinya tumbuh rentetan pohon cedar berumur ratusan tahun.
Tidak seperti malam-malam biasanya, beberapa kendaraan diesel terparkir pada halaman kastel. Mereka bukanlah kelompok pedagang ataupun orang pemerintahan, namun beberapa peneliti dari Ibukota Kerajaan Moloia, Roter Pfeil.
Tidak jelas mereka berasal dari Fraksi mana, penampilan dan pakaian orang-orang dari pusat penelitian ataupun laboratorium cenderung mirip. Tetapi, kehadiran Tuan Putri Ulla di antara mereka membuat orang-orang kastel menafsirkan secara sepihak.
Mengira para peneliti tersebut berasal dari Fraksi Sistem Pengadilan dan Politik, lalu mulai memperlihatkan tatapan dingin dan menciptakan suasana mencekam. Takut jika pihak Keluarga Kerajaan ingin memulai sesuatu di Wilayah Rits’roa.
Beberapa pelayan mulai membicarakan mereka dengan nada tidak suka, mata-mata dari Fraksi lain yang berbaur terus mengamati gerak-gerik, lalu para prajurit yang berjaga pun ikut waspada untuk mencegah kejadian tidak diinginkan. Layaknya sebuah bahan peledak, Putri Ulla dan para peneliti terus mendapatkan tatapan tajam dari orang-orang.
Tetapi, mereka semua tampak tidak peduli dengan orang-orang kastel. Para peneliti yang duduk di atas truk retro malah sibuk berdiskusi, membahas teori-teori untuk diuji dan hasil penelitian mereka.
Pada kendaraan yang berbeda, Putri Ulla duduk pada sebuah mobil jip retro berwarna hijau gelap. Sendirian tanpa ada satu pun orang yang berani mendekat, dengan tenang menunggu seseorang kembali dari bangunan kastel.
Bagian atas yang terbuka membuatnya bisa melihat langit malam dengan jelas. Hembusan angin menerpa kulitnya yang halus, mengibarkan rambut ungu sang Tuan Putri layaknya kain sutra. Wajahnya yang cerah tampak jelas di bawah paparan sinar rembulan, tampak menawan dengan tubuh berbalut gaun midi warna biru navy.
Tetapi, untuk beberapa alasan rupa indahnya menjadi sebuah momok bagi orang-orang kastel. Memberikan kesan layaknya sebuah tanda petaka, mengingatkan mereka dengan beberapa tragedi yang terjadi selama Perang Sipi.
__ADS_1
Sebelum suasana menjadi semakin suram, tiba-tiba kilatan merah tua melesat arah kastel. Dari gelapnya langit malam jatuh tepat menghantam puncak kubah, terus melesat sampai bagian tengah bangunan.
Suara gemuruh juga terdengar bersama guncangan kuat, membuat perhatian semua orang segera teralih. Beberapa prajurit yang berjaga segera memeriksa, berlari sembari membawa senapan mereka menuju bangunan kastel.
Para pelayan dan prajurit di barak ikut bergegas ke sumber suara, mengenakan seragam lengkap dan suara alarm peringatan pun dibunyikan. Lampu pada setiap menara pengawas dinyalakan, menyoroti titik-titik gelap kastel untuk mencegah penyusup kabur ataupun masuk.
Di tengah suasana yang berubah tegang dengan cepat, para peneliti tetap duduk di truk dan meneruskan diskusi mereka. Sama sekali tidak peduli seakan-akan hal tersebut tidaklah penting.
Berbeda dengan mereka, Putri Ulla Vrog Ma’tar segera turun dari kendaraannya. Menatap dengan penuh rasa penasaran, lalu tanpa pikir panjang langsung melangkahkan kaki menuju bangunan kastel.
“Cahaya tadi …, apa itu kilatan teleportasi kuantum?”
Dalam hitungan detik, wajah Putri Ulla langsung tampak terkesima. Rasa penasaran dengan cepat memenuhi benaknya, membuat perempuan rambut ungu tersebut melebarkan senyum tipis layaknya seorang anak polos.
Tanpa berpikir dua kali atau bahkan mempertimbangkan risiko yang ada, Putri Ulla lekas mengaktifkan gawai khusus berbentuk gelang pada lengan kirinya. Dalam hitungan detik gelombang unik terpancar ke sekitar tubuh, menyembunyikan hawa keberadaannya dalam frekuensi tertentu.
Layaknya diselimuti tirai yang membuatnya tidak kasat mata, perempuan rambut ungu tersebut berjalan menyusup melewati para prajurit. Sama sekali tidak mengeluarkan suara saat melangkah, lalu kehadiran pun benar-benar disamarkan oleh frekuensi khusus alat miliknya.
Melewati anak tangga bagian depan, pintu utama, lalu terus masuk sampai bangunan lobi dan ruangan tengah kastel. Setelah mengikuti para prajurit yang berbondong-bondong, akhirnya Putri Ulla sampai pada tempat jatuhnya kilatan merah.
Tetapi, sesuatu yang ada di tempat itu berbeda dengan ekspektasi sang Tuan Putri. Bersama para prajurit yang berkumpul, ia terpana dalam hening. Tidak bisa mengeluarkan suara, hanya menatap lurus seakan-akan puas hanya dengan melihatnya saja.
Cahaya rembulan masuk melaui lubang pada langit-langit, menyinari dua insan yang berada di tengah tempat tersebut. Seorang pria rambut pirang dengan bedan kekar, lalu perempuan tanpa busana yang digendong layaknya seorang Tuan Putri.
Sebuah pemandangan yang tampak begitu indah dalam ruangan klasik tersebut, namun pada saat yang sama terasa sedikit menakutkan. Seakan-akan keduanya adalah sosok kejam yang datang untuk membawa kehancuran.
Putri Ulla ⸻ Meski sekarang dirinya disebut seperti itu oleh orang-orang, tetapi pada kenyataannya jiwa yang ada dalam diri perempuan tersebut adalah Or’iama. Seorang wanita yang dikenal sebagai salah satu selir misterius Raja Hadrian, disebut juga sebagai tokoh penting dalam perkembangan teknologi Kerajaan Moloia selama beberapa dekade terakhir.
Karena itulah, dirinya langsung bisa memahami situasi tersebut. Sebagai peneliti yang telah membuang sisi kemanusiaan demi mendapatkan pengetahuan, Or’iama samar-samar tahu siapa sebenarnya perempuan rambut hitam tersebut.
Tetapi sebelum mulut bisa menyampikan rasa keingintahuan, langkah Putri Ulla seketika terhenti saat ditatap oleh perempuan rambut hitam tersebut. Secara insting dirinya paham tidak pantas untuk bertanya kepada sosok tersebut, lalu tanpa sadar tubuh pun mulai berlutut kepada mereka berdua.
“Koordinat kita sedikit melenceng ….”
Perempuan rambut hitam tersebut turun dari Richard. Menginjakkan kaki tanpa alas di atas lantai marmer, ia sekilas mendongak dan menatap langit-langit. Lubang terbentuk tepat pada bagian lukisan kubus hitam yang diperebutkan oleh banyak orang, seakan kesalahan yang ada merupakan sebuah bagian dari susunan naskah takdir.
“Alat itu sudah berumur ribuan tahun, bukan?” Richard memasang mimik wajah meremehkan. Tanpa memikirkan tatapan semua orang di tempat itu, pria rambut pirang tersebut dengan santai lanjut berkata, “Mungkin saja rusak karena umur. Kebanyakan alat elektronik tidak tahan lama, sih.”
“Muka tembok ….”Helena langsung melirik tajam saat mendengar itu, lalu menurunkan alis dan menatap datar penuh rasa kesal. Setelah menghela napas ringan, perempuan rambut hitam itu dengan tegas berkata, “Kau yang merusak alatnya tadi! Suruh siapa kabelnya diputus?!”
“Ah, menyebalkan ….” Richard membunyikan lidah. Sembari memalingkan pandangan dan meletakan kedua tangan ke pinggang, pria rambut pirang tersebut mengelak, “Yang menciptakan diriku itu kau, bukan?! Seharusnya kau tahu kalau aku itu tidak cocok dengan alat elektronik!”
Helena tidak membalas, hanya memberikan tatapan datar seakan ingin membentak. Paham bahwa citra harus tetap dijaga saat berada di hadapan para mortal, perempuan rambut hitam tersebut segera berpaling dan menatap orang-orang yang berkumpul.
“Ini memang menyebalkan ….” Helena mengangkat kedua tangan ke tengkuk, lalu sedikit menyibak rambutnya dan memeriksa choker yang terpasang pada leher. Setelah menemukan mekanisme tombol dan lekas menekannya, perempuan tersebut segera mengambil langkah ke depan sembari mengajak, “Mari kita pergi dari sini!”
Bunyi seperti alarm terdengar pada choker setelah ditekan. Tidak lebih dari sedetik, tubuh Helena langsung diselimuti partikel cahaya kemerahan. Keluar dari leher, merayap ke bawah layaknya koloni semut merah.
Itu bukanlah Ether ataupun Mana, melainkan mikroorganisme khusus yang tersimpan di dalam choker. Terkoordinasi secara penuh dengan kesadaran Helena ketika diaktifkan, lalu berfungsi layaknya anggota tubuh tambahan dan bisa dikendalikan dengan sesuka hati.
Sifat organisme tersebut lebih mendekati virus daripada bakteri. Dapat mengubah susunan genetik tubuh dengan sangat cepat, lalu menciptakan mutasi buatan sesuai dengan kehendak inangnya.
Saat Helena mengayunkan telunjuk secara horizontal, mikroorganisme yang menyelimuti tubuhnya langsung bereaksi. Konstruksi genetik bermutasi dalam hitungan detik, lalu organisme itu pun menciptakan lapisan serat pada permukaan kulit layaknya busana.
Pakaian tersebut berbentuk gaun midi dengan warna merah delima, tampak ketat dan sangat melekat. Memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas, sedikit transparan pada beberapa bagian.
__ADS_1
Itu murni terbuat dari darah yang memuat ribuan organisme, karena itulah permukaannya dapat bergerak-gerak layaknya makhluk hidup. Bergelombang seperti kain, namun bentuknya selalu berubah-ubah sesuai dengan kehendak sang pemakai.
Monophobia, itulah Kode Khusus yang tertanam pada tubuh fana Helena. Susunan infromasi berupa mikroorganisme, memiliki sifat seperti virus mematikan, mampu membuat mutasi buatan pada tingkat ekstrem. Namun, ketika diaktifkan itu akan sepenuhnya patuh kepada individu yang menjadi inangnya.
Sedikit berbeda dengan Nano-Machine yang memiliki suplai energi sendiri, untuk dapat bertahan hidup mikroorganisme tersebut membutuhkan konsumsi dari inang. Entah itu dalam bentuk darah, kalsium, atau bahkan gizi seperti vitamin, karbohidrat, lemak, protein, dan mineral.
Karena itulah, Kode Khusus yang melekat pada tubuh fana Helena cenderung mirip seperti Organisme Simbiosis. Memiliki bentuk Daath dan Aeons yang terpisah dari inang, lalu hidup layaknya koloni semut yang patuh kepada sang ratu.
Setelah Monophobia menyatu secara penuh dengan tubuhnya, Helena langsung menunjuk Putri Ulla. Pakaian hidup yang menyelimuti tubuhnya mulai terpisah, membentuk pita-pita merah layaknya ular berbisa.
Hampir semua orang yang melihat hal tersebut kebingungan, bertanya-tanya kenapa kain bisa bergerak-gerak seperti itu layaknya makhluk hidup. Mengira bahwa itu adalah semacam sihir.
Bahkan, Richard yang berdiri di dekat Helena pun tidak tahu apa-apa. Menatap bingung dan sedikit menjauh karena enggan menyentuhnya.
Berbeda dengan mereka semua, Putri Ulla segera tahu bahwa kain tersebut adalah makhluk hidup. Memiliki sifat seperti virus yang bermutasi, lalu karakteristiknya sangat mirip dengan kemampuan para Native Overhoul.
Putri Ulla segera berdiri. Mimik wajah dipenuhi rasa penasaran, lalu pada saat itu juga keingintahuan menguasai pikiran dan tubuhnya. Layaknya dihipnotis, perempuan rambut ungu tersebut pun mendekat. Meraih tangan yang menunjuknya, lalu dipeluk erat meski tahu itu berlumuran virus.
Sembari tersenyum tipis, Helena menarik tangannya dan mengangkat dagu Putri Ulla. Menatapnya dari dekat dan berkata, “Usahamu selama ini tidaklah sia-sia, wahai makhluk yang haus akan pengetahuan.”
Salah satu pita merah menusuk Putri Ulla, tepat pada bagian kanan leher dan terus masuk ke dalam. Ribuan mikroorganisme pun disuntikkan layaknya vaksin, langsung beredar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.
Sekilas iris mata perempuan rambut ungu tersebut berubah merah, tanda bahwa Monophobia mulai memperbaharui struktur genetiknya melalui mutasi.
Beberapa detik kemudian, garis-garis nadi di sekujur tubuh mulai tampak jelas pada permukaan kulit. Memberinya rasa sakit yang luar bisa, bahkan hampir menjerit karena tidak kuat menahannya.
Sebelum kesadaran Putri Ulla melayang, proses adaptasi Monophobia pun selesai. Cabang dari Kode Khusus tersebut berhasil ditanamkan dan menyatu dengan tubuhnya.
Putri Ulla melangkah mundur dengan bingung, merasa sedikit janggal dan paham ada makhluk hidup lain dalam tubuhnya. Tanpa bertanya ataupun memastikan, perempuan rambut ungu tersebut hanya membisu. Layaknya sifat seorang peneliti, dia memikirkan jawabannya sendiri.
Setelah menjentikkan jari, Helena menarik pita merah dari tubuh Putri Ulla. Perempuan rambut hitam tersebut segera menoleh ke arah pria pirang di dekatnya, lalu menatap datar seakan ingin menanyakan sesuatu.
“Tenang saja, aku juga membawanya. Itu aku letakkan di kendaraan ….” Richard segera mendekat, lalu berlutut di hadapan sang Dewi Penata Ulang. Sembari mengulurkan tangan layaknya seorang pangeran, pria rambut pirang tersebut mengajak, “Mari kita pergi dan mulai pentas ini.”
“Tentu ….”
Sembari melempar senyum dingin, Helena meraih tangannya. Tatapan sedikit geser dan enggan melihat mata Richard. Bukan malu atau bahkan senang, namun karena kebencian dan rasa iri yang sangat kuat.
Richard berdiri. Bertingkah layaknya seorang bangsawan, ia memperlihatkan gestur layaknya pria bermartabat. Menggandeng perempuan rambut hitam di sebelahnya, lalu mulai melangkah pergi tanpa memberikan penjelasan kepada semua orang.
Seakan-akan mereka telah paham dengan apa yang terjadi, semua prajurit lekas memberikan jalan. Tidak menanyakan apa-apa, hanya menatap bingung dan takut. Tahu bahwa mereka berdua bukanlah sosok yang boleh disinggung.
Seraya sedikit menunduk, Putri Ulla pun mengikuti mereka. Sejenak menyingkirkan rasa penasaran dalam kepala, lalu berjalan di belakang Helena dan Richard layaknya penganut yang setia.
\===================================
Catatan :
Akhirnya bisa update lagi!
Akhirnya, kita hampir masuk ke pertengahan Arc ini.
Next masih Leviathan!
See You Next Time!!
__ADS_1