
Tersenyum dalam kesenangan sesat. Napas berat dihembuskan dari mulut, berubah menjadi uap putih dan terurai menjadi udara dingin.
Usaha terkadang mengkhianati hasil. Meski tahu itu percuma, kebanyakan orang akan terus berusaha dan melangkah maju. Berdoa selama perjalanan, mendambakan hasil akhir yang dapat memuaskan mereka.
Kebanyakan dari mereka tidak ingin mengakui hal tersebut, sebuah fakta bahwa terkadang kerja keras dapat mengkhianati mereka. Layaknya sebuah doa dan harapan yang terucap dari mulut, semuanya hanya akan berubah menjadi udara dan lenyap.
Menjadi bagian dari napas hidup mereka. Tidak bisa dihentikan, hanya dapat dikurangi maupun ditambah takarannya. Jika itu terhenti, maka perjalanan panjang mereka pun akan berakhir.
Tidak hanya dalam kematian secara fisik, namun juga hati dan pikiran. Sesuatu yang memberi mereka makna kehidupan⸻ Panggilan Jiwa.
Alasan selalu berasal dari luar, sedangkan tekad tumbuh dari dalam.
Ketetapan menentukan sesuatu yang harus terjadi, sedangkan keputusan merupakan tindakan untuk menentukan sesuatu.
Dedikasi adalah tekad untuk memegang kukuh keputusan, sedangkan tindakan merupakan implementasi dari keputusan yang telah diambil.
Apapun alasannya, setiap orang pasti akan terus berharap dan melangkah. Memeras pikiran, mengiris hati, dan melumuri luka dengan keringat. Karena mereka paham bahwa usaha adalah bagian dari makna hidup mereka, perjalanan untuk memenuhi Panggilan Jiwa.
.
.
.
.
Kelopak mata akhirnya benar-benar terbuka. Dalam terpaan angin kencang, pemuda rambut hitam itu hanya berdiri tegak sembari menatap lurus. Memasang wajah muram layaknya sedang kecewa, melamun dalam bisu.
Mereka telah kembali ke Dunia Nyata, muncul di tengah Altar Gerbang Dunia Astral yang digunakan sebagai akseptor teleportasi. Itu terletak pada jurang di belakang Kediaman Keluarga Stein, cukup dalam dan berhadapan langsung dengan lautan.
Tanpa membuang-buang waktu, Odo dan yang lainnya segera naik ke atas tebing. Menggunakan sihir melayang milik Vil, mereka semua diangkat secara bergantian.
Setelah sampai di atas, Putra Tunggal Keluarga Luke hanya terdiam. Mereka yang mengikuti pun ikut membisu tanpa tahu harus melakukan apa, menunggu pemuda rambut hitam itu mengambil langkah pertama untuk memulai sesuatu.
Bau tidak sedap tiba-tiba tercium, mengisyaratkan sesuatu yang buruk. Terasa seperti ada yang terbakar, bercampur kental dengan aroma amis darah dan daging gosong.
“Ah, kita sudah terlambat rupanya ….” Menyadari sesuatu, Odo Luke hanya bisa tersenyum kaku dan mengendus ringan. Berdecak kesal, pemuda rambut hitam itu melirik ke arah Vil sembari meminta, “Bisakah kau mengembalikan itu?”
“Mengembalikan?” Tanpa alasan yang jelas, Vil malah menjauh darinya. Segera berjalan pergi dari tebing sembari membawa potongan tangan kanan Odo. Itu berwarna hitam pekat, memiliki aroma sihir Naga Hitam yang sangat pekat. “Diriku masih belum yakin! Apakah engkau benar-benar Odo Luke atau bukan?” ujarnya seraya berhenti, lalu berbalik menghadap ke arah sang pemuda yang masih berdiri di tebing.
“Pintu akhirnya telah terbuka …!”
Odo tidak menjawabnya. Sembari mengulurkan tangan kanan ke depan, ia mulai berjalan menuruni tebing. Matanya sekilas berubah keemasan, memancarkan aura suci layaknya makhluk kayangan. Sedikit hampa, namun pada saat yang sama terasa hangat.
“Engkau …?” Melihat itu, Vil langsung gemetar dan mengambil langkah mundur. Menatap dengan wajah pucat, lalu segera melepas cadar dan bertanya, “Kamu sudah bukan lagi dirinya?”
Menyadari ketakutan Vil, pemuda rambut hitam tersebut berhenti mendekat. Berdiri beberapa meter dari tempat sang Siren, lalu menjawab pertanyaannya dengan senyum hangat. Namun, anehnya itu terasa menyedihkan.
“Entahlah, diriku juga tidak tahu. Dari mana dan sampai mana, sejak kapan dan sampai kapan …!” Odo kembali berjalan mendekat. Berdiri tepat di hadapan Vil, ia mengulurkan dan membelai wajah perempuan rambut biru tersebut. Menempelkan kening dengan lembut, lalu dalam kesedihan berkata, “Diriku tidak tahu lagi, ini sudah terlalu jauh! Rasanya diriku semakin memudar!”
__ADS_1
“Memudar …?” Vil tidak menghindar atau mendorong pemuda itu menjauh. Ingin memeluk dan memberikan kehangatan, namun sayang kedua tangannya sudah penuh. Sedikit kesal pada dirinya sendiri, Siren rambut biru laut tersebut hanya bisa memejamkan mata sembari bertanya, “Apa yang engkau inginkan dari diriku, Odo?”
“Tolong ingat diriku!” Odo menjauhkan wajah. Berhenti memegang Vil, ia melangkah mundur sembari memperjelas, “Seperti apa diriku yang dulu, tolong ingatlah itu dalam benakmu. Selamanya ….”
“Baiklah ….” Vil menyodorkan potongan tangan kanan yang dirinya bawa. Sembari menatap tajam, Siren itu dengan singkat memastikan, “Mengapa engkau lebih memilih untuk berubah?”
“Asal kau tahu, ini adalah proses alami ….” Odo mengambil potongan tangan tersebut. Sembari mengayunkannya ke samping, pemuda rambut hitam itu lekas mengaktifkan Hariq Iliah secara terpusat. “Aku hanya tumbuh menjadi seorang pria,” ujarnya sembari menyalakan api dari telapak tangan, lalu membakar potongan tubuh itu dengan kobaran merah gelap.
Saat api mulai padam, potongan tangan itu mulai menunjukkan wujud aslinya⸻
Sebuah pedang satu tangan. Senjata itu memiliki gagang dan bilah berwarna hitam legam. Permukaannya tampak mengkilap, berbentuk ramping, tidak terlalu panjang, dan tampak sedikit memancarkan aura hitam seperti asap.
“I-Itu ternyata pedang?” Vil sedikit terkejut. Segera menatap mata lawan bicaranya, ia langsung menunjuk sembari menuntut penjelasan, “Kenapa potongan tangan kamu bisa berubah menjadi pedang?! Terlebih lagi …, bukankah itu⸻?”
“Hmm, ini pedang yang waktu itu ditempa Ifrit!” Odo menyela dengan santai. Berjalan melewati Roh Agung tersebut, ia sekilas melirik tipis sembari menambahkan, “Ini ditempa dengan sangat baik! Aku bahkan bisa mengubah bentuknya tanpa harus merusak struktur sihir di dalamnya!”
“Eh?” Melihat sikap Odo yang tiba-tiba berubah, Vil sedikit terkejut dan berbalik. Ia segera berjalan mengikuti pemuda itu sembari bertanya, “Tunggu sebentar, Odo! Berarti itu sudah menyatu denganmu?”
“Kurang lebih seperti itu!” jawab Odo dengan tegas. Sekilas menoleh ke belakang, ia sedikit terkejut saat melihat Leviathan dan yang lain masih berdiri di tebing. “Apa yang kalian lakukan! Ayo, cepatlah! Kita selesaikan dulu masalah di sini!” ajaknya dengan suara lantang.
Laura dan Magda saling menatap, sedikit enggan dengan ajakan tersebut. Mereka berdua sekilas mengangkat pundak secara serempak, lalu berjalan mengikuti karena tidak punya pilihan lain. Lebih tepatnya, kedua Prajurit Peri itu sudah terlalu lelah untuk berdebat. Hanya bisa pasrah dan memilih untuk patuh sementara.
Berbeda dengan mereka, Leviathan hanya terdiam sembari menatap ke arah pusat kota. Memperlihatkan mimik wajah ketakutan, merasakan kematian melalui udara yang menerpa tubuhnya.
“Ke-Kenapa mereka mati? Kenapa mereka saling membunuh seperti itu?!” Leviathan segera berlari menghampiri Odo. Menarik pundak pemuda itu dari belakang dan membuatnya menoleh, lalu dengan suara terputus-putus bertanya, “Apa … yang … sedang terjadi?! Mengapa orang-orang di sana … saling membunuh?! Bahkan … anak-anak? Akh! Dia dibunuh! I-Ibunya juga! A-Apa yang sedang terjadi di sini?!”
Tidak tahan dengan semua itu, Putri Naga langsung meringkuk gemetar. Karena indra dan sensitivitas Mana yang terlalu tajam, ia dengan jelas bisa merasakan pertumpahan darah dalam jarak belasan kilometer. Itu sangat jelas dan kuat, bahkan sampai seperti bisa melihat kejadiannya secara langsung.
Hawa, suara, getaran, dan aroma peperangan tetap meresap ke dalam tubuhnya. Membangkitkan trauma, menggerogoti akal sehat Putri Naga, lalu merusak kontrol diri dari dalam. Aura sihir mulai bocor keluar dari tubuhnya, berubah menjadi tekanan udara panas dan kepulan asap putih.
Sebelum mengamuk dan meledakkan tempat tersebut, Odo langsung memukul kepala Leviathan dengan gagang pedang. Tepat pada bagian tengkuk leher, membuat kesadaran Putri Naga melayang dan pingsan.
“Huh, hampir saja …. Kota ini bisa lenyap kalau dia mengamuk!” Odo menghela napas. Menatap ke arah Vil, pemuda rambut hitam itu dengan nada sedikit kesal meminta, “Bisa tolong papah dia⸻!”
“Tidak akan!” jawab Vil dengan tegas.
“Aku belum selesai bicara …!” Odo segera berjongkok, lalu memanggul Leviathan layaknya barang bawaan. Kembali bangun dengan ekspresi kesal, ia kehilangan niat untuk menjelaskan ataupun meminta bantuan. “Sudahlah! Ayo, kita pergi! Mereka bisa mati kalau kita terlalu lambat!” ujarnya seraya lanjut berjalan.
“Mereka?” tanya Vil. Mempercepat langkah kaki, ia lekas menatap sang pemuda dari samping sembari memastikan, “Apakah itu lebih penting dari masalah di Dunia Astral? Sampai-sampai kamu harus pergi dan menyerahkan semuanya kepada Reyah?”
“Tentu saja!” Odo melirik tajam. Menghela napas sejenak, pemuda rambut hitam itu dengan tegas menjelaskan, “Kalau aku tidak bergegas, Lisia dan yang lain bisa terbunuh dalam serangan ini ….”
“Lisia?” Vil berusaha mengingatnya. Ia sedikit memalingkan pandangan, lalu kembali memasang cadar sembari berkata, “Ah! Gadis manusia dari Kota Pesisir itu?”
“Cara kau mengingatnya sedikit aneh ….” Odo kembali menghela napas, lalu menghadap ke depan seraya lanjut berkata, “Atau mungkin kau bahkan tidak berniat mengingatnya?”
“Ya, itu benar. Jujur saja diriku tidak terlalu peduli!” Vil menjawab dengan tegas, lalu memperlihatkan mimik wajah angkuh sembari kembali berkata, “Manusia hanyalah makhluk menggelikan, kecuali orang-orang yang ada di Keluarga Luke. Bukankah engkau sudah menyadarinya? Itu …, cara bangsa kami memandang umat manusia.”
“Reyah sudah memberitahuku. Hanya saja ….” Odo mengerutkan kening, merasa perkataan itu sedikit rasis dan kolot. Melirik ringan, ia melempar senyum kaku sembari menambahkan, “Aku kira kau berbeda.”
__ADS_1
“Layaknya makhluk mortal yang menyukai konflik dan menjadikan itu sebagai sejarah mereka, persepsi tersebut takkan hilang dari bangsa kami.” Vil menegaskan dengan cara yang paling masuk akal. Membalas dengan senyum kecut, perempuan rambut biru laut tersebut menambahkan, “Namun, anehnya engkau dari awal tidak terasa seperti mereka. Sakral dan Murni, mirip seperti Mavis dan Dart. Sayangnya ….”
“Aku berubah?” tanya Odo dengan nada resah, merasa seperti sedang disindir.
“Benar, kamu telah berubah …!” Vil terlihat sedikit sedih, merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa mencegah hal tersebut. “Ini menyedihkan. Namun, diriku rasa itu wajar untuk kalian. Manusia memang tumbuh dengan cepat,” tambahnya dengan suara pelan.
Pembicaraan mereka tiba-tiba terputus. Dalam kesenyapan, mereka semua berbaris melewati jalan sempit di samping Kediaman Keluarga Stein. Setelah menerobos pagar semak-semak hias, Odo dan yang lain sampai di halaman depan Mansion.
Namun, yang menunggu mereka di sana bukanlah orang-orang dari Kota Rockfield. Melainkan pasukan kekaisaran yang telah menyusup masuk sampai ke Kediaman Walikota.
Mereka berjaga dengan membawa tombak dan pedang khas Kekaisaran, mengenakan zirah ringan berwarna merah kirmizi, dan memakai helm hitam berjambul biru. Berjumlah sebelas orang yang tergabung dalam satu regu, namun tidak ada satu pun prajurit yang terlihat mencolok layaknya pemimpin pasukan.
“Luar biasa, pasukan kalian sudah masuk sampai kemari⸻!”
Tepat sebelum Odo selesai berbicara, Prajurit Kekaisaran yang melihatnya langsung terkejut dan menodongkan tombak secara spontan. Segera memanggil rekan dan memberikan peringatan, lalu membentuk formasi bertarung sembari mengepung pemuda itu dari tiga arah.
“Siapa kau!? Kenapa bisa masuk?! Seharusnya Nona Muda sudah memasang penghalang ilusi di sekitar gerbang!”
Odo langsung mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan itu. Sedikit kesal, ia sempat berniat membunuh mereka agar urusan cepat selesai. Sekilas mengangkat pedang sampai setinggi dada, namun terhenti saat merasakan pancaran sihir unik dari dalam bangunan Mansion.
“Vil, tolong urus mereka ….” Odo langsung berbalik. Sembari tetap memanggul Leviathan, pemuda rambut hitam itu berjalan naik ke atas teras. Tidak memedulikan ancaman para prajurit Kekaisaran, hanya diisi oleh rasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam Mansion. “Bunuh saja jika perlu,” tambah pemuda itu.
“Baiklah …!”
Vil mengaktifkan Inti Sihir, lalu menyalurkan Mana menuju satu titik sembari menunjuk ke depan. Tersenyum tipis dan memberikan tatapan merendahkan, Roh Agung tersebut mengubah aliran Mana menjadi zat cair. Membuatnya tipis dan tajam layaknya sebilah pedang.
Tanpa bergerak dari tempat, Vil mengayunkan tangannya secara horizontal ke arah para prajurit. Mengendalikan kabut dan udara lembab di sekitar mereka, lalu menarik semua itu menuju ujung telunjuk tangannya.
Para prajurit kekaisaran tiba-tiba mendengar suara dengung aneh. Semakin kencang dan jelas, kemudian lenyap setelah beberapa detik.
“Huh …?!”
Sebelum para prajurit kekaisaran menyadarinya, tubuh mereka telah terpotong oleh pisau air berkecepatan tinggi. Berasal dari kabut dan udara lembab, dengan rapi membelah tubuh mereka menjadi dua bagian.
Suara jeritan pun terdengar kencang, namun hanya sesaat dan lenyap ditelan kesunyian kabut. Merah mewarnai halaman, cipratan darah pun sedikit menghiasi kebun bunga dan jalan. Aroma amis menyusul setelah angin berhembus ke arah laut.
Melihat hal tersebut, Laura dan Magda langsung tercengang. Melangkah mundur untuk menjaga jarak, lalu segera naik ke teras dan menyusul Odo untuk berlindung.
“Saya kira dia lemah lembut …!” Magda segera memalingkan pandangan. Sembari berdiri di belakang Odo, perempuan rambut pirang tersebut segera menundukkan kepala dengan cemas. Tidak ingin berurusan dengan Roh Agung tersebut. “Kita memang tak boleh menilai orang dari penampilan,” bisiknya dengan suara gemetar.
“Dia bukan orang,” balas Laura dengan pelan. Sekilas ia melirik ke belakang, kemudian tanpa sengaja melihat Vil tersenyum lebar sembari menatap mayat-mayat prajurit di depan teras. “Kenapa dia malah tersenyum?” ujarnya dengan bingung.
Mendengar itu, Roh Agung rambut biru laut tersebut segera menoleh. Melempar senyum hangat, lalu melambaikan tangan dengan lembut.
Namun, semua keramahan itu terlihat mengerikan di mata Laura. Ia langsung gemetar ketakutan saat ditatap, lekas memalingkan pandangan dan menundukkan kepala. Berlindung di dekat Odo supaya tidak dihabisi olehnya.
ↈↈↈ
\==================
__ADS_1