Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[102] Serpent II – Dipenuhi Keinginan (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


Setiap orang selalu menginginkan jawaban sederhana, layaknya hitam dan putih dalam dunia. Sebuah jawaban jelas seperti satu dan nol untuk menjelaskan semua permasalahan yang ada di sekeliling mereka.


 


 


Namun, bahkan dalam kesederhanaan tersebut mereka terkadang tersesat dalam kebimbangan dan kecemasan. Mengambil jalan yang salah meski sudah memiliki pilihan, lalu pada akhirnya terjebak dalam sesuatu yang membuat mereka berhenti melangkah dan tidak bisa kembali lagi ke garis awal.


 


 


Saat menyadari kesalahan itu, beberapa di antaranya mulai menyesal dan menyalahkan keadaan yang diri mereka buat sendiri. Mengutuk, merengek, dan jatuh dalam keputusasaan yang membuat mereka semakin jatuh lebih dalam.


 


 


Tetapi, sebagian di antara mereka ada yang menerima kesalahan tersebut.


 


 


Menghadapi akibat dari perbuatan tanpa berpaling, lalu mendekap erat semua dosa dan keburukan yang telah mereka lakukan di masa lalu. Untuk menebus semuanya dan memberikan makna lain di dalam kesalahan tersebut.


 


 


Sebab itulah, hitam dan putih merupakan pilihan yang paling sulit di dunia ini. Perbuatan tidak bisa dijelaskan menggunakan angka satu dan nol, hal tersebut terlalu rumit untuk disampaikan dengan kata-kata, atau bahkan sebuah kalimat dalam sebuah tulisan.


 


 


Dalam kehidupan, semua kejadian tidak bisa dijelaskan hanya dari dua sisi antara baik dan buruk. Kedua merupakan hal sama, namun bisa juga dikatakan sangat berbeda tergantung persepsi. Sesuatu yang membedakan keduanya hanyalah sisi yang ada.


 


 


Layaknya kata orang bijak di masa lampau, di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar jahat ataupun benar-benar baik. Mereka selalu memiliki alasan dalam tindakan.


 


 


Karena itulah, setiap tindakan memiliki makna dan arti di dalamnya. Meski sebagai pelaku terkadang mereka menganggap hal tersebut sepele, orang-orang di sekelilingnya bisa merasakan makna dan arti dari sebuah tindakan yang ada.


 


 


Pada akhirnya, semua yang membentuk hitam dan putih hanya sebuah persepsi dari masing-masing individu.


 


 


Sebuah pohon yang tumbuh di pekarangan tidak selalu dilihat sebagai pohon oleh mereka yang lewat. Ada yang hanya mengharapkan buahnya, kayunya, atau hanya sekadar ingin memanjatnya layaknya seorang anak kecil yang polos.


.


.


.


.


 


 


Cara pandang terkait kebaikan dan keburukan, sesuatu yang memisahkan putih dengan hitam.


 


 


Hal tersebut juga berlaku untuk Reyah, Roh Agung yang menjadi perwakilan dari Pohon Suci. Sosok penguasa salah satu ekosistem di Dunia Astral, sang Dryad berparas memikat.


 


 


Membuat kontrak dengan Odo Luke dan memberikan sebagian wewenang Pohon Suci kepada pemuda itu. Tidak semua makhluk di Dunia Astral melihat keputusan Reyah tersebut sebagai hal baik, terutama untuk Ifrit yang merupakan Roh Agung Penguasa Lembah Api.


 


 


Sosok tersebut melayang dengan selimut api putih, berpijar terang dari kulit merah miliknya. Jelmaan Vermilion tersebut menatap lurus ke arah sang Dryad, menunjukkan ekspresi seakan ingin menyampaikan ketidaksetujuannya.


 


 


Namun, Ifrit sama sekali tidak berani mendekat atau bahkan menginjak rerumputan di tempat tersebut. Paham bahwa dirinya akan merusak semuanya jika salah bertindak.


 


 


Api putih bisa membakar semua tanaman yang ada, Roh Agung Penguasa Lembah Api tersebut sangat memahami hal itu. Ia juga mengerti tidak ada gunanya untuk memperingatkan Reyah, sebab dari awal cara pandang memang sudah berbeda.


 


 


Jika dibandingkan dengan air, hubungan api dengan tanaman sangatlah parah. Api akan membakar tanaman dalam sekali sambar, apalagi jika tanaman tersebut sedang kering dan kosong.


 


 


Meski begitu, jelmaan burung Vermilion tersebut tidak bisa hanya berdiam diri saat mengetahui Kontrak yang telah dibuat sang Dryad.


 


 


Ifrit tetap melayang beberapa sentimeter dari rerumputan, menekan kobaran api sekuat dirinya bisa, lalu menatap lurus ke depan seakan-akan ingin mencegah Reyah pergi. Ia menatap tajam dan bertanya, “Mengapa Uni melakukan⸻?”


 


 

__ADS_1


Tetapi saat sosok berselimut api tersebut melihat Roh kecil yang berada dalam dekapan Reyah, suara seakan tidak bisa keluar dari mulut. Ia pada akhirnya hanya terdiam di tempat, tanpa bisa mengutarakan sesuatu dan malah menundukkan wajah.


 


 


“Engkau datang kemari bukan untuk memasang wajah seperti itu, bukan?” tanya Reyah dengan suara pelan. Ia menajamkan tatapan, merasa sedikit terusik dengan pancaran api murni dari tubuh Roh Agung Penguasa Lembah Api tersebut. Seraya memasang senyum tipis, sang Dryad kembali bertanya, “Apakah engkau ingin mendeklarasikan permusuhan⸻?!”


 


 


“Bukan!” Ifrit langsung menyela. Menatap lurus dalam keraguan, api putih di sekujur tubuhnya berubah warna menjadi biru pucat seakan mencerminkan kesedihan. Dari balik kobaran api, sosok Vermilion tersebut menyampaikan, “Pemuda bernama Odo Luke itu adalah racun. Bukan hanya untuk Uni Reyah saja, namun semua Roh Agung di Dunia Astral ini. Dia⸻!”


 


 


“Membawa sebuah penyimpangan ….” Reyah tersenyum tipis seakan telah mengetahui itu sedari awal. Menarik napas dalam-dalam, Dryad tersebut perlahan menyentuh pipi putrinya yang masih belum bangun sembari berkata, “Sejak awal dia memang sebuah penyimpangan, bahkan Catatan Kuno dengan jelas menyebutnya sebagai singularitas. Karena itulah, sejak pertama kali Odo datang ke Dunia Astral semuanya berubah. Baik itu takdir yang telah diprediksi sang Dewi Kota, atau bahkan perhitungan para leluhur yang mewariskan kehendak ini kepada kita semua.”


 


 


Ifrit sedikit terkejut mendengar itu. Kobaran api biru miliknya kembali berpijar putih terang, lalu dengan nada tegas Vermilion tersebut membentak, “Jika memang Uni sudah memahaminya, lantas mengapa malah membuat kontrak dengan pemuda itu?! Dari sekian banyak manusia yang memenuhi syarat, mengapa harus dia yang diberikan wewenang Pohon Suci?!”


 


 


Reyah hanya bisa tersenyum miris saat mendengar pertanyaan tersebut. Seakan mencerminkan perasaan hatinya, angin dingin berhembus di sekitar Pohon Suci dan membuat suara dedaunan yang terdengar menyedihkan.


 


 


Kesunyian terasa begitu jelas, membuat Roh Agung Penguasa Lembah Api tersebut merasakan dingin meski tubuhnya diselimuti kobaran api. Ia pun kembali menundukkan wajah dalam murung dan terdiam sekali lagi.


 


 


“Engkau tahu, Ifrit.” Reyah menatap lurus dan berusaha untuk memberikan jawaban dengan jelas. Sembari melempar senyum lega, Dryad tersebut pun menyampaikan, “Ini tidak apa-apa. Meski pada akhirnya diriku akan menyimpang dan rusak, paling tidak ini adalah kehendakku sendiri. Lagi pula …, ini bukan berarti diriku menelantarkan Pohon Suci dan semua Roh yang tinggal di sini begitu saja. Apa yang diriku lakukan berbeda dengan kelakuan Roh Agung Penguasa Laut Utara itu.”


 


 


“Uni, jangan bilang anak itu …?” Saat mendengar hal tersebut, Ifrit langsung menyadarinya. Untuk sesaat mulut menganga, api di sekujur tubuhnya berubah menjadi biru terang dan sinarnya tampak seperti akan padam.


 


 


“Itu benar. Anak ini adalah penerus, Roh yang akan menjadi Perwakilan dari ekosistem ini jika diriku membuat penyimpangan besar. Dia adalah calon Roh Agung Penguasa Pohon Suci berikutnya.”


 


 


Pernyataan tersebut membuat Ifrit tidak bisa lagi berargumen. Ia paham bahwa Reyah telah mempersiapkan semuanya, baik itu rencana untuk menghadapi risiko terburuk ataupun antisipasi setelah penyimpanan terjadi.


 


 


Namun, tetap saja ada satu hal yang membuat Ifrit masih tidak bisa mengangguk dan pergi. Begitu saja. Sembari menatap lurus lawan bicara, perwujudan Vermilion tersebut sekali lagi memastikan, “Mengapa Uni Reyah sampai melakukan semua ini? Apa … Uni tidak puas dengan kehidupan di Dunia Astral?”


 


 


 


 


“Mengapa harus sampai seperti ini?” Ifrit tetap meragukan. Menatap semakin tajam, ia dengan nada tegas kembali menekankan, “Jika ingin bersama pemuda itu, Uni bisa memilih jalan lain! Contohnya seperti membuat kontrak melalui jalur yang sesuai sebagai Roh Agung! Meminjam wewenang Pendeta di Ibukota atau menggunakan Danau Millia sebagai perantara kontrak! Kenapa harus menyerahkan wewenang dan sampai sejauh ini?!”


 


 


“Entahlah ….” Reyah kembali menatap lawan bicara. Menunjukkan mimik wajah tanpa keraguan sama sekali, ia dengan keputusan bulat menyampaikan, “Rasanya diriku mulai memahaminya, perasaan menyedihkan para Ksatria yang telah dijadikan pupuk untuk Pohon Suci.”


 


 


Reyah sejenak terdiam. Mengingat kembali apa yang pernah dirinya lakukan di masa lampau, rasa sesal perlahan tumbuh dalam benak. Bersama hal tersebut, sebuah kalimat penyimpangan yang tak terbendung keluar dari mulutnya, “Mungkin saja mereka ingin bersama seseorang saat menghembuskan napas terakhir, atau sekadar bertemu orang terkasih sebelum binasa sepenuhnya. Karena itulah, kebanyakan mimpi yang dilihat para Ksatria di akhir hayat mereka adalah sebuah kebersamaan dan nafsu.”


 


 


Memikirkan perasaan makhluk Dunia Nyata, lalu menyesali perbuatan di masa lampau. Itu sudah jelas merupakan sebuah penyimpangan, terutama bagi Reyah yang seharusnya hanya memprioritaskan Pohon Suci. Tidak memikirkan hal-hal duniawi seperti penyesalan ataupun perasaan lain dalam benak.


 


 


“Apa … yang Uni maksud?” Ifrit tertegun mendengar ucapannya, semakin sadar bahwa penyimpangan telah menggerogoti Reyah.


 


 


“Entahlah, diriku juga tidak mengerti.” Reyah malah tersenyum saat melihat wajah bingung Ifrit. Tanpa menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas, sang Dryad segera berbalik ke arah Pohon Suci dan berkata, “Mungkin sekarang diriku sudah mengalami penyimpangan. Karena bertemu dengannya, diriku mulai memiliki keinginan selain menjaga Pohon Suci. Mengharapkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh diharapkan oleh Roh Agung …. Bukanlah itu yang dinamakan penyimpangan, wahai tetanggaku?”


 


 


Ifrit tidak bisa berkata apa-apa lagi. Meski ingin menghentikan Reyah, ia paham itu hanya akan berakhir saling menyakiti. Niat baik tidak selalu tersampaikan dengan benar, hal tersebut terkadang akan membuat luka semakin parah dan merusak hubungan yang ada.


 


 


Sebagai kenalan lama sang Dryad, perwujudan burung Vermilion tersebut hanya bisa membiarkan. Ia seharusnya menutup mata, lalu berpaling dan berpura-pura tidak tahu tanda-tanda penyimpangan yang sudah Reyah tunjukan.


 


 


Tetapi layaknya sebuah racun seperti yang dirinya sebutkan, penyimpangan tersebut pun tanpa sadar telah menjamahnya. Membuat Roh Agung Penguasa Lembah Api itu mengambil keputusan yang seharusnya tidak dilakukan.


 


 


“Apa memang harus seperti ini?!” tanya Ifrit tegas.


 

__ADS_1


 


Ia menundukkan wajah dan murung untuk sesaat. Namun, pada saat yang sama dirinya merasa lega karena pada akhirnya Reyah bisa menemukan jalannya sendiri. Bukan warisan atau tugas yang ditinggalkan para pendahulu, melainkan pilihan yang Dryad itu ambil sendiri.


 


 


“Tunggu Uni!” Ifrit mengangkat wajah dan menatap ke depan. Memutuskan dalam benak dan bertekad, Roh Agung Penguasa Lembah Api tersebut kembali bertanya, “Apa Uni Reyah yakin pemuda itu bisa mengalahkan Leviathan? Waktu melawan Naga Hitam kalian bahkan hampir kalah dan menang tipis, bukan? Apalagi sekarang! Saat Uni melemah karena pembagian wewenang, kalian pasti kalah!”


 


 


“Apa … yang ingin engkau bicarakan?” Sebelum Reyah menyentuh Pohon Suci dan masuk ke dalam, ia perlahan menoleh setelah mendengar pertanyaan tersebut. Menatap tajam penuh kesal dan merasa terhina.


 


 


“Diriku akan memberikannya kepada pemuda itu.” Ifrit mengulurkan tangan kanan ke depan. Tanpa sedikitpun keraguan, perwujudan Vermilion tersebut menyampaikan, “Pedang yang pernah pemuda itu minta sebelumnya, akan diriku serahkan kepadanya untuk melawan Leviathan! Pedang yang ditempa dari tanduk dan bangkai Naga Hitam, senjata yang pernah Uni minta dariku itu! Akan diriku berikan sekarang juga!”


 


 


“Kalau tidak salah, bukankah engkau pernah berkata itu baru akan selesai tahun depan? Meski dipercepat, paling tidak itu butuh waktu beberapa⸻”


 


 


“Diriku bohong soal waktu penyelesaiannya.” Ifrit menurunkan tangannya. Sembari memasang senyum miris dan mimik wajah kesal, ia dengan nada tegas menyampaikan, “Diriku tak ingin membuat manusia itu senang. Menempa tanduk dan bangkai Naga Hitam bukanlah hal yang sulit bagiku. Asal tidak dilindungi mantra atau kekuatan tertentu, melebur benda sekeras itu cukup mudah bagiku …. Bilah pedang sudah lama selesai, hanya tinggal gagangnya saja untuk menyelesaikan senjata itu.”


 


 


“Gagang?” Reyah segara paham apa yang dimaksud Ifrit. Ekspresi dengan cepat berubah datar, lalu tatapan pun menjadi tajam seakan memancarkan rasa curiga yang kuat.


 


 


“Ya, gagang …. Uni harus menyempurnakan senjata itu sendiri. Demi pemuda yang telah Uni pilih dalam perjalanan panjang dan menyakitkan itu ….” Ifrit tersenyum tipis. Bukan dipenuhi kebahagiaan, namun sedih dan miris karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Sembari mengulurkan kedua tangan ke depan, ia dengan pasrah kembali berkata, “Meski senjata tersebut telah selesai ditempa, tingkat kepadatan bilah terlalu tidak stabil. Tidak ada bahan di Lembah Api yang bisa digunakan untuk gagangnya …. Karena itu, diriku ingin memintanya dari Uni untuk menyempurnakannya.”


 


 


“Kenapa engkau tiba-tiba ingin membantu kami? Apa tujuanmu?”


 


 


Reyah semakin dipenuhi rasa tidak percaya. Melangkah ke belakang sampai punggung menyentuh Pohon Suci, sosok Dryad tersebut memancarkan sinyal kepada para Roh di sekitar tempat tersebut untuk siaga. Benar-benar mengidentifikasi Ifrit sebagai ancaman.


 


 


“Diriku hanya tidak ingin Uni lenyap begitu saja.” Jawaban keluar dari Ifrit dengan nada lemas. Menurunkan kedua tangan dan menatap sedih, Roh Agung Penguasa Lembah Api tersebut menyampaikan, “Paling tidak, tolong jangan sampai Uni lenyap sebelum sampai di tempat yang dinginkan. Itu terlalu menyedihkan …. Karena itu, kalian harus bertahan. Diriku memang tidak diperbolehkan ikut campur secara langsung, namun dalam batas ini seharusnya tidak masalah.”


 


 


“Ifrit, engkau ….”


 


 


Reyah menurunkan kewaspadaan, menghentikan pancaran sinyal siaga kepada para Roh di sekitar Pohon Suci. Meski tidak disampaikan dengan jelas, sang Dryad menangkap maksud di balik perkataan Vermilion tersebut.


 


 


“Tidak masalah.” Ifrit tersenyum tipis dalam pasrah. Sembari menatap lurus, ia dengan nada pelan menyampaikan, “Diriku hanya memenuhi peran sebagai Roh Agung. Hal seperti ini tidak masalah untuk kami. Mungkin … Diana akan melakukan hal sama jika berada di posisi ku.”


 


 


Jika Ifrit bisa menangis, mungkin Roh Agung tersebut sudah meneteskan air mata dari tadi. Namun, burung api abadi tidak bisa menangis. Ia adalah perwujudan api, lahir dari abu, dan akan binasa menjadi abu kembali.


 


 


Tidak boleh ada kesedihan atau tangisan di dalam siklus tersebut. Jika sang Vermilion meneteskan air mata, itu akan menjadi sebuah penyimpangan besar meski tangisan tersebut akan langsung menguap karena apinya sendiri.


 


 


“Baiklah, jika memang itu keputusanmu.” Reyah tidak bisa menolak keinginan tersebut. Meski paham bahwa tanda-tanda penyimpangan juga sudah muncul pada Ifrit, sang Dryad tidak bisa begitu saja melepas sesuatu yang bisa meningkatkan kemungkinan menang saat melawan Leviathan. Didasari perasaan pribadi, ia dengan penuh lapang dada berkata, “Sebagai tetangga dan kenalan lama, diriku akan menghormatinya dan menerima kebaikanmu.”


 


 


“Terima kasih, Uni ….” Ifrit berhenti tersenyum. Menatap lurus dengan mata merah membara layaknya kobaran api, jelmaan burung Vermilion tersebut pun berharap, “Tolong tetaplah hidup. Paling tidak sampai hari yang dijanjikan datang.”


 


 


“Ya, tentu saja.” Reyah melebarkan senyum. Dipenuhi rasa sedikit lega, ia dengan percaya diri menyampaikan, “Lagi pula, siapa yang berniat lenyap dalam pertempuran ini. Engkau tahu, mengalahkan Leviathan hanyalah pembuka bagi pemuda itu.”


 


 


Ifrit hanya bisa tersenyum miris saat mendengar itu. Tidak bisa berkata-kata lagi, lalu sepenuhnya menerima keputusan Reyah untuk pergi. Sembari meletakan tangan ke depan dada, jelmaan burung Vermilion tersebut pun menyadari penyimpangan yang mulai muncul pada dirinya sendiri.


 


 


“Kelak semuanya akan rusak, kita semua diciptakan dalam ketidaksempurnaan.” Ifrit berusaha melebarkan senyum kaku. Meski api miliknya tetap berpijar terang, tubuh gemetar tidak bisa disembunyikan lagi. Dalam rasa takut Roh Agung Penguasa Lembah Api tersebut pun bergumam, “Namun, ketidaksempurnaan tersebut adalah harapan untuk masa depan. Potensi bahwa bangsa Roh masih memiliki masa depan lain yang belum bisa ditebak. Meski pada akhirnya semuanya akan binasa, paling tidak kita bisa memilih cara dan prosesnya sendiri.”


 


 


ↈↈↈ


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2