
Tidak ada kemuliaan dalam perang⸻
Debar jantung, gelora hasrat, napas yang terputus-putus, dan genangan darah. Semuanya bercampur menjadi satu dalam keramaian. Menciptakan kekacauan yang hanya dapat diselesaikan dengan kekerasan.
Setiap orang mengangkat senjata dengan berbagai macam alasan, meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah kewajiban mereka. Membenarkan kekejian atas nama kemuliaan.
Berlumur abu dan darah, lalu dengan brutal menebas siapa pun yang menghalangi. Berkata dengan tegas bahwa dirinya tidak boleh berdiam diri. Harus maju, berlari menerjang musuh dan menumbangkan lawan mereka.
Demi tanah air.
Kehormatan.
Keluarga.
Sahabat.
Ataupun kekasih.
Dengan keyakinan masing-masing, mereka berjuang dengan segala hal yang dimiliki.
Keahlian, taktik, pengetahuan, dan keberuntungan. Dalam keraguan, kegelisahan, dan ketakutan, mereka tetap berdiri tegap di hadapan barisan musuh. Mempertaruhkan nyawa untuk memperjuangkan keyakinan mereka.
Aroma kabut bercampur dengan amis darah. Tangisan perang, suara rintihan dan erangan menjelang ajal. Layaknya pertunjukan orkestra, semua itu terus melantun tiada henti dalam balutan udara dingin.
Nyala api pada deretan bangunan menjadi lampu sorot, membawa hangat yang terasa menyesakkan napas. Menambah kegelisahan, menuangkan larutan ketakutan ke dalam hati setiap orang yang berdiri di tempat itu.
.
.
.
.
Gerbang Utama Rockfield, lini depan pertahanan Kota Pegunungan. Lebih dari tiga ratus prajurit telah disiapkan untuk menahan gempuran Pasukan Kekaisaran. Dibagi menjadi dua kompi, yaitu infanteri dan pemanah.
Sebagai lini paling depan dan berada di luar gerbang, kompi infanteri membentuk formasi tameng dan tombak. Membentuk lima baris pasukan yang sepenuhnya memblokade jalan utama, lalu mengarahkan tombak ke depan sebagai penghalang.
Pasukan Kota Rockfield juga menerapkan pola rotasi terarah. Prajurit pada barisan paling depan akan mundur jika senjata mereka rusak, kemudian digantikan oleh barisan di belakangnya. Sebuah taktik dasar yang cocok untuk digunakan dalam medan perang terbatas.
Berada di atas tembok kota, kompi pemanah bertugas memberikan bantuan dengan busur dan anak panah. Selain itu, ada juga prajurit yang menggunakan ketapel batu karena keterbatasan senjata.
Di dalam kota, belasan unit catapult kayu telah disiagakan sebagai regu pendukung. Terletak beberapa meter dari barikade pasak kayu, dibatasi oleh parit yang digali mengelilingi bagian dalam Gerbang Utama.
Kondisi senjata berat itu tampak kurang terawat. Bagian kayu sedikit lapuk, besi sudah berkarat, dan mekanisme pelontar pun kebanyakan sudah rusak. Meski sudah tidak bisa digunakan untuk menyerang, lusinan catapult sengaja dikeluarkan untuk menakut-nakuti pasukan lawan. Supaya tidak menyerbu dalam kelompok besar sekaligus.
Jumlah Pasukan Rockfield yang siap tempur tidaklah sedikit. Namun, konflik internal yang sempat pecah membuat semangat juang mereka turun drastis. Banyak yang memilih untuk mundur, menyerah sebelum perang dimulai.
Pada akhirnya, personel yang tersisa untuk lini pertahanan hanya 357 prajurit saja. Kurang dari 50% jumlah seluruh prajurit aktif di barak Kota Rockfield. Situasi itu terjadi akibat keputusan tegas yang diambil Jonatan untuk menekan kericuhan, yaitu memerintahkan pasukannya untuk menyerang penduduk sipil.
Meski mereka hanya menghabisi para provokator, di mata masyarakat itu tidak ada bedanya dengan pembantaian secara sepihak. Mengingatkan mereka akan kekejaman Oma Stein pada awal pemerintahannya, kemudian berujung pada ketidakpercayaan masyarakat terhadap pihak otoritas.
Namun, semua protes dan sumpah serapah itu sekarang berakhir menjadi sebuah lelucon menyedihkan. Penduduk kota salah memahami maksud Kekaisaran.
__ADS_1
Ribuan pasukan menyerbu Rockfield bukan karena menginginkan kota, melainkan mencari seorang pemuda dari Keluarga Luke untuk ditangkap. Deklarasi perang hanyalah sebuah pengalihan, mengelabui Raja Gaiel supaya tidak mengamankan sasaran mereka.
Karena itulah⸻
Saat perwakilan dari penduduk sipil yang ingin menyerah mengajukan penawaran, ia langsung dipenggal oleh Jenderal Fai di depan seluruh orang. Itu sekaligus menjadi suar dimulainya peperangan, awal dari pembantaian sepihak.
Tanpa ragu ataupun belas kasihan, lini depan Kekaisaran melibas seluruh penduduk sipil yang mengajukan tawaran menyerah. Mereka berjumlah puluhan orang, terdiri dari pedagang dan Pejabat Lama.
Ditebas dari belakang saat hendak kabur menuju baris pertahanan Rockfield. Beberapa ditangkap oleh Pasukan Kekaisaran dan dijadikan perisai hidup, lalu digunakan untuk mengancam dan melemahkan formasi lawan mereka.
Taktik itu sangat efektif untuk meruntuhkan pasukan dengan moral dan semangat juang rendah. Lebih dari setengah pasukan Infanteri Rockfield menurunkan senjata mereka, tidak mampu menyerang penduduk sipil dan menyerah begitu saja.
Hanya dalam hitungan detik, formasi tameng dan tombak mereka hancur dilibas peleton kavaleri Kekaisaran. Tanpa pandang bulu, entah itu yang sudah menyerah ataupun masih melawan, mereka dihabisi dalam satu gempuran frontal.
Setelah tidak dibutuhkan lagi, penduduk sipil yang disandera juga dibunuh. Tubuh mereka ditusuk dengan tombak dari ***** sampai mulut, lalu digantung tinggi-tinggi untuk menurunkan moral lawan.
Kompi pemanah tidak bisa banyak membantu lini depan. Dari atas tembok Gerbang Utama, mereka kesulitan membidik karena kekacauan yang terjadi di bawah. Formasi yang runtuh terlalu cepat membuat barisan Pasukan Rockfield dan Kekaisaran bercampur menjadi satu. Itu menciptakan kerumunan di medan perang, mengurangi efektifitas busur ataupun senjata proyektil seperti ketapel batu.
Telah merencanakan hal tersebut, pihak Kekaisaran sepenuhnya mempersenjatai pasukan mereka dengan senjata jarak dekat. Hanya menggunakan tombak dan pedang, lalu mengerahkan kavaleri untuk menerobos formasi lawan. Membuat rute penyerbuan untuk pasukan infanteri.
“Serbu!! Terus! Jangan berhenti!!” teriak seorang prajurit kavaleri dari pihak Kekaisaran. Ia memimpin penyerbuan tahap pertama, bertugas untuk membuka jalan menuju Gerbang Utama supaya infanteri bisa mengamankan rute.
“Jangan biarkan mereka!! Hadang!”
Pasukan Rockfield yang tersisa berusaha membentuk kembali formasi mereka. Memutus rute yang telah dibuat kavaleri musuh, lalu menghadang pasukan infanteri supaya tidak mendekat ke gerbang.
Mobilitas itu membuat pasukan dari kedua kubu kembali terpisah, tidak lagi berkerumun dan meningkatkan efektifitas pemanah yang membidik dari atas tembok.
Namun, catapult di dalam kota masih terbelenggu karena jangkauan serangannya yang terlalu luas. Selain itu, senjata berat tersebut memiliki akurasi yang sangat rendah. Beberapa mekanisme pelontar rusak, membuat senjata itu berakhir menjadi pajangan di medan perang.
Namun, pada saat bersamaan Infanteri Rockfield berakhir dikepung dari kedua sisi. Mereka harus menahan gempuran frontal pasukan utama Kekaisaran, lalu menahan serangan peleton kavaleri dari belakang.
Puluhan prajurit tumbang dalam hitungan menit. Baik dari kubu Rockfield maupun Kekaisaran, mereka menderita kerugian yang sama. Namun, jumlah menjadi kunci penentu alur pertempuran.
Kekaisaran kehilangan seluruh unit kavaleri dan lusinan infanteri mereka, sedangkan lini depan Rockfield musnah dalam pertempuran singkat itu. Saat prajurit kavaleri terakhir berhasil ditumbangkan, para pemanah di atas tembok gerbang berhenti menyerang.
Kesunyian mulai mengisi medan pertempuran. Di antara kedua kubu, ratusan mayat terkapar dengan kondisi mengenaskan. Tangan terpotong, kepala terpenggal, tubuh ditusuk tombak, kepala hancur ditendang kuda, dan bahkan ada yang badannya hancur terinjak-injak.
Melihat kerugian yang diderita pasukannya, Jenderal Fai melangkah maju. Menatap para pemanah di atas gerbang, lalu mengangkat tombak sembari mengaktifkan Inti Sihir.
“Kota Seni?! Huh! Sungguh omong kosong! Mereka semua jelas-jelas prajurit tangguh!”
Jenderal Fai menarik napas dalam-dalam, bersiap menggunakan Battle Art dan mulai melapisi bilah tombak dengan Mana. Tubuh pria rambut hitam itu seketika memancarkan aura hijau giok, lalu menciptakan tekanan kuat sampai mengubah arah angin di sekitarnya.
Pria berbalut zirah merah kirmizi tersebut melebarkan kaki kiri ke belakang, lalu membawa tombaknya dengan satu tangan dan mengambil ancang-ancang melempar. Tanpa mengambil langkah, ia dengan cepat menarik badan belakang dan mengumpulkan momentum.
“Teknik Tombak Ular ….” Aura pada seluruh tubuh Jenderal Fai perlahan berkumpul pada lengan kanan, melapisi telapak dan meningkatkan ketahanan otot-ototnya. Merendahkan posisi tubuh dengan melebarkan kaki kanan ke samping, pria berambut hitam itu langsung melemparkan tombak sembari berteriak, “Chrysopelea!!”
Angin seketika berhembus kencang. Pada waktu bersamaan, seluruh aura yang menyelimuti Jenderal Fai pun ikut terbawa tombak. Menyelimuti senjata itu layaknya kulit ular terbang. Tampak hijau dengan permukaan bersisik.
Serangan itu menghantam bagian atas tembok gerbang, mengincar para pemanah dan langsung meledakkan pagar pembatas. Tombak besi jatuh bersama susunan batu bata yang runtuh, meninggalkan kobaran hijau yang membakar orang-orang di atas sana.
Layaknya asam korosif, kobaran api mulai melelehkan pembatas dan lantai batu bata. Para pemanah yang sempat tersambar pun tidak luput, kulit dan daging langsung melepuh sampai tulang-tulang mereka terbuka. Semakin rapuh saat terpapar asap hitam yang keluar dari kobaran api hijau, lalu patah dengan mudah layaknya kayu keropos.
__ADS_1
“Pa-Panas!! Api macam apa itu?!” ujar seorang pemanah. Saat melihat tiga rekannya binasa tertelan kobaran api hijau, ia segera menjauh dan lekas memperingatkan, “Jangan mendekat! Ada yang aneh dengan api itu⸻! AKH!! A-Apa lagi ini!?”
Asap hitam tiba-tiba menyerang matanya, ia langsung menjerit kesakitan dan meringkuk. Membenturkan kepala ke lantai, lalu mulai menggaruk matanya sendiri sampai lepas dari kelopak.
“Hey! Berhenti! Kalau kau menggaruk⸻!” Melihat bola mata terlepas dan menggelinding di lantai, rekannya langsung tercengang. Melangkah mundur bersama yang lain, lalu dengan suara gemetar bergumam, “Teknik Racun Asam? Kenapa … Jenderal itu bisa menggunakan teknik Ular Quon?”
“Mundur lagi!” Rekan pemanah lainnya menarik prajurit itu menjauh. Sembari menunjuk kobaran api hijau, ia dengan panik memperingatkan, “Di sini sudah tidak aman! Lihat! Api itu terus mengeluarkan asap hitam! Kalau kau tidak ingin berakhir seperti dia, jangan melamun!”
“Te-Terima kasih⸻!”
Suara ledakkan kembali terdengar, tombak lain menghantam bagian atas tembok dan menghancurkan pagar pembatas batu. Meninggalkan kobaran api hijau serupa, lalu mengepulkan asap hitam yang bersifat racun korosif.
“Dia bisa menggunakan teknik itu berkali-kali?!”
“Cepat turun! Itu serangan dari Jenderal musuh!!”
Para pemanah yang tersisa segera berlari menuju anak tangga, hanya berjumlah belasan orang saja. Sisanya terbakar kobaran api hijau atau mati keracunan asap hitam.
Sebelum mereka sempat turun, Jenderal Fai sekali lagi melemparkan tombaknya. Kali ini dia tidak mengincar bagian atas gerbang, melainkan langsung ke arah tembok. Melesat kencang dan menancap di antara susunan batu bata.
Tidak ada ledakkan, namun api hijau berkobar lebih besar dari dua tombak sebelumnya. Asap yang mengepul mulai merembes masuk ke dalam sela-sela tembok, lalu keluar pada permukaan lantai di atas gerbang.
“Kenapa tubuh ku rasanya lemas …?” Seorang pemanah ambruk saat berlari bersama rekan-rekannya, tubuhnya langsung kejang dan mulut pun mulai mengeluarkan busa. Melihat asap hitam keluar dari sela-sela lantai batu, ia dengan suara lemas bergumam, “Merembes? Kenapa bisa⸻ Ugh!”
“Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan?!”
Melihat rekannya tumbang, pemanah lain lekas berhenti dan berbalik menghampiri. Sedikit membungkuk dan hendak memapahnya. Namun, niat baik itu malah membawa petaka.
Racun tersebut berbentuk gas, memiliki karakteristik untuk bergerak menuju tempat yang lebih tinggi. Saat posisi tubuh sang pemanah turun, kepulan asap hitam langsung masuk ke dalam tubuhnya melalui hidung. Merusak saraf, kemudian membuat darah menggumpal dan menyumbat pembuluh. Menyebabkan gagal jantung dan sesak napas, lalu membunuh korban dalam hitungan detik.
“Diriku rasa ini sudah cukup ….” Melihat para pemanah berlarian turun dari atas tembok gerbang, Jenderal Fai mengurungkan niatnya untuk melemparkan tombak keempat. Ia segera menancapkannya ke tanah, lalu menghunuskan pedang seraya memerintahkan, “Regu penyihir siapkan antisipasi proyektil catapult! Bagi kompi infanteri menjadi beberapa pleton! Jangan berkumpul dan maju secara bertahap!”
Para komandan yang memimpin masing-masing peleton langsung menjalankan perintah tersebut. Seluruh pasukan segera membentuk formasi melintang, lalu mengganti tombak dengan perisai dan mulai melangkah maju secara serempak.
Tiap baris peleton memiliki renggang beberapa meter, bertujuan untuk mengurangi ancaman serangan bola api catapult ataupun meriam. Bergerak secara frontal, lalu mengangkat perisai tinggi-tinggi untuk mengantisipasi serangan dari atas.
Maju bersama seluruh pasukannya, Jenderal Fai sejenak menarik napas dalam-dalam dan menurunkan sirkulasi Mana dalam tubuh. Berniat menghemat stamina, ia memperkirakan pertempuran akan berlangsung cukup panjang.
Tepat sebelum pihak kekaisaran selesai mengerahkan seluruh pasukan, tiba-tiba Gerbang Utama Kota Rockfield perlahan terbuka. Itu membuat seluruh prajurit terhenti, lalu terdiam kebingungan dalam formasi mereka.
“Menyerah? Apakah mereka masih ingin bicara omong-kosong itu lagi?” Jenderal Fai bergegas maju, melewati pasukan dan berdiri di garis paling depan. Sembari mengacungkan pedang, pria itu dengan suara lantang menghina, “Tidak diriku sangka kalian adalah sekumpulan pengecut!! Jika kalian kesatria, lawan dan bertarunglah sampai akhir!”
“Memang itu yang ingin aku lakukan ….”
Seorang pria paruh baya melangkah keluar dari dalam kota, melewati gerbang sembari memancarkan aura intimidasi yang kuat. Ia mengenakan zirah ringan berwarna putih keperakan, namun tidak memakai helm pelindung. Membiarkan rambutnya yang sudah sedikit menguban berkibar tertiup angin.
“Ferytan … Loi?” Jenderal Fai langsung mengenali pria itu. Sejenak menarik napas dan melanjutkan langkah kaki, ia dengan nada tegas kembali memastikan, “Engkau kah orang yang mengalahkan Prajurit Elit itu?”
“Benar ….” Ferytan perlahan menghunuskan pedangnya, lalu menatap tajam dengan sorot mata hijau. Memperlihatkan ekspresi murka, pria paruh baya itu langsung menodongkan pedangnya sembari berteriak, “Meski belum dilantik secara resmi, diriku adalah Wakil Kepala Prajurit kota ini! Tanpa gelar kehormatan! Hanya seorang prajurit tanpa pencapaian bermakna!”
“Tanpa pencapaian?” Jenderal Fai segera mengaktifkan Inti Sihir, lalu meningkatkan sirkulasi Mana dan menyelimuti tubuh dengan aura hijau giok. Melebarkan kaki kanan ke belakang, pria rambut hitam tersebut lekas memasang kuda-kuda dan lanjut berkata, “Engkau telah mengalahkan Prajurit Elit dalam duel resmi! Kalau bukan pencapaian, memangnya hal itu disebut apa?!”
“Aku tidak pernah menganggap itu sebagai pencapaian!” Ferytan memusatkan tekanan sihir pada bilah pedangnya. Sedikit menyipitkan mata, tatapan pria paruh baya itu tidak tertuju pada lawannya. Ia malah memandang kosong ke arah mayat yang bergelimpangan, lalu memperlihatkan mimik wajah muak dan berkata, “Kenapa kalian suka sekali menumpahkan darah? Bahkan …, secara tidak langsung tragedi waktu itu terjadi karena ulah kalian.”
__ADS_1
“Apa yang engkau bicarakan? Tragedi? Maksud kau ini? Seluruh mayat yang ada di sekitar kita?” Jenderal Fai menodongkan pedangnya. Sembari melebarkan senyum angkuh, ia dengan suara lantang langsung memprovokasi, “Kita sedang berperang! Jangan bicara naif seperti itu, wahai prajurit terhormat!”
“Sudahlah, tidak ada gunanya membicarakan ini denganmu. Kalian orang-orang Urzia memang selalu seperti itu ….”