
Tanpa diperintahkan oleh Tuan Mudanya, sang Huli Jing langsung paham apa yang harus dilakukan. Ia segera memejamkan mata, secara bertahap mengaktifkan kekuatan Mata Batin. Ketika dirinya membuka mata, Eye of God Fox aktif secara penuh.
Persepsi dalam kondisi maksimal benar-benar menembus batas spasial dari dinding lingkaran sihir transmutasi, melacak sampai keluar ruang isolasi tersebut dan memindai sejauh ratusan kilometer dari tempatnya berdiri. Benar-benar luas, dengan sangat jelas dan hanya mengamati secara satu arah.
Layaknya seorang Dewi yang melihat Dunia Nyata dari kayangan, persepsi Fiola yang mencapai tingkat ekstrem melihat seluruh Teritorial Kota Mylta. Bahkan, sihir persepsi tersebut bisa mencapai Teritorial kota tetangga seperti Rockfield dan Vandusi.
Pada saat Fiola melakukan persepsi dalam skala regional, Odo memejamkan mata dan membuat Link menggunakan Aitisal Almaelumat. Layaknya melihat apa yang Fiola lihat, Odo dengan jelas bisa tahu tempat apa saja yang menjadi sarang serta kluster para monster di sepanjang Teritorial Mylta.
Mencocokkan apa yang dirinya lihat dengan peta yang melayang di hadapannya, Odo kembali membuat Link dan menandai tempat-tempat para monster berkumpul.
Pada peta, beberapa titik mulai mengeluarkan asap dan meninggalkan bekas hitam. Menjadi tanda tempat para monster berkumpul, semakin besar titik hitam maka semakin besar kawanan monster yang ada.
Mendapatkan informasi yang dirinya perlukan, Odo merasa sangat disayangkan jika menggunakan ritual hanya untuk mencari para monster. Setelah menyeringai kecil, ia menatap lurus ke depan dan berkata, “Aku ambil alih dulu sebentar, Fiola ….”
Pada saat itu juga Odo melakukan interpretasi secara langsung ke dalam kesadaran Fiola, mengakses susunan informasi dan masuk ke ranah yang Huli Jing tersebut capai. Hanya dengan mengirim serpihan kesadarannya, pemuda rambut hitam tersebut dengan erat mencengkeram singgasana yang sedang ditempati Fiola untuk mencapai ranah tersebut.
“Odo⸻! A⸻?!”
Fiola seketika merasakan sensasi seperti tubuhnya dicengkeram erat oleh kegelapan raksasa, layaknya diperlakukan seperti makhluk kecil yang tidak berdaya. Hitam, besar, dan kuat. Bagaikan sebuah manifestasi satu semesta, perwujudan jiwa Odo benar-benar menggenggam erat kesadarannya dalam satu kepalan tangan.
Hitam pekat, memiliki ratusan galaksi serta jutaan tata surya di dalamnya, lalu Black Hole dan White Hole menjadi kedua matanya. Apa yang menjadi jantung manifestasi sebuah semesta tersebut adalah awan karbon raksasa yang memadat, membentuk bola berwarna hitam pekat dan putih yang saling bercampur pada bagian kanan kiri. Itulah apa yang Fiola lihat dari manifestasi kesadaran Odo, wujud jiwa yang telah mencapai Awal Mula.
Tanpa membiarkan Fiola lebih lama menatap bentuk jiwanya, Odo dengan paksa menggunakan kekuatan Eye of God Fox milik Huli Jing tersebut untuk mendeteksi sampai ke Dunia Astral. Terus menggerakan kesadaran sampai ke Laut Utara dan masuk ke dalam air.
Pada sebuah gua bawa laut, persepsi seketika terhenti ketika mereka berdua merasakan hawa keberadaan kaut dari makhluk yang bersemayam di tempat tersebut. Dari kegelapan pekat di dasar laut dalam, sekilas siluet ular raksasa membuka matanya dan bersinar biru terang.
“Begitu, ya …. Rupanya kau sudah menunggu lama di tempat itu.”
Odo berhenti melakukan interpretasi, melepas kuasanya atas Fiola dan memberikannya kebebasan. Merasa tujuan ritual sudah tercapai dan dirinya mendapatkan bonus infomasi, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut segera bertepuk tangan untuk meruntuhkan singgasana yang tercipta dalam spasial isolasi tersebut.
Fiola yang masih gemetar segera menaik napas dalam-dalam, sensasi teror dari perwujudan jiwa Odo yang sangat diluar nalar dan logika dunia masih dengan jelas dirinya rasakan. Mengangkat wajah dan menatap pemuda di hadapannya, dalam benak Fiola mulai paham mengapa sang Pontiff, Aldrich Ophelia, menilai tinggi Tuan Mudanya tersebut.
Ketika Odo bertepuk tangan kembali, Mode Ilahi milik Fiola seketika terlepas dan wanita itu langsung kembali dalam wujud mortal. Itu terjadi dengan sangat mudah, layaknya melepas pakaian sebelum mandi.
Pada saat yang bersamaan, Odo pun kehilangan singgasana semu yang dirinya ciptakan dalam spasial isolasi dan kembali ke bentuk manifestasi malaikat. Dengan cepat keempat proyeksi tangan miliknya pun terurai, hilang menjadi partikel-partikel cahaya di udara. Ketika dirinya bertepuk tangan untuk ketiga kalinya, manifestasi tersebut pun lenyap dan dirinya kembali ke bentuk manusia.
Itu sangat berbeda dengan apa yang Odo jelaskan sebelumnya, seakan memang dari awal risiko yang pemuda itu bicarakan sebelum memulai ritual tidak ada sama sekali. Menatap penuh rasa curiga, Fiola merasa Odo hanya menakut-nakuti untuk membuat dirinya patuh selama ritual.
“Anda benar-benar menguasai ini, ya? Rasanya sangat mudah sekali untuk Anda menaikkan dan menurunkan drajat saya selama ritual.”
Mendengar itu, Odo berhenti menyatukan kedua tangan dan menatap datar. “Terserah kau ingin berkata apa,” ujarnya dengan nada sedikit kesal. Sembari sesaat memejamkan mata, pemuda rambut hitam itu kembali menambahkan, “Seharusnya kau sendiri paham kalau ranah ilahi bukanlah sesuatu yang remeh. Jadi, kau tak perlu berkata sesuatu yang menurunkan martabatmu sendiri. Itu membuatmu terdengar bodoh ….”
__ADS_1
Fiola tersentak, merasa apa yang pemuda itu katakan memang ada benarnya. Karena rasa iri saat melihat Mavis lebih memihak Odo daripada dirinya, Fiola memang belakangan ini cenderung bertingkah kekanak-kanakan dan dalam benak sering membanding-bandingkan.
Namun, pada saat yang sama dirinya merasa lega karena masih memiliki sifat serta emosi seperti itu. Tanda dirinya masih sangat erat dengan sifat mortalnya dan belum mencapai keilahian secara sempurna, bukan secara fisik namun juga kepribadian.
“Hmm, saya tahu itu! Memangnya apa salahnya jika saya sedikit menggoda Tuan Muda!”
Apa yang dikatakan Fiola sepenuhnya terdengar sebatas alasan bagi Odo, membuat pemuda rambut hitam itu menghela napas ringan dan berkata, “Kalau ingin menggoda, lakukan dengan lebih baik. Kau tahu, itu tidak membuatku senang dan malah mengesalkan.”
Odo bertepuk tangan untuk kesekian kalinya, menurunkan intensitas dinding pembatas secara bertahap dan membuat distorsi spasial hilang. Peta yang melayang di hadapannya pun mulai melayang turun, ditangkap oleh Odo dan kembali digulung untuk dimasukkan ke dalam saku celana.
Pada saat yang bersamaan, orang-orang yang berada di luar lingkaran kembali bisa melihat mereka yang ada di dalam. Mavis yang sempat panik menarik napas dalam-dalam, begitu pula Julia yang sedari tadi menunggu ritual selesai di sebelah majikannya.
“Uwah, mereka semua langsung cemas. Padahal tidak ada lima belas menit kita berada di dalam sini dan mereka sudah seperti itu,” gumam Odo seraya menghentakkan kakinya ke permukaan lingkaran sihir. Pada saat itu juga, susunan lingkaran yang ada hancur seperti kaca tipis dan pembatas sepenuhnya lenyap.
Ketika dinding pembatas hilang, Mavis lekas berjalan mendekat dan memegang kedua sisi pundak Odo. “Kamu baik-baik saja, ‘kan? Efek sampingnya berhasil kamu cegah, bukan? Jawab Bunda, putraku!?” tanyanya dengan penuh rasa cemas.
“Bunda tak perlu cemas, semuanya berjalan lancar. Efek samping yang aku bicarakan hanya untuk menakut-nakuti Fiola supaya⸻!”
Sebelum dirinya menyelesaikan kalimat, Mavis langsung memeluknya dengan erat. Dengan jelas Odo paham bahwa ibunya tersebut benar-benar khawatir, dari gemetar tubuhnya pemuda itu paham dengan sangat jelas.
Tidak berkata apa-apa lagi, Odo balik memeluk ibunya tersebut. Ia dalam benak menyerah untuk mengubah ibunya, merasa kalau wanita yang telah melahirkannya tersebut memang tidak bisa lebih dewasa dan selalu memiliki sifat protektif seperti itu.
Tetapi, bagi Odo sendiri hal tersebut tidaklah penting. Ia yang sebenarnya adalah orang dewasa sudah tidak memerlukan sandaran hati seperti itu. Sebab memang kepastian dan keteguhan telah dirinya miliki.
“Kamu sungguh baik-baik saja, putraku? Efeknya …?”
“Hmm, aku baik-baik saja. Seperti yang Bunda lihat dan rasakan sekarang ….” Odo melepaskan pelukan Mavis dan memegang kedua pergelangan wanita itu, lalu mendekatkan wajah dan menatap dari dekat. “Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja,” ujarnya sembari tersenyum lebar.
Mendapat perkataan tersebut, untuk sesaat Mavis merasa ada hal lain yang telah berubah dari putranya. Kesan dingin yang biasanya terada dari Odo benar-benar hilang kali ini, digantikan dengan pancaran ramah dan hangat yang sudah lama tidak terasa darinya.
“Apa … terjadi sesuatu selama ritual?” tanya Mavis.
Odo melepaskan kedua pergelangan wanita rambut pirang tersebut, lalu sembari memutar bola matanya mengelak, “Tidak terjadi apa-apa. Selain hal-hal terkait ritual, tidak ada hal spesial yang terjadi ….”
Mavis sesaat terdiam, merasa memang ada hal lain yang terjadi selama distorsi spasial. Di tengah rasa penasaran ibunya, Odo segera berjalan ke arah bangku taman dan berkata, “Minda, Imania, Julia, ikut aku sebentar.” Pemuda itu mengambil peta dari saku, lalu merentangkannya di atas bangku dan lekas bertanya, “Lihat titik-titik hitam di peta. Dari semua titik yang ada, kira-kira rute paling cepat untuk mencapai semua tempat itu mana saja?”
“Rute?” Julia sempat bingung mendengar pertanyaan Odo. Namun saat mengamati titik-titik hitam gosong pada peta, dirinya menyadari sesuatu dan bertanya, “Ah, apa itu posisi sarang-sarang monster?”
“Tepat …. Untuk mempercepat pembasmian, sekarang aku perlu rute. Karena itu, bisa kalian memberitahu aku rute mana saja yang bisa diambil untuk semua titik hitam di peta?”
Setelah itu, seakan memang mengacuhkan rasa cemas Mavis kepadanya, Odo mulai berdiskusi bersama para Shieal mengenai rute yang akan diambil dalam pembasmian para monster di Teritorial Kota Mylta. Matius yang dulunya sering bepergian pun ikut dalam pembicaraan dan memberikan beberapa masukan, ikut berdiskusi dalam pengambilan keputusan mengenai rute yang akan ditetapkan.
__ADS_1
ↈↈↈ
Malam pada hari yang sama, angin bertiup sepoi-sepoi seakan membawa rasa damai di dalam kegelapan sunyi. Gugusan bintang menghiasi langit bagaikan taburan perhiasan, perlahan diselimuti awan dan saat menjelang tengah malam kegelapan pekat pun datang.
Meski puncak malam sudah semakin dekat dan pintu-pintu bangunan sebagian besar telah tertutup, beberapa orang masih tampak keluyuran di jalan-jalan utama kota pesisir. Entah mereka datang ke distrik rumah bordil untuk bersenang-senang, mengurus bisnis dengan relasi di penginapan-penginapan, atau hanya sekadar mencari angin dengan jalan-jalan kecil.
Mereka yang masih berada di laur memiliki kepentingan mereka sendiri, tidak terkecuali Odo Luke yang juga berbaur dalam lalu-lalang yang semakin jarang di jalan utama Kota Mylta. Ia melangkahkan kakinya dengan santai, sesekali melihat ke kanan dan kiri untuk melihat langsung hasil perubahan atas apa yang dirinya lakukan selama beberapa bulan terakhir.
Meski di beberapa sudut jalan masih tampak beberapa gelandangan yang merupakan orang-orang imigran, dirinya merasa mereka jauh lebih baik sekarang. Mengenakan pakaian yang pantas, sedikit rapi dan tidak pasrah pada kedaan. Menyebarkan beberapa hal seperti pengetahuan berbisnis dan mencari uang dengan usaha kecil, Odo merasa cara tersebut cukup efektif untuk mendorong beberapa imigran gelap untuk melangkah ke depan dan membuat mereka berpikir untuk membeli kewarganegaraan Kerajaan Felixia.
Saat pemuda itu sampai di balai kota, ia sejenak terdiam dan menatap air mancur yang menjadi pusat tempat tersebut. Beberapa orang duduk di bangku taman, para pedagang berbincang soal bisnis dan orang-orang sipil hanya mengobrol ringan tentang keseharian mereka. Menatap fenomena sosial yang ada di depan matanya, Odo sejenak menarik napas ringan dan merasa bahwa dalam bidang sosial Mylta telah mulai bergerak ke arah yang dirinya harapkan.
Sekilas dirinya tersenyum, lalu lanjut melangkahkan kakinya menuju jalan yang mengarah ke distrik pengrajin. Namun, bukan berarti dirinya akan pergi ke tempat tersebut. Setelah pergi dari balai kota dan sampai di persimpangan jalan, dirinya tidak belok ke distrik pengrajin dan malah terus lurus untuk pergi ke tempat parit-parit yang menjadi sumber air kota berasal.
Itu berada di dekat tembok kota, sekitar barat daya dan terhubung ke arah laut terbuka. Sampai di dekat salah satu parit yang mengarah ke danau buatan Mylta, Odo memutuskan untuk menyusuri jalan setapak yang ada di dekat aliran air.
“Kurasa lahannya lumayan strategi, tinggal minta Lisia untuk mengeluarkan izin membangun, menyuruh Arca menyiapkan anggarannya dan Nanra untuk membuat proposalnya.”
Bergumam sendirian, Odo memikirkan beberapa proyek yang ingin dirinya lakukan dalam waktu dekat. Membangun rumah susun untuk disewakan kepada para imigran gelap, untuk menjadi daya tarik mereka bergabung dengan perusahaan dan mau bekerja dengan upah minum.
Sampai di salah satu ujung parit, Odo sejenak terhenti melihat kincir air yang dipasang untuk alat mobilitas air ke dalam kota selain melalui sistem irigasi di danau buatan. Sekilas dirinya berpikir ingin membuat Pembangkit Listrik Tenaga Air dengan kincir tersebut. Namun paham kalau kristal sihir bisa menjadi sumber energi yang lebih efektif, dirinya memilih untuk mengurungkan niat tersebut terlebih dahulu karena anggaran yang ada masihlah sangat kurang.
“Apa itu Harka juga yang membuatnya? Meski pembuatannya berasal dari Pihak Pemerintahan, aku rasa bahannya masih kelas menengah. Kalau di hulu hujan deras dan lahar dingin turun, bukannya kincir airnya bakal rusak?”
Setelah mengucapkan kalimat tanpa benar-benar peduli dengan hal tersebut, Odo menghela napas ringan dan memutuskan untuk kembali. Namun ketika dirinya baru saja berbalik, ia melihat perempuan yang hawa keberadaannya sama sekali tidak dirinya rasakan.
Untuk sesaat pemuda rambut hitam itu merasa perempuan tersebut adalah halusinasi dari beban pikirannya. Tetapi beberapa saat kemudian, di bawah langit malam yang mendung dirinya sadar bahwa perempuan itu bukanlah ilusi.
Rambut putih terang yang seakan bercahaya dalam gelap, sorot mata yang bersinar violet di kegelapan dan mimik wajah yang tampak dingin. Melihat semua ciri tersebut, Odo sekilas merasa kalau perempuan itu memang sangat mirip dengan kenalannya di Dunia Sebelumnya. Namun, dirinya paham bahwa sangat tidak mungkin bertemu sosok tersebut sekarang.
“Canna?”
“Memangnya siapa lagi? Duh, dasar Ayahanda ini.” Perempuan rambut putih tersebut berjalan mendekat dan berhenti di hadapan pemuda itu. Jubah gaun ungu yang dirinya kenakan sedikit tertiup, membuat kain terangkat dan sedikit memperlihatkan betisnya. Sembari tersenyum ringan dan menyingkirkan rambut dari wajah, sosok yang merupakan salah satu salinan Korwa tersebut kembali berkata, “Ayahanda ingin apa di tempat seperti ini? Tadi … saya sempat lihat di balai kota. Saya kira Ayahanda mau mampir ke Atelier …”
“Kau baru mau pulang malam-malam begini?” Odo menjawab pertanyaan Canna dengan pertanyaan lain. Lalu seakan dirinya memang mencemaskan layaknya seorang ayah, pemuda itu kembali berkata, “Padahal aku sudah bilang kau bisa pulang sesuai jam kerja, bukan? Tak perlu sampai malam-malam begini.”
“Tak masalah ….” Canna memalingkan pandangan dengan dada sedikit membusung. Lalu sembari kembali menatap, ia mengacungkan jari telunjuk dan menyampaikan, “Selagi masih ada di sini, saya ingin mengajari Nanra banyak hal supaya bisa membantu mereka. Ayahanda … berniat meletakkan anak itu sebagai sekretaris pribadi, bukan?”
“Sok tahu ….” Odo menggoda, sedikit tersenyum tipis dan memukul ringan kepala perempuan di hadapannya. “Siapa juga yang mau meletakkan anak kecil sebagai sekretaris pribadi. Kalau disuruh memilih, aku lebih suka Elulu atau Arca. Mereka lebih cepat beradaptasi dan paham maksudku tanpa harus dijelaskan secara rinci.”
“Uwah, standar Ayahanda sangat tinggi. Arca dan Elulu itu pengecualian, mereka terlalu hormat kepada Ayahanda dan tidak pernah curiga.”
\===============
Fakta 007: Nanra sebenarnya tidak suka dan malah cenderung benci kepada Odo, pada saat yang sama rasa hormat membuatnya tampak seperti suka dengannya.
__ADS_1