
“Ini seperti meminjam kalimat orang-orang bijak dari masa lalu dan menggunakannya seperti milik sendiri. Aku merasa sangat bodoh,” ujar Odo seraya duduk di pinggiran ranjang dan menurunkan kedua kaki ke lantai. Membuka kedua telapak tangan dan menatapnya sendiri, sejenak ia termenung dan kembali bergumam, “Apa tak masalah memakai ingatan mencurigakan dasar aku mengambil langkah? Namun …, kenapa? Aku tak bisa acuh pada semua itu dan mencari alasan milikku sendiri?”
Odo menoleh dan menatap sosok dirinya sendiri di dalam cermin. Meski dirinya memasang ekspresi seakan ingin memberitahukan bahwa segalanya masih baik-baik saja, di dalam mimik wajah tersebut tampak sedikit ketakutan. Bukan pada sesuatu yang mengerikan atau kuat, melainkan cenderung takut untuk kehilangan.
Bagi dirinya, menjadi orang yang mengantar kepergian telah menjadi hal yang menakutkan. Menjadi jiwa yang terus-menerus bertahan sampai akhir juga berarti menjadi orang yang berdiri di sisi pengantar, melihat kepergian orang-orang yang berharga baginya.
“Di Dunia Sebelumnya, kalau tidak salah diriku sudah hidup lebih dari puluhan bahkan sampai ratusan abad, ‘kan? Rasanya … itu tidak terasa nyata bagi diriku sekarang. Padahal hanya delapan tahun ini saja sudah terasa sangat lama untukku, tapi di Dunia Sebelumnya ….”
Itu di luar imajinasi Odo. Meski dirinya memiliki ingatan tentang Dunia Sebelumnya, semua apa yang dirinya ketahui sangatlah penuh lubang. Ingatan-ingatan yang ada naik ke permukaan secara acak layaknya buih-buih di laut, begitu banyak dan tidak dirinya tahu dipicu oleh apa.
Mengingat tentang hal tersebut, Odo merasa kalau Helena pasti merasakan hal yang sama. Sosok yang sekarang menyatakan dirinya sebagai Dewi Penata Ulang tersebut berasal dari zaman dan waktu yang sama, karena itulah rasa lelah serta takut sang Dewi seharusnya memiliki kemiripan.
Karena hal tersebut, Odo memang dalam hati masih tidak mengerti alasan Helena untuk ikut campur dengan Dunia Selanjutnya. Bahkan sampai menimpa segala hal baru dengan informasi dari Dunia Sebelumnya.
“Baik Dewi itu ataupun Mahia, mereka memang suka hal-hal menyusahkan. Apa mereka tidak mau belajar dari pengalaman? Hey, Mahia? Kau paham apa yang sedang aku rasakan sekarang, bukan? Kenapa kalian tidak bisa membiarkan semunya berjalan secara alami? Jika memang dunia bergerak ke arah yang buruk, biarkanlah saja …. Aku⸻!”
Odo seketika terdiam, merasa telah mengatakan hal bodoh sendirian karena terus menerus tenggelam dalam pikiran. Menggelengkan kepala dan segera bangun dari tempat tidur, ia mengambil rompi merah dari atas kursi dan memakainya. Tanpa terlebih dulu merapikan kemeja atau celananya yang sedikit kusut setelah berbaring.
Mengambil sepasang sarung tangan hitam dari atas meja, ia mengenakannya pada kedua tangan dan segera melangkah keluar dari kamar. Bagi Odo, dalam lubuk hati menyibukkan diri dengan berbagai masalah juga bisa menjadi sebuah pelarian.
Dari masa lalu yang terus menghantui.
Dari tuntutan yang dilimpahkan kepadanya.
Kewajiban.
Serta ….
Dilema atas keputusan yang telah diambil.
Dengan terus melangkah dan membuat perencanaan baru, ia bisa mengacuhkan semua itu dan dalam benak terus beralasan. “Aku telah melakukan yang terbaik! Ini adalah keputusan yang tepat! Aku sudah mengambil langkah, ini lebih baik daripada berdiam diri!” benaknya kepada dirinya sendiri. Layaknya orang labil dengan pengetahuan melimpah.
Orang pandai cenderung tidak melakukan banyak hal, karena mereka tahu mana pilihan yang tepat dan bijak. Di sisi lain, orang bodoh dan pekerja keras cenderung mencoba banyak hal dan memberikan hasil yang nyata. Layaknya mereka para penemu.
Karena itulah, pemuda itu adalah orang pandai yang terus-menerus harus menjadi orang bodoh. Ia harus mengambil langkah meski tahu tidak ada yang sepenuhnya benar dari pilihan yang tersedia untuknya.
Terus maju tanpa bisa berhenti. Tanpa bisa menjadi orang bijak yang hanya berdiam diri untuk mengawasi perubahan.
.
.
.
.
Tengah hari sudah terlewat, mentari perlahan mulai turun dan suhu di musim panas pun mengikuti. Angin sejuk bertiup semakin kencang, membawa awan-awan mendung yang kembali lagi bersama kelabu di langit.
Tidak seperti biasanya, dapur Kediaman Keluarga Luke tampak sedikit ramai meski seharusnya camilan-camilan telah tersedia untuk Tuan mereka. Waktu peralihan antara siang ke sore tersebut pun terlalu cepat untuk mengepulkan cerobong asap dan mempersiapkan makan makam. Mereka juga bukan berarti sedang membuat sarapan atau makan siang, sebab para Tuan dari kediaman tersebut sudah makan sejak matahari mulai terbit.
Hal itu tentu saja, karena memang ramainya dapur bukan untuk semua hal tersebut. Melainkan karena para perempuan yang sedang dilatih untuk menjadi pelayan keluarga bangsawan sedang belajar memasak.
Membuat adonan, menaburinya dengan kismis dan mengisinya dengan selai, lalu kemudian memanggangnya ke dalam oven batu bata. Itulah yang mereka lakukan, belajar membuat roti dan camilan yang biasa disajikan oleh para pelayan di Keluarga Luke.
Nampan-nampan berisi roti serta biskuit yang gagal berjejer berantakan di atas meja. Ada yang gosong sampai hitam pekat, masih mentah, dan bahkan ada juga yang sampai mengembang besar keluar dari wadah karena adonannya tidak sesuai takaran.
Tepung-tepung berseran di meja dan lantai, membuat dapur tampak sedikit berdebu dengan warna putih kusam. Di lantai, karung bijih wijen untuk persediaan sebulan seketika kosong. Stoples selai dan tembikar wadah kismis yang tergeletak di atas meja pun bernasib sama.
Tak luput dari imbas kegagalan beruntun dari para perempuan yang sedang berlatih membuat camilan, oven batu bata menghitam karena digunakan secara terus menerus untuk memanggang. Meski mereka telah melakukan banyak percobaan, namun hasil dari latihan yang dimulai sejak pagi seakan tidak membuahkan hasil memuaskan.
Minda selaku yang bertanggung jawab untuk melatih sedikit muram. Meletakkan kedua tangannya ke pinggang, ia menatap datar menatap datar ke arah tiga perempuan yang sedang dirinya latih. “Kalian ini terkena kutukan apa memangnya? Kok gagal terus?” keluhnya seraya menggelengkan kepala. Pelayan dengan wajah belepotan tebung dan abu arang tersebut benar-benar heran kepada tiga perempuan di hadapannya.
__ADS_1
Meski sebenarnya Ra’an, Di’in, dan Hilya bisa dengan mudah mempelajari hal-hal terkait pekerjaan rumah tangga dan pendidikan pelayan lainnya, hanya masalah membuat roti saja menjadi hal yang tidak bisa mereka lakukan dengan baik.
“Padahal kalian pandai hampir di seluruh bidang yang harus dikuasai profesi pelayan keluarga bangsawan. Bahkan, termasuk memasak sup dan menyajikan teh yang dikenal paling sulit dalam pekerjaan ini. Namun …, kenapa hanya dalam hal membuat roti kalian tidak bisa? Ini sudah ke-15 belas kalinya kalian gagal, loh. Bahan adonan yang rencananya mau dipakai selama seminggu juga sudah habis ….”
Ditegur oleh Minda, mereka bertiga hanya saling memalingkan pandangan dan merasa tidak bisa melakukan apa-apa soal itu. Ra’an dan Di’in memang dari awal tidak bisa membuat adonan roti ataupun camilan, selama masih aktif dalam pendidikan militer dulu mereka cenderung lebih suka merebus, membakar, ataupun menumis makanan.
Sedangkan untuk Hilya, gadis rambut pirang tersebut juga belum pernah membuat hal semacam itu sebelumnya. Bahkan saat masih berada di kastel Witch, dirinya cenderung lebih suka membuat masakan ubi daripada roti. Sangat berbeda dengan saudara-saudarinya yang pandai dalam membuat adonan roti dan memanggangnya.
Melihat ketiga perempuan dengan seragam pelayan tersebut terdiam, Minda menghela napas dan semakin resah. Mengingat waktu yang telah berlalu selama melatih mereka, Ia menoleh ke sekeliling dan merasa ingin mengakhiri dulu pembelajaran kali ini. Dirinya mulai cemas dimarahi Fiola, takut Huli Jing yang sensitif soal dapur tersebut melihat kekacauan yang ada saat ini.
“Biarlah, kalian hanya perlu latihan lagi nanti. Sekarang kita harus pergi ke kota dan belanja beberapa bahan makanan untuk mengganti semuanya.”
Hilya sedikit terkejut karena tidak dimarahi dengan kasar oleh perempuan rambut hitam tersebut. Selama diajar olehnya, dirinya merasa akan dimarahi karena kegagalan beruntun yang telah terjadi.
“Apa … Kakak tidak marah?” tanya gadis kecil itu dengan sedikit takut.
“Tidak marah?” Minda menoleh ke arahnya, lalu sembari menatap tajam berkata, “Tentu saja marah! Tapi …, entah mengapa saya sedang tidak ingin memarahi. Kalian bertiga belajar sangat cepat dan itu cukup memuaskan. Semua orang pernah melakukan kegagalan. Karena itu, saya rasa kegagalan hari ini tidak terlalu berat.”
“Anda ternyata orang yang cukup bijak, ya?” ujar Ra’an dengan niat sedikit menyindir. Berbeda dengan atasannya yang hanya diam dan tak ingin mengungkapkan cara pikirnya kepada orang asing, Ra’an benar-benar ingin memprovokasi dan kembali berkata, “Apa … itu juga hal yang perlu kami pelajari? Memaafkan kegagalan orang lain?”
Melirik ke arah orang Moloia tersebut, dalam benak Minda masih tidak bisa menyukai mereka berdua. Bagi dirinya yang berdarah Kerajaan Ungea yang lahir pada masa akhir Perang Besar, keberadaan orang Moloia di Mansion memang seakan memancing rasa benci dalam hatinya.
Berusaha untuk tetap profesional pada pekerjaan dan tenang, Minda hanya memasang senyum tipis dan menjawab, “Tidak juga, saya bukan berarti akan melepaskan kalian begitu saja. Kalau kalian tetap tak bisa melakukan pekerjaan seperti ini sampai besok, saya berniat melaporkannya kepada Nyonya dan bilang bahwa kalian tidak layak untuk mendampingi Tuan Odo saat berkerja nanti.”
“Ugh ….”
Ra’an tertegun, seketika paham bahwa kepribadian perempuan di hadapannya tersebut sangat buruk. Memalingkan pandangan dan mengambil salah satu nampan berisi kue-kue gosong, untuk sesaat perempuan rambut pirang panjang sebahu tersebut merasa selalu dipandang rendah oleh orang-orang di Kediaman Luke. Sama seperti dirinya yang sedang melihat kue gosong di atas nampan sekarang.
Tidak hanya Ra’an, Di’in juga paham bahwa hampir semua pelayan sampai Lizard Man yang bekerja di Kediaman Luke memberikan tatapan rendah kepada mereka. Seakan-akan orang-orang dari Moloia adalah makhluk langka yang mengusik ketenangan mereka semua.
Di tengah suasana dan pembicaraan mereka yang sedikit menegang, Di’in segera berbalik. Ia sama sekali tidak ikut campur dalam pembicaraan mereka ataupun mengungkapkan pendapatnya terkait apa yang diucapkan Minda.
Melihat apa yang langsung dikerjakan perempuan dengan kesan pendiam dan tertutup tersebut, Minda memberikan tatapan curiga. “Kalian belanja saja ke kota, di sini biar saya yang urus,” ujarnya untuk melihat respons Di’in.
Tanpa menoleh dan tetap lanjut merapikan meja dapur, Di’in menjawab, “Akan bermasalah jika kami yang pergi ke kota sekarang. Sebaiknya Anda saja dan Hilya yang pergi, biar saya dan Ra’an yang membersihkan dapur.”
“Bermasalah? Memangnya apa yang telah kalian lakukan di sana sampai-sampai bermasalah?” tanya Minda. Rasa curiga semakin bertambah, membuat dirinya berjalan mendekat dan menatap tajam ke arah salah satu perempuan yang dipercayakan kepadanya untuk dilatih itu.
“Tidak ada. Tuan Odo hanya pernah bilang kalau kami sebaiknya tidak ke Mylta dulu untuk beberapa hari ke depan. Beliau berkata kami harus fokus berlatih dulu ....”
Jawaban yang membawa nama Tuan Mudanya membuat Minda tidak bisa bertanya lebih lanjut. Jika memang itu apa yang diperintahkan Odo Luke, sebagai salah satu Shieal dirinya tidak bisa memaksa Di’in dan Ra’an untuk pergi ke kota.
“Hmm, baiklah. Saya tak ingin mencurigai kalian, jadi tolong urus dapur sebelum Fiola datang ke sini untuk memeriksa.”
“Hmm, tentu. Kami sedang membersihkannya. Kami akan mengusahakannya.”
Di tengah pembicaraan mereka, orang yang dijadikan mereka salah satu bahan pembicaraan tiba-tiba datang. Odo Luke, Tuan Muda dari Kediaman tersebut melangkah masuk ke dapur tanpa menyapa ataupun mengeluarkan satu kata pun. Ia sama sekali tidak melirik ke arah mereka yang ada di dapur, hanya segera berjalan menuju lemari tempat penyimpanan bumbu di dekat kompor seperti orang yang sedang tenggelam dalam lamunan.
Menyadari kedatangannya, semua orang di dapur seketika terdiam dan menatap heran ke arah pemuda rambut hitam tersebut. Mereka bertanya-tanya mengapa Odo datang ke tempat mereka dan langsung menggeledah salah satu lemari dapur.
“Apa … yang sedang Anda cari, Tuan Odo?” tanya Minda sembari berjalan menghampirinya.
Melirik ke arah perempuan yang wajahnya sedikit belepotan tepung itu, Odo sesaat tersenyum tipis. Kembali fokus mencari, pemuda itu berjongkok di depan salah satu lemari meja dapur dan membuka pintunya.
Sembari lanjut mencari Odo menjawab, “Apa kau punya garam?”
“Kalau garam, itu ada di atas. Disimpan bersama bumbu dapur bubuk lain”
Minda berjalan ke arah dekat kompor, berjinjit dan membuka lemari yang digantung di atas meja dapur bersama rak-rak untuk mengeringkan piring setelah dicuci. Mengambil stoples berisi garam, perempuan itu menawarkannya kepada Odo.
“Ini garam laut?” tanya pemuda itu setelah menerimanya. Ia membuka wadah kaca tersebut, lalu mencolet garam dan sedikit mencicipinya.
__ADS_1
“Ya, tentu saja garam laut.”
“Kalau garam gunung, apa di sini ada? Aku sedang butuh.”
Minda terdiam dengan heran, bertanya-tanya untuk apa Tuan Mudanya tersebut mencari bumbu masak seperti itu. Berjalan ke arah meja yang berada di sudut dapur, ia berjongkok dan mengambil tembikar berisi garam gunung yang dicari Odo.
“Ini garam gunungnya.” Minda berbalik dan kembali menghampiri Odo. Sembari membuka tutup tembikar dan menunjukkan garam dengan warna yang lebih kusam tersebut, ia dengan penasaran bertanya, “Memangnya … untuk apa Tuan Muda mencari garam gunung? Apa Anda mau membuat menu baru lagi untuk toko Anda? Seperti …, eng …. Itu namanya apa? Yang waktu itu dari ikan yang digiling dan tambahan cuka apel.”
“Pempek?” Setelah meletakkan stoples garam laut ke atas meja, Odo mengambil tembikar dari Minda dan mencoba garam gunung tersebut. Merasa telah menemukan bahan-bahan dengan takaran ‘Basa’ yang cukup sesuai, pemuda rambut hitam tersebut kembali berkata, “Sayang sekali, kali ini aku tidak sedang ingin membuat menu baru lain. Garam ini untuk ritual kecil ….”
“Ritual …? Memakai bumbu dapur?”
“Ya, tentu. Apa masalah? Asal kau tahu, Minda. Hampir seluruh bumbu dapur adalah rempah-rempah, lalu sebagian dari rempah-rempah adalah simbol dari unsur-unsur daratan. Sebagian besar rempah bisa berperan sebagai perwakilan berbagai materi di jagat raya, termasuk garam yang dari dulu dikenal sebagai pengusir makhluk-makhluk mistis jahat.”
Minda sesaat terdiam karena sebagian besar yang dikatakan Odo tidak dirinya mengerti. Meski hanya paham sebagian, dirinya tahu apa yang dimaksud Tuannya tersebut. “Bukannya itu hanya takhayul orang-orang Kekaisaran? Semacam air suci, garam katanya bisa menangkal sihir kutukan atau semacamnya,” ujarnya dengan nada meragukan.
“Kau tahu itu dengan baik, takhayul adalah media penyampaian pengetahuan kepada generasi selanjutnya supaya tidak jatuh ke tangan yang salah.” Odo meletakkan tembikar berisi garam gunung ke atas meja, lalu kembali melihat sekeliling dapur untuk mencari bahan lainnya. Merasa tidak terlalu paham letak bahan-bahan yang diinginkan, pemuda itu menatap ke arah Minda sembari bertanya, “Apa di sini juga ada daun Rosemary, Salmon, dan Beetroot?”
“Anda ingin menggunakan semua itu juga untuk ritual? Rasanya … malah seperti Anda ingin memasak.”
“Kau akan tahu itu nanti.” Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya, lalu dengan nada sedikit menegaskan bertanya, “Jadi, apa semua itu ada?”
“Untuk Rosemary dan Salmon masih ada, saya bisa menyiapkannya segera. Namun, untuk Beetroot saya rasa Anda hanya bisa mendapatkannya melalui pedagang dari Ungea. Petani Felixia mayoritas menanam kentang, jenis ubi merah yang Anda sebut tidak terlalu populer karena sukar tumbuh di tanah kita. Harganya juga mahal, jadi kami tidak menggunakannya untuk bahan makanan di dapur. Lagi pula, Nyonya sepertinya tidak suka dengan bahan makanan yang warnanya membekas di mulut saat dimakan.”
“Tidak ada, ya ….” Odo sesaat terdiam, merasa yang terakhir adalah alasan yang sebenarnya bahan tersebut tidak ada di dapur. Tidak ingin memperpanjang, ia memalingkan pandangan dan melihat ke arah lemari-lemari di dapur. “Bagaimana kalau Angkak?” tanyanya sembari kembali menatap Minda.
“Itu … juga tidak banyak yang jual.” Minda hanya bisa memasang wajah tertekan karena tidak bisa memenuhi permintaan Odo untuk kedua kalinya. Sembari mengangkat jemari, perempuan rambut hitam tersebut beralasan, “Meski pun ada pedagang dari Kekaisaran yang membawanya ke Mylta, tetap saja pasti mencarinya akan sangat sulit di pasaran. Katanya …, beras fermentasi itu juga sangat mahal di tempat asalnya.”
“Hmm, tidak ada juga.” Odo hanya terdiam, sama sekali tidak memperlihatkan mimik wajah kecewa meski bahan yang dicarinya tidak ada lagi. Memalingkan tatapan ke arah Di’in dan Ra’an yang mulai sibuk kembali membereskan dapur, pemuda itu kembali bertanya, “Bagaimana dengan Secang … Kalau tumbuhan Perdu yang sering diseduh menjadi minuman itu, sih? Apa juga tidak ada?”
“Kenapa bisa Anda juga tahu remah-remah seperti itu?” Minda hanya bisa memasang wajah kecut karena juga tidak bisa memenuhi bahan rempah yang dicari Tuannya. Minda menolak bukan hanya karena di dapur tidak ada, namun memang di Mylta juga dirinya tak pernah melihat rempah dan bahan makanan seperti itu. Setelah menghela napas, perempuan rambut merah itu kembali berkata, “Asal Tuan Muda tahu, di dapur ini hanya ada rempah dan bahan dapur biasa. Memang ada bumbu mahal seperti Jintan Hitam dan Saffron, tetapi untuk bumbu-bumbu unik yang Anda sebut itu tidak ada.”
“Yah, tidak ada juga?” Odo menatap heran ke arah Shieal tersebut. Tidak berhenti setelah permintaan bahannya tidak ada untuk ketiga kalinya, pemuda itu mengacungkan jari telunjuknya ke depan dan kembali bertanya, “Kalau bunga Rosella? Apa tidak ada juga?”
Minda terdiam, merasa apa yang diminta Odo semakin membuatnya bingung. Menghela napas sekali, perempuan rambut hitam itu dengan sedikit remeh menjawab, “Kalau Tuan mencari itu, berarti Anda datang ke tempat yang salah. Bunga itu seingat saya masih ada satu, itu masih tanaman bibit dan ada di halaman belakang.”
“Tolong ambilkan satu kelopaknya ….” Odo menurunkan jari telunjuknya, menarik napas lega dan kembali berkata, “Nanti kalau sudah terkumpul semua, kamu bisa bawakan semua yang aku butuhkan itu ke halaman depan!”
Sebelum Odo berbalik dan pergi, Minda dengan segera bertanya, “Tunggu sebentar! Semua itu yang apa?”
“Garam Laut, Garam Gunung, Rosemary, Salmon, dan terakhir Rosella. Tidak perlu banyak-banyak, cukup masing-masing satu piring kecil saja,” jawab Odo sembari menghentikan langkah kaki.
“Baiklah …. Sesuai permintaan Anda, Tuan Muda.”
Meski Minda punya kepentingan lain dan masih tidak mengerti kenapa Odo memerlukan semua bahan tersebut, sebagai seorang pelayan dirinya membungkukkan badan dan patuh dengan penuh rasa hormat kepada tuannya.
Melihat hal tersebut, Hilya yang sedang ikut membantu Di’in dan Ra’an seketika terdiam. Belajar bahwa seorang pelayan haruslah memenuhi perintah Tuannya tanpa tahu sepenuhnya untuk apa semua itu.
“Kalau begitu, aku tunggu satu jam lagi di halaman depan.”
\================
Catatan :
Yo, kembali ke pojok CH. Untuk yang minat, silahkan cari nama bahan-bahan yang muncul di CH kali ini. Yang antara lain, Secang, Angkak, Beetroot, Saffron. Tidak ada maksud khusus, hanya menyarankan karena Author terlalu malas untuk memasang informasi di sini.
Sedang sibuk di Real Life, jadi kemungkinan update bakal slow atau bahkan hanya satu bulan sekali update nya.
Dukung terus cerita ini dengan vote, like, dan komentar kalian.
See You Next Time!
__ADS_1