Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[102] Serpent II – Dipenuhi Keinginan (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Para pendahulu kami berkata, peran sebagai penguasa Pohon Suci adalah hal mutlak.


 


 


Menduduki posisi sebagai perwakilan para Roh untuk bertahan hidup di ekosistem Dunia Astral, lalu menjaga mereka sampai tumbuh dan memiliki identitas sendiri sebagai komponen ekosistem tersebut.


 


 


Perlu sebuah dedikasi penuh di dalam tugas itu. Harus dituntaskan sampai kita bisa meneruskan kewajiban kepada Roh yang akan lahir di kemudian hari.


 


 


Hal tersebut memang sangatlah berat untuk diberikan kepada kehidupan yang baru lahir.


 


 


Namun, begitulah siklus yang ada di ekosistem Pohon Suci. Ketika sosok Roh Agung telah mencapai batasnya sebagai perwakilan, ia akan mengembalikan sebagian wewenang untuk ditanamkan kepada Roh lain yang baru lahir.


 


 


Seiring berjalannya waktu, wewenang tersebut sepenuhnya akan berpindah dan menjadikan Roh terpilih sebagai Roh Agung berikutnya. Dengan kata lain, pendahulu tersebut akan sepenuhnya diserap oleh Pohon Suci dan dijadikan sumber kekuatan untuk penguasa baru.


 


 


Itu bukanlah sebuah siklus reinkarnasi, melainkan pemupukan layaknya pohon jati yang berhasil melewati berbagai musim untuk bertahan hidup. Daun tua akan gugur, lalu membusuk dan menjadi pupuk untuk menumbuhkan daun baru di musim semi berikutnya.


 


 


Kekuatan, wewenang, ingatan, dan tugas akan diwariskan kepada penerus dalam siklus tersebut. Karena itulah, setiap Roh yang dipilih sebagai penerus pasti langsung paham perannya sendiri setelah mendapatkan kepribadian.


 


 


Ingatan yang diwariskan bersama wewenang dan kekuatan akan mengajarinya berbagai hal, terutama segala sesuatu yang diperlukan untuk memenuhi tugas sebagai Roh Agung.


 


 


Namun, terkadang ada beberapa perasaan yang ikut diwariskan dalam proses tersebut. Sebuah kesepian, rasa penasaran, kesedihan, atau bahkan amarah terkadang ikut diwariskan kepada penerus mereka.


 


 


Hal tersebut membuat Roh Agung di Pohon Astral menjadi cepat menyimpang, lalu memiliki siklus yang semakin pendek. Karena perasaan-perasaan yang semakin kuat, mereka akan menduakan kewajiban dan menjadi tidak peduli lagi dengan ekosistem Pohon Suci.


 


 


Lalu, pada akhirnya Roh Agung tersebut akan sadar bahwa dirinya telah mencapai batas sebagai seorang penguasa.


 


 


Sebab itulah, sebelum jatuh ke dalam penyimpangan secara penuh wewenang perlu diwariskan. Untuk menjaga siklus yang ada tetap berjalan, demi keberlangsungan ekosistem Pohon Suci dan semua Roh yang hidup di dalamnya.


 


 


Ketika terlahir ke dunia ini, sosok yang pertama kali menyambut diriku adalah Penguasa Pohon Suci sebelumnya. Ia tersenyum dengan lebar seakan dipenuhi kebahagiaan, lalu memberikan nama Reiye Reyah kepada diriku.


 


 


Saat pertama kali melihatnya, Reyah, diriku langsung paham bahwa Roh Agung tersebut berbeda dengan para pendahulu. Sangat berbeda sampai-sampai persepsi ku terhadapnya menangkap sesuatu yang berbeda.


 


 


Roh Agung tersebut bukanlah seorang Dryad layaknya para pendahulu yang berperan sebagai Penguasa Pohon Suci, melainkan sosok Leprechaun.


 


 


Dirinya terlihat seperti pria tua yang memiliki perawakan pendek, mempunyai janggut lebat seperti akar, dan kulit keriput seperti permukaan pohon kering. Benar-benar jauh dari kesan indah dan cantik yang melekat pada penguasa-penguasa sebelumnya.


 


 


Meski dirinya seorang Roh Agung, Leprechaun tersebut selalu mengenakan setelan jas dari daun dan topi tinggi berwarna hijau. Ia juga suka membawa tongkat kayu saat berjalan, seakan-akan meniru gaya hidup bangsawan dari Dunia Nyata.


 


 


Jika dibandingkan dengan kehidupan panjang yang telah diriku lalui sampai saat ini, waktu yang kami habiskan bersama sangatlah singkat.


 


 


Layaknya selembar daun dari ribuan yang berjatuhan di musim gugur, itu melayang turun dengan cepat dan jatuh ke tanah untuk membusuk dalam hamparan ingatan.


 


 


Namun, dalam waktu tersebut dirinya telah mengajari ku banyak hal tentang dunia ini. Sesuatu yang tidak bisa diriku dapat dari warisan para pendahulu, makna tentang kewajiban dan peran sebagai penguasa, lalu arti di balik semua hal yang akan diriku lewati.


 


 


“Ini adalah dunia kita. Keindahan, kengerian, penderitaan, kebahagiaan, dan penyimpangan hanya bisa kita temui di tempat ini. Ketika hidup berakhir kita hanya akan masuk ke dalam kehampaan. Jika memang seperti itu, maka nikmatilah semua hal tersebut! Baik keburukan atau kebaikan yang ada di dalamnya!”


 


 


Perkataan tersebut hanyalah lanturan yang keluar dari Roh Agung yang sudah menyimpang. Namun, entah mengapa diriku masih mengingatnya sampai sekarang.


 


 


Seakan kalimat tersebut menjadi racun di dalam benak, perkataannya menggerogoti hati ini sampai sekarang. Terus tertanam semakin dalam, lalu mengendap dalam hati ini layaknya sebuah lumpur.


 


 


Bukan berarti diriku mengakui cara pandang tersebut benar. Hanya saja, rasanya terlalu menyedihkan saat diri ini setuju dengan perkataan Leprechaun itu.


 


 


Dia ⸻ Lebih tepatnya, perkataan Roh Agung tersebut terasa seperti telah memahami semua baik dan buruk yang melekat pada dunia. Lalu, mungkin karena itulah Leprechaun itu memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan tugas ini kepadaku.


 


 


Tatapannya seakan-akan telah putus asa kepada dunia ini. Namun, di sisi lain masih berharap dan ingin menyerahkan sesuatu kepada diriku bersama peran ini.


 


 


Sebelum benar-benar lenyap ditelan Pohon Suci dan menjadi bagian dariku, pesan yang disampaikan Leprechaun itu adalah sebuah saran dan harapan.


 


 


Ia tidak memaksa diriku untuk memenuhi tugas dan kewajiban, hanya meninggalkan sebuah pegangan untuk membantuku menjalani kehidupan sebagai seorang Roh Agung. Sebuah kalimat penuh harapan sekaligus kutukan yang menjerat hatiku.


 


 


“Makna dari kehidupan adalah berjalan menuju kematian. Namun, janganlah engkau berputus asa dalam menjalaninya. Ketahuilah bahwa engkau tidak sendirian, tengok sekeliling dan rangkul mereka ketika keraguan melanda. Meski dunia kita dipenuhi kekacauan, diriku harap engkau bisa menikmati kehidupan panjang itu. Semoga engkau bahagia, Reyah, wahai anakku yang tercinta.”


 


 


Pesan terakhir itu benar-benar menjadi racun dalam diriku. Pada saat bersamaan, hal tersebut juga memicu awal penyimpangan ku sebagai Roh Agung.


 


 


Saat menyadarinya, diriku merasa sangat muak dan tidak berguna. Pada momen ketika pertama kali menjadi perwakilan dari Pohon Suci, diriku langsung melihat batas tersebut dan gemetar.


 


 


Ah, ternyata ini yang selalu dia pikul selama ini ….


 


 


Untuk pertama kalinya, diriku mengerti alasan kenapa Leprechaun itu memilih untuk lenyap dan mewariskan wewenang. Meski memiliki kehidupan yang mendekati keabadian, ia malah lebih memilih untuk menjadi pupuk dan membusuk.


 


 


Ya, ini memang tidak menyenangkan. Berat, sangat berat. Beban ini terlalu berat untuk ditanggung sendirian dalam waktu selama itu.


 


 


Ini bukan berarti diriku harus bertarung melawan sesuatu atau memperjuangkan kemakmuran semua Roh di ekosistem Pohon Suci. Jika dibandingkan dengan Dunia Nyata, tempat tinggal para Roh sangatlah damai.


 


 


Tetapi, kedamaian tersebut juga berarti kesepian. Tanpa konflik berarti tidak ada hal yang baru, tidak ada pertemuan, dan juga tidak perpisahan. Sangat hampa sampai-sampai bisa mendorong para Roh berakal melakukan penyimpangan.


 


 

__ADS_1


Tidak ada yang bisa diajak bicara secara setara, tidak ada lagi yang memanggil namaku.


 


 


Setiap Roh di ekosistem akan menundukkan kepala saat berbicara kepadaku, lalu memberikan hormat dan tidak akan pernah menatap setara.


 


 


Meski diriku bisa berbincang secara setara dengan Roh Agung lain, mereka sangatlah aneh dan diriku pun merasa tidak bisa cocok dengan mereka.


 


 


Ada gadis bodoh yang isi kepalanya hanya ada kebun bunga, pria kolot dengan cara pandangan sempit, lalu wanita angkuh yang hanya mementingkan ekosistemnya sendiri.


 


 


Sifat mereka memang wajar seperti itu. Mengingat berbagai macam siklus yang dimiliki masing-masing Roh Agung, kepribadian yang beragam sangatlah normal. Sebab hal itu juga berlaku untukku.


 


 


Namun, tetap saja diriku memang tidak bisa akrab dengan Roh Agung lain. Mereka terlalu menyebalkan, setiap kalimat yang keluar dari mulut seakan mengusik pikiran dan benakku.


 


 


Sebab itulah, diriku lebih suka menyendiri di dalam Pohon Suci. Menjalin hubungan seperlunya saja, lalu mempertahankan ekosistem dan stabilitas di antara wilayah kekuasaan para Roh Agung di Dunia Astral.


 


 


Diriku cukup menikmati kesendirian tersebut. Namun, pada saat yang sama itu adalah racun lainnya yang membawakan sebuah kerusakan dalam kehidupan panjang ini.


 


 


Ketika seseorang terbiasa sendirian, ia akan mulai menikmatinya dan terlena. Paham bahwa ketenangan sesungguhnya bisa didapat tanpa bantuan orang lain, lalu mulai memikirkan hal-hal yang tidak diperlukan.


 


 


Karena hal seperti itu, diriku memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu diketahui. Mencari tahu ingatan kuno para pendahulu, lalu menyelam ke dalam lautan informasi yang tersimpan dalam Pohon Suci.


 


 


Kebenaran dunia.


 


 


Rahasia langit.


 


 


Arti dan makna keberadaan para Roh.


 


 


Kebohongan dan aib Dewa-Dewi.


 


 


Lalu, sebuah ketentuan mutlak saat semuanya terbongkar dan hari yang dijanjikan tiba.


 


 


Saat mengetahui lembar-lembar penting Catatan Kuno tersebut, keyakinan yang diriku pegang sejak pertama kali menjadi Roh Agung perlahan goyah. Mulai mempertanyakan arti dari semua waktu yang telah diriku lewati, lalu makna dari pengabdian para pendahulu persembahkan kepada sang Dewi.


 


 


Ada waktu ketika diriku ketakutan, membenci diri sendiri, atau bahkan ingin segera mewariskan peran ini kepada Roh berikutnya. Namun, perkataan Leprechaun itu seakan menjadi kutukan yang merantai pikiran ini.


 


 


“Diriku belum pernah merasa benar-benar bahagia ….”


 


 


Hanya karena satu alasan tersebut, diriku memutuskan untuk terus bertahan. Berusaha untuk tidak jatuh dalam penyimpangan, lalu bersifat dingin dan memandang semuanya lebih rendah untuk mempertahankan jati diri.


 


 


Sayangnya semua itu hanyalah kepura-puraan. Meski berakting layaknya sosok kejam tanpa belas kasihan, diriku tetap saja tidak bisa menjadi kejam sampai ke akar. Layaknya pohon hijau lebat, air hujan tidak bisa jatuh sampai ke akar secara menyeluruh karena terhalau daun.


 


 


 


 


Entah ini sebuah keberuntungan atau bukan, diriku tidak bisa melakukan hal tersebut.


 


 


Persis seperti kata Roh Agung sebelumnya, diriku tidaklah sendirian. Saat hati merasa bimbang, tanpa sadar diriku menoleh ke sekitar dan menyadari hal itu.


 


 


Mereka semua sejak dulu berada di sana, selalu mendampingi sang penguasa ini layaknya keluarga. Meski tidak pernah berbagi kata dari hati ke hati, para Roh tersebut membutuhkan sosok Dryad ini sebagai perantara Pohon Suci.


 


 


Seakan meminta pohon rapuh ini tetap berdiri, tatapan mereka menjadi sebuah penahan supaya diriku tidak melangkah ke dalam jurang dalam kehampaan. Memeluk dari belakang dengan kehangatan, lalu membuat diriku sekali lagi memilih untuk bertahan di tengah badai.


 


 


Namun, itu tidak berjalan lama. Seakan dunia tidak mengizinkan diriku untuk singgah sebentar setelah kebimbangan, pemuda rambut hitam tersebut datang.


 


 


Singularitas, Unsur Hitam, Pemuda yang Dijanjikan, Calon Raja ⸻


 


 


Dalam Catatan Kuno, sosok tersebut disebut dengan berbagai cara. Memiliki ciri-ciri jelas berupa rambut hitam pekat, lalu cara pandang yang sangat menyimpang dan merupakan inkarnasi jiwa dari Dunia Sebelumnya.


 


 


Kehadiran pemuda itu layaknya sebuah jurang dari perjalanan hidupku. Menjadi pertanda akhir sekaligus destinasi dari sesuatu yang diriku harapkan selama ini.


 


 


Dipenuhi kebohongan, itulah kesan yang ada dalam pertemuan pertama kami. Bukan pemuda tersebut yang berbohong kepadaku, namun diriku lah yang berbohong kepadanya.


 


 


Baik itu tentang dunia, tujuan, atau bahkan diriku sendiri. Hampir semua yang diriku sampaikan adalah omong-kosong. Bukan untuk memperalat, melainkan hanya mengulur waktu untuk diriku mempersiapkan semuanya.


 


 


Setiap kali bertemu dengannya, pemuda itu seakan selalu mengulurkan tangan untukku ke arah jurang. Tetapi, pada saat yang sama ia pun menunjukkan pemandangan yang berbeda di sisi lain kegelapan tersebut.


 


 


Pemuda itu terasa seperti sedang tersenyum lembut, lalu menunjukkan pemandangan yang ingin kulihat sejak dulu. Meski diriku tahu dirinya dipenuhi kegelapan dan sedang memikul beban yang sangat berat, tangan ini ingin meraihnya.


 


 


Karena itulah, diriku tidak bisa berpaling. Meski tahu akan kehilangan banyak hal dan melewati jalan tanpa pijakan, kaki ini tidak bisa berhenti melangkah ataupun menolak eksistensi entitas berbentuk anak manusia itu.


 


 


Memang pada awalnya pemuda rambut hitam tersebut terlihat seperti manusia biasa, sangat naif dan memiliki pandangan pendek tentang kehidupannya sendiri. Hanya melangkah ke depan seakan menikmati proses yang ada, lalu tidak paham bahwa setiap langkah yang diambil menuntunnya menuju akhir.


 


 


Tetapi seiring berjalannya waktu, ia semakin berubah dan berkembangan. Sifat polos sedikit demi sedikit sirna, berganti dengan pandangan realistis setelah mengetahui fakta tentang dunia cacat ini.


 


 


Perkembangan tersebut sangatlah cepat. Bahkan pada akhirnya, pemuda itu benar-benar merefleksikan diri sebagai singularitas secara utuh. Sebuah penyimpangan nyata terhadap takdir dunia ini.


 


 


Sebuah unsur yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh Dewa-Dewi, tak tercantum dalam Catatan Kuno, dan menjadi unsur penuh potensi bagi masa depan seluruh dunia.


 


 


Potensi ⸻ Dalam kata tersebut, ini tidak selalu didefinisikan sebagai hal positif. Karena itulah, diriku sampai sekarang tidak bisa memahaminya. Diriku tahu apakah pemuda itu akan memberikan dampak baik atau buruk untuk dunia ini.


 

__ADS_1


 


Odo Luke, ialah pemuda yang akan menentukan akhir dan awal saat hari yang dijanjikan tiba. Kelahirannya menjadi tanda berakhirnya suatu zaman, lalu akhir perjalanannya menjadi sebuah pembuka lembar baru dari kisah dunia tidak sempurna ini.


 


 


Awalnya diriku meragukan hal semacam itu. Tidak mungkin nasib dunia ditentukan oleh satu kehadiran manusia, pasti itu hanyalah muslihat yang dibuat penduduk langit untuk merealisasikan kehendak mereka.


 


 


Namun, saat melihat pemuda itu diriku paham bahwa pandangan tersebut sangatlah salah. Dia, Odo Luke, sejak awal bukanlah manusia.


 


 


Ini sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.


 


 


Namun jika semua dipaksa untuk meringkas semuanya, pemuda tersebut adalah dunia itu sendiri.


 


 


Layaknya raksasa dengan ukuran yang tidak masuk akal, seluruh dunia seakan berada dalam pangkuannya yang duduk di dalam kehampaan.


 


 


Hal tersebut memang terdengar lebih tidak masuk akal, sangat bertentangan dengan cara pandangku sebelumnya.


 


 


Namun, itulah yang diriku rasakan dari pemuda itu sekarang ini. Odo juga menyembunyikan sesuatu layaknya Dewa-Dewi, namun diriku tidak tahu apakah itu hal baik atau buruk.


 


 


Jujur saja, sekarang semua itu sudah tidak lagi penting bagiku. Apa yang penting untukku sekarang adalah untuk mencapai kebahagiaan, sesuatu yang harus dipenuhi sebelum lenyap.


.


.


.


.


Sekarang adalah momen di mana diriku harus menyeberang jurang kehidupan. Melewati jalan yang tidak lebih lebar dari benang serat, mempertaruhkan nyawa untuk sampai ke sisi lain dari kehidupan panjang ini.


 


 


Seperti yang diriku duga, beberapa waktu lalu Ifrit berkunjung untuk memberikan peringatan. Datang seakan-akan ingin menentang pilihan ini.


 


 


Meski inkarnasi burung Vermilion itu mengambil tindakan yang sedikit berbeda dan malah memberikan bantuan, pada akhirnya hasil yang ada tidak berubah sama sekali.


 


 


Tugas sebagai perwakilan Pohon Suci telah diberikan kepada Alyssum, Roh yang lahir dari susunan jiwa milikku dan Odo. Kelak wewenang akan kembali ke Pohon Suci dan sepenuhnya menjadi milik anak tersebut, lalu pada akhirnya diriku akan terlepas dari semua kewajiban sebagai penguasa tempat ini.


 


 


Meski selama proses transfer akan membuat lemah Pohon Suci untuk sesaat, namun seharusnya kekuatan Naga Hitam bisa membantunya. Hadiah terakhir yang tertanam dalam diri Alyssum pasti kelak akan menolongnya.


 


 


Selain itu, diriku yakin semua makhluk yang ada di ekosistem Pohon Suci akan menjadi kekuatannya saat lemah. Layaknya mereka selalu menemani diriku, para Roh tersebut pasti bisa mengajari Alyssum banyak hal tentang dunia.


 


 


Mereka pasti bisa menunjukkan gambaran yang berbeda, melihat dalam persepsi lain tentang dunia ini.


 


 


Diriku berdiri di puncak Pohon Suci untuk menikmati momen terakhir ini. Angin dari laut berhembus menerpa tubuh, lalu sedikit membuat benak ini merasa sedih karena harus berpisah dengan mereka.


 


 


Namun, tidak ada alasan untuk diriku berpaling dari pilihan yang telah diambil.


 


 


Berdiri dengan tegak dan kukuh di ujung puncak Pohon Suci. Untuk terakhir kalinya melihat pemandangan Dunia Astral, lalu sejenak merasa bahwa dunia tempatku tinggal memang sangatlah kacau.


 


 


Meski secara visual tidak terdapat hambatan, distorsi spasial ada di berbagai sudut Dunia Astral. Layaknya kubus-kubus yang tersusun dalam sebuah kluster, itu terus bergerak mengikuti hukum yang bahkan tidak diriku pahami.


 


 


Tampak begitu acak, namun pada beberapa titik pergerakan spasial seakan mengikuti suatu aturan. Seakan-akan tempat ini adalah sebuah labirin hidup, itulah bagaimana diriku menggambarkan distorsi yang disebabkan pergeseran kubus-kubus spasial.


 


 


Sukar untuk dilihat dengan mata telanjang, lalu hanya bisa dideteksi oleh makhluk astral atau memalui aliran Ether. Bagi para penduduk Dunia Nyata, tempat ini memang bagaikan sebuah labirin mematikan.


 


 


Bahkan, para penduduk langit pun menjadikan Dunia Astral ini sebagai tempat pembuangan. Dewa-Dewi itu seenaknya mengurung Leviathan di tempat ini, lalu membiarkannya mengacaukan keseimbangan Keempat Roh Agung yang telah terjaga sejak lama.


 


 


Ditambah dengan kedatangan Naga Hitam yang dilempar oleh Penyihir Miquator selama Perang Besar, keseimbangan menjadi semakin kacau dan mendekati keruntuhan.


 


 


Hasilnya batas ekosistem harus ditata ulang. Para Roh Agung yang dulunya memiliki sifat intoleran terhadap yang lain harus menghilangkan hal tersebut, lalu memberikan kelonggaran terhadap batas-batas ekosistem mereka untuk bisa beradaptasi.


 


 


Pada puncaknya, diriku dan Diana sampai-sampai harus memberikan sebagai wilayah kepada Ifrit yang kehilangan sebagian besar ekosistemnya karena Naga Hitam. Terpaksa membiarkan tanah dan rumput kami terbakar oleh para Roh dari Lembah Api untuk menjaga keseimbangan.


 


 


Meski hal tersebut berakhir setelah Odo berhasil mengalahkan Naga Hitam, namun tetap saja batas ekosistem tidak kembali begitu saja. Inkarnasi Vermilion itu dengan jelas memiliki hutang kepada diriku dan Diana, dengan kata lain hubungan yang ada di antara penguasa ekosistem tidaklah setara lagi.


 


 


Mungkin …, Ifrit memberikan bantuan karena merasa berhutang dalam hal tersebut. Pedang hitam yang ada dalam genggaman tanganku, senjata ini memang sebuah mahakarya.


 


 


Diriku tidak paham tentang kualitas sebuah pedang. Tetapi, ini memang memiliki kekuatan sihir yang unik dan hawa kehadiran Naga Hitam di dalamnya. Benar-benar merupakan senjata yang ditempa dari bangkai sang Pembawa Malapetaka.


 


 


Sejenak diriku angkat pedang tersebut dengan kedua tangan. Meski telah dibungkus oleh gagang dan sarung kayu dari Pohon Suci, aura gelap dari senjata ini masih terasa sangat jelas. Memancarkan amarah dan murka pada sesuatu, lalu sedikit terdapat kesedihan di dalamnya.


 


 


“Apa tidak masalah jika pedang ini digunakan Odo? Kalau Naga Hitam menguasai tubuhnya, bukankah itu malah merusak semua rencananya? Apalagi yang akan kita lawan nanti adalah Leviathan, seharusnya ….”


 


 


Untuk sesaat diriku berpikir untuk tidak menyerahkan pedang ini kepada Odo. Paling tidak pedang ini tidak boleh menyentuhnya sebelum Leviathan dikalahkan.


 


 


Namun, beberapa detik kemudian hal itu terasa sangat konyol. Diriku merasa naif karena berpikir seperti itu.


 


 


“Memangnya ada jaminan kita bisa menang melawannya? Makhluk yang dikenal sebagai pemusnah peradaban, tingkatnya sangat berbeda dengan Naga Hitam ….”


 


 


Sudahlah, apa yang terjadi biarlah terjadi. Dunia ini sudah kacau dari awal, kehadiran pemuda itu membuat semuanya menjadi jelas. Menuntun takdir menuju tempat yang tidak diketahui, lalu membuat diriku sadar bahwa dari awal pijakan sudah tidak ada di sana.


 


 


Jika memang pedang yang telah ditempa Ifrit ini mengubah sesuatu, maka biarlah hal itu terjadi. Diriku sudah tidak lagi punya kewajiban untuk mematuhi ketentuan dalam Catatan Kuno. Roh Agung ini sudah bukan budak takdir yang ditulis oleh Dewa-Dewi kayangan itu.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2