Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[90] Dekadensi Kota Rockfield VII – Gadis (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


Lentera minyak digantung untuk menerangi, memberikan kesan remang-remang dan membatasi jarak pandangan semua orang dengan pencahayaan yang terbatas. Dari gentong-gentong kayu yang tidak jauh dari pintu masuk, aroma ale menyengat dan menyebar ke penjuru ruangan.


 


 


Meski tidak sampai pada kesan suram, penginapan tersebut memang tidak bisa dikatakan layak untuk membuka bisnis. Paling tidak, itulah yang Odo rasakan saat pertama kali masuk di tempat tersebut.


 


 


Dari sekian banyak tempat yang ada di Kota Pegunungan, Lily’ami dan Ferytan lebih memilih penginapan itu untuk didatangi. Tidak terlalu jauh dari gang kumuh tempat mereka tinggal sebelumnya, itu terletak pada jalan utama menuju Gerbang Kota.


 


 


Layaknya bangunan-bangunan di Rockfield pada umumnya, penginapan tersebut sebagian besar terbuat dari susunan batu dan memiliki atap jerami. Lantai yang ada di dalam penginapan juga terbuat dari susunan batu yang sudah berlumut, lalu di atasnya tertata rapi meja serta kursi yang telah diisi oleh para pelanggan.


 


 


Setelah masuk dan berdiri di depan pintu, Odo langsung disapa dengan tatapan tak ramah oleh pelanggan lain. Mereka terlihat kumuh, mengenakan pakaian kotor, dan berpenampilan urakan serta sedikit dekil. Memahami mereka sangat berbeda dengan orang-orang yang biasa terlihat saat pagi, Putra Tunggal Keluarga Luke seketika paham bahwa penginapan yang didatangi memang dikhususkan untuk orang seperti mereka.


 


 


“Kalian yakin ini makan di sini?” tanya Odo sembari memalingkan pandangan. Memberikan lirikan tajam, pemuda rambut hitam itu kembali memastikan, “Bukannya ada tempat yang lebih baik untuk kalian datangi?”


 


 


Odo berhenti mengikuti dua orang yang ingin diajaknya bicara. Kembali menghela napsa panjang, pemuda rambut hitam itu lebih memilih diam di tempat untuk mengamati ruang lobi penginapan.


 


 


Meski sebagian besar bangunan di Rockfield memiliki gaya arsitektur barok, namun penginapan yang dirinya masuki memang sedikit memberikan kesan berbeda.


 


 


Abad Pertengahan sedikit mengarah ke Renaisans, itulah yang Odo rasa saat melihat arsitektur yang ada di dalam Penginapan dengan papan nama Babi Gunung tersebut. Gentong kayu yang ditata pada sudut ruangan, pelayan yang membawakan makanan ke meja-meja pelanggan, dan lentera serta lilin yang dinyalakan sebagai penerang seadanya. Semua apa yang ada di tempat tersebut membuat Odo memasang ekspresi datar, lalu kembali menghela napas dan memasang mimik wajah resah.


 


 


“Jika kami masuk ke tempat yang lebih mewah, bukannya itu malah membuatmu kesusahan?” Ferytan berhenti di depan salah satu meja di ruangan dan menoleh ke arah Odo. Sembari tetap menggandeng anak perempuan di sebelahnya, pria tua tersebut memberikan tatapan datar dan dengan sedikit sarkasme memastikan, “Atau ini terlalu rendah untuk selera kalangan atas sepertimu?”


 


 


“Tidak juga ….” Odo menghela napas ringan. Melangkah mendekat dan duduk di meja yang dipilih Ferytan, Putra Tunggal Keluarga Luke sejenak menghela napas dan berkata, “Kalau kau ingin yang seperti ini, aku tidak keberatan. Hanya saya aku sedikit berharap tempat yang lebih memiliki sedikit privasi.”


 


 


Ferytan tidak merespons alasan seperti itu. Pria tua tersebut hanya memberikan tatapan datar seakan-akan memang memiliki alasan lain untuk memilih penginapan Babi Gunung, yang tidak memiliki privasi ataupun sesuai dengan standar kalangan atas. Menarik kursi dan membiarkan Lily’ami duduk terlebih dahulu, ia pun ikut duduk dan segera mengangkat tangan kanan untuk memesan.


 


 


“Tolong ale dan babi panggang! Lalu masakan ayam apa saja dan air putih!!”


 


 


Menyahut pesanan tersebut, satu-satunya pelayan di penginapan itu datang menghampiri dengan tangan kosong. Ia adalah perempuan dengan tubuh gempal, rambut keriting merah panjang sampai bahu, dan memiliki tatapan mata biru cerah yang sedikit sinis. Pelayan itu memang tidak setua Ferytan, namun dilihat dari parah usianya sudah lebih dari kepala tiga.


 


 


Sembari melipat kedua tangan ke pinggang, pelayan bertubuh gempal tersebut dengan ketus berkata, “Fery! Apa kau ingin hutang lagi?! Asal kau tahu, di sini tidak akan menyediakan makanan untuk pengangguran seperti kau! Paling tidak, kerja sana! Pergi ke tambang atau melakukan apa saja! Hasilkan uang untuk makan untuk anakmu!”


 


 


Melihat pelayan itu marah-marah, wajah Lily’ami langsung mengincup dan dengan gemetar bertanya, “Bi-Bibi, apa … kami tidak boleh makan di sini lagi?”


 


 


“Ah~! Kalau Ami yang makan tidak apa, kok. Duh, imut sekali sih anak ini~!”


 


 


Mimik wajah pelayan tersebut langsung berubah lembut saat berbicara dengan Lily’ami. Setelah mengelus kepalanya, pelayan tersebut langsung mengangkatnya dengan mudah dan mengusapkan pipinya ke wajah anak perempuan itu.


 


 


“Namon, turunkan dia!” ujar Ferytan dengan kesal.


 


 


“Oh, kau sudah berani rupanya.” Segera menurunkan Lily’ami kembali ke kursi, pelayan dengan tubuh gempal tersebut langsung menatap tajam ke arah Ferytan. Ia langsung menghampiri pria tua itu, lalu menggebrak meja dan membentak, “Dengar ini, Fery! Ini memang tempat untuk para pecundang, tapi kau lebih buruk dari itu. Padahal membual besar untuk merawat Ami, tapi sekarang apa yang kau lakukan? Huh?! Dasar gelandangan, kau hanya malas-malasan dan tidur di gang!”


 


 


“Yakin kau berkata seperti itu, Namon?” Ferytan memasang senyum sombong. Sembari menunjuk ke arah Odo, pria tua itu dengan rasa bangga yang tidak jelas berkata, “Aku sudah mendapat pekerjaan dari pemuda di sana. Dalam waktu cepat, aku pasti bisa membayar semua hutangku dan tidak akan lagi menginjakkan kaki di tempat bobrok ini.”


 


 


“Huh, kerajaanmu membual terus, Fery.” Pelayan bertubuh gempal tersebut menggelengkan kepala, menepuk jidat dan dengan resah bertanya, “Kemarin merampok, sekarang kau menipu? Dasar pecundang besar kau ini ….”

__ADS_1


 


 


Setelah menurunkan tangan dari kepala, Namon perlahan menatap ke arah Odo. Namun ketika ditatap balik, pelayan bertubuh gempal tersebut tersentak dan seketika wajahnya merona. Ia memalingkan wajah dengan malu-malu, layaknya perempuan kampungan yang tidak pernah melihat pemuda dengan paras menawan.


 


 


“Apa-apaan wajah itu? Menjijikkan!” Ferytan meletakkan siku ke atas meja, lalu sembari menyangga kepala kembali mencemooh, “Padahal sudah punya suami, tapi langsung girang saat lihat wajah cowok cakep.”


 


 


“Mulutmu …. Bisa diam enggak?!”


 


 


Namon langsung memukul ubun-ubun Ferytan dengan keras, sampai-sampai siku pria tua itu sedikit bergeser dan kepalanya membentur meja.


 


 


“Bedebah! Kau tak perlu memukul ku seperti itu⸻!!”


 


 


Odo tiba-tiba bertepuk tangan, membuat mereka berdua berhenti bertengkar dan menatap ke arahnya. Pada detik itu juga, untuk sesaat semua orang yang berada di penginapan itu menoleh saat mendengar suara tepukan itu. Terpusat pada satu orang, layaknya dihipnotis setelah mendengar suara tepukan tersebut.


 


 


Beberapa detik kemudian, mereka semua tersadar dan kembali melanjutkan kegiatan masing-masing seakan tidak terjadi sesuatu. Untuk Ferytan dan Namon sendiri, kedua orang itu menatap dengan mimik wajah terkejut. Tntuk sesaat, mereka merasakan hawa aneh dari pemuda itu saat bertepuk tangan.


 


 


“Maaf mengganggu pembicaraan kalian ….” Odo meletakkan kedua tangan ke atas meja. Sembari memasang senyum ramah dan menatap ke arah Namon, pemuda rambut hitam itu dengan nada ramah meminta, “Bisakah Nona Pelayan mengambilkan pesanan Tuan Ferytan? Untuk pembayarannya tenang saja, biar saya yang mengeluarkan.”


 


 


“Te-Tentu, akan segera saya siapkan.” Tanpa dasar, pelayan dengan tubuh gempal itu menggunakan kalimat sopan yang tidak pernah ia gunakan kepada para pelanggannya. Ia pindah menatap ke arah Lily’ami, lalu dengan mimik wajah sedikit cemas bertanya, “Ami sih mau pesan apa?”


 


 


“Sungguh boleh, Bibi?”


 


 


“Tentu saja.”


 


 


 


 


“Susunya sudah habis,” ujar Namon dengan niat menggoda.


 


 


“Ung, masa sih?” Lily’ami langsung melipat kedua tangan ke depan dada, lalu membusungkan pipi dan merajuk, “Kok sudah habis?! Masa Ami enggak disisakan?”


 


 


“Uh~ Imut banget.” Namon mencubit pipi anak perempuan itu. Setelah menghela napas ringan dan menunjukkan otot lengannya, pelayan dengan tubuh gempal itu berkata, “Karena Ami imut, Bibi akan berusaha mencarinya di belakang!”


 


 


“Horeee~!”


 


 


Setelah teriakan senang anak keci tersebut, Namon seketika terdiam dan merasa sedikit ragu untuk menanyakan pesanan kepada Odo. Selain karena aura aneh sebelumnya, pelayan bertubuh gempal itu juga merasakan hal janggal lain dari pemuda itu.


 


 


Menyadari tatapan cemas sang pelayan penginapan, Putra Tunggal Keluarga Luke melempar senyum ramah dan memesan, “Berikan saya susu saja.”


 


 


“Susu?” tanya pelayan itu dengan bingung.


 


 


“Hmm, hanya itu. Aku ingin sedikit menghemat.”


 


 


Pesanan itu juga membuat Ferytan bingung. Sembari kembali meletakan siku ke atas meja dan menyangga kepala, pria tua itu dalam benak berkata, “Untuk tamu dari Kediaman Stein, selera minumnya aneh. Apa dia mengira minuman di sini tidak ada yang berkualitas?”


 


 


Tidak mengusik hal tersebut, pada akhirnya Ferytan hanya diam dan membiarkan Namon pergi menyiapkan semua pesanan tersebut. Sekilas menatap ke arah Lily’ami, pria tua itu terus membisu sembari memikirkan beberapa hal terkait masa depan anak perempuan itu.


 


 

__ADS_1


Dalam kesenyapan yang ada di antara Odo dan Ferytan, suara dari para pelanggan lain menyelinap dengan jelas. Kata-kata kasar dan jorok, gunjingan terhadap pemerintah, dan keluhan orang-orang yang berasal dari masyarakat strata bawah. Dengan jelas, semua itu lewat di antara mereka layaknya angin malam yang berhembus masuk melalui sela-sela pintu kayu.


 


 


“Kalau dipikir-pikir, kita belum saling memperkenalkan diri dengan baik, ya.” Pria tua itu menegakkan posisi duduk. Sembari meletakan tangan kanan ke depan dada, ia dengan nada ramah berkata, “Namaku Ferytan Loi, lalu anak yang bersama saya adalah Lily’ami. Sebelum membicarakan pekerjaan, bisakah kau memperkenalkan diri terlebih dulu?”


 


 


Odo sekilas memasang senyum ramah seakan ingin menyembunyikan sesuatu dari pria tua itu. Namun saat kornea matanya berubah hijau untuk sesaat, niat untuk mengelak seketika hilang dan mimik wajahnya berubah serius. Ia perlahan mengangkat telunjuk ke depan mulut, lalu segera memasang senyum tipis dan menatap datar.


 


 


“Namaku adalah Odo Luke, Putra Tunggal Keluarga Luke.”


 


 


Nama itu seketika membuat Ferytan menganga, benar-benar terbelalak dan kehabisan kata. Pembunuh Naga, itulah yang pertama kali terlintas di kepala pria tua tersebut. Pada detik yang sama, wajah tenang seketika berubah pucat pasi dan Ferytan merasa benar-benar telah meremehkan pemuda yang pernah membanting dirinya.


 


 


“A-Anda … sang Pembunuh Naga itu?”


 


 


Apa yang disebutkan Ferytan cukup membuat Odo heran, sebab julukan Pembunuh Naga lebih dikenal dari pada Putra Tunggal Keluarga Luke. Memahami bahwa setiap golongan memiliki cara masing-masing untuk mengingat, pemuda rambu hitam tersebut mengangguk ringan sebagai jawaban.


 


 


“Aku juga sering disebut seperti itu,” ujar Odo sembari meletakkan siku ke atas meja dan menyangga kepala. Melempar senyum kecil yang tampak kecut, Putra Tunggal Kelaurga Luke dengan santai berkata, “Selama bekerja denganku nanti, aku lebih senang jika kalian memanggil ku Nigrum.”


 


 


Mendengar itu, Ferytan perlahan memasang mimik wajah curiga. Pada saat yang sama, ia merasa sedikit kesal karena pemuda itu mendasari pembicaraan akan berlangsung sesuai kehendak pemuda itu. Sembari memalingkan pandangan dengan sedikit gemetar, pria tua itu perlahan melirik cemas dan bertanya, “Apa … Anda benar-benar Odo Luke?”


 


 


Odo memasang senyum santai, lalu menunjuk ke depan dan seakan tanpa beban balik bertanya, “Supaya kau percaya, aku perlu melakukan apa?”


 


 


Pertanyaan itu terdengar seperti tekanan mutlak bagi Ferytan, sebab sama sekali tidak terasa keraguan ataupun kegelisahan di dalamnya. Menelan ludah dengan berat, pria tua itu berusaha mengamati pemuda di hadapannya dengan saksama. “Secara fisik dia memang seperti Kelaurga Luke, mata biru dan rambut hitam adalah buktinya. Gestur yang diperlihatkan juga seperti bangsawan atas. Namun …, bukannya Odo Luke itu masih bocah?” benaknya dengan bingung.


 


 


Setelah menghela napas sekali, Ferytan memasang senyum palsu dan meragukan, “Jika memang Tuan adalah Odo Luke, kenapa rupa Anda … seperti itu? Maksud saya, bukannya Anda masih anak-anak, ‘kan?”


 


 


“Ini sihir ….”


 


 


Odo meletakkan kedua telapak tangan ke atas meja, lalu menunjukkan pola struktur sihir pada permukaan sarung tangan yang dikenakan. Sembari menyalurkan sedikit Mana dan membuka kunci dimensi penyimpanan, ia mengeluarkan sebuah kantong kecil di atas telapak tangan. Meletakkan itu ke atas meja, pemuda itu pun tersenyum ringan seperti sedang pamer.


 


 


Melihat hal tersebut, Ferytan untuk sesaat terkejut. Meski ia tidak terlalu paham tentang sihir, namun ia sangat tahu bahwa sihir dimensi adalah teknik sihir tingkat tinggi. Bahkan hanya segelintir saja Penyihir Miquator yang menguasai, termasuk sang Penyihir Agung yang terkenal sebagai master jenis sihir tersebut.


 


 


Namun, sihir yang Odo perlihatkan tidaklah berhubungan dengan bentuk fisik yang janggal sekarang. Memahami itu dengan sangat baik, Ferytan sama sekali tidak melepaskan rasa curiga. Ia menatap tajam, memperlihatkan mimik wajah cemas, dan merasa ingin menolak tawaran pekerjaan yang bahkan belum dibahas.


 


 


“Saya asumsikan bahwa Anda benar-benar Odo Luke ….” Ferytan berusaha tenang. Memegang tangan kanan yang tidak berhenti gemetar, pria tua itu sedikit menyipitkan tatapan dan memastikan, “Memangnya Anda ingin mempekerjakan saya sebagai apa? Anda juga … sepertinya tahu masa lalu saya, bukan? Dari Anda memanggil saya sebelumnya.”


 


 


“Ya, saya tahu siapa kau dan masa lalu apa yang kau miliki.” Odo sekilas mengangkat kedua sisi bahu, lalu memasang senyum ramah dan menambahkan, “Namun, bukan karena hal itu aku ingin mempekerjakan kau.”


 


 


“Terus … untuk apa?” Ferytan semakin cemas karena tidak bisa menebak arah pembicaraan.


 


 


Odo mengangkat jari telunjuk lurus, lalu menunjuk ke arah pria tua itu dan bertanya, “Jika lahir di kalangan bangsawan, berarti kau juga pernah diajari teknik pedang, bukan?”


 


 


 


 


\==========


Catatan Kecil :


 


 


Fakta 022: Agathe dendam kesmuat ke Oma Stein, suaminya sendiri. Namun, sebenarnya yang paling ia benci adalah Keluarga Stein dan bukan Oma.

__ADS_1


 


 


__ADS_2