Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[86] Dekadensi Kota Rockfield III – Perih (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


Saya selalu menyesalinya.


 


 


Dalam dunia yang tampak berkilauan, tidak sedikit dari mereka tersesat ketika mengambil jalan. Bukan karena kilauan tersebut, namun ketidaktahuan yang mendorong mereka berbuat kesalahan.


 


 


Layaknya anak-anak kecil yang mengejar kunang-kunang saat senja, mereka terus berlari dan tanpa sadar telah masuk ke dalam hutan gelap. Saat mereka sadar telah tersesat, anak-anak tersebut hanya bisa bergandengan sembari mencari jalan keluar. Dalam kegelapan dari ketidaktahuan mereka.


 


 


Ada kalanya saya merasakan hal seperti itu, takut ditinggal sendirian dan menggenggam tangan orang itu dengan erat.


 


 


Di tengah malam, di tengah hutan, hanya berdua bersama dengan dirinya.


 


 


Berharap dia selalu menolong perempuan lemah ini, terus memperhatikan dan membiarkan diriku bergantung padanya. Dalam kebodohan dan memaafkan sifat manja ini.


 


 


Saya masih ingat jelas ketika tersesat bersama dengan orang itu. Saling bergandengan dalam kegelapan di musim semi, menerima ketenangan melalui tangannya, melangkah bersama di jalan yang terjal.


 


 


“Saya lelah, tidak kuat berjalan lagi ….”


 


 


Adakalanya perempuan lemah ini berkata seperti itu, merajuk dengan manja dan terduduk di bawah pepohonan.


 


 


Mendengar perkataan egois dari diriku ini, ia tidak malah dan malah tersenyum lembut. Lalu, ia pun mengulurkan tangan ke padaku yang duduk tersedu di atas tanah.


 


 


“Ayo bangun! Kalau hanya menangis kita tidak akan keluar dari hutan ini! Gunakan kakimu dan berjalan!” itulah yang ia katakan saat itu. Sembari meraih tangan kecil ini, ia meminta memberikan kekuatan kepada saya untuk kembali melangkah.


 


 


Ya, saat itu memang menakutkan. Gelap dan dingin, penuh dengan binatang buas dan monster. Tersesat di hutan benar-benar membuat saya ingin menangis, merengek dan berteriak sekeras mungkin untuk meminta bantuan. Saat dewasa, diriku pun terkadang bertanya-tanya mengapa waktu kecil melakukan hal bodoh seperti itu.


 


 


Mengejar kunang-kunang yang begitu indah, gemerlap menawan saat petang mulai datang dan pada akhirnya tersesat di dalam hutan. Terpikat merupakan hal mengerikan, terlebih saat masih tidak tahu apa-apa.


 


 


Ada waktu ketika saya masih bisa tersenyum bersama orang itu, saling bergandengan dan menikmati masa kecil ketika kita masih polos. Begitu damai dan menyenangkan, tanpa memahami bahwa kami berdua hidup di dunia seperti apa.


 


 


Keluarga Baron Stein dan Keluarga Baron Swirea, kedua keluarga bangsawan tersebut adalah penguasa Kota Pegunungan dengan Territorial yang terletak di Pegunungan Perbatasan.


 


 


Untuk dua keluarga bangsawan berkuasa pada satu kota tidaklah jarang saat itu, terutama dalam masa Perang Besar di mana kekuatan dan pengaruh sangat diperlukan untuk bisa bertahan.


 


 


Oma Stein, Putra keempat dari Keluarga Stein. Seorang anak berambut cokelat yang sangat riang dan pandai dalam belajar serta ilmu pedang. Untuk seorang anak bungsu di Keluarga Bangsawan seperti Stein, Oma tidaklah manja dan malah cenderung aktif melebihi kakak-kakaknya.


 


 


Bahkan, ada kalanya rumor beredar bahwa Oma dipilih menjadi Pewaris Keluarga menggantikan Kakak-Kakaknya. Dengan prestasi di pendidikan dan bakatnya yang sudah bersinar sejak belia, ia menarik perhatian banyak orang di ranah pemerintahan kota.


 


 


Namun seakan dunia tidak membiarkan, sebelum itu terjadi Kepala Keluarga Stein meninggal sebelum anak tersebut beranjak dewasa. Karena itulah, pada akhirnya status Kepala Keluarga Stein diberikan kepada Kakak Tertua.


 


 


Oma sendiri tidak terlalu peduli dengan hal tersebut, ia hanya tertarik dengan ilmu pemerintahan dan strategi perang karena diperintah ayahnya. Namun ketika orang yang menyuruhnya mendalami hal tersebut telah tiada, ia benar-benar meninggalkan semua itu dan hanya bersenang-senang layaknya anak bungsu pada keluarga bangsawan pada umumnya.


 


 


Berbeda dengan saya yang merupakan anak kedua dari Keluarga Swirea, dia benar-benar bagaikan seorang bintang di Kota Rockfield.


 


 


Tidak seperti Agathe Swirea yang hanya menjadi anak biasa-biasa saja di kalangan keluarga bangsawan, orang itu benar-benar menjadi anak emas yang disayangi banyak orang. Baik itu dari kalangan bangsawan sampai penduduk sipil.


 


 


Ya, saya dan dia memang bagaikan bumi dan langit. Meski tumbuh bersama sebagai teman semasa kecil, kita dari awal memang berbeda ⸻


 


 


Tidak, kurasa itu lebih buruk dari itu. Saya hanyalah sebuah gulma dalam kebun subur, sedangkan Oma adalah buah yang matang dengan sempurna.


 


 


Meski saya paham dengan perbedaan itu, namun rasa untuk bersaing terus ada dalam tubuh kecil ini. Memberanikan diri, membulatkan tekad dan memutuskan dengan kukuh. Meski paham tidak bisa menyaingi orang itu, saya belajar hal-hal baru yang bisa dilakukan oleh perempuan dan berusaha untuk diakui oleh semua orang.


 

__ADS_1


 


Selama melakukan semua itu Ibunda tidak pernah mendukung, ia bahkan meminta kepada saya untuk hanya menjadi anak perempuan biasa dalam keluarga bangsawan. Menjalani kehidupan normal tanpa harus terjun ke dalam kehidupan para penuh perselisihan dan ambisi.


 


 


Kakak perempuan saya pun berkata demikian, ia meminta saya diam saja dan membuang jauh-jauh ambisi. Meminta saya untuk membiarkan dirinya menanggung semua kewajiban sebagai anak tertua dari Keluarga Swirea.


 


 


Bahkan ketika saya tetap mengotot ingin mencapai sesuatu dan mencari pengakuan Ayahanda, Ibunda yang saya sayangi malah berkata, “Kamu tidak memiliki bakat, Agathe. Meskipun memilikinya, kamu tidak boleh memperlihatkan hal tersebut di depan Ayahanda. Bunda mohon, biarkan adik laki-laki kamu saja yang menjadi korban dan menerima takdir itu.”


 


 


Saat itu, saya tidak tahu maksud sesungguhnya dari perkataan Ibunda. Layaknya anak kecil yang bodoh dan naif, saya malah menganggap dirinya lebih memiliki adik daripada saya. Begitu iri, dengki, dan pada akhirnya tidak mengindahkan permintaan tersebut.


 


 


Saya belajar dan berlatih dengan giat, mengasah kemampuan dan terus menarik perhatian orang-orang di sekitar saya dengan apa yang bisa dilakukan tubuh kecil ini.


 


 


Menari adalah keahlian yang saya banggakan, bernyanyi merupakan seni yang saya sukai, dan berakting adalah hal yang saya sering lakukan.


 


 


Ketika membulatkan keputusan dalam benak, saat usia delapan tahun saya keluar dari rumah dan masuk ke teater ternama di kota. Tentu saja, itu tidak saya lakukan dengan kekuatan sendiri. Ayahanda yang memasukkan saya ke sana ketika saya meminta.


 


 


Mungkin, ia dan Ibunda berpikir saya akan tidak betah dan kembali setelah beberapa minggu. Karena itulah mereka menyetujui permintaan saya.


 


 


Menggunakan koneksi keluarga yang saya miliki, saya paham memiliki garis awal yang lebih mudah dari yang lain. Karena itulah, banyak orang yang memendam iri selama saya di teater. Namun, ada juga beberapa dari mereka yang baik kepada saya seperti pelatih dan beberapa teman penari.


 


 


Setelah satu tahun berhasil bertahan di teater, saya mulai diberi kesempatan untuk tampil dalam pertunjukan dan mendapat kepercayaan dari orang-orang di tempat tersebut.


 


 


Memang ada kalanya para perempuan di teater seni merundung saya, menjelek-jelekkan di depan pelatih dan bahkan sampai melakukan tindakan fisik secara langsung karena iri dengan pencapaian anak baru.


 


 


Lima sampai enam tahun, itulah waktu yang wajar ditempuh orang-orang di teater untuk bisa tampil di atas panggung pertunjukan. Namun, saya hanya butuh waktu satu tahun lebih beberapa bulan saja untuk bisa mendapatkan hal tersebut.


 


 


Meski hanya peran sampingan yang saya dapat, namun itu sudah cukup untuk membuat mereka merasa dengki. Sampai sekarang, diriku tidak paham mengapa mereka membuang-buang waktu untuk melakukan hal seperti merundung.


 


 


 


 


Mungkin, dari awal memang saya berbeda dari mereka. Bukan untuk menyombongkan diri, namun secara fakta memang sangat berbeda. Tujuan mereka dan saya dari awal tidaklah sama.


 


 


Mereka masuk ke teater bukan untuk mendapat pengakuan, namun hanya ingin mendapatkan perhatian dari orang lain.


 


 


Sejak kota ini diambil alih dan dikuasai oleh Felixia selama puluhan tahun terakhir, seni merupakan salah satu hal yang menarik setelah hasil tambang.


 


 


Dari melukis, menari, menyanyi, mendongeng, sampai menipu. Semua itu dijunjung tinggi sebagai keindahan dan hiburan yang menarik untuk para pelancong serta penduduk asli.


 


 


Namun, untuk orang yang hidup di dunia seni, saya tidak memahami keindahan tersebut.


 


 


Semua itu hanyalah alat, itulah bagaimana saya melihat seni di Kota Rockfield.


 


 


Wajah cantik ini, tubuh indah ini, suara yang merdu ini, dan bahkan gestur dan tingkah laku diri ini yang memikat, semuanya hanyalah sebuah alat bagi perempuan untuk bisa bertahan hidup.


 


 


Menjalani semua kehidupan penuh kebohongan di atas panggung sejak kecil membuat saya tidak bisa menikmati sebuah seni. Meski begitu, banyak orang yang memuji suara saya, menyanjung peran saya dalam pentas, dan menyukai tarian saya di atas panggung.


 


 


Lalu, pada usia 14 tahun kesempatan untuk membayar semua jerih payah saya akhirnya pun datang.


 


 


Untuk pertama kalinya, Kepala Keluarga Stein dan Swirea berencana untuk datang ke teater menonton pentas. Untuk sekian lamanya juga, saya bertemu lagi dengan orang itu. Laki-laki yang menggandeng tangan kecil ini di dalam hutan dengan erat, lalu menarik keluar tubuh mungil ini keluar dari kegelapan.


 


 


Orang yang membuat saya memberanikan diri untuk membulatkan hati dan mengambil keputusan berat dengan pergi dari Kediaman Swirea.


 


 


Pentas itu merupakan sebuah pertunjukan teater musikal dengan tema peperangan, mengisahkan Luke Pertama dan Ratu Pertama Felixia ketika mendirikan Kerajaan. Sebuah pentas tragedi tragis dari kisah cinta yang menciptakan Kerajaan tempat bersemayam para Roh Mulia.


 

__ADS_1


 


Saya dipercayakan berperan sebagai Ratu Pertama karena warna rambut dan usia. Sebuah peran dimana saya harus berakting layaknya protagonis perempuan naas, lalu mengikuti skenario dalam sebuah kisah dimana dua pemeran utama meregang nyawa dan meninggalkan keturunan mereka yang belum tubuh dewasa untuk memimpin negeri.


 


 


Ini hanyalah pendapat saya sebagai pemeran, kisah tersebut memang sebuah tragedi yang sangat menyedihkan. Namun bagi kebanyakan orang, akhir dari sang Ratu adalah sebuah kebahagiaan karena jiwanya dipanggil ke langit dan bisa kembali bertemu dengan Luke Pertama.


 


 


Jika mati, bukankah itu sudah berakhir? Kalau engkau ingin bahagia, mengapa tidak berusaha bertahan hidup? Mungkin saja engkau bisa bertemu Luke lain dan hidup bahagia dengannya!


 


 


Itulah yang saya rasakan ketika membaca naskah pertunjukan. Tetapi, pada saat yang sama saya mengagumi sang Ratu Pertama. Ia rela mengorbankan cintanya, membagi itu kepada semua rakyat dan terus hidup untuk semua orang meski cinta sejatinya telah berpulang terlebih dahulu.


 


 


Membesarkan buah dari cinta mereka sendirian, memimpin para pasukan dan melawan bangsawan-bangsawan serakah demi menegakkan keadilan. Meski sampai akhir hayat beliau tidak bisa mewujudkan mimpinya, namun keturunan Ratu berhasil melakukannya.


 


 


Bukti nyata dari mimpi dan harapan beliau adalah Kerajaan Felixia ini.


 


 


Ketika melakukan pentas dan menjalankan berperan, saya benar-benar mendalaminya. Bahkan melebihi semua peran yang pernah saya lakukan selama berada di teater.


 


 


Merasakan apa yang diharapkan sang Ratu dengan hati, memahami pedihnya kehilangan cinta sejati dan beratnya membebankan tanggung jawab Kerajaan kepada anak semata wayang.


 


 


Mungkin saya terlalu banyak membaca novel untuk mendalami pekerjaan ini, memahami hal-hal tersebut dan merasakan empati sangatlah mudah. Air mata saat berperan dengan ringan keluar, saya dengan mudahnya menangis dalam adegan kematian Luke Pertama di medan perang.


 


 


Ketika cerita terus bergerak dan sampai pada adegan terakhir, saya perlahan merasakan tanggung jawab sebagai seorang penguasa.


 


 


Di tengah penghujung pentas ketika Ratu harus menyerahkan mimpi dan harapannya kepada sang Tuan Putri, saya mengingat kembali perkataan Ibunda dulu ketika diri ini memutuskan untuk keluar dari rumah.


 


 


Ah, mungkin Ibunda merasakan hal ini juga. Mungkin beliau juga sebenarnya tak ingin Adik menanggung tanggung jawab berat tersebut.


 


 


Itulah yang ada benak saya ketika mengakhiri adegan terakhir, benar-benar merasakan berat dalam hati dan sulit untuk mengucapkannya. Mempercayakan kewajiban adalah hal yang sangat sulit.


 


 


Bukan karena harus melepaskan mimpi yang telah diperjuangkan selama hidup, namun karena harus membebankan tanggung jawab kepada orang yang kita kasihi.


 


 


Tirai pun ditutup, lampu di teater dinyalakan kembali ketika kisah berakhir dan tepuk pun tangan mengisi ruangan.


 


 


Bagi saya yang masih terbaring di balik layar, itu begitu menggema dan sampai membuat tubuh kecil ini gemetar. Bukan karena takut, namun begitu bahagia karena bisa menyelesaikan pentas dengan sempurna.


 


 


Meski Ayahanda tidak mengakui saya, itu tidak masalah. Saya puas dengan hal ini! Ya, saya sudah puas ….


 


 


Itulah yang ada di benak saya saat itu. Sembari mengangkat wajah dan meneteskan air mata, dalam benak saya benar-benar merasa lega atas jerih payah yang telah saya lakukan selama beberapa tahun terakhir.


 


 


Tetapi ….


 


 


Seakan itu sebuah permainan takdir atau hanya kehendak sang Dewi, konklusi yang saya dapat sangat jauh melebihi perkiraan.


 


 


Setelah pentas selesai, Ayahanda mendatangi bagian balik panggung dan secara langsung menemui saya. Tangan besar dan kasarnya menyentuh kepala saya, lalu mengelus sembari memberikan pujian.


 


 


“Pertunjukan yang menakjubkan. Ayah tidak pernah mengira kamu akan benar-benar melatih diri sampai seperti itu setelah keluar dari rumah. Ayah bangga padamu, Agathe ….”


 


 


Saya benar-benar merasa bahagia saat itu, bahkan untuk kesekian kalinya air mata mengalir membasahi pipi. Bukan air mata palsu untuk pentas, namun dari lubuk hati saya.


 


 


Namun ketika saya mengangkat wajah dan ingin menjawab perkataan tersebut, wajah yang Ayahanda perlihatkan bukanlah ekspresi sesuatu yang pantas ditunjukkan saat memberikan pujian kepada Putrinya.


 


 


Sedih, penuh beban pikiran dan tampak begitu suram, itulah yang terlihat pada wajah Ayahanda saat itu. Saya tidak tahu apa yang telah dirinya lalui sampai bisa memiliki mimik wajah seperti itu. Namun, dengan jelas wajahnya sama sekali tidak tersenyum saat memuji.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2