
Kediaman Keluarga Baron Stein.
Jika dibandingkan dengan Kediaman Luke atau bahkan Mylta, tempat tersebut tidaklah terlalu luas dan malah tampak sempit dengan letaknya yang berada di tebing. Mansion yang merupakan bangunan utama di kediaman tidaklah terlalu besar, tempat tersebut juga hanya memiliki halaman kecil di bagian depan, dan tidak mempunyai gudang ataupun kadang untuk menyimpan kuda.
Meski bisa dikatakan Keluarga Stein tidaklah terlalu kaya jika dibandingkan keluarga Bangsawan Baron lain di Wilayah Luke, namun peninggalan-peninggalan leluhur mereka memanglah sangat megah. Mansion kecil mereka tampak begitu mewah, memiliki arsitektur bergaya barok yang sangat kental. Pada bagian depan Mansion, tampak jelas berdiri kukuh dua pilar besar yang terbuat dari marmer dengan pahatan berbentuk tanaman merambat sebagai aksen di permukaannya.
Selain itu, keramik yang digunakan untuk lantai dan anak tangga pun terbuat dari marmer berkualitas dengan warna gelap krem dan cokelat. Pada beberapa sudut kediaman terdapat patung burung dan tanaman yang menempel pada dinding, lalu jendela-jendela yang ada pun menggunakan kaca hias dari olahan batu alam berwarna putih dan keemasan.
Dari semua kemegahan yang ada, apa yang menjadi hal yang paling mencolok adalah kubah raksasa yang menjadi atap Mansion dengan dua lantai tersebut. Pada permukaan luar kubah tampak beberapa patung prajurit mengelilingi, membuat tempat tersebut lebih terlihat seperti teater daripada sebuah kediaman.
Saat masuk ke dalam, sebuah ruangan lobi menyambut dengan dekorasi gaya barok beraksen sentuhan klasik. Lukisan-lukisan pada dinding yang mengah, ornamen dan perabotan yang terbuat dari besi dan perak, serta lantai marmer berkualitas tinggi.
Ruangan lobi sendiri memiliki kesan terbuka, terhadap dua anak tangga spiral pada kedua sisi untuk menuju lantai di atas. Untuk lantai dua yang ada, itu dimulai dari ujung ruang lobi ke belakang. Karena itulah, dari lobi tamu bisa langsung melihat langit-langit kubah yang dipenuhi lukisan indah dari seorang seniman terkenal dari masa lalu.
Lobi di Mansion dibagi menjadi dua tempat, yaitu ruang tamu depan yang memiliki beberapa sofa untuk duduk dan bagian untuk depan untuk Tuan Rumah menyapa tamu. Sedangkan pada bagian paling ujung, lobi memiliki beberapa pintu yang terhubung ke beberapa lorong di lantai satu bangunan.
Pada ruang tamu depan, duduk beberapa orang yang merupakan Tuan dari Kediaman tersebut. Putra Kedua Keluarga Baron Stein, Baldwin Stein. Pemuda berusia 20 tahunan tersebut duduk sembari menaikkan kaki kanan ke atas meja, lalu menghisap pipa cerutu dan menaikkan rambut poni ke atas.
Gestur tubuh, tingkah laku, dan ekspresi, semua yang ada pada Baldwin mencerminkan seorang anak bangsawan yang angkuh dan pemarah. Ia mengenakan setelan jas kirmizi dengan kancing yang dilepas, lalu celana panjang cokelat dengan satu kaki disingsingkan sampai betis. Menghisap cerutu sepuasnya, ia menghembuskan asap ke udara dan membuatnya memenuhi ruangan. Dengan tanpa sedikitpun niat untuk menghormati orang tuannya yang berada di tempat tersebut.
Duduk berseberangan dengan Putranya, Agathe Stein hanya diam dan membiarkan. Wanita yang merupakan Istri sang Baron tersebut tidak menegur atau bahkan memarahi Putranya, hanya memperlihatkan ekspresi kosong seakan dirinya tidak peduli.
Wanita tersebut mengenakan gaun maxi merah dengan dominasi abu-abu, lalu memiliki renda bunga pada ujungnya dan terdapat sebuah pita pada bagian sekitar dada. Wanita tersebut juga memakai sarung tangan merah berbahan wol tebal, berbumbu pernak-pernik perhiasan kecil pada punggungnya.
Meski usianya sudah hampir mencapai kepala lima, ia tampak seperti perempuan usia tiga puluh tahunan di balik riasan serta perhiasan yang dikenakan. Rambut biru pudarnya belum memutih, dipotong pendek sampai pundak untuk menonjolkan kesan muda. Bibir lembap tampak indah berlapis lipstik merah, rona pada wajah dengan rias, dan bulu mata yang panjang menambah kecantikan wanita dengan gelar baroness tersebut.
Agathe memang tampak cantik dan menawan di usia senja. Tetapi, sorot mata hijau zamrud wanita itu seakan mati dan terlihat seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup. Sejak berbagai permasalahan menerpa Teritorial Rockfield selama beberapa tahun terakhir, ia tidak lagi menunjukkan semangat untuk menjalani hidup.
Duduk pada sofa yang sama di sebelah wanita dengan tatapan kosong tersebut, Putra Bungsu Keluarga Stein pun memperlihatkan tingkah sama seperti kakak laki-lakinya. Duduk dengan mengangkat kaki kanan ke atas kaki kiri, lalu menyangga kepala dan bertingkah layaknya dirinya seorang penguasa.
Xavier, itulah nama sang bungsu di Keluarga Stein. Ia mewarisi warna rambut cokelat dan mata biru ayahnya. Bukan hanya itu saja, rambut yang dipanjangkan sampai bahu pun karena dirinya meniru Oma Stein saat muda.
Mereka memang berkumpul bersama dalam satu ruangan, namun tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan dan hanya saling diam tanpa menghormati satu sama lain. Kakak dan adik saling menatap dengan tidak ramah, lalu sang Ibu pun hanya diam dengan sorot mata kosong seakan tidak peduli kepada mereka.
“Huh, sampai kapan kita harus menunggu Ayunda?” Baldwin kehabisan kesabaran, ia menurunkan kaki dan sembari menggebrak meja berkata, “Si maniak pedang itu kenapa lama sekali?!”
Mendengar sang Kakak mengeluh seperti itu, Xavier memasang senyum merendahkan dan mulai meledek, “Kalau tidak mau menunggu, kenapa tidak kau lakukan sendiri? Dasar sampah keluarga ….”
“Dia kau cilik!” Baldwin langsung memberikan tatapan tajam, dipenuhi amarah dan sekali lagi membentak, “Bocah sepertimu seharusnya diam saja!”
“Cih!” Xavier memalingkan pandangan, lalu dengan ekspresi meremehkan kembali memprovokasi, “Bicara seakan bisa melakukan segalanya, padahal tidak bisa apa-apa. Kau yang seharusnya diam!”
Sebelum ajang saling ejek tersebut berubah menjadi pertengkaran kakak-beradik, Agathe meletakkan tangan kanannya ke telinga dan dengan suara lirih berkata, “Berisik sekali ….”
Mendengar apa yang dikatakan sang Ibu, kedua putranya tersentak dan langsung diam. Berhenti saling merendahkan dan mengejek, mereka mulai memalingkan pandangan dan suasana pun berubah menjadi senyap.
Agathe menurunkan tangan dari telinga, kembali memasang mimik wajah datar dan hanya terdiam sunyi. Tidak melirik anak-anaknya, atau bahkan mengatakan sesuatu untuk membuat mereka tidak bertengkar lagi.
Baldwin menghela napas ringan, lalu dengan suasana hati buruk menatap ke arah lampu kristal yang tergantung pada dinding-dinding ruangan. Ia sedikit menyipitkan mata, lalu raut wajahnya pun berubah muram. Namun, kali ini ia tidak mengeluh. Meski dirinya dikenal sebagai orang yang kasar dan pemarah, pemuda rambut cokelat cepak tersebut adalah anak yang tidak berani untuk menyinggung Ibunya.
“Sepertinya kristal-kristal itu sudah harus diganti, rasanya di sini terlalu redup,” gumam pemuda itu. Ia kembali menatap ke arah adiknya, lalu memasang mimik wajah kesal dan dengan nada malas berkata, “Menyebalkan sekali ….”
Sang adik kali ini tidak meladeni keluhan kakaknya, hanya diam dan menyibukkan diri dengan bermain helai-helai rambutnya sendiri yang sedikit lebih panjang jika dibandingkan dengan anak laki-laki pada umumnya. Ia sekilas melirik ke arah Agathe di sebelah, memasang mimik wajah cemas dengan kondisi sang Ibu yang tampak selalu tidak bersemangat.
__ADS_1
Di tengah suasana senyap di antara anggota keluarga Stein, pintu utama Mansion terbuka dan Ri’aima melangkah masuk tampak memberi sapa terlebih dahulu kepada mereka yang sudah ada di dalam. Berdiri di depan pintu, perempuan rambut biru pudar tersebut segera menatap ke arah mereka yang duduk di tempat tamu. Dengan suara ditinggikan ia pun berkata, “Saya pulang!”
Semua orang yang duduk di sofa menoleh, menatap perempuan itu dengan rasa penasaran. Melihat Ri’aima berangkat dengan suasana muram, adik-adiknya merasa heran saat melihat wajah sang kakak tampak begitu bersemangat. Bahkan, Agathe sebagai sang Ibu pun menatap heran dan mulutnya terbuka seakan ingin berkata sesuatu.
“Oh, tak biasanya Ayunda semangat setelah pergi ke tempat orang-orang munafik itu.”
Baldwin bangun dari tempat duduk, lalu keluar dari ruang tamu dan hendak menghampiri Kakaknya tersebut. Namun sebelum ia sampai, seketika langkah kaki terhenti saat melihat sosok pemuda yang berdiri di belakang kakaknya.
“Maaf mengganggu waktu kalian,” ujar pemuda rambut hitam di belakang Ri’aima. Ia berjalan ke samping perempuan yang mengantarnya, lalu sembari memasang senyum ramah berkata, “Atas ajakan Nona Ri’aima, saya datang kemari untuk berkunjung. Saya juga ucapkan terima kasih atas kemurahan hati Keluarga Stein karena telah mau menerima saya sebagai tamu untuk beberapa hari ke depan.”
Baldwin menatap datar, ia sama sekali tidak mengenali bahwa pemuda itu adalah Odo Luke. Seketika wajah Anak Kedua Keluarga Stein tersebut berubah kesal, lalu berjalan ke tempat mereka. Tanpa sopan santun sedikitpun, ia langsung menarik kerah pemuda rambut hitam tersebut dan menghina, “Siapa orang udik ini, Ayunda?! Kenapa kamu memungut orang seperti ini dari jalan dan ingin menjadikannya tamu?”
“Baldwin!!” Ri’aima langsung menyingkirkan paksa tangan adiknya dari Odo, lalu dengan penuh amarah membentak, “Jaga perilakumu! Beliau adalah tamu saya!”
“Huh?” Anak Kedua Keluarga Stein tersebut memasang wajah meremehkan, bibirnya sedikit maju ke depan dan dengan nada menghina memastikan, “Tamu …? Orang dengan penampilan biasa-biasa saja ini? Memangnya dia pantas disebut tamu di sini? Kalau mau menumpang diriku tidak keberatan jika, namun tamu?!”
“Pantas atau tidak itu yang menentukan adalah diriku!” Ri’aima benar-benar kehabisan kesabaran meladeni sikap adiknya, ia mendorong pemuda kurus tersebut sampai hampir jatuh dan membentak, “Kamu tidak punya hak untuk memutuskan hal tersebut! Sungguh! Kenapa kamu ini! Karena sikapmu itulah Ayahanda tidak ingin menjadikan kamu calon pewaris!”
“Tch!” Baldwin mengayunkan tangan kanannya ke samping, lalu sembari meletakkan tangan kiri ke depan dada ia pun berkata, “Itu tidak ada kaitannya! Kenapa Ayunda membahas itu sekarang, huh?!”
“Tentu saja ada! Cobalah dewasa sedikit saja! Kenapa kamu ini⸻!”
Odo tiba-tiba bertepuk tangan satu kali, membuat suara menggema di dalam ruangan dan secara paksa perhatian semua orang di tempat tersebut terarah kepadanya. Pemuda itu perlahan menurunkan kedua tangan, lalu sedikit membungkuk hormat dengan gestur tubuh seorang bangsawan.
“Maafkan saya karena telat memperkenalkan diri, Tuan Baldwin. Saya adalah Odo, Putra Tunggal Keluarga Luke. Seorang Viscount yang secara wewenang berada di bawah Keluarga Rein.” Odo berhenti membungkuk, lalu menatap datar pemuda di hadapannya dan kembali menekan, “Apakah semua itu sudah membuat saya pantas untuk menjadi tamu di kediaman ini?”
“Odo … Luke?”
Xavier segera bangun setelah mendengar Odo memperkenalkan diri, lalu dengan tergesa-gesa menghampiri mereka yang berdiri di dekat pintu. Anak Bungsu Keluarga Stein itu pun dengan tataan kagum segera bertanya, “A-Apa benar Anda adalah Tuan Odo? Sang Pembunuh Naga Hitam itu?”
Odo sesaat terkejut, tak menyangka akan ditatap penuh rasa antusias oleh Xavier. Tidak segera menjawab pertanyaan tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke itu malah sedikit memalingkan pandangan ke arah Ri’aima dan memberi kode kedipan mata untuk memintanya segera melanjutkan pembicaraan.
“Maaf, Xavier.” Ri’aima berlutut di depan sang Adik Bungsu, lalu sembari menepuk kepalanya kembali berkata, “Ayunda dan Tuan Odo ingin membicarakan hal penting dulu. Kalau kamu ingin berbicara dengan Tuan Odo, nanti Ayunda akan meminta waktunya untuk kamu.”
“Eh?” Xavier seketika memasang wajah kecewa, anak yang baru menginjak usia 12 tahun tersebut mengembungkan pipi dan dengan manja berkata, “Kok begitu, sih? Padahal saya hanya ingin bicara sebentar!”
“Memangnya apa yang ingin adik bicarakan?” sambung Odo ke dalam pembicaraan kakak dan adik tersebut. Ia ikut berlutut ke arah Xavier, lalu meraih tangan kanan anak tersebut dan memberikan sebuah bohlam sihir dengan kaca berwarna hijau tua.
“A-Apa ini?” tanya Xavier bingung setelah menerima itu.
“Alat sihir buatanku, anggap saja hadiah pertemuan ini. Coba alirkan mana ke dalamnya.”
“Tapi …, saya tidak memiliki bakat dalam hal sihir.”
“Tidak masalah.” Odo tersenyum ringan, lalu sembari meletakkan jempol ke bibirnya sendiri berkata, “Tutup kedua matamu, lalu tarik napas dalam-dalam dan rasakan udara mengalir ke seluruh tubuh. Setelah itu, alatnya akan aktif sendiri.”
“Baiklah ….”
Xavier memejamkan kedua mata, lalu mulai mengikuti instruktur yang diberikan Odo. Meski anak tersebut tidak memiliki kecocokan dengan sihir, Mana yang ada di dalam tubuhnya bersirkulasi dengan lancar dan secara otomatis terhisap oleh bohlam yang dipegangnya.
Alat sihir aktif, memancarkan cahaya hijau tua yang terang dan menghembuskan angin hangat ke sekitar. Xavier pun terkejut melihat hal tersebut, kedua matanya terbuka lebar dan bertanya, “Alat sihirnya aktif? Bagaimana bisa …?”
“Hebat, bukan?” Odo menurunkan tangan dari bibir dan kembali berdiri, lalu sembari mengacungkan jari telunjuk berkata, “Itu aku buat supaya bisa secara otomatis menyerap Mana saat inti sihir penggunanya aktif. Jadi meski kau tidak bisa memanipulasi Mana dengan baik, alatnya bisa aktif tanpa kendala. Yah, meski hanya berupa angin hangat yang keluar sih.”
__ADS_1
“Te-Tetap saja ini hebat!”
Xavier kagum. Bagi dirinya yang pernah belajar sihir dan menyerah karena tidak memiliki bakat, itu adalah hal yang luas bisa untuk orang tidak berbakat dalam sihir bisa mengaktifkan alat sihir.
“Terima kasih ….” Odo mengelus kepala Xavier, lalu sembari tersenyum ringan kembali berkata, “Kalau kamu tertarik, aku bisa mengajari kau beberapa metode pembuatan alat sihir.”
“Te-Tentu saja saya tertarik! Saya mau belajar!”
“Hmm ….” Odo mengangkat tangannya dari kepala Xavier, sekilas memalingkan pandangan ke Ri’aima dan berkata, “Namun, sebelum itu bisakah kau membiarkan aku berbicara dua mata dengan Ayunda? Ada sesuatu yang harus dibicarakan dulu supaya aku bisa bertamu selama beberapa hari di sini.”
“Te-Tentu saja boleh, Kak Odo! Kakak pasti boleh bertamu di sini, kok! Kakak tidak perlu memedulikan perkataan si Baldwin!”
“Oi!” Baldwin langsung mencengkeram kepala adiknya dari belakang, lalu dengan nada kesal berkata, “Seenaknya saja kau bicara, bocah!”
“Apa kamu masih mau protes, Baldwin?” Ri’aima ikut bangun dan berdiri di dekat Odo, lalu sembari menatap tajam bertanya, “Kamu ingin melawan seorang Viscount? Bahkan jika Ayahanda ada di sini, kalau Tuan Odo ingin, ia pun tidak bisa mengusirnya tanpa alasan yang jelas.”
“Aku paham, kok! Tak perlu dikatakan seperti itu!” Baldwin memalingkan pandangan, menggaruk kepala dan menundukkan wajah dengan muram. Sembari sesekali melirik ke arah Odo, pemuda rambut cokelat tersebut berkata, “Maaf …, tadi bersikap kasar. Diriku tak tahu kalau kamu Odo Luke, habisnya penampilan kamu berbeda sekali dengan terakhir kali aku melihatmu.”
“Terakhir kali melihatku?” tanya Odo bingung.
“Adikku juga datang saat acara pesta teh dan perayaan ulang tahun Anda,” jelas Ri’aima.
“Ah, begitu rupanya.” Odo menghela napas, lalu memalingkan pandanan dan memperlihatkan gelagat canggung. Segera balik menatap ke arah Ri’aima, Putra Tunggal Keluarga Luke itu bertanya, “Sebelum memulai pembicaraan kita, bisakah kau memberi kita kamar dulu untuk beristirahat? Sepertinya teman-temanku sudah benar-benar kelelahan.”
“Teman-teman?” Baldwin heran mendengar itu, ia segera menoleh ke arah pintu utama dan seketika terkejut saat melihat orang-orang yang dimaksud Odo. “Mereka …? Eh? Ada juga orang dari kekaisaran?” gumamnya dengan penasaran.
“Tentu saja! Akan saya pilih ‘kan kamarnya!” jawab Ri’aima dengan cepat. Perempuan itu segera berjalan ke dalam untuk mencarikan kamar, lalu dengan penuh semangat kembali berkata, “Saya akan memanggil pelayan dulu dan menyuruh mereka untuk menyiapkan air panas juga.”
“Terima kasih.”
\================
Catatan :
Jenis-jenis gaya arsitektur :
-Abad Pertengahan
-Renaissance
-Baroque
-Classical
- Romantic
- Cenutary
Untuk gambarannya silahkan cari di Google, supaya bisa membayangkan sendiri.
See You Next Time!
__ADS_1