Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[109] Serpent IX – Dikara (Part 05)


__ADS_3

Angin dingin berhembus kencang, menerpa dinding tebing dan melewati puncaknya. Membawa kabut tebal layaknya gumpalan awan, menghalau pandangan dengan dinding putih yang tidak bisa disentuh.


Pada puncak tebing tersebut, selimut kabut sama sekali tidak menipis. Meski angin berhembus dengan sangat kencang, jarak pandang bersih hanya bisa mencapai beberapa meter saja. Sangat terbatas sampai-sampai mereka tidak bisa melangkah sembarangan saat berjalan.


Melanjutkan perjalanan di atas tebing dengan Odo Luke sebagai pemandu, Putri Naga dan lainnya saling bergandengan supaya tidak terhempas embusan angin. Layaknya menembus badai kabut yang tak kunjung reda, mereka sedikit menundukkan badan saat berjalan. Berusaha untuk mengurangi dorongan angin dengan posisi tubuh.


Hiasan bunga Amarilis milik Leviathan lepas terhempas angin, melayang jatuh ke sisi lain tebing dan lenyap ditelan kabut. Perlahan menoleh dengan mimik pucat, untuk sesaat Putri Naga menahan napas dengan tubuh gemetar.


“Ini sebenarnya bukit atau pegunungan? Kenapa rasanya tinggi sekali?”


Leviathan kembali berjalan. Sembari bergandengan dengan Alyssum dan Vil, mereka semua melangkahkan kaki dengan hati-hati supaya tidak terhempas jatuh dari puncak tebing.


Tempat tersebut tidak memiliki pembatas pada kedua sisi. Benar-benar lepas layaknya sebuah tembok batu alam, tanpa ada satu pun pohon ataupun tumbuhan merambat yang menghiasi. Hanya ada lumut yang membuat permukaan bertambah licin.


Jalan setapak yang mereka lalui hanya memiliki lebar kurang dari lima meter. Cukup rata dengan beberapa lubang kecil pada permukaan, tanpa ada bebatuan besar yang menghalangi jalan.


Saat melihat sisi tebing tempat Leviathan dan yang lain datang, tempat tersebut terasa tidak terlalu tinggi. Hanya beberapa ratus meter saja dari bawah. Pepohonan masih samar-samar terlihat meski tertutup kabut. Tampak sedikit hijau dengan beberapa titik cahaya di dalamnya, lalu dengan jelas memiliki permukaan.


Tetapi, pada sisi satunya Leviathan merasakan hal yang berbeda. Jangankan memperkirakan kedalaman tempat tersebut, tanda-tanpa kehidupan pun sama sekali tidak terlihat. Hanya ada suara gemuruh angin layaknya auman hewan buas. Mengisyaratkan sesuatu yang mengerikan, seolah ingin memperingatkan mereka supaya lekas menjauh.


Tentu saja hal tersebut membuat mereka cemas, terutama Leviathan yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap Ether di udara. Aliran kabut yang bercampur dengan kekuatan sihir dengan jelas mengarah ke sisi lain tebing, seakan disedot oleh penunggu tempat tersebut.


Aliran Ether yang sangat kuat itu juga membatasi aktivasi sihir. Layaknya menyalakan api di dalam embusan badai, Mana yang dikumpulkan akan langsung terurai ke udara dan terbawa oleh aliran Ether. Karena itulah, mereka hanya bisa menggunakan Mana untuk memperkuat ketahanan fisik sampai batas tertentu saja.


Berbeda dengan mereka semua yang melangkah terbata-bata supaya tidak terhempas, Odo Luke malah bersenandung ringan layaknya pemandu pramuka. Berjalan paling depan dengan langkah lebar, lalu menggelengkan kepala ke kanan dan kiri dengan gembira.


Sesekali berputar dan melempar senyum hangat, pemuda itu sama sekali tidak memperlihatkan mimik wajah cemas. Membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti aliran angin yang kencang, namun tidak terhempas dan bisa melangkah tanpa takut tergelincir.


“Mentari perlahan naik di ujung cakrawala~ Satu hari cerah pun dimulai dan berakhir~ Diriku yakin semuanya akan terulang kembali, layaknya sebuah lantunan melodi pada senja hari~! Pasti selamanya akan berjalan seperti itu, seperti halnya aliran air kehidupan~ Hey~! Hey~! Yang masih berdiri di ujung dunia~! Apakah engkau masih bisa tersenyum seperti waktu itu~? Mari hitung bersama gugusan bintang di langit hitam~! Ayo, mari kita renungkan kembali⸻!”


“Odo, tolong hentikan nyanyian itu ….!” Leviathan mulai terusik. Bukan lirik ataupun suara pemuda itu yang membuatnya muak, namun karena nada yang terkesan ceria dan tidak cocok dengan situasi. Di tengah terpaan angin kencang, lagu dengan ritme cepat tersebut terasa seperti ejekan baginya. Putri Naga menghentakkan kakinya, lalu dengan mimik wajah kesal langsung membentak, “Berhentilah menyanyi!”


Meski telah ditegur dengan keras, Odo Luke sama sekali tidak memedulikan hal tersebut. Seakan telinga sudah tersumbat oleh sesuatu dan tenggelam dalam nyanyian, mimik wajahnya sama sekali tidak berubah dan terus bersenandung.


“⸻Renungkanlah seluruh dosa yang t’lah engkau perbuat~ Jika ada awal, pasti akhir pun kelak akan datang menjemput~! Layaknya pasang dan surut purnama~ Itulah! Itulah yang dinamakan kehidupan~! Selalu dan selalu berlanjut, waktu dan momen berharga denganmu~! Kuharap engkau dapat tersenyum di akhir sana~ Meskipun diriku t’lah tiada~!”


Odo merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Sejenak berhenti bernyanyi dan mendongak lurus, pemuda itu perlahan memejamkan mata dengan mimik wajah sedih. Saat kelopak terbuka kembali, dirinya pun lanjut bernyanyi dengan wajah ceria yang tampak palsu.


“Lulu~lu~! Lu~lu~! Lulu~lu~! Lagi~! Malam ini pun kita menghitung gugusan bintang hitam itu~! Pertanda akhir t’lah semakin dekat~! Diriku ya~kin~! Diriku yakin pasti~! Pasti kita akan berjumpa kembali~! Eeeee~Eee~Eh~! Ketika semua terhitung~ Engkau pasti akan menangis sendirian~ Sendirian, tanpa ada yang menemani~ Sendirian meratapi apa yang sudah diperbuat~ Lalu~! Mulai bertanya-tanya dan mengutuk diri sendiri~!”


Nada yang sebelumnya ceria berubah menjadi berat, bercampur kesedihan yang terasa jelas dalam suara pemuda itu. Berhenti melangkah dan berbalik menghadap mereka, ia melempar senyum dingin sembari lanjut bersenandung.


“Lulu~luh~! Lu~! Lulu~luluh~! Lulu~luh~! Lu~! Lu~! Lulu~luh~! Lu~! Lulu~luluh~! Lulu~luh~! Lu~! Lu~! Hari ketika kemanusiaan t’lah hilang~ Hari ketika kita menerima dunia tanpa Tuhan ini~ Lalu~! Engkau pun akan berkata kepada kami yang t’lah menjadi masa lalu~ Kepercayaan itu hanyalah ilusi kalian~ Sembari menertawakan diri sendiri~ Sesuatu yang diciptakan manusia saat jatuh dalam keputusasaan~ Jatuh dan jatuh ke dalam laut tenang~ Tanpa ombak~ Tanpa embusan angin~ Tanpa ada yang mengantarkan kita menuju daratan~ Apakah engkau akan membawa nama kami hingga hari itu tiba~? Hey~ Hey~? Wahai engkau yang berdiri di ujung dunia~? Kami harap dirimu dapat tersenyum kembali~!”


Nyanyian berakhir, suasana pun menjadi senyap dan semua yang mendengarkan hanya terdiam karena lirik tersebut. Meski suara pemuda itu tidak merdu dan sedikit dihapus embusan angin, makna yang ada dalamnya tersampaikan dengan sangat jelas.


“Suram sekali lagunya ….” Leviathan merasa bersalah karena sempat menyela. Sedikit memalingkan pandangan, dengan mimik wajah bimbang Putri Naga lekas bertanya, “Untuk apa menyanyikan itu? Bukankah tidak nyaman? Seperti teringat masa lalu, atau … mungkin engkau punya alasan khusus?”


“Tidak ada, hanya ingin menyanyi saja. Bosan, sih ….”


Odo berbalik dari mereka, lanjut berjalan dengan langkah lebar dan pelan. Sesekali pemuda itu menggelengkan kepala ke kanan dan kiri, menikmati melodi yang hanya bisa didengar olehnya.


“A-Aneh sekali ….!” Leviathan hanya bisa tercengang. “Apa dia selalu seperti itu?” tanyanya seraya menoleh ke arah Vil, memberikan tatapan heran dengan kening sedikit mengerut.


“Kadang-kadang Odo memang bertingkah aneh.” Vil tidak membelanya. Sekilas memalingkan pandangan dan memperlihatkan wajah cemas, Siren itu dengan nada ragu menambahkan, “Namun, kalau bersenandung seperti itu tidak pernah. Sebelum-sebelumnya hanya bicara sendiri, atau kadang mondar-mandir tidak jelas saat sedang berpikir.”


“Uwah, diriku cemas dengan kejiwaannya!” Leviathan sedikit tersentak, kembali menatap pemuda itu dan lanjut menyindir, “Jangan-jangan dia sudah gila?”


“Aku dengar itu!” Odo sedikit menoleh. Memperlihatkan mimik wajah datar, dengan senyum kecut pemuda itu berkata, “Kalau mau menyindir, tolong jangan terang-terangan …!”


“Engkau kan bebal dan muka tembok ….” Leviathan tersenyum angkuh. Sembari memperlihatkan tatapan sinis, Putri Naga itu lanjut menyindir, “Kalau tidak terang-terangan mana bisa sampai? Benar, ‘kan?”


“Hmm …” Odo kembali melihat ke depan. Berhenti melangkah lebar dan berjalan normal, pemuda itu sedikit mendongak dan balik menyindir, “Saat merasa bersalah, kau cenderung ingin menyudutkan atau menyalahkan orang lain. Kau punya kebiasaan yang buruk, ya?”


“Siapa yang merasa bersalah⸻?!”

__ADS_1


Leviathan melepaskan gandengan dan hendak menghampiri Odo. Namun, embusan angin yang kencang membuat tubuhnya hampir terhempas. Secara refleks, Putri Naga itu pun langsung kembali menggandeng tangan Alyssum dan Vil.


“Tidak masalah, tadi memang salahku karena tiba-tiba ingin mendongeng. Kisah singkat tentang akhir Dunia Sebelumnya ….” Odo melipat kedua tangannya ke belakang. Kembali berjalan dengan langkah lebar, ringan pemuda itu sekilas melebarkan senyum tipis dan lanjut menyampaikan, “Supaya tidak membebani otak, informasi seperti itu lebih ringan kalau disampaikan dengan nyanyian. Kalau tidak, kalian mungkin sudah gila saat mendengarnya.”


“Bukan engkau yang sudah gila?” sindir Leviathan.


“Bukan gila, hanya tidak waras.” Odo membalas dengan nada bercanda.


“Jangan bermain-main!” Leviathan menggerutu. Menarik napas dan berusaha untuk tidak masuk dalam alur pembicaraan yang pemuda itu buat, Putri Naga lekas memikirkan pertanyaan lain dengan beragam pertimbangan. “Ngomong-omong, sampai kapan kita harus berjalan di tempat seperti itu?” tanyanya untuk mengubah topik. Merasa sedikit muak dengan candaan tersebut, membuatnya enggan untuk mengetahui masa lalu pemuda itu.


“Sebentar lagi ....” Odo menjawab dengan singkat, tidak menjelaskan lebih lanjut dan tetap melangkahkan kaki dengan ritme riang.


Sekilas Odo paham dengan pemikiran Leviathan untuk menghindari cerita tersebut. Pada dasarnya, informasi memiliki sifat manipulasi yang sangat kuat. Saat mendengarnya, itu sama saja dengan menjatuhkan diri ke dalam aliran sungai deras. Berakhir hanyut sampai ke hilir.


“Memangnya tempat seperti apa yang kita tuju?” Leviathan memalingkan pandangan ke sisi lain tebing, berusaha untuk mengalihkan pikiran. Saat mendengar suara aneh seperti auman hewan liar, tubuhnya langsung menggigil ketakutan. “Odo! Ce-Cepat jawab, dong! Jangan diam saja!” pintanya dengan cemas.


“Mulut menuju pusat Dunia Astral ….” Odo berhenti melangkah. Berbalik dan mulai melebarkan senyum tipis, pemuda itu dengan jelas menyampaikan “Tempat di mana Core Realm berada, itulah yang kita tuju sekarang.”


“Mulut?” Leviathan tertegun, tidak paham dengan apa yang pemuda itu maksud.


Odo memilih untuk diam, segera berpaling tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Kembali melangkahkan kaki dengan ritme, bersenandung ringan dan tenggelam dalam nyanyian yang hanya bisa didengar olehnya.


.


.


.


.


Melewati hamparan dinding kabut tebal, diterpa angin kencang layaknya badai. Terus melangkah dengan pelan dan pasti, menapaki jalan permukaan batu yang licin dan berlumut.


Sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di tebing tersebut, hampir satu jam penuh telah berlalu. Namun, mereka tidak kunjung sampai di tempat tujuan.


Embusan angin terasa lebih kuat dari sebelumnya, membuat langkah kaki perlahan-lahan menjadi semakin berat dan lambat.  Beberapa kali mereka hampir roboh karena angin. Meringkuk untuk mencari permukaan yang tidak licin, lalu saling bergandengan dengan erat supaya tidak mudah terhempas.


Saat kecepatan angin terus bertambah sampai melebihi 39 mph, mereka sepenuhnya harus membungkuk saat berjalan. Saling berdekatan untuk menambah massa supaya tidak terhempas jatuh dari tebing.


Di tengah embusan angin yang sangat kencang tersebut, Odo Luke berjalan di depan dengan raut wajah santai seakan tanpa beban. Sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang terhempas, lalu melambatkan langkah kaki supaya tidak membebani mereka.


Merasakan sensasi berbeda pada jalan yang dilalui, untuk sesaat Odo berhenti untuk memeriksa. Permukaan jalan yang dilalui berubah menjadi lantai kristal kuarsa. Menyentuhnya dan memastikan sesuatu, pemuda itu pun segera menoleh untuk menyampaikan.


“Kita hampir sampai …” Merasa sedikit cemas, Odo dengan lembut mengulurkan tangannya kepada Alyssum untuk memberikan bantuan. Sembari melempar senyum tipis, pemuda itu dengan ramah menawarkan, “Pegang tanganku! Di depan anginnya akan semakin kencang!”


“Sungguh sudah hampir sampai?” tanya Leviathan, perlahan memperlihatkan mimik wajah ragu sampai kedua alisnya turun. Menggenggam erat-erat tangan Alyssum yang satunya, Putri Naga itu dengan lantang memperingatkan, “Jangan melakukan hal yang aneh-aneh, loh! Lalu! Jangan menyanyikan lagi suram itu lagi!”


“Kau masih merasa bersalah⸻?”


“Diriku tidak merasa bersalah!” sela Leviathan dengan kesal. Menghela napas dan lekas memalingkan pandangan, perempuan rambut perak keabu-abuan itu lanjut menggerutu, “Sampai kapan engkau mau menyeret hal tersebut …?! Menyebalkan sekali …!”


Odo tidak terlalu memedulikan keluhannya. Melihat ke arah Vil, pemuda rambut hitam tersebut lekas bertanya, “Sudah mendingan? Kalau tidak kuat atau hampir terhempas, tarik saja ular laut itu. Meski kelihatan kurus, seharusnya dia masih lebih berat darimu.”


“Uwah!” Leviathan langsung tersinggung saat mendengarnya. Menghentakkan kaki dan menggelengkan kepala dengan kencang, Putri Naga itu dengan lantang membantah, “Siapa yang engkau sebut berat?! Untuk ukuran Naga Agung, diriku ini tergolong ringan! Bahkan bentuk transformasi milikku tidak terlalu berat!”


“Memangnya kau membandingkannya dengan siapa?”


Odo hanya bisa menatap datar. Mengingat kembali ukuran transformasi milik Leviathan waktu di Laut Utara, perkataan itu malah terdengar seperti bualan perempuan yang tidak ingin disebut berat.


“Kalau kau, sih? Apa masih kuat, Reyah?” tanya pemuda itu kepada sang Dryad. Sembari tersenyum kecut, dengan nada sedikit bercanda dirinya menambahkan, “Bukankah sangat sulit berjalan di tempat seperti ini dengan pakaianmu? Enggak coba diikat saja seperti rambutnya Alyssum, atau mungkin disanggul seperti Vil biar pendek dan tidak terbawa angin?”


“Tidak masalah,” jawab Reyah. Sedikit memalingkan pandangan, Dryad tersebut sedikit menambahkan, “Pakaian ini adalah bagian dari tubuhku dan tidak mudah terbawa angin, jadi tidak merepotkan.”


Tidak terlalu memedulikan hal tersebut, Odo lekas menatap Laura yang bergandengan dengan Reyah, lalu Magda yang juga bergandengan dengan rekannya tersebut. Hanya mengamati raut wajah mereka berdua, tetapi tidak bertanya ataupun mengingatkan sesuatu.


“Tenang saja, kami masih punya stamina untuk melanjutkan perjalanan.” Laura menyampaikan sebelum ditanyai. Melebarkan senyum tipis dan menoleh ke arah rekannya, Elf tersebut lekas bertanya, “Kalau kamu bagaimana, Magda? Masih kuat atau mau ganti posisi? Kalau berada di tengah, barang kali terhempas bisa⸻”

__ADS_1


“Tidak masalah, saya masih kuat!” Magda melirik tajam ke arah sang pemuda. Mengisyaratkan rasa tidak suka, lalu segera memalingkan pandangan saat ditatap balik.


“Baiklah ….” Odo tersenyum ringan. Menunjuk sisi lain tebing dengan tangan kiri, pemuda rambut hitam itu dengan tegas menyarankan, “Ini hanya sekadar mengingatkan! Kalau kalian terhempas, jangan pernah coba menggunakan sihir melayang atau gravitas! Kalian bisa terlempar ke dalam sana! Kalau hampir terhempas, pegangan saja yang erat! Meski yang kalian gandeng ikut terangkat dan terhempas dari permukaan, jangan pernah lepaskan! Percayalah!”


“Rasanya ambigu sekali, sama sekali tidak meyakinkan ….” Leviathan seketika mengerutkan kening dan menyipitkan sorot mata, merasa ucapan Odo hanyalah bualan belaka untuk menenangkan suasana hati mereka.


“Baiklah! Mari mulai!” Odo menarik napas dalam-dalam, lalu sedikit mengubah informasi tubuhnya dengan Aitisal Almaelumat. Kembali menghadap ke depan, pemuda itu lekas melangkah masuk ke dalam kabut tebal. Menerjang dinding angin dengan kecepatan hampir mencapai 74 mph, sama dengan rata-rata kecepatan angin pada badai tropis. “Jangan lepaskan tangan kalian!! Percayalah⸻!” ujarnya seraya mengambil langkah pertama.


Seakan ditelan bulat-bulat oleh dinding kabut, sosok Odo seketika lenyap secara visual. Hanya menyisakan tangan kanannya yang menggandeng Alyssum, lalu sedikit bergetar karena menahan terpaan angin.


Sesaat Alyssum ragu untuk mengikuti, tidak segera melangkah dan terdiam gemetar. Meski genggaman tangan Odo terasa hangat dan nyaman, dinding kabut di hadapannya seakan melarangnya untuk terus maju. Mulai membentuk wajah menakutkan, lalu berbisik kepada Roh Kecil itu supaya menjauh.


“Papah ….”


Alyssum membulatkan tekad. Sejenak menahan napas, Roh Kecil itu pun memberanikan diri dan melangkah maju. Sebelum menyelesaikan langkah pertama, tiba-tiba tubuhnya mulai melayang.


Seakan ditarik oleh sesuatu, badan Alyssum terseret masuk ke dalam dinding kabut. Dalam hitungan detik kakinya terangkat, lalu melayang ke udara dan seketika lenyap secara visual.


“Eh? Apa yang⸻?!”


Leviathan tetap menggandeng tangan Alyssum, menggemgamnya dengan erat dan berusaha menariknya keluar. Namun, Putri Naga itu juga ikut terseret ke dalam dinding kabut.


Leviathan mempunyai kekuatan fisik yang sangat kuat, paling tidak di antara mereka semua. Dengan tergesa-gesa dirinya bisa bertahan selama beberapa detik.


Namun, tarikan yang sangat tiba-tiba itu membuatnya sedikit tersentak ke depan. Ditambah rasa cemas karena takut mematahkan tangan Alyssum, Putri Naga itu memilih untuk tidak melakukan perlawanan. Membiarkan tubuh tertelan oleh dinding kabut, kemudian juga menyeret mereka yang menggandeng tangannya di belakang.


“Se-Sebentar! Ada apa⸻?!” Dengan sangat cepat Vil ikut terseret, tanpa ada perlawanan sama sekali.


“Kenapa ini⸻?!” Reyah pun ikut tertarik, hanya dalam beberapa detik saja tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti.


“Eh, kenapa⸻?!” Diana juga ikut tertarik, dengan sangat mudah seakan-akan memang sengaja tidak melawan.


“Bentar! Bentar! Bentar!!” Laura segera memasang kuda-kuda supaya tidak ikut tertarik masuk ke dalam dinding kabut. Namun, tetap saja itu percuma dan dirinya pun tetap terseret ke dalam dinding kabut. “Uwah⸻!” teriak Elf itu seraya menarik rekannya.


“Eh⸻?”


Magda yang sedang sedikit melamun sama sekali tidak bisa bereaksi. Karena mengira Laura akan melepaskan genggaman Diana, dirinya tidak sempat memasang kuda-kuda untuk menahan tarikan. Dalam hitungan kurang dari dua detik, kedua Elf itu ikut tertelan dinding kabut dan lenyap secara visual.


Kedua kaki Magda terangkat dari permukaan, tubuh merasakan sensasi melayang-layang di udara. Sekujur tubuh terasa seperti ditekan benda berat, membuat ritme pernapasan menjadi kacau dan udara sulit masuk ke dalam paru-paru.


Tangan kanan masih digenggam oleh rekannya. Sangat erat sampai-sampai pembuluh darah pada pergelangan terhambat, membuat permukaan kulit sedikit membiru.


Mata terpejam rapat-rapat. Tidak ada suara yang terdengar, embusan angin kencang menghapus semuanya tanpa toleransi. Perlahan membuka kelopak, Magda seketika terkejut saat menemui dirinya belum terhempas sampai ke sisi lain tebing.


“Letnan?” Dengan segera Magda balik menggenggam tangan rekannya. Gemetar ketakutan dan gelisah, dirinya tanpa pikir panjang langsung mencari pijakan. Sembari berusaha memahami situasi, Elf itu mulai menggeliat dan berusaha turun. “Sebenarnya apa yang terjadi⸻?


Dalam hitungan detik Magda berhenti membuat gerakan ataupun mencari pijakan. Melihat apa yang sedang terjadi dengan mata kepalanya sendiri, Elf itu hanya bisa tercengang tanpa bisa berkata apa-apa.


Mereka semua terhempas ke udara. Lebih tepatnya, dari Leviathan sampai Magda, tidak ada satu pun dari mereka yang menginjakkan kaki di permukaan. Melayang-layang di udara layaknya kain bendera.


Melihat siapa yang masih berdiri di permukaan, Elf rambut pirang itu langsung terbelalak. Mulut sedikit terbuka, namun tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa terdiam membisu pada bagian paling ujung barisan gandengan tangan.


Di tengah terpaan badai angin dan kabut, Odo Luke berdiri tegak tanpa gentar sedikitpun. Menggandeng erat tangan Alyssum, menahan mereka semua supaya tidak terhempas jatuh ke sisi lain tebing.


Dalam terpaan angin yang sangat kencang, suara tidak bisa terdengar dengan baik. Karena itulah, pemuda itu menggerak-gerakkan tangan kirinya untuk menyampaikan pesan. Memberitahu mereka agar tetap bergelantungan di udara seperti itu untuk sementara waktu.


Pesan itu sampai kepada Leviathan, Reyah, dan Laura saja. Memahami hal tersebut, tentu saja mereka bertiga menolaknya karena terlalu berbahaya. Karena kedua tangan digunakan untuk bergandengan, mereka pun tidak bisa membalas dengan bahasa isyarat. Hanya bisa menggelengkan kepala dan memperlihatkan mimik wajah pucat penuh rasa cemas.


Tentu saja Odo menyadari hal tersebut. Namun, pemuda itu tidak terlalu peduli dan mulai melangkah. Membuat barisan gandengan seperti layang-layang itu bergelombang, lalu yang paling ujung hampir lepas dan terlempar ke jurang.


“Berhenti kau, Iblis!! Kembali! Cepat kembali! Kembali saja! Pasti ada cara yang lebih masuk akal! Mari pikirkan bersama! Hey! Bolot! Berhenti melangkah!! Lihat! Elf itu hampir terlempar!! Hey, berhenti!!”


Leviathan berteriak sekuat tenaga. Namun, suaranya tidak sampai ke telinga Odo. Hanya terbawa angin, lalu lenyap tanpa bisa tersampaikan.


\=========================

__ADS_1


Catatan :


See You Next Time!!


__ADS_2