Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[77] Tanpa sadar dirinya memandang rendah orang-orang (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


Odo sekilas tersenyum mendengar perkataan Canna, merasa perempuan itu seakan-akan telah menyadari semua rencana miliknya yang terbilang licik. Melihat mimik wajah pemuda itu, sang Penyihir pun semakin yakin dengan spekulasi yang dirinya ambil.


 


 


“Kau memang sangat hebat, Canna. Sayang sekali dirimu harus kembali ke Miquator sekarang ….” Odo perlahan mengangkat tangan kanannya ke depan, lalu meletakkan jari telunjuk ke depan mulut Canna dan kembali berkata, “Kau tahu, wahai putri kecilku ….Kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dikalahkan oleh keburukan yang terorganisir dengan rapi. Karena itulah, jika kau memiliki idealisme atau cara pandang maka lakukanlah dengan cerdas.”


 


 


“Apa … yang Ayahanda maksud?”


 


 


Canna hanya terdiam gemetar, terlalu gugup sampai-sampai dirinya tidak bisa menangkap maksud yang ingin Odo sampaikan. Melihat gelagat tersebut, sang pemuda mengangkat jarinya dari bibir tipis sang perempuan dan melangkah ke belakang.


 


 


Setelah menghela napas ringan, Odo menatap ke arah aliran air yang sedikit surut di kanal dan berkata, “Kau tak harus mengatakan semua yang dirimu ketahui. Kalau kau menggunakan informasi yang ada dengan boros, saat dibutuhkan kau bisa kehabisan kartu untuk bermain.”


 


 


“Apa saya terlalu banyak bicara sampai menyinggung Ayahanda?”


 


 


“Tidak juga. Aku bukan orang yang berhati sempit sampai-sampai tersinggung hanya karena perkataan seperti itu ….” Odo menguap ringan, menggaruk bagian belakang kepala dan sejenak memejamkan mata. Merasa telah membuang waktu terlalu banyak dalam perjalanannya memutar jalan, ia menatap datar Canna dan bertanya, “Aku harus pergi dulu. Setelah ini, kau mau pergi ke mana?”


 


 


“Tentu saja pulang, lagi pula ini sudah malam jua ….”


 


 


“Hmm, memang.”


 


 


“Kalau begitu, sampai jumpa besok.”


.


.


.


.


Setelah melakukan perbincangan kecil dengan Canna, pemuda rambut hitam tersebut melanjutkan langkah kakinya menuju tempat yang menjadi tujuan utamanya pergi malam-malam. Ia mengambil jalan untuk kembali ke balai kota, lalu pergi ke jalan utama yang mengarah ke distrik perniagaan.


 


 


Tidak belok ke tempat tersebut, Odo malah terus lurus dan menaiki bukit untuk pergi ke kompleks Gereja Utama Kota Mylta. Ia ke tempat tersebut juga bukan untuk mampir, melainkan pergi menuju ke kompleks bangsawan yang juga merupakan tempat kediaman Keluarga Mylta berada.


 


 


Jika dibandingkan distrik rumah bordil atau perniagaan, kompleks bangsawan cenderung lebih terang dengan lampu-lampu jalan yang berjejer rapi dan dihiasi dengan pagar tanaman yang terawat indah. Bangunan-bangunan di kompleks tersebut pun tampak lebih megah, terbuat dari batu bata yang dipoles porselen hias dan beberapa memiliki pilar-pilar marmer yang masih bisa dilihat dari luar pagar halaman.


 


 


Dengan kesan perumahan kelas atas, setiap kediaman dari bangsawan dan konglomerat memiliki pagar pembatas satu dengan yang lain. Menandakan ciri individualis, tidak saling percaya dan memamerkan kekayaan serta status mereka dalam kompleks tersebut.


 


 


Melangkahkan kaki di jalan susunan batu bata dengan pola warna koral terang dan merah gelap, Odo tidak menemui banyak orang di sepanjang langkah kakinya di kompleks tersebut. Hanya ada beberapa pelayan yang masih terlihat di halaman, penjaga, serta pedagang yang baru saja pulang dari pekerjaan mereka.


 


 


Meski dari luar jendela-jendela kediaman masih tampak bercahaya serta cerobong asap pun masih mengepul, kebanyakan dari mereka lebih menikmati kenyamanan tersebut dengan keluarga masing-masing tanpa memedulikan apa yang ada di luar. Meninjau budaya serta kebiasaan Kerajaan Felixia dengan ciri aristokrat, Odo berusaha memaklumi fenomena semacam itu.


 


 


“Hal ini mungkin karena pengaruh patriarki dalam masyarakat ya? Hal seperti Nyonya Rumah yang bertugas menjaga kediaman sampai suaminya pulang, terpisah dengan masyarakat luar dan hanya fokus membesarkan anak. Tidak di masa mana pun, aku rasa budaya seperti ini memang selalu ada.”


 


 


Memikirkan budaya serta kebiasaan yang ada di kalangan bangsawan Mylta, untuk sesaat pemuda itu merasa keluarganya pun memiliki ciri serupa. Ibunya, Mavis Luke, sangat jarang bersosialisasi dengan masyarakat luar, hanya berdiam di Mansion dan mengerjakan tugas-tugas administrasi sebagai seorang Marchioness.


 


 


Mendapatkan sesuatu untuk dibandingkan, Odo semakin tidak menyukai budaya dan nilai-nilai yang ada dalam kalangan bangsawan. Merasa semua itu terlihat bodoh, bahkan untuk sesuatu yang telah dilakukannya sejak mulai sadar akan hal tersebut.


 


 


“Aku juga adalah seorang bangsawan tulen,” benak Odo. Baik darah yang mengalir di dalam nadinya ataupun status yang diemban, Odo tidak bisa menolak kebangsawanan yang ada di dalam dirinya.

__ADS_1


 


 


Saat Odo tenggelam dalam dilema singkat dan terus berpikir untuk meyakinkan dirinya sendiri, ia akhirnya sampai di depan kediaman Keluarga Bangsawan Mylta. Itu terletak di ujung kompleks, dekat dengan kanal yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tebing laut.


 


 


Mansion yang dimiliki keluarga Mylta sendiri tidaklah terlalu besar jika dibandingkan dengan Kediaman Luke. Namun untuk beberapa aspek, kesan mewah yang klasik Odo rasakan dari tempat tersebut.


 


 


Pagar besi yang dihiasi tanaman merambat yang terawat rapi, bunga-bunga yang bermekaran di halaman depan dan tiang-tiang lampu kristal yang bersinar terang di halaman depan kediaman. Luas halaman Mansion tersebut tidak lebih dari 40 meter persegi, namun itu sudah lebih dari cukup untuk diisi dengan jalan susunan batu hias menuju ke bangunan utama yang kedua sisinya dihiasi taman bunga.


 


 


Melihat dari luar pagar terali yang tertutup rapat, Odo hanya menatap datar dan hanya terdiam sampai salah satu penjaga di kediaman tersebut mencurigainya. Hanya membuka sedikit pintu gerbang dan menghampirinya, salah satu penjaga Kediaman Mylta langsung membentaknya.


 


 


“Hey! Kau! Mau apa malam-malam datang ke kediaman Tuan Mylta! Apa kau sudah membuat janji dengan⸻!!”


 


 


Sebelum penjaga tersebut menyelesaikan kalimat, seketika mulutnya tertutup rapat ketika melihat wajah pemuda yang datang bertamu malam-malam. Ia baru sadar bawah pemuda itu adalah Odo Luke, karena pencahayaan yang kurang dirinya tadi melihat dengan jelas.


 


 


“Maaf, malam-malam bertamu ….” Odo hanya menatap ringan, tidak marah ataupun menegur tindakan tidak sopan penjaga. Setelah menghela napas panjang, pemuda rambut hitam itu sedikit memiringkan kepala dan bertanya, “Apa Lisia sudah di rumah? Dia soalnya tadi tidak ada di kantor.”


 


 


Penjaga tersebut sempat memucat karena sebelumnya berkata tidak sopan kepada seorang Viscount. Melangkah mundur sampai menyenggol pagar yang setengah terbuka, dirinya dengan gemetar menjawab, “Nona Lisia ada di dalam, beliau sudah pulang sejak tadi sore. Me-Memangnya Anda ada keperluan apa dengan beliau?”


 


 


Perkataan grogi dan cemas penjaga tersebut dengan jelas tersampaikan. Menatap datar pria yang mengenakan baju halkah dan membawa pedang di pinggangnya tersebut, Odo sesaat merasa kalau kualitas penjagaan keluarga Bangsawan Mylta memang berbeda jauh dengan Luke.


 


 


Sembari memalingkan pandangan dan menghela napas ringan, Odo sejenak memejamkan mata dan dalam hati berkata, “Kalau tidak salah, Gariadin saat jaga malam selalu membawa tombak sihir dan perlengkapan lengkapnya, bukan? Dari aura penjaga ini, hawa sihirnya juga tidak terlalu kuat …. Ceroboh sekali Lisia.”


 


 


Odo kembali menatap ke arah penjaga tersebut, tersenyum ramah dan dengan rasa sedikit risih menjawab, “Tolong sampaikan. Bilang kepadanya aku ada keperluan penting dan ingin bicara dengannya sekarang.”


 


 


 


 


“Yeah, tak masalah ….”


 


 


Mendengar hal tersebut, Odo merasa perlakuan yang diberikan kepadanya memang merupakan hal yang wajar. Dalam tata krama bangsawan, untuk bertamu seharusnya sebuah janji harus dibuat atau setidaknya surat harus dikirim terlebih dahulu. Menyampaikan keperluan bertamu, lalu mendapatkan balasan apakah yang ingin ditemui berkenan atau tidak.


 


 


Memang ada beberapa kasus dimana tamu tidak perlu mengirim surat atau membuat janji. Namun, hal tersebut hanya berlaku untuk mereka yang sudah saling mengenal dan biasa bertamu karena alasan pekerjaan dan rutinitas. Intinya, bertamu malam-malam adalah hal yang tidak sopan. Mengesampingkan itu budaya bangsawan atau bukan, Odo pun tahu hal tersebut.


 


 


ↈↈↈ


 


 


Sebuah ruangan yang lekat dengan kesan megah, berhiaskan perabotan mewah di dinding dan lantai keramik yang terbuat bebatuan alam biru tua menjadi pelengkap. Barang-barang porselen sebagai dekorasi tampak mengilat, mencerminkan selera sang pemilik kediaman. Warna yang dominan adalah biru gelap, membawakan suasana sunyi yang melambangkan ketenangan.


 


 


Meski begitu, kesunyian yang ada malah terkesan membawakan kesepian. Gorden tertutup rapat, lampu-lampu kristal menjadi sumber cahaya dan beberapa camilan dihidangkan di atas meja.


 


 


Dua pelayan berdiri di dekat pintu masuk sebagai saksi dan pengawas bahwa tamu datang untuk melakukan pembicaraan, tidak bukan untuk hal lainnya. Mereka tampak tenang dan sama sekali tidak mengomentari tamu yang datang larut malam.


 


 


Di dalam ruang tamu Kediaman Keluarga Mylta tersebut, Odo duduk pada sofa yang berhadapan langsung dengan sang pemilik Mansion. Hanya dipisahkan sebuah meja, pemuda rambut hitam tersebut menatap lurus ke arah Lisiathus Mylta.


 


 


Berbeda dengan atribut pakaian kerjanya, kesan Lisia saat di rumah cukup memancarkan aura yang berbeda. Perempuan rambut merah tersebut mengepang rambutnya ke depan, mengenakan piyama abu-abu dengan corak renda katun dan pita pada bagian sekitar leher. Dari penampilan tersebut, Odo Luke benar-benar paham telah datang pada waktu yang salah dan terkesan tidak tahu tata krama jika dilihat dari sudut pandang strata moral bangsawan.


 


 

__ADS_1


Merasa tidak bisa mundur karena telah membangunkan pemilik kediaman dan dibiarkan masuk, Odo sesaat menghela napas panjang dan memalingkan pandangan ke arah jendela yang tertutup gorden. “Maaf mengganggu waktu istirahat kau, sepertinya aku datang di waktu yang salah …. Boleh aku langsung ke intinya saja?” tanyanya sembari kembali menatap ke arah Lisia.


 


 


Dengan sorot mata yang terlihat mengantuk, Lisia sejenak memejamkan mata dan lansgung menatap dalam suasana hati kurang baik. Bukan hanya karena waktu istirahatnya terganggu, namun juga masalah lain yang menerpa selama bekerja tadi pagi.


 


 


Karena kepercayaan orang-orang luar terhadap keamanan Kota Mylta turun drastis dalam waktu singkat, sebagai Walikota Pengganti dirinya benar-benar dihadapkan dengan berbagai masalah dan harus mengikuti hampir belasan rapat dalam sehari. Tentu sebagai pemimpin dirinya harus memutar otak lebih keras dari yang lain untuk solusi maksimal.


 


 


“Silahkan saja ….” Lisia mengangguk. Bukan sepenuhnya untuk jawaban, namun karena juga rasa kantuk yang tidak bisa dirinya tahan. Menggelengkan kepalanya beberapa kali, perempuan rambut merah tersebut pun bertanya, “Apa itu ada kaitannya dengan perjanjian kita? Tuan Odo …, pada akhirnya Adan perlu pasukan untuk membasmi para monster, bukan?”


 


 


Odo sesaat terdiam, merasa pembicaraan kurang efektif karena lawan bicaranya tampak sangat mengantuk. Paham tidak bisa membuang waktu dan menunda pembicaraan, pemuda itu tidak berhenti dan kembali berkata, “Kurang lebih seperti yang kau katakan. Namun, bukan berarti aku akan meminjam pasukanmu untuk melakukan ekspedisi pembasmian atau semacamnya.”


 


 


“Loh? Terus mau digunakan untuk apa?” tanya Lisia dengan kesan tidak formal. Rasa kantuknya sudah mulai mengambil alih, layaknya orang mabuk dirinya perlahan kehilangan pemikiran dan kesadaran rasional. Sembari bersandar pada sofa, ia mulai memejamkan mata dan berkata, “Bukannya tindakan paling efektif sekarang adalah dengan melakukan itu? Pada rapat yang pihak kami adakan tadi pagi, sebagian investor dan pejabat juga menyarankan hal serupa. Membuat sebuah proyek kerja sama untuk membasmi para monster ….”


 


 


“Hmm, kurang lebih pemikiran ku dengan mereka sama. Aku juga ingin membuat sebuah rencana serupa. Namun ….” Odo menyeringai lebar, lalu menggebrak keras meja di depannya dan membuat Lisia tersentak membuka kedua mata lebar-lebar. “Aku akan menggunakan pasukanmu untuk membasmi monster yang aku panggil ke kota ini,” tambah Odo dengan volume yang ditinggikan.


 


 


Mendengar hal tidak masuk akal tersebut, perlahan rasa kantuk Lisia hilang dan keringat dingin keluar. Dengan sedikit pucat dirinya bertanya, “Memanggil monster ke kota? Anda …?”


 


 


“Ya ….” Odo menyandarkan punggung ke sofa, menyilangkan kaki kiri ke atas kaki kanan dan kembali berkata, “Untuk menjaga reputasi kalian supaya tidak turun, itu adalah cara paling efektif. Hasilnya juga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat.”


 


 


“A-Apa yang Anda bicarakan, Tuan Odo?” Lisia lekas bangun dari tempat duduk, meletakkan tangan kanan ke depan dada dan dengan gelisah berkata, “Ja-Jangan bilang Anda ingin menjadikan Kota Mylta sendiri sebagai taruhan?”


 


 


“Bukan taruhan, hanya jaminan kecil untuk hasil yang lebih besar.” Odo berhenti menyilangkan kaki, memasang senyum santai dan kembali menjelaskan, “Dengan membawa monster ke kota dan kita membuat sandiwara serangan, para tentara kota ini akan memiliki kesempatan untuk meningkatkan reputasi. Tentu saja kita harus merencanakannya supaya menurunkan risiko korban warga sipil.”


 


 


“Meski rencana tersebut berhasil meningkatkan reputasi para prajurit kota, itu tidak mengubah fakta bahwa para monster di luar sana masih mengancam rute perdagangan.”


 


 


Perkataan Lisia memang masuk akal. Namun, bukan hal tersebutlah yang Odo incar dari sandiwara yang ditawarkan. Sembari mengacungkan jari telunjuk setinggi dada, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Setelah sandiwara ini berhasil, kalian akan memiliki alasan untuk melakukan ekspedisi dan bisa saja mendapatkan dana dari perusahaan swasta sekitar. Relasi dan kekuatan politik kalian akan meningkat.”


 


 


“Apa … Anda ingin meminta kami melakukan ekspedisi sendiri? Untuk membersihkan kesalahan yang kami perbuat sen⸻?”


 


 


“Bukan itu!” potong Odo dengan tegas. Ia menurunkan jari telunjuk, ikut berdiri dan menatap tajam lawan bicaranya. “Di depan muka kalian lah yang melakukan ekspedisi! Namun, para monster tetap akan aku yang membasminya. Dengan kata lain, ekspedisi yang kalian lakukan hanya membasmi sisa-sisa. Hasilnya kalian akan dipuji karena bisa membasmi para monster dalam waktu singkat. Ini tidak jauh berbeda dari perjanjian yang tertulis, hanya saja reputasi kalian juga akan terjaga.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Lisia merasa bahwa malah yang dirugikan dalam usulan tersebut adalah Odo Luke. Jika sebuah hasil dari kerja keras pemuda itu dilimpahkan kepada pemerintah Kota Mylta, secara pribadi Odo hanya bisa mendapatkan sedikit keuntungan. Tindakan tersebut sangatlah tidak masuk akal untuk seorang Viscount.


 


 


“Bukannya nama baik Anda meningkat nantinya? Dari cara bicara Tuan Odo, itu seperti Anda nantinya tidak ingin mengumumkan ke khalayak bahwa Andalah yang membasmi para monster.”


 


 


“Memang benar, aku tak berniat mengumumkannya.”


 


 


“Kenapa?”


 


 


Satu kata pertanyaan yang diarahkan kepada Odo sedikit membuatnya terdiam. Dari sudut pandang bangsawan, nama baik dan popularitas di masyarakat adalah hal penting. Nilai tambah untuk mendapatkan gelar yang lebih tinggi.


 


 


Menolak prestasi dan menyerahkannya kepada orang atau pihak lain adalah sebuah tindakan bodoh. Mungkin ada beberapa bangsawan yang memiliki cara pandang berbeda, namun paling tidak itulah yang Lisia rasakan.


 


\===============


Fakta 008: Orang yang paling menghormati Odo adalah Arca Rein.

__ADS_1


__ADS_2